LOGIN(Mature 21+) Mendapati sang suami selingkuh, Aluna Kirana tetap diam dan tenang. Ia tidak mau ambil pusing dengan masalah itu. Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Terlalu penurut dan lembut, bagi Bara hal itu sangat membosankan. Bara lebih suka tantangan, Bara lebih suka wanita yang agresif yang bisa memuaskannya dan itu Bara dapatkan di luar sana. Saat Bara meminta pada Aluna untuk menandatangani surat cerai, Aluna tidak begitu saja menurut. Aluna tidak bodoh. Wanita itu mau bercerai dengan Bara, jika Bara bersedia memenuhi satu syarat yang ia ajukan. "Aku ingin hakku dipenuhi," ucap Aluna lirih.
View MoreAluna menarik napas pelan untuk menenangkan hatinya. Walaupun sebenarnya ia sudah kebal. Namun, tangannya saling meremas.
Aluna tidak jauh berdiri dari dua orang itu, hanya dibatasi sebuah pilar besar. Sungguh kalimat yang membuat perut Aluna seperti diaduk-aduk. Bahkan suaminya itu tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mesra. Jangankan memanggil sayang, menyentuhnya pun tidak. "Sayang, aku mau ini," tunjuk wanita itu. "Yang ini? Bagaimana jika yang ini? Barang yang kau pilih itu terlihat jelek dan murah," balas sang pria. "Memangnya boleh? Aku boleh memilih yang lebih mahal harganya?" "Tentu saja boleh, baby. Apapun akan ku lakukan untukmu." Menyentil ujung hidungnya. Ya. Aluna memergoki sang suami, Bara Mahendra sedang jalan dengan seorang wanita dan kali ini wanita yang berbeda. Posisi mereka berada di sebuah toko emas. Bara terlihat sedang memilihkan sebuah kalung. "Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di sini?" Mood belanja Aluna mendadak hilang. Aluna segera meletakkan kalung yang tadinya ia pegang dan hendak ia beli. Namun, Aluna mengurungkan niatnya dan ia ingin cepat-cepat keluar dari sana. Bukan karena Aluna takut bertemu dengan Bara, tapi Aluna sangat malas melihat wajah sang suami. *** "F*CK!" Bara mengeratkan jari jemarinya pada setir mobil yang sedang ia pegang. Emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal seperti itu," cicitnya. "SH*T!" umpat Bara memukul kasar setir mobilnya. Antara marah, benci, dan jijik yang Bara rasakan pada wanita itu. Itulah sebabnya Bara selalu tidak betah jika berada di rumah. Padahal itu adalah rumahnya sendiri. "Jika bukan karena Mama yang meminta. Aku juga tidak sudi menikahi wanita itu," runtuk Bara. Bagaimana tidak? Bara pria tampan dan berwibawa, memiliki karir yang bagus, dan tentu jangan tanyakan lagi jumlah kekayaannya. Ia bisa mencari wanita lebih baik dari pilihan sang ibu. Walaupun sebenarnya Aluna itu sudah definisi seorang wanita baik dan santun. Wanita idaman para pria jika kedua matanya masih normal. Saat hendak turun dari mobilnya, atensi Bara tertuju pada ponselnya yang bergetar. Emosi Bara mendadak mereda saat melihat nama yang muncul di layar ponselmya. Akhirnya Bara mengurungkan niatnya untuk masuk ke hotel menyusul mereka berdua. Bara lebih tertarik untuk menjawab panggilan telepon itu. "Ya. Halo ...." Bara menempelkan benda pipih itu ke telinganya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. "Oke, aku akan ke sana sekarang." Mobil berhenti di sebuah Bar. Tanpa basa-basi, Bara langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Bar. "Woi ... Bara!" panggilnya sambil menepuk sofa yang masih ada sisa ruang. Bara melangkah mendekat dan duduk di sebelahnya. Sangat terlihat dari wajah Bara jika pria itu sedang tidak mood bertemu dengan mereka, tapi apa boleh buat, dengan sangat terpaksa Bara duduk di sana. Untuk sepersekian detik Bara langsung menyambar seloki yang ada di tangan sahabatnya itu. Diteguknya sampai habis. Tidak ada yang protes atau berkomentar selama mereka sudah paham karakter si Bara Mahendra. "Kenapa, Bar?" Mengambil seloki yang ada di atas meja. "Berantem lagi dengan istrimu?" Bara tidak menjawab, karena ia sedang fokus pada seseorang. Kedua manik mata hitam itu terlihat sedang menelanjangi seseorang. "Tidak perlu bertanya tentang wanita sialan itu!" sungut Bara. "Wow ... wow ... Apakah kau sedang cemburu, Bar?" ledek lainnya. "Apa? Cemburu? Dalam kamus seorang Bara Mahendra tidak ada kata cemburu. Yang ada hanya rasa jijik!" "Wait! Jijik? Kau tidak salah bicara, Bar?" Menatap Bara, bergidik ngeri. "Ngaca dulu deh, Bar." Tertawa mengejek sambil meletakkan seloki. "Jangan samakan Aluna dengan dirimu, Bar. Aku hapal betul kau ini manusia seperti ap—" BRAKK!! Gebrakan tangan Bara memotong kalimat itu. Semua yang ada di sana terkejut dan menatap Bara. Bara melirik sinis. Bara paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu, meskipun itu hanya bercanda. Alih-alih ingin mencairkan suasana hati Bara yang terasa nano-nano campur aduk seperti es teller, tapi justru mood Bara semakin dibuat anjlok. "Aku datang ke sini untuk mencari hiburan, bukan untuk mendengarkan ocehan kalian yang terlihat sangat membela Aluna dan memojokkanku. Teman macam apa kalian ini," dengus Bara. "Hiburan atau kehangatan, baby?" Seorang wanita memberanikan diri mendekati Bara dan dengan cekatan duduk di sisi Bara. Reflek tangannya langsung menyentuh dada Bara. Ia berusaha menenangkan Bara. Tangannya bermain dengan lincah dari atas ke bawah. Saat tangan itu hampir menyentuh torpedo Bara yang masih dibalut oleh kain tebal. Tangan Bara menahannya. "Mau tidur denganku?" Menarik tangan wanita itu, menggeser, dan meletakkan tepat di sasaran, lalu meremasnya. Kalimat itu terdengar bukan seperti ajakan, melainkan seperti perintah yang tidak bisa ditolak. "Tentu saja. Aku ingin tidur denganmu dan ...." Mata itu tertuju pada benda yang sedang dipegangnya. Bara melirik wanita yang ada di sampingnya. Tatapan wanita itu masih fokus pada tangan Bara yang sedang menuntun tangannya menekan dan meremas pelan. "Kau mau ini, baby?" bisik Bara di telinganya. Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu puaskan aku!" Tanpa pikir panjang Bara berdiri dan menarik wanita itu saat sang wanita memberi respons positif bahwa ia menginginkan lebih dari itu. "Ia memang tidak pernah bisa berubah. Kasian Aluna. Kenapa wanita sebaik Aluna harus bertemu dan menikah dengan pria maniak seperti Bara?" "Sudahlah. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka." *** "Satu langkah lagi selesai." Pria itu mendapatkan Aluna sedang menikmati teh hangat di sebuah ruangan yang menghadap ke taman belakang. "Kau sudah pulang, Bar?" Aluna bangkit dari duduknya saat melihat sang suami. "Aku buatkan teh hangat, ya." "Tidak perlu!" ucap Bara ketus. "Aku juga tidak akan berlama-lama di sini." "Bukankah ini rumahmu, Bar," celetuk Aluna. "Memang ini rumahku, tapi aku sendiri tidak betah berada di rumah ini terlalu lama," tandas Bara. "Jadi?" sambung Aluna dengan tenang. Bara menarik napas kasar menahan emosi yang mulai menggerogotinya. Ia tidak ingin terpancing emosi dengan sikap tenang Aluna. BRAAKK!! Aluna terkejut ketika tiba-tiba sebuah map dilempar tepat di meja di hadapannya dengan kasar. "Apa ini?" tanya Aluna. "Surat cerai!" tegas Bara.Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan
Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat
Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan
Rinai hujan sore itu kian menderu, membasahi kaca depan mobil sedan yang melaju membelah jalanan kota. Di balik kemudi, sepasang mata datar milik Tama fokus menatap aspal basah di depannya. Namun, fokus itu seolah hanya menjadi kedok. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidupnya yang seka
Matahari sore itu tenggelam lebih cepat, tertutup oleh gumpalan awan mendung yang gelap. Belum sempat Maya memacu sepeda motor matic tuanya menjauh dari area butik, rintik hujan mulai turun membasahi jalanan kota yang padat. Sialnya, kemalangan tidak berhenti di situ. Di tengah kepungan gerimis
Dentang halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar selaras dengan alunan musik jazz instrumen yang mengalir tenang di dalam restoran mewah bergaya klasik modern itu. Seminggu setelah badai hukum bergulir cepat dan menyeret Yudi ke balik jeruji besi, atmosfer mencekam yan
Di dalam bangsal kelas tiga yang pengap, udara terasa sesak oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Yudi terbaring dengan wajah yang masih memar, ungu kebiruan dengan gips yang menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Di sisi ranjang, sang ibu duduk gelisah, jemarinya terus memilin ujung kain












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore