Share

Bab 3

Author: Fana
Anindya memaksakan diri membuka mata. Dalam pandangannya yang masih kabur, dia samar-samar melihat wajah Sakha.

“Jenderal ....” Suaranya serak dan parau ketika dia berusaha berbicara, “Hari ini ... hamba tidak sanggup.”

Anindya bukan sedang bermanja-manja. Dia benar-benar merasa sangat kesakitan.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Kepalanya pening dan berat, seperti dipenuhi segumpal kapas. Bahkan untuk mengangkat tangan pun dia sudah tidak bertenaga. Dia bahkan merasa mungkin dirinya benar-benar akan mati di ranjang itu.

Namun, Sakha sama sekali tidak menghiraukannya. Tangannya menyusup ke balik kerah baju Anindya, sementara napasnya yang panas menerpa telinganya. “Baguslah kalau lagi demam. Kau jadi lebih sensitif. Biar suamimu ini lihat apa kau sudah semakin liar.”

Anindya memejamkan mata. Air matanya mengalir tanpa suara.

Dia ingin bertanya kepada Sakha, sebenarnya dirinya dianggap sebagai apa olehnya.

Seorang istri, atau justru sesuatu yang bahkan lebih hina daripada pelacur?

Pertanyaan itu sudah di ujung lidah, tetapi bagaimanapun juga, Anindya tak sanggup mengucapkannya. Jawabannya sudah dia ketahui sejak lama.

Dia memejamkan mata rapat-rapat, bersiap pasrah menghadapi semuanya. Tepat saat itu, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar pintu, “Jenderal! Gawat!”

Seorang pengawal membuka pintu, lalu bergegas menghampiri Sakha dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Anindya tidak dapat mendengar apa yang dikatakan pengawal itu. Namun, dia melihat dengan jelas bagaimana wajah Sakha seketika berubah.

Ekspresi itu belum pernah dia lihat. Bukan ketegasan seorang jenderal yang terbiasa mengambil keputusan tanpa ragu di medan perang, bukan pula sikap dingin atau penghinaan yang selalu ditunjukkannya kepada Anindya, melainkan ... ketakutan.

Sakha bahkan tak sempat merapikan jubahnya. Dia langsung bangkit dari ranjang dan bergegas keluar.

Anindya menatap kosong ke arah kepergiannya. Butuh waktu cukup lama sebelum dia akhirnya tersadar kembali.

Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Sakha ketakutan seperti itu?

Dengan susah payah, Anindya memaksakan diri untuk duduk meski tubuhnya terasa remuk akibat demam. Dia meraih pakaian luar di samping ranjang, mengenakannya, lalu terhuyung-huyung mengikuti Sakha keluar.

Halaman kediaman itu terang benderang oleh cahaya lampu.

Sakha sedang menggendong seorang wanita yang berlumuran darah. Dia menerobos masuk dengan langkah lebar, sementara wajah wanita itu terbenam di dadanya hingga tak terlihat. Hanya pergelangan tangannya yang pucat pasi, tampak menjuntai lemas.

“Tabib kediaman! Panggil tabib kediaman!” teriak Sakha dengan suara serak dan parau.

Tabib kediaman berlari keluar dengan langkah sempoyongan. Begitu melihat wanita yang berlumuran darah itu, wajahnya seketika berubah. “Cepat! Bawa dia masuk!”

Anindya berdiri di bawah koridor, menyaksikan Sakha membaringkan wanita itu di atas ranjang dengan begitu hati-hati. Gerakannya lembut, seolah-olah wanita itu terbuat dari porselen yang mudah pecah. Padahal, belum lama berselang, kedua tangan itu masih dengan kasar merenggut pakaian Anindya.

Setelah memeriksa denyut nadi wanita itu, tabib kediaman memasang wajah serius. “Jenderal, Nona Kirana mengalami cedera yang merusak jantungnya dan kehilangan terlalu banyak darah. Sepertinya obat biasa mungkin ... tak akan cukup. Kecuali kita bisa mendapatkan darah dari jantung seseorang dengan darah yang sangat murni untuk dijadikan bahan campuran obat. Itu pun hanya untuk sementara waktu.”

“Aku.” Sakha menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Ambil darahku.”

“Jenderal!” Pengawal dan tabib kediaman serentak berlutut. “Jangan sekali-kali melakukannya! Mengambil darah dari jantung sangat berbahaya. Bagaimana jika terjadi sesuatu ....”

“Sudah, jangan banyak bicara.” Sakha membuka bagian depan jubahnya, memperlihatkan dadanya yang kekar. Tatapannya menyapu semua orang yang berlutut di hadapannya. “Kalau dia mati, untuk apa aku tetap hidup?!”

Begitu mendengar perkataannya, tak seorang pun berani membujuknya lagi.

Anindya berdiri di ambang pintu, menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat belati ditusukkan ke dada Sakha, tepat di dekat jantungnya.

Darah mengalir perlahan dari dadanya, menetes ke dalam mangkuk giok. Tak lama kemudian, wajahnya terlihat semakin pucat. Butiran keringat halus membasahi pelipisnya, tetapi pandangannya tetap tertuju pada wanita di atas ranjang, tanpa berpaling sedikit pun.

“Cukup, cukup, Jenderal!” Tabib kediaman buru-buru mengambil belati itu, lalu mencampurkan darah jantung Sakha ke dalam ramuan obat. Dengan hati-hati, dia menyuapkannya ke mulut Kirana.

Sesaat kemudian, wanita di atas ranjang terbatuk pelan dan perlahan membuka mata.

“Sakha ....” Bulu mata Kirana bergetar sebelum dia membuka mata sepenuhnya. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca, bak permukaan telaga yang berkilauan. Begitu melihat Sakha, air matanya langsung mengalir tanpa suara.

“Kenapa kamu sebodoh ini ....” Dengan tangan gemetar, Kirana menyentuh dada Sakha yang masih mengeluarkan darah. Suaranya tercekat oleh tangis hingga hampir tak terdengar. “Sakit tidak?”

Sakha menggenggam tangan Kirana, lalu mengecupnya dengan lembut. Sentuhannya begitu halus, seperti sedang membelai sesuatu yang rapuh. Sikapnya yang penuh kelembutan itu benar-benar bertolak belakang dengan sosoknya yang biasanya kasar dan dingin, seakan-akan dia orang yang sama sekali berbeda.

“Tidak sakit,” jawabnya dengan suara rendah dan serak. Ada kelembutan yang belum pernah didengar Anindya dalam suaranya. “Jangan menangis. Kalau kamu menangis, hatiku ikut sakit.”

Sakha menarik tangan Kirana, lalu menempelkannya tepat di atas jantungnya.

Kirana akhirnya tersenyum di sela-sela air matanya. Sedikit warna pun mulai kembali ke wajahnya yang pucat.

Sakha tetap berjongkok di sisi ranjang, menggenggam tangan Kirana sambil menatapnya tanpa bergerak sedikit pun. Seolah-olah di dunia ini tak ada orang lain atau hal lain yang cukup berharga untuk mengalihkan perhatiannya.

Anindya berdiri di luar pintu, menyaksikan semua itu. Sekujur tubuhnya terasa dingin.

Selama tiga tahun menjadi suami istri, satu-satunya hal yang Sakha berikan kepadanya hanyalah kekasaran dan penghinaan. Selama ini, Anindya terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sakha hanyalah seorang jenderal yang terbiasa bertempur di medan perang, sehingga tidak memahami kelembutan dan perhatian kecil yang bisa menghangatkan hati seseorang.

Ternyata, Sakha mengerti. Dia hanya tidak pernah bersedia memberikan semua itu kepada Anindya.

Anindya berbalik dan berjalan kembali dengan langkah limbung. Beberapa kali, dia nyaris terjatuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status