MasukBayu, sopir baru keluarga Bram, mengetahui bahwa Nyonya Selin telah bertahun-tahun setia kepada suami yang diam-diam mengkhianatinya dengan orang-orang terdekat. Ketika Bayu tak sengaja menyaksikan kesedihan Selin, hubungan majikan dan pekerja itu mulai berubah. Bayu membutuhkan pekerjaannya untuk membiayai sekolah sang adik, tetapi kini dia terseret ke dalam rahasia rumah tangga keluarga tersebut. Haruskah Bayu tetap diam?
Lihat lebih banyak"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."
Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di desa.
Dalam seminggu itu, Bayu sudah tiga kali mendengar Nyonya Selin yang menyalahkan Pak Bram yang tak bisa memberinya kepuasan batin.
"Nggak bisa, Sayang. Aku ada panggilan telepon mendadak dari kantor. Besok-besok lagi aku puasin kamu, ya," jawab pak Bram, sambil memakai celana dengan terburu-buru.
Dalam pikiran Bayu, sepertinya Nyonya Selin dan Pak Bram, sudah menggunakan pakaian dan bersiap untuk berangkat. Tapi kenyataannya, apa yang dilihat Bayu jauh lebih mempesona!
Hampir seminggu kerja, tiga kali Bayu melihat Nyonya Selin melakukan pilates dan yoga. Usianya memang sudah menginjak kepala tiga, tapi tubuh Nyonya Selin… sangat ramping dan menggoda.
Tapi sayang, tubuh semenggoda itu harus dihadapkan kenyataan pahit, bahwa Pak Bram tak pernah sekalipun bisa memuaskannya.
Pernah sekali Pak Bram bercerita tentang kondisinya, yaitu cepat keluar ketika bermain dengan wanita. Bahkan dengan terang-terangan dia bilang, bahwa Selin tak pernah sekalipun puas walau hanya semalam.
Di tengah pikiran berkecamuk, Bayu kembali memfokuskan pandangan ke Nyonya Selin, yang bangkit dari posisi terlentangnya.
Alamak!
Selain tubuhnya yang ramping, bagian punggungnya sangat bersih nan mulus. Tepat ketika Nyonya Selin menekuk tubuhnya ke kiri, tepat ke arah pintu, Si Gatot milik Bayu bangun.
“Duh, kenapa bangun duluan?” Bayu menepuk pahanya sendiri, tapi si Gatot terus menggeliat, seperti memberi kode bahwa Bayu harus memfokuskan pandangannya lagi.
Ada buah melon kualitas impor, dengan ujung berwarna pink, dan ukurannya tak terlalu besar.
Bayu sempat menoleh sekilas ke telapak tangannya, lalu membayangkan apakah buah tersebut dapat ia genggam seutuhnya, dan argh… tidak!
"Tidak boleh! Ingat, dia majikanmu yang ngasih uang kamu! Ingat, Bayu, jangan gegabah dan jangan berperilaku tidak tahu diri! Ingat adikmu butuh biaya buat sekolah!" tegur Bayu pada dirinya sendiri, dia kembali tersadar jika Nyonya Selin itu majikannya, sehingga kurang pantas jika dia berpikiran negatif.
Baru juga Bayu berhasil menghapus imajinasi liarnya, tiba-tiba terdengar suara Nyonya Selin yang sedang merengek pada Pak Bram.
"Iih, Sayang. Udah sebulan lebih lho kamu nggak nyentuh aku, satu kali lagi, ya? Pleasee?" Nyonya Selin memohon sambil menempelkan dadanya ke lengan suami, tapi pak Bram menepisnya dengan ringan dan mendorong tubuh sintal istrinya menjauh.
"Beneran nggak bisa. Mungkin, besok aja, ya,” hibur pak Bram, lalu membenarkan kancing seragamnya. “Cepetan kamu pakai baju, sebelum Bayu datang!”
Bayu yang sadar, cepat-cepat memasukkan tangannya ke celana, membetulkan posisi Si Gatot yang tadi terjerembab di sana, agar tidak ada tonjolan yang terlihat ketika Pak Bram keluar nanti.
Betul saja, selisih 20 detik kemudian, Pak Bram keluar dan menoleh ke arah Bayu yang sudah bersandar tepat di samping pintu.
“Bayu, udah lama di sini?” Pak Bram bertanya dan mengira Bayu tidak mengetahui kejadian tadi.
“Eh, iya, Pak Bram, saya barusan aja datang ke sini. Saya lihat tadi pintunya nggak dikunci, mau saya ketuk tapi saya sadar, saya nggak punya hak. Jadi saya berdiri di sini aja, nunggu Pak Bram keluar.”
"Ayo, Bay. Antar aku." Pak Bram berjalan tergesa meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi, seperti tengah dikejar sesuatu.
"Siap, Pak."
Sebelum Bayu menyusul langkah Pak Bram, Bayu sempat melihat Nyonya Selin yang hanya dibalutkan syal, menutup tubuhnya sendiri.
Nyonya Selin seperti wanita yang depresi. Bagaimana tidak, saat dia butuh kepuasan batin, Pak Bram tak pernah bisa memberikannya. Pak Bram selalu sibuk urusan kantor, uang, dan mungkin… ada sesuatu lain yang ditutupi Pak Bram.
Andai saja Bayu yang jadi suami Nyonya Selin, Bayu pasti memberinya kasih sayang seperti seorang ratu.
Sudah sangat cantik, lugu, manis, bisa memimpin rapat, mengatur keuangan, lalu dingin ke semua laki-laki lain selain suaminya… sungguh tipe yang sangat elegan, idaman semua pria!
Tanpa sadar, Bayu melihat ada gemerlap di pipi Nyonya Selin. “Nangis? Sial, kenapa sih harus punya suami kayak Pak Bram? Argh, andai aku punya kuasa dan layak bersanding, Nyonya pasti udah bahagia. Argh, sialan emang si Bram-Bram itu!”
Gumaman Bayu sepertinya didengar Nyonya Selin yang langsung melihat celah pintu. Cepat-cepat wanita itu membetulkan syalnya, lalu menatap tajam ke arah Bayu.
"Siapa kamu?!"
Tiba tiba, teguran dari sang nyonya membuat Bayu menggeleng panik dan segera menunduk. "Ah, tidak. Tidak, Nyonya... saya...."
Belum selesai Bayu bicara, nyonya Selin memotong, "Kamu sopir baru suamiku?"
Bayu bisa menjadi sopir karena waktu Pak Bram ada kunjungan survei tanah ke desa, supir pribadi Pak Bram mengajukan resign dan Bayu disuruh menggantikan.
Sang supir dan Bayu sudah kenal lama, karena dulu Bayu sering dipanggil untuk memasok sayur dan buah dari desa ke hotel-hotel. Karena puas dengan cara Bayu menyetir, maka Bayu langsung diangkat jadi supir pribadi Pak Bram.
Tapi sekarang, Bayu malah terjebak dalam situasi sangat genting, yang bisa mempertaruhkan pekerjaannya.
"I-iya, Nyonya," jawab Bayu yang gugup sehingga keringat mulai membasahi keningnya.
Sebelum Bayu sempat bereaksi, Nyonya Selin kemudian berdiri. Dari syal yang tipis itu, Bayu masih melihat chocochips yang menyembul. Dan sialnya, Bayu baru tahu ada chocochips yang warnanya merah muda.
Semakin dekat langkah Nyonya Selin, semakin berdegup pula jantung Bayu.
"Awasi suamiku, lalu lapor semua gerak-geriknya ke aku, terutama saat dia bertemu dengan sekretaris pribadi dan cleaning yang biasa menghidangkan kopi di kantornya!"
“Ta-tapi…”
Dekapan di atas kasur busa tipis itu perlahan meluruhkan sisa ketegangan yang membakar dada mereka. Napas Rendra yang semula memburu berat kini berangsur teratur, menyapu pucuk kepala Arini yang bersandar pasrah di ceruk lehernya. Pria bertubuh kekar itu menarik selimut kain sederhana hingga menutupi bahu porselen Arini, mengurung wanita itu dalam kehangatan tubuhnya yang kokoh tanpa membiarkan hawa dingin dini hari menyusup masuk. Arini memejamkan mata rapat-rapat, menikmati ketenangan langka yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun terbelenggu dalam istana megahnya. Jemari lentiknya masih meraba perlahan garis bekas luka di punggung liat sang montir, merasakan setiap detak jantung Rendra yang berdenyut tenang bagai genderang perlindungan. "Mas Rendra..." bisik Arini lirih, suaranya parau memecah sunyi. Rendra menunduk sedikit, mengecup lembut kening Arini seraya menyisipkan helai rambut yang menutupi pelipisnya ke belakang telinga. "Tidurlah, Arini. Semuanya sudah selesai."
Rendra menarik tuas pintu geser besi bengkel ke bawah perlahan hingga dasarnya berdentang rapat menghantam lantai semen. Gembok baja besar dipasang dari arah dalam dengan bunyi klik yang solid, mengunci rapat seluruh dunia luar yang penuh intrik dan kebisingan di balik dinding seng tebal. Bengkel tua itu kini hening, hanya diterangi seberkas lampu bohlam kuning temaram yang menggantung di dekat meja perkakas. Arini berdiri mematung di tengah ruangan beraroma oli mesin dan pelarut karat, memeluk kedua lengannya sendiri seraya menatap sekeliling dengan binar mata yang berkilat lembut. Langkah kaki Rendra melangkah mendekat tanpa alas kaki, bayangan tubuh kekarnya yang menjulang menenggelamkan sosok ramping sang nyonya. "Ini tempat tinggal saya, Arini... jauh dari kata layak untuk nyonya besar seperti kamu," bisik Rendra seraya menatap gaun sutra Arini yang tampak begitu mewah di antara tumpukan roda gigi dan dongkrak hidrolik. Arini mengangkat pandangannya, menatap sepasang mata e
Deru mesin mobil bak ganda milik Rendra membelah dinginnya jalanan aspal menuju ruko bengkel di ujung gerbang komplek. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma khas besi tua, keheningan di antara keduanya justru terasa sarat oleh letupan rasa yang belum usai. Arini duduk merapat di kursi penumpang, sesekali melirik jemari kekar Rendra yang mencengkeram lingkar kemudi. Tatapan mata elang pria itu tampak lurus menatap jalan, namun rahang tegasnya yang mengeras memperlihatkan pergolakan batin yang nyata setelah mendengar tantangan sang nyonya di beranda tadi. Namun, ketegangan manis itu seketika buyar begitu mobil berbelok memasuki pelataran bengkel. Lampu tembak mobil bak menyorot tepat ke arah sedan sport merah milik Clarissa yang terparkir melintang di depan pintu lipat besi. Wanita blasteran itu rupanya tidak benar-benar pulang. Clarissa berdiri bersandar di kap mobil mewahnya seraya melipat tangan di dada, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut lekuk tubuh rampingnya dengan sa
Satu jam berselang, hiruk-pikuk sirene dan lampu rotator biru perlahan mereda di pelataran depan komplek Cemara Hijau. Garis polisi membentang di sekeliling gerbang mansion. Udara dini hari yang sejuk perlahan mengusir sisa bau gas air mata dari teras beranda marmer. Sejumlah petugas forensik masih sibuk mencatat barang bukti, sementara beberapa tetangga komplek elit berdiri di kejauhan dengan tatapan ingin tahu yang tertahan. Di undakan tangga teras samping yang sepi, Rendra duduk bersandar pada pilar seraya menyalakan sebatang rokok. Kaos hitamnya berdebu dan sobek di bagian lengan kiri, memperlihatkan luka gores memanjang yang mengeringkan bercak darah tipis akibat pecahan kaca tabung gas. Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Arini muncul membawa sebuah kotak pertolongan pertama kecil dan sebaskom air hangat. "Duduk diam dan jangan bergerak," titah Arini dengan nada suara yang berusaha terdengar galak, meski matanya masih tampak sembab. Rendra mendongak, tersenyum
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak