MasukSehan tersenyum senang karena tante Zola mau mengangkat panggilannya. "Terima kasih, Tante. Tante sudah mau mengangkat panggilan Sehan. Sehan butuh bantuan tante Zola, Sehan saat sedang dalam masalah. Ada yang menjebak Sehan. Sehan saat ini sedang ada di kantor polisi" "Apa? Kenapa kamu bisa di kantor polisi?" Suara tante Zola sedikit naik kamera karena terkejut mendengar Sehan dibawa ke kantor polisi. "Ada yang menjebak aku, Tante. Aku dituduh memeperkosa Chellia, putri dari tuan Dimitrio. Padahal malam itu dia sendiri yang memintaku untuk melayaninya. Awalnya tante Raysa yang meininta Sehan untuk melayani dia di hotel Queen. Sampai di sana tante Raysa belum juga datang, Sehan disuruh untuk menunggu di kamar yang sduadh ia pesan sebelumnya." "Wait, tunggu. Raysa? Raysa pemilik salon itu?' "Benar, Tante. Tante Raysa pemilik salon itu. Bukannya tante yang meminta Sehan untuk melayaninya?" tanya balik Sehan. Tante Zola terdiam, saat ini ia sedang mengingat
Bab. Felix menatap serius ke arah Sehan duduk di depannya. Sehan menceritakan semua yang sudah terjadi padanya. "Dari semua yang anda ceritakan, saya menyimpulkan bahwa anda menduga kalau pelakunya adalah Tante Raysa dan David?" tanya si pengacara memastikan apa yang ia simpulkan itu benar. "Benar, Felix. Aku menduga mereka berdua adalah dalang dari semua ya g sudah terjadi padaku dsn juga pada Chellia. Kita bisa meminta pihak rumah sakit hasil visum dugaan pelecehan. Jika itu memang pelecehan maka akan ada luka, akan tetapi jika tidak ada luka karena paksaan maka itu buka pelecehan. Melainkan mau sama mau," ucap Sehan. Felix pengacara handal itu mengangguk paham. Apa yang dikatakan Sehan masuk akal. Akan ada luka di organ intim kewanitaan Chellia jika ada unsur paksaan. Jika mau sama mau maka luka itu tidaklah masih kategori normalnya wanita yang melakukan hubungan seksual untuk pertama kali. "Bagaimana, Felix? Apakah kamu bisa usut tuntas semua ini? Untuk m
Hari menjelang sore Sehan masih berada di sel tahanan sementara kantor polisi tersebut. "Kurang ajar si Felix, dia sudah aku bayar mahal-mahal akan tetapi tidak datang juga. Bila mau datang dalam 2 jam ini dan sekarang sudah hampir 4 jam aku menunggu dirinya tidak ada juga! Dihubungi selalu jawabnya masih dalam perjalanan menuju ke sini!" geram Sehan. Tangan Sehan mencengkeram kuat jeruji besi yang sudah mengurungnya. Merasa hampir putus asa tiba-tiba ia teringat akan tante Felicia. Sehan ingat kalau wanita itu juga punya pengaruh di pemerintahan. Gagas Sehan menghubungi tante Felicia. Berulang kali Sehan memanggil tante Felicia, namun tidak diangkat juga. Padahal tante Felicia saat itu sedang online. Sehan mengerutkan keningnya. Dia merasa ada yang aneh kenapa Tante Felicia tidak mau mengangkat panggilannya. "Tante Felicia online tapi mengapa dia tidak mau mengangkat panggilanku. Apa dia marah denganku? Bisa jadi karena aku semalam tidak kembali ke kamarnya
Dengan terburu-buru Sehan membawa koper Chellia di hotel di mana mereka berdua semalam menginap. Namun, saat sampai di lantai di mana kamar Chellia berada, Sehan terkejut karena beberapa orang berseragam kepolisian berdiri menjaga pintu masuk kamar yang ditempati oleh Sehan. "Ada apa ini? Kenapa ramai begini apa ya sudah terjadi jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Celia!" gumam Sehan. Ia takut terjadi sesuatu dengan Chellia. Apa yang dia khawatirkan benar terjadi. Sehan mendekat ke kamar itu. Di sana ada Tante Raysa juga. Sedangkan David tapi tidak menunjukkan dirinya karena dia tidak ingin terlibat sesuatu apapun dengan orang lain. "Pak polisi, itu dia orangnya!" seru Tante Raysa saat melihat Sehan datang. "Apa benar dia?" tanya si polisi memastikan agar mereka tidak salah tangkap. Sesuai dengan perintah David, Tante Raysa menyatakan kalau lelaki yang sudah membuat Chellia seperti saat ini itu adalah Sehan. Chellia ditemukan oleh Tante Raysa dalam keadaa
Di dalam kamar mandi, Chellia menangis tersedu-sedu. Kehormatannya sebagai seorang wanita sudah terampas oleh lelaki yang ia benci. Lelaki yang baginya sangat menjijikkan karena memiliki pekerjaan yang sangat memalukan. Berulang kali Cheliia menggosok badannya dengan sabun untuk menghilangkan jejak tubuh Sehan yang menempel di badannya. "Ya Tuhan, Kenapa harus dia? Bagaimana bisa aku bercinta bersama dia? Apa dia sengaja meniduri dan merampas kesuciankukarena ingin bals dendam kepadaku?" gumam Chellia sambil menatap tubuhnya di pantulan cermin yang penuh dengan tanda merah hasil karya bibir Sehan. Lama Chellia di kamar mandi, membuat Sehan merasa khawatir. Dia bangun dari tempat tidur dan bergegaas memakai celana panjangnya tanpa pakaian atas. Sehan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Ingin ia mengetuk pintu kamar mandi itu. Namun, hati kecilnya mencegahnya. Perasaan takut dan tidak enak pada Chellia mengalahkan rasa khawatirnya. Kembali Sehan mondar-mandi
Malam berlalu dengan begitu cepat. Sehan sudah tidak menghitung lagi berapa kali ia mencapai klimaks, hingga kini ia terkapar di samping Chellia. Mereka tidur berpelukan seperti pasangan suami istri pada umumnya. Seakan mereka bukan musuh. Pagi harinya. Cahaya matahari merangkak meninggalkan malam. Namun pergantian hari tidaklah membuat Sehan dan Chellia bangun. Rasa lapar lah yang membuat Chellia bangun duluan. Dengan mata yang masih terpejam Chellia menggerakkan tubuhnya. Sudah biassa kalau dia bangun pagi, Chellia akan menggerakkan tubuhnya. "Aww, kenapa tubuhku rasanya sakit semua?" rintih Chellia merasakan badannya sakit semua. Terlebih pada area kewanitaannya. Merasakan dirinya ada yang janggal, Chellia membuka mataya dan juga membuka selimut yag menutupi tubuhnya. "Aaaa ...!" teriak Chellia saat mendapati tubuhnya dalam keadaan tidak ada satu helaipun yang menempel di badannya. Bibir dan tubuh Chellia bergetar karena rasa takut dan juga rasa malu