تسجيل الدخولKini, gadis berkuncir dua itu terlihat sedikit canggung. Dia berkata, "Ganteng, maaf ya. Tadi ... aku terlalu panik, makanya bersikap seperti itu. Tolong jangan dimasukkan ke hati."Kelvin merespons sembari menggeleng, "Nggak apa-apa. Aku mengerti keadaanmu waktu itu. Lagian, itu cuma bantuan kecil."Gadis berkuncir itu itu menggeleng lagi dan berkata, "Kakekku menyuruhku datang untuk minta maaf. Sebenarnya dia ingin datang sendiri, tapi aku mengkhawatirkan kondisinya."Segera setelah itu, gadis berkuncir dua melanjutkan, "Kami juga ingin memberi ucapan terima kasih. Kakekku nggak suka berutang budi. Kamu bisa menyebutkan apa pun yang kamu inginkan sebagai balasan.""Nggak perlu," kata Kelvin sambil tersenyum. "Aku seorang ahli pengobatan. Aku nggak pernah minta bayaran untuk mengobati orang. Kalian nggak perlu terlalu memikirkan ini. Anggap saja sebagai bantuan kecil."Gadis berkuncir dua itu terdiam sejenak, lalu menatap Kelvin dengan sedikit bingung. Dia bertanya, "Benarkah?""Tentu
Seluruh penumpang di kabin pesawat langsung menatap ke arah Kelvin.Gadis itu sangat panik. Dia langsung menarik baju Kelvin. Wajahnya penuh kemarahan dan kecemasan.Di samping, pasangan dokter itu mundur sedikit. Salah satu dari mereka berkata, "Masalah ini nggak ada hubungannya dengan kami."Jelas, jika sesuatu terjadi pada si pria tua, mereka tidak ingin ikut terseret. Bagi seorang dokter, kesalahan medis bisa berdampak besar pada reputasi mereka."Apa yang kamu lakukan pada kakekku?""Apa yang kamu lakukan pada kakekku?"Gadis itu mencengkeram baju Kelvin dengan erat. Air matanya hampir jatuh.Di belakang, Bernard melihat kejadian itu. Dia tersenyum tipis sambil berkata pelan, "Padahal nggak ada hubungannya denganmu. Sekarang malah kena masalah, 'kan?"Niveria hanya melirik sekilas, lalu kembali duduk dan melanjutkan tidur.Dia sangat percaya pada kemampuan Kelvin.Pada saat itu, pria tua yang terbaring di lantai tiba-tiba mengeluarkan suara aneh dari mulutnya, lalu mulai bernapas
Saat pria paruh baya itu melihat kondisi si pria tua, ekspresi wajahnya langsung berubah. Dia bertanya, "Ada apa dengannya?"Pria tua itu terus mengeluarkan busa dari mulutnya, sementara warna kebiruan di wajahnya makin pekat."Kami juga nggak tahu. Kakekku sehat-sehat saja selama ini. Waktu sebelumnya naik pesawat dari Kota Yanir juga nggak ada masalah. Nggak disangka kali ini ...." Gadis muda dengan rambut dua kuncir di sampingnya sudah panik sampai menangis."Baringkan dia dulu!" ucap wanita itu dengan cepat.Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri dan bekerja sama dengan sangat kompak.Mereka segera membaringkan pria tua itu di lorong pesawat."Apa yang sebenarnya terjadi?" Gadis berkuncir itu berucap, "Tolong selamatkan kakekku. Selama bisa menyelamatkannya, aku akan membayar berapa pun!""Ini serangan jantung mendadak, disertai beberapa komplikasi," jelas wanita paruh baya itu sambil mengernyit. "Di pesawat nggak ada obat atau alat medis yang memadai. Kami cuma bisa coba m
Kelvin bertanya dengan terkejut, "Kenapa?"Pria berkacamata emas itu tersenyum, lalu mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya kepada Kelvin. Dia memberi tahu, "Ini kartu namaku."Kelvin menerima kartu itu dan melihatnya. Di atasnya tertulis beberapa kata.[Desainer Utama Grup Starca, Bernard Hartanto!] Pria itu tersenyum tipis, lalu bertanya, "Kamu tahu Grup Starca?""Nggak tahu," jawab Kelvin sambil menggeleng."Itu perusahaan perhiasan," jelas Bernard sambil tersenyum. "Kami punya banyak cabang di seluruh negeri. Nilai perusahaan sekitar 60 triliun lebih.""Jadi kenapa?" tanya Kelvin dengan heran.Bernard sedikit mengernyit, lalu tetap tersenyum dan berkata, "Dalam hidup, jarang-jarang orang bisa bertemu dengan seseorang yang bisa mengubah nasibnya. Mungkin ... aku adalah orang itu untukmu."Setelah itu, Bernard melanjutkan sambil tersenyum, "Aku nggak tahu siapa yang membelikan tiket kelas bisnis untukmu, tapi dari yang kulihat, kamu sepertinya orang desa yang belum punya banyak p
Usman berencana membawa Julia pergi dari Kota Lamur dan membangun kembali sekte mereka. Untuk lokasi, nantinya baru akan diberitahukan kepada Kelvin setelah dipilih dan ditentukan.Namun saat ini, mereka masih belum meninggalkan Kota Lamur.Kelvin mengobrol sebentar dengan Julia, lalu menyimpan ponselnya dan menatap keluar jendela mobil.Jalanan Kota Lamur dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang.Sejak meninggalkan Desa Jayaka, ini adalah kota paling ramai yang pernah dilihat Kelvin.Hanya saja, Kelvin tidak terlalu menyukai kota ini. Di sini penuh dengan godaan, tetapi juga dipenuhi tipu daya dan persaingan licik. Tidak senyaman hidup di Desa Jayaka.Kelvin juga tidak tahu, saat nanti dia kembali ke Kota Lamur untuk kedua kalinya, apakah kota ini akan menjadi sangat berbeda.Mobil melaju hampir satu jam sebelum akhirnya mereka tiba di bandara.Niveria mengenakan kacamata hitam, lalu turun dari mobil.Setelah berpamitan dengan Kate, mereka berdua masuk ke dalam bandara.Ini adalah pertama
Malam pun berlalu dengan tenang tanpa terasa.Kelvin memasukkan hampir semua barangnya ke dalam cincin penyimpanan, lalu turun ke bawah."Barang bawaanmu mana?" tanya Niveria dengan heran saat melihat Kelvin.Kelvin berdeham sebelum berkata, "Aku nggak bawa banyak barang."Niveria menatapnya dengan sedikit curiga, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengangguk dan berkata, "Nggak apa-apa, nanti beli di Kota Yanir saja. Kali ini, aku juga cuma bawa satu koper."Sekarang, mereka tidak kekurangan uang, jadi untuk membeli kebutuhan sehari-hari memang bukan masalah.Kate menggandeng lengan Niveria sambil berkata, "Ah, kali ini kamu pergi ke Kota Yanir. Kita baru bisa ketemu lagi saat libur musim dingin nanti."Niveria mencubit hidung Kate dengan lembut, lalu berucap, "Kamu fokus saja belajar. Paman Aaron nggak menyuruhmu sekolah ke luar negeri?""Aku nggak mau!" kata Kate dengan nada manja. "Bahkan kuliah S2 saja aku nggak mau. Nanti setelah lulus S1, aku akan langsung ke Kota Yanir
Mendengar percakapan kedua staf itu, hati Kelvin sedikit terusik.Bos mereka hampir tidak pernah menampakkan diri?Kalau begitu, bagaimana cara Adrian mengirim paket ke sini? Apa dia langsung menyerahkannya kepada staf biasa?Mengirimkan kepala manusia begitu saja kepada staf toko biasa?Dengan pera
Wajah Edric langsung menjadi muram. Dia membalas, "Robert, kalau di hari biasa, aku pasti akan menghargaimu. Tapi sekarang, aku lagi bertemu dengan orang yang sangat penting. Aku nggak peduli kamu mau melakukan apa, mulai sekarang kalian nggak boleh berisik."Ekspresi Robert berubah-ubah sejenak. Di
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Pada saat itu, Kelvin duduk tegak.Di sudut bibirnya, terukir senyum penuh ejekan.Dirinya yang sekarang benar-benar berbeda jauh dari sosok lemah tak berdaya beberapa saat lalu, seperti dua orang yang sama sekali berbeda.Daniel dan Charles sama-sama terpaku.Raut wajah Adrian berubah drastis.Mata







