INICIAR SESIÓNPenjaga yang masih berdiri di depan gerbang melihat pemandangan itu. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berbuat apa.Tepat pada saat itu, orang yang tadi berlari masuk kembali keluar dengan tergesa-gesa. Setelah melihat Valdi, dia memberi hormat dulu, lalu memandang Andriyan sambil berkata, "Pak Andriyan, Pak Fikri mengundangmu masuk.""Apa?" Valdi langsung tercengang saat mendengar itu. "Emil, kamu nggak salah dengar? Kamu tahu akibat kalau dia masuk ke rumah Keluarga Barus? Begitu Keluarga Jahan tahu dia masuk ke sini, mereka pasti nggak akan membiarkan kita begitu saja. Mana mungkin Kakek Fikri mengizinkannya masuk?""Ini ... memang perintah langsung dari Pak Fikri," jawab Emil."Ayo!" kata Andriyan kepada Kelvin. Mereka berdua langsung berjalan menuju gerbang.Valdi buru-buru melangkah maju dan mengadang di depan pintu. Dia menggertakkan gigi dan berseru sambil merentangkan kedua tangan, "Aku nggak akan membiarkanmu masuk ...."Plak!Sebelum selesai bicara, Andriyan langsung menamp
Ekspresi Andriyan terlihat agak gelisah.Dulu, Andriyan memang diusir dari rumah Keluarga Barus. Tempat ini dulunya adalah rumahnya.Namun sepuluh tahun lalu, Andriyan diusir dari sini seperti anjing terlantar.Sejak saat itu, selama sepuluh tahun penuh, Andriyan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini.Orang tuanya yang dulu merupakan triliuner, kini berubah menjadi pemilik warung kecil di pinggir jalan. Di kota seperti Kota Yanir, bahkan bertahan hidup pun menjadi masalah bagi mereka.Sekarang setelah sepuluh tahun berlalu, Andriyan kembali ke Kota Yanir.Akan tetapi, semuanya sudah berubah.Saat kembali menginjak tempat yang pernah ditinggalinya selama 20 tahun, hati Andriyan dipenuhi rasa campur aduk dan sedikit gugup.Di tempat ini ada keluarganya.Di tempat ini juga ada wanita yang Andriyan cintai. Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan masa mudanya.Hanya saja karena tekanan Keluarga Jahan, semuanya hancur seperti gelembung.Andriyan diusir dari rumah Keluarga Bar
Kelvin tidak merasa itu masih bisa dianggap kebetulan. Dirinya adalah ahli alkimia level tiga, jadi bisa masuk lima besar papan peringkat ahli alkimia memang bukan hal yang mengejutkan.Itu artinya, nama "Kelvin" di peringkat ke-50 di daftar peringkat spiritual tadi kemungkinan besar memang dirinya sendiri.Kelvin kembali melihat ke bawah. Peringkat kedua di papan peringkat ahli alkimia adalah Sofian!Sementara itu, peringkat pertama lagi-lagi hanya berupa tanda titik-titik.Kelvin langsung terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti alasan jaringan ilegal menyembunyikannya."Sudah sampai!" ucap Andriyan saat Kelvin masih asyik melihat-lihat.Kelvin terlihat masih belum puas.Andriyan memandangnya tanpa daya, lalu berjanji, "Setelah urusan di sini selesai, aku ajari kamu cara menggunakan jaringan ilegal. Nanti, kamu bisa lihat sendiri sepuasnya.""Aku peringkat lima di papan peringkat ahli alkimia!" ucap Kelvin dengan bangga."Kamu baru tahu?" Andriyan melanjutkan, "Benar juga. Kamu memang
Kelvin sampai hampir tertawa melihatnya. Di unggahan itu, para ahli alkimia semuanya memaki Eric, sedangkan para kultivator biasa justru ramai-ramai membelanya.Harga Pil Primordial Yang turun seperlima menjadi 1,6 triliun per pil dan dijual terang-terangan di sana. Jelas hal itu memengaruhi keuntungan orang lain.Hanya saja bagi para kultivator biasa, itu justru sebuah kabar baik.Kelvin membaca pertengkaran mereka dengan penuh minat, lalu keluar dari unggahan tersebut.Kelvin terus menggulir ke bawah. Di antara berbagai unggahan, bahkan ada yang membagikan pengalaman berkultivasi.Setelah melihat-lihat forum diskusi beberapa saat, Kelvin keluar lagi, lalu membuka menu papan peringkat.Di dalamnya, ada cukup banyak daftar peringkat.Yang pertama adalah daftar peringkat sakti.Kelvin menarik napas dalam-dalam. Daftar peringkat sakti adalah daftar para kultivator terkuat di dunia ini. Daftar itu hanya mencatat 50 orang dan peringkat ke-50 berada paling atas.Namun di dalam daftar pering
Kelvin menimpali sambil mengangguk, "Kalau begitu buka ponselmu, biar aku lihat seperti apa jaringan ilegal itu."Andriyan mengangguk. Dia membuka ponselnya, lalu menemukan sebuah aplikasi berwarna hitam. Setelah aplikasi itu dibuka, dia menyerahkan ponselnya kepada Kelvin sambil berucap, "Lihat saja pelan-pelan."Sementara itu, Andriyan mulai menyetir menuju rumah Keluarga Barus.Kelvin memegang ponsel itu. Setelah aplikasi dibuka, sebuah tampilan langsung muncul.Tampilannya bersih dan rapi, tidak berbeda jauh dengan situs biasa. Bahkan, terlihat seperti aplikasi belanja online. Hanya saja, barang-barang yang dijual semuanya adalah benda yang digunakan para kultivator.Pil obat, senjata, jimat, bahan baku, semuanya ada. Setelah dibuka, harganya juga langsung tercantum dengan jelas.Dengan penasaran, Kelvin mengetik nama Pil Primordial Yang di kolom pencarian.Dalam sekejap, di urutan pertama muncul sebuah toko dengan nama pemilik "Kurir Pil Obat".Harga Pil Primordial Yang yang dijua
Mendengar perkataan Andriyan, Kelvin langsung menimpali dengan pasrah, "Aku lagi bicara serius. Aku punya dugaan yang sangat mengerikan! Ceritakan dulu seperti apa Sheren itu.""Oke. Hubunganku dengan dia lumayan dekat. Dia itu adik sepupuku. Usianya cuma lebih muda dua bulan dariku. Waktu kecil, dia juga sering ikut di belakangku. Tapi, dia sebenarnya nggak punya bakat untuk berkultivasi. Bahkan sebelum aku meninggalkan Kota Yanir dulu, Valdi si bajingan itu juga nggak punya bakat kultivasi." Andriyan melanjutkan, "Entah gimana si bajingan itu tiba-tiba bisa mulai berkultivasi."Setelah itu, Andriyan menambahkan, "Tapi sejak kecil, Sheren memang orang yang temperamental. Kepribadiannya juga terbuka dan blak-blakan. Hubungannya denganku cukup baik. Memangnya ada apa dengannya?""Aku curiga ...." Kelvin menatap Andriyan, lalu berkata perlahan, "Sheren mungkin adalah Seribu Bayangan.""Jangan bercanda." Andriyan langsung mengerucutkan bibir. Namun tak lama kemudian, ekspresinya berubah s
Ruang VIP itu sangat sunyi.Tiga orang itu duduk terpaku di kursi masing-masing. Di dalam mata mereka, hanya tersisa keputusasaan yang tak berujung.Kelvin memegang ponsel di tangannya. Di wajahnya, terpasang senyum tipis. Dia berkata dengan nada ramah, "Halo, aku Kelvin."Di seberang telepon, suasa
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Adrian menatap ke arah Kelvin. Wajah dan sorot matanya dipenuhi keputusasaan, ketakutan, dan amarah!Yang membuat Adrian putus asa adalah karena dia mengira rencana yang disusunnya kali ini sudah sempurna tanpa celah. Namun kenyataannya, Kelvin justru berhasil membalikkan keadaan.Awalnya setelah te
Ini benar-benar seperti orang mengantuk yang langsung diberi bantal. Kebetulan sekali, Kelvin memang juga berencana pergi ke Kota Lamur. Dia pun menyetujui sambil mengangguk, "Pas banget, aku juga ada urusan di Kota Lamur. Kapan kita berangkat?""Sekarang? Sebentar lagi aku jemput kamu di depan wism







