LOGINSayangnya, hal itu tak berguna karena hanya dalam waktu beberapa detik saja, seorang pria dengan seragam tempurnya memasuki ruangan itu lalu menembak semua pengawal itu.Dengan waktu yang sangat begitu cepat semua pengawal yang melindungi Gregory Brown tewas di tempat.Semua staf di dalam ruangan itu menjerit ketakutan dan hendak berlari untuk segera kabur dari ruangan itu.Tapi, hal yang sungguh sangat tidak terduga terjadi. Beberapa orang kembali masuk ke ruang itu sembari menodongkan senjata ke arah mereka semua secara bersamaan.Semua staf itu pun berhenti bergerak seketika.“Mundur!” Sang penembak para pengawal itu yang pertama memasuki ruangan itu memerintah dengan nada tegas.“Berlututlah!” dia kembali memerintah dan mereka pun berlutut dengan kaki yang gemetar.Gregory Brown yang semula hanya diam saja terlihat luar biasa syok hingga wajahnya telah berubah menjadi putih.
Richard terdiam sesaat. “Kalau ini bukan bagian dari rencana mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi?”Kharel mengangkat bahu, “Aku tidak tahu, Richard. Otakku sulit diajak bekerjasama.”Richard hanya bisa mendesah pelan. Sementara itu, di sebuah ruangan besar, para staf penyelenggara kompetisi lima tahunan itu sedang terlihat sibuk mengerjakan tugas mereka.Tak ada yang berani berbicara dan kebanyakan dari mereka fokus pada monitor. Namun, tiba-tiba saja, sang ketua dari Perserikatan Kerajaan-Kerajaan di Dataran Excellessy, Gregory Brown mengangkat alis kanannya.“Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh dua bocah ini?” Gregory menatap heran ke arah monitor besar di depannya. “Mereka? Apa maksudnya? Dan … bertahan sampai fase kedua? Apalagi itu maksudnya?” Gregory terlihat terganggu dengan percakapan Richard De Kruk dan Kharel Mackenzie.Oliver, salah seorang staf yang sudah di tadi mendampinginya pun menjawab, “Kami menduga mereka berniat kabur dari kompetisi ini dan … menurut dari peng
Bukan hanya Kharel saja yang terkejut dengan sikap kedua sahabatnya yang tampak kompak itu. Namun, Elliot dan Niall sendiri pun juga sama-sama kaget dengan tindakan mereka masing-masing. Keduanya seakan berbagi otak yang sama.Kharel menatap kedua sahabat baiknya itu secara bergantian dengan tatapan penuh keheranan. “Apa yang terjadi sebenarnya?”Elliot tidak menjawab pertanyaan Kharel. Dia malah mengangkat alisnya, menatap Niall, “Kau juga tahu?”Niall mengernyitkan dahi, “Kurasa begitu.”Kharel menggelengkan kepala, memilih untuk mengabaikan teman-teman baiknya. Dia tetap saja berdiri lalu menyambut kedatangan First.Elliot dan Niall hanya bisa mendengus pelan melihat Kharel yang mulai berbicara dengan First.First mengajak Kharel untuk pergi sedikit agak jauh dari teman-temannya. Kharel sebenarnya sedikit agak bingung tetapi pria muda itu tetap mengikuti First.Keen yang selalu peka terhadap sesuatu yang terjadi di sekitarnya pun berkomentar, “Apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?”
“Aku tidak menyembunyikan apapun darimu.” First menjawab dengan tatapan tenang ke arah Niall.Niall masih curiga terhadap temannya itu tapi untuk saat itu dia memilih untuk tidak memaksanya untuk menjawab.“Ayo, sebaiknya kita segera bergerak!” Alec memilih untuk menjadi penengah agar mereka tidak rugi waktu.Pada akhirnya mereka bertiga berpisah arah dan First tidak memprotesnya lagi.Sekitar tiga jam setelah hasil ketiga dimulai, hampir sebagian peserta telah tiba di titik akhir di mana terdapat pintu gerbang besar yang masih terkunci.Setidaknya ada dua belas peserta yang telah menyelesaikan semua tantangan. Dua diantara mereka adalah Richard De Kruk dan Kharel Mackenzie yang menjadi tim pertama tiba di sana.“Apa menerima kita harus menunggu semua peserta yang bisa lolos sampai ke pintu ini?” Richard bertanya dengan kening berkerut.Kharel menggelengkan kepalanya, &
Niall membelalakkan mata, tampak begitu terkejut. Pemuda berusia 18 tahun itu segera berlari mendekati orang yang dia kenal itu.Alec mendesah pelan dan segera menyusul Niall tanpa berkata apapun.Dengan cepat Niall memegang tangan orang itu dan bertanya, “Apa yang terjadi?”“Leo.” Alec yang telah menyusul Niall tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat Leo Wein terkapar di tanah dengan luka yang serius.First Kiansa terlihat kaget melihat Niall Anderson yang datang bersama dengan rekan satu timnya. “Niall.”“Ini Leo Wein?” Niall ternganga.Dia langsung duduk dan memeriksa orang yang diseret oleh First itu.“Apa dia … mati?” Alec menatap ngeri ke arah mantan temannya itu. Niall yang tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh Leo langsung mengangkat kepala dan menatap First.“Bagaimana dia bisa kehilangan nyawanya, First?”Alec menutup mulutnya begitu mendengar perkataan Niall yang tentu saja langsung menjawab apa yang dia tanyakan tadi.First menggelengkan kepalanya, “
Knox memutar bola mata, “Aku tidak membencinya. Aku hanya kesal karena dia … mengabaikan aku ketika aku diserang oleh Kyland dan Reinhard.”Elliot mengernyitkan dahi, menatap Knox dengan tatapan sulit percaya.Knox pun tertawa masam, “Aku sudah mengira kalau kau tidak akan percaya, jadi lupakan saja apa yang aku katakan.”Pria muda itu pun lanjut melangkah ke arena selanjutnya dengan dipenuhi rasa kecewa. Sementara itu Elliot malah justru terdiam.Dia memang mengenal First lebih dulu daripada Know dan dia tidak melihat adanya tanda-tanda hal yang aneh dari First.Pangeran dari Kerajaan Kiansa itu bahkan membantu Gale di saat sahabat baiknya itu terkena jarum-jarum beracun.Dikarenakan hal itu, dia pun sulit mempercayai apa yang dikatakan oleh Knox.Akan tetapi, dia bisa membaca ekspresi Knox yang penuh dengan kejujuran. Sehingga dia menjadi sekit agak bingung.“Sudah aku katakan,







