LOGINMelihat Nyonya Selin yang cantik tak pernah dipuaskan suaminya, bahkan diselingkuhi diam-diam, Bayu sang Sopir baru iba. Pasalnya, selama 3 tahun menikah, Nyona Selin tak pernah menghianati suaminya. Nyonya juga selalu ingin memberi yang terbaik, bahkan ketika di ranjang. Tapi apa yang dilakukan suaminya? Selingkuh, bahkan dengan pembantu dan sekretaris pribadinya. Hingga suatu malam Bayu memergoki Nyonya Selin sedang menangis dan memuaskan hasratnya sendiri. Begitu Bayu bersujud minta maaf dan berharap tak dipecat, Nyonya Selin datang dan bilang, "Jika suamiku tak bisa, maka siapa lagi yang melakukannya?"
View More"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."
Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di desa.
Dalam seminggu itu, Bayu sudah tiga kali mendengar Nyonya Selin yang menyalahkan Pak Bram yang tak bisa memberinya kepuasan batin.
"Nggak bisa, Sayang. Aku ada panggilan telepon mendadak dari kantor. Besok-besok lagi aku puasin kamu, ya," jawab pak Bram, sambil memakai celana dengan terburu-buru.
Dalam pikiran Bayu, sepertinya Nyonya Selin dan Pak Bram, sudah menggunakan pakaian dan bersiap untuk berangkat. Tapi kenyataannya, apa yang dilihat Bayu jauh lebih mempesona!
Hampir seminggu kerja, tiga kali Bayu melihat Nyonya Selin melakukan pilates dan yoga. Usianya memang sudah menginjak kepala tiga, tapi tubuh Nyonya Selin… sangat ramping dan menggoda.
Tapi sayang, tubuh semenggoda itu harus dihadapkan kenyataan pahit, bahwa Pak Bram tak pernah sekalipun bisa memuaskannya.
Pernah sekali Pak Bram bercerita tentang kondisinya, yaitu cepat keluar ketika bermain dengan wanita. Bahkan dengan terang-terangan dia bilang, bahwa Selin tak pernah sekalipun puas walau hanya semalam.
Di tengah pikiran berkecamuk, Bayu kembali memfokuskan pandangan ke Nyonya Selin, yang bangkit dari posisi terlentangnya.
Alamak!
Selain tubuhnya yang ramping, bagian punggungnya sangat bersih nan mulus. Tepat ketika Nyonya Selin menekuk tubuhnya ke kiri, tepat ke arah pintu, Si Gatot milik Bayu bangun.
“Duh, kenapa bangun duluan?” Bayu menepuk pahanya sendiri, tapi si Gatot terus menggeliat, seperti memberi kode bahwa Bayu harus memfokuskan pandangannya lagi.
Ada buah melon kualitas impor, dengan ujung berwarna pink, dan ukurannya tak terlalu besar.
Bayu sempat menoleh sekilas ke telapak tangannya, lalu membayangkan apakah buah tersebut dapat ia genggam seutuhnya, dan argh… tidak!
"Tidak boleh! Ingat, dia majikanmu yang ngasih uang kamu! Ingat, Bayu, jangan gegabah dan jangan berperilaku tidak tahu diri! Ingat adikmu butuh biaya buat sekolah!" tegur Bayu pada dirinya sendiri, dia kembali tersadar jika Nyonya Selin itu majikannya, sehingga kurang pantas jika dia berpikiran negatif.
Baru juga Bayu berhasil menghapus imajinasi liarnya, tiba-tiba terdengar suara Nyonya Selin yang sedang merengek pada Pak Bram.
"Iih, Sayang. Udah sebulan lebih lho kamu nggak nyentuh aku, satu kali lagi, ya? Pleasee?" Nyonya Selin memohon sambil menempelkan dadanya ke lengan suami, tapi pak Bram menepisnya dengan ringan dan mendorong tubuh sintal istrinya menjauh.
"Beneran nggak bisa. Mungkin, besok aja, ya,” hibur pak Bram, lalu membenarkan kancing seragamnya. “Cepetan kamu pakai baju, sebelum Bayu datang!”
Bayu yang sadar, cepat-cepat memasukkan tangannya ke celana, membetulkan posisi Si Gatot yang tadi terjerembab di sana, agar tidak ada tonjolan yang terlihat ketika Pak Bram keluar nanti.
Betul saja, selisih 20 detik kemudian, Pak Bram keluar dan menoleh ke arah Bayu yang sudah bersandar tepat di samping pintu.
“Bayu, udah lama di sini?” Pak Bram bertanya dan mengira Bayu tidak mengetahui kejadian tadi.
“Eh, iya, Pak Bram, saya barusan aja datang ke sini. Saya lihat tadi pintunya nggak dikunci, mau saya ketuk tapi saya sadar, saya nggak punya hak. Jadi saya berdiri di sini aja, nunggu Pak Bram keluar.”
"Ayo, Bay. Antar aku." Pak Bram berjalan tergesa meninggalkan kamar tanpa menoleh lagi, seperti tengah dikejar sesuatu.
"Siap, Pak."
Sebelum Bayu menyusul langkah Pak Bram, Bayu sempat melihat Nyonya Selin yang hanya dibalutkan syal, menutup tubuhnya sendiri.
Nyonya Selin seperti wanita yang depresi. Bagaimana tidak, saat dia butuh kepuasan batin, Pak Bram tak pernah bisa memberikannya. Pak Bram selalu sibuk urusan kantor, uang, dan mungkin… ada sesuatu lain yang ditutupi Pak Bram.
Andai saja Bayu yang jadi suami Nyonya Selin, Bayu pasti memberinya kasih sayang seperti seorang ratu.
Sudah sangat cantik, lugu, manis, bisa memimpin rapat, mengatur keuangan, lalu dingin ke semua laki-laki lain selain suaminya… sungguh tipe yang sangat elegan, idaman semua pria!
Tanpa sadar, Bayu melihat ada gemerlap di pipi Nyonya Selin. “Nangis? Sial, kenapa sih harus punya suami kayak Pak Bram? Argh, andai aku punya kuasa dan layak bersanding, Nyonya pasti udah bahagia. Argh, sialan emang si Bram-Bram itu!”
Gumaman Bayu sepertinya didengar Nyonya Selin yang langsung melihat celah pintu. Cepat-cepat wanita itu membetulkan syalnya, lalu menatap tajam ke arah Bayu.
"Siapa kamu?!"
Tiba tiba, teguran dari sang nyonya membuat Bayu menggeleng panik dan segera menunduk. "Ah, tidak. Tidak, Nyonya... saya...."
Belum selesai Bayu bicara, nyonya Selin memotong, "Kamu sopir baru suamiku?"
Bayu bisa menjadi sopir karena waktu Pak Bram ada kunjungan survei tanah ke desa, supir pribadi Pak Bram mengajukan resign dan Bayu disuruh menggantikan.
Sang supir dan Bayu sudah kenal lama, karena dulu Bayu sering dipanggil untuk memasok sayur dan buah dari desa ke hotel-hotel. Karena puas dengan cara Bayu menyetir, maka Bayu langsung diangkat jadi supir pribadi Pak Bram.
Tapi sekarang, Bayu malah terjebak dalam situasi sangat genting, yang bisa mempertaruhkan pekerjaannya.
"I-iya, Nyonya," jawab Bayu yang gugup sehingga keringat mulai membasahi keningnya.
Sebelum Bayu sempat bereaksi, Nyonya Selin kemudian berdiri. Dari syal yang tipis itu, Bayu masih melihat chocochips yang menyembul. Dan sialnya, Bayu baru tahu ada chocochips yang warnanya merah muda.
Semakin dekat langkah Nyonya Selin, semakin berdegup pula jantung Bayu.
"Awasi suamiku, lalu lapor semua gerak-geriknya ke aku, terutama saat dia bertemu dengan sekretaris pribadi dan cleaning yang biasa menghidangkan kopi di kantornya!"
“Ta-tapi…”
"K-kalian, argghh." Sensasi kenikmatan gila yang menghantam dari dua arah sekaligus membuat sekujur tubuh kekar Bayu bergetar hebat tak terkendali. 'Mampus aku! Dua wanita ini bener-bener mau memeras Si Gatot sampai kering kerontang malam ini!' jerit batin Bayu seraya mencengkeram seprai ranjang sekuat tenaga. "Kalian berdua... jangan berhenti... saya bisa gila kalau begini terus!" raung Bayu dengan rahang mengeras dan mata berkilat merah menahan lahar yang siap meledak. "Katakan Bayu... di dalam rahim siapa kamu ingin menumpahkan kenikmatan ini?!" tuntut Nyonya Selin dengan napas terengah-engah seraya mendudukkan pinggulnya tepat di atas keperkasaan sang sopir. "Penuhi rahim saya dulu, Bayu! Biarkan air susuku bercampur dengan benih terbaikmu malam ini!" jerit Maya tak mau kalah seraya menarik tubuh Bayu agar merengkuh dadanya. Pertarungan gairah di ranjang mewah itu akhirnya meledak tanpa aturan, menenggelamkan Bayu di tengah pusaran persaingan dua wanita yang sama-sama
Bayu merobek plester perban terakhir yang melilit paha dan betis kirinya, lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Bekas lubang peluru itu kini telah menutup sempurna menjadi guratan luka tipis berkat regenerasi sel yang luar biasa. Pemuda desa itu menghentakkan kedua kakinya ke lantai marmer dengan mantap, merasakan kekuatannya telah kembali seratus persen. "Gusti Pangeran... kakiku benar-benar sudah sembuh total tanpa rasa ngilu sedikit pun," gumam Bayu seraya tersenyum puas mengagumi otot kakinya yang kembali padat. Belum sempat Bayu mengenakan kaosnya, pintu kamar terbuka lebar tanpa ketukan terlebih dahulu. Nyonya Selin melangkah masuk dengan gaun tidur sutra hitam transparan yang memperlihatkan lekuk tubuh gitarnya yang mematikan. Aroma wangi parfum stroberi yang mewah langsung menyeruak memenuhi ruangan, menyapu indra penciuman Bayu. "Baguslah kalau kakimu sudah sembuh seutuhnya, Bayu," puji Nyonya Selin seraya melipat kedua tangannya di bawah dada. Sorot mata
Cahaya mentari pagi perlahan menyusup melalui celah tirai jendela, membias hangat di atas lantai marmer ruang VIP. Aroma parfum stroberi yang berkelas beradu lembut dengan semerbak aroma alami tubuh perempuan desa yang manis. Nyonya Selin sudah berdiri anggun di samping ranjang dengan jubah sutra yang tersampir longgar, memperlihatkan lekuk leher jenjang dan belahan dadanya yang menawan. Jemari lentik sang nyonya memegang cangkir porselen berisi teh hangat, menyesapnya perlahan seraya menatap pemuda desa yang mulai mengerjapkan mata di atas kasur. "Selamat pagi, Bayu," sapa Nyonya Selin dengan senyuman berkelas yang sarat akan rasa kepemilikan mutlak. Belum sempat Bayu menyahut, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Maya melangkah keluar membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk bersih. Perempuan desa itu tampak segar dengan rambut yang disanggul sederhana, sementara kancing baju atasnya sengaja dibiarkan terbuka sedikit untuk memperlihatkan gundukan montoknya yang
Mendapat izin mutlak itu, Maya merangkak naik ke dada bidang Bayu, menempelkan puncak dadanya yang basah tepat di depan bibir sang pemuda. Aroma susu alami yang manis seketika menyeruak pekat, mengacaukan kembali kewarasan Bayu yang baru saja mereda. "Minum semuanya, Bayu sayang... habiskan seluruh energiku untukmu," desah Maya seraya menekan dadanya ke mulut Bayu. Bayu tidak membuang kesempatan surgawi itu dan langsung melumat ujung dada Maya dengan hisapan kuat yang lapar. *Slurrrp...* Setiap tetes cairan manis yang mengalir di kerongkongan Bayu langsung menyalakan kembali api liar di dalam pembuluh darahnya. Si Gatot di bawah selimut seketika tersentak hebat, kembali menegang lurus menantang langit-langit kamar dengan ketegangan baja. "Aaaakhhh... hisap yang kuat, Bay... Nyonya Selin sedang menonton kita..." racau Maya seraya membusungkan dadanya ke depan dengan erangan tertahan. Jemari lentik Maya sengaja meremas rambut pendek Bayu, mengarahkan tatapan matanya ke
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore