Short
Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi

Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi

By:  FanaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
18Chapters
219views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Anindya Indraswari dikenal sebagai putri bangsawan terpandang di Kota Kana. Kemampuannya dalam bermain musik, catur, kaligrafi, melukis, menyulam, hingga tata krama tak tertandingi. Tutur katanya selalu lembut, langkahnya anggun tanpa membuat ujung roknya berkibar. Tak heran, banyak putri bangsawan di ibu kota menjadikannya panutan. Namun, pria yang dinikahinya justru Sakha Ranjaya, seorang jenderal yang gagah perkasa di medan perang, tetapi sama sekali tidak mengenal kelembutan terhadap wanita. Pada malam pertama mereka, Sakha sampai menyuruh orang membawakan air belasan kali hingga Anindya tak sanggup lagi turun dari ranjang. Selama tiga tahun berikutnya, sikapnya justru semakin menjadi-jadi. Di ruang kerja, kandang kuda, ruang tamu, bahkan aula leluhur, Sakha melampiaskan hasratnya di berbagai tempat dan dengan berbagai cara hingga tubuh Anindya terasa remuk. Kalimat yang paling sering didengarnya bukanlah, “Istriku, aku akan menyayangimu,” melainkan, “Kenapa kau begitu liar?” “Sampai segitunya, memangnya sudah berapa lama kau tidak disentuh laki-laki?” Setiap kali, Anindya hanya bisa bertahan dalam diam, menggigit bibir agar isak tangisnya tertahan dan air matanya tak jatuh. Dia selalu berusaha memaklumi suaminya. Sakha adalah seorang jenderal yang bertahun-tahun bertempur di perbatasan. Wajar jika dia tidak terbiasa menunjukkan kelembutan dan perhatian kecil. Mungkin, kata-kata kasarnya itu hanyalah caranya mengungkapkan perasaan, meski terdengar jauh lebih kasar. Sampai pada hari itu, Sakha pulang membawa kemenangan dari medan perang di perbatasan. Bahkan sebelum sempat melepas baju zirahnya, dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk membawa Anindya ke perjamuan kemenangan. Di tengah aula yang dipenuhi tamu, diiringi denting cawan dan riuh percakapan, Sakha duduk dengan gagah di kursi utama. Tiba-tiba, dia menarik Anindya ke pangkuannya, menyibak ujung roknya, lalu menjamahnya.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Uh ....” Seluruh tubuh Anindya menegang. Ketakutan membuat suaranya bergetar. “Jenderal! Di sini ... banyak orang.”

“Justru bagus kalau banyak orang.” Sakha menggigit cuping telinganya, lalu berbisik dengan suara rendah yang terdengar kurang ajar. “Biar semua orang tahu betapa besar kasih sayang jenderal ini padamu.”

Meski meja dan ujung rok menghalangi pandangan, siapa pun yang mendekat bisa dengan mudah menyadari apa yang sedang mereka lakukan.

Wajah Anindya memerah karena malu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, lalu dia memohon lirih, “Jenderal ... bagaimana kalau kita lakukan setelah pulang? Berapa kali pun Anda menginginkannya ... hamba akan melayani Anda.”

Sakha dengan santai mengangkat cawan araknya dan menyesap sedikit. Gerakannya sama sekali tidak berhenti, bahkan semakin kuat. “Bukankah begini lebih menggairahkan? Aku sudah pergi begitu lama. Kau pasti sudah sangat merindukanku. Dasar perempuan jalang, masih saja berpura-pura.”

Anindya menggigit bibir. Air matanya mengalir tanpa suara.

Selama tiga tahun ini, bukan sekali dua kali Sakha melampiaskan hasratnya di tengah keramaian. Namun, tindakan Sakha hari ini jauh lebih berani daripada biasanya. Anindya benar-benar ketakutan.

Dia adalah putri sah Keluarga Indraswari yang sejak kecil dididik dengan penuh perhatian. Sejak dini, dia diajarkan untuk selalu bersikap anggun dan menjaga kesopanan. Jika sampai ada yang memergokinya melakukan hal semacam ini di sebuah perjamuan, rasanya lebih baik dia mati saja.

Tepat saat mereka sedang berbicara, seseorang menghampiri mereka sambil membawa cawan arak. Seraya tersenyum, orang itu bertanya, “Kenapa Nyonya Jenderal duduk di pangkuan Jenderal? Apa Anda kurang sehat?”

Anindya seketika menegang. Ketakutan membuatnya buru-buru meringkuk ke dalam pelukan Sakha, membenamkan wajah di dadanya sambil memohon tanpa suara agar suaminya menghentikan perbuatannya.

Sakha merengkuhnya semakin erat. Tanpa mengubah ekspresinya, dia menjawab orang itu, “Istriku sedang kurang sehat. Aku cuma sedang menjaganya.”

Orang itu tersenyum dan berkata, “Jenderal dan Nyonya benar-benar pasangan yang penuh kasih sayang,” sebelum berbalik dan kembali ke tempat duduknya.

Begitu orang itu pergi, Sakha justru semakin menjadi-jadi.

Anindya membenamkan wajah dalam pelukan Sakha. Air matanya jatuh satu demi satu, membasahi kerah jubah Sakha, tetapi dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Dia takut menarik perhatian tamu lain. Dia juga takut ada yang melihat keadaannya saat ini.

Entah berapa lama berlalu sebelum akhirnya Sakha merasa puas dan mendorongnya menjauh. Setelah merapikan jubahnya, dia berkata datar, “Rapikan dirimu dulu.”

Dengan kaki gemetar, Anindya bangkit berdiri. Tanpa berani menatap siapa pun, dia segera pergi dengan kepala tertunduk.

Dia mencari sebuah ruang yang kosong, lalu mengganti pakaian dan roknya yang kotor. Dan akhirnya Anindya tak kuasa lagi menahan air matanya.

Sakha benar-benar tega melakukan perbuatan sehina itu di depan umum. Bahkan pelacur paling hina sekalipun di Kota Kana belum pernah mengalami penghinaan sebesar yang baru saja dia alami.

Anindya teringat pesan ibunya sebelum dia menikah. Saat itu, sang ibu menggenggam tangannya erat-erat dan berkata, “Anindya, Jenderal Sakha itu pria sejati yang gagah perkasa. Setelah menikah dengannya, kamu harus layani suamimu dengan baik dan segera memberinya keturunan agar garis Keluarga Ranjaya terus berlanjut.”

Dengan penuh harapan, Anindya memasuki Keluarga Ranjaya sebagai seorang istri. Dia mengira, selama dirinya cukup lembut dan berbudi luhur, suatu hari nanti dia pasti bisa meluluhkan hati Sakha.

Namun, tiga tahun telah berlalu. Yang dia dapatkan hanyalah penghinaan dan air mata, hari demi hari.

Setelah akhirnya berhasil menenangkan diri, Anindya kembali ke aula perjamuan. Namun, para tamu ternyata sudah bubar, sementara Sakha tak tahu pergi ke mana.

Anindya tak punya pilihan selain meninggalkan istana seorang diri.

Entah sejak kapan hujan mulai turun. Tubuhnya basah kuyup dan begitu angin dingin berembus, dia langsung menggigil hebat.

Lebih dari setengah jam kemudian, barulah Anindya tiba di Kediaman Jenderal. Saat hendak kembali ke halaman tempat tinggalnya, dia melewati halaman ibu mertuanya dan mendengar suara percakapan dari dalam.

Sebenarnya, dia tidak seharusnya menguping. Selama lebih dari dua puluh tahun, dia selalu menjaga tata krama dan tak pernah melakukan hal semacam itu. Namun, ketika mendengar ibu mertuanya menyebut namanya, langkah Anindya terhenti.

“Di jamuan tadi, Sakha mempermalukannya lagi di depan banyak orang?” Itu adalah suara ibu mertuanya.

“Benar sekali.” Pengasuh tua itu menghela napas. “Hamba dengar Jenderal menarik Nyonya ke pangkuannya, lalu di siang bolong begini malah melakukan hal semacam itu ... ah, saat Nyonya pergi ganti pakaian, matanya sudah merah.”

“Semua ini salahku.” Ibu mertuanya menghela napas panjang. “Dulu, Sakha cuma mencintai Kirana Ardhiana. Tapi, wajah perempuan itu mirip dengan wanita simpanan mendiang suamiku. Setiap kali melihatnya, aku merasa muak. Karena itu, aku bersikeras tidak akan membiarkannya masuk ke keluarga ini.”

“Lalu, saat aku berada dalam bahaya di pertapaan, Anindya menyelamatkanku. Karena itulah aku mengancam akan bunuh diri demi memaksa Sakha menikahinya. Sakha memendam amarahnya, tapi tak bisa melampiaskannya kepadaku. Makanya, dia cuma bisa menjadikan Anindya sebagai pelampiasan!”

“Nyonya, mohon jangan salahkan diri sendiri,” pengasuh tua itu segera membujuk. “Bukankah Jenderal sekarang sudah menikahi Nyonya Muda? Sehebat apa pun Nona Kirana, dia tak akan bisa buat masalah lagi.”

“Tapi Sakha tak bisa menerima kenyataan itu.” Suara ibu mertuanya merendah, terdengar begitu lelah. “Karena tidak rela, dia cuma bisa menyiksa Anindya. Kau kira dia cuma melontarkan kata-kata kotor itu? Dia bahkan menyuruh orang diam-diam melukis adegan mereka saat berhubungan intim, lalu menyebarkan lukisan-lukisan itu pada teman-teman berandalnya untuk ditonton bersama. Bahkan, lukisan-lukisan itu dijual di pasar!”

“Di seluruh kota ini, mungkin hanya segelintir pria yang belum pernah melihat lukisan menantu perempuanku ... akulah yang sudah menghancurkan hidupnya.”

‘Duar!’

Anindya merasa seolah-olah ada sesuatu yang meledak di dalam kepalanya.

Dia berdiri terpaku di bawah koridor. Air hujan yang dingin menetes dari ujung rambutnya, tetapi dia tak lagi merasakan dinginnya. Rasanya seluruh darah di tubuhnya seakan membeku saat itu juga, bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak.

Dilukis?

Diperlihatkan kepada teman-temannya?

Dijual di pasar?

Jadi, semua pria di kota ini ... sudah melihat lukisan dirinya?

Anindya tiba-tiba membungkuk dan mencengkeram pilar koridor yang dingin untuk menopang tubuhnya. Perutnya melilit hebat, seolah-olah seluruh isinya diaduk-aduk. Namun, tak ada yang bisa dimuntahkannya. Dia hanya terus tersedak, sementara cairan asam dari lambungnya naik hingga ke rongga hidung, meninggalkan rasa pahit yang menyengat.

Dia tak mau mempercayai semua itu. Dengan kalap, Anindya berbalik dan terhuyung-huyung berlari keluar dari Kediaman Jenderal, sama sekali tak lagi memedulikan sikap anggun dan tata krama yang selama ini selalu dijaganya sebagai seorang putri bangsawan.

Malam telah larut dan jalanan utama yang panjang mulai sepi. Hanya beberapa pedagang yang masih sibuk membereskan dagangan di bawah cahaya lentera kekuningan yang temaram.

Anindya menerjang ke sebuah kios yang menjual barang-barang kecil. Dengan tangan gemetar, dia meraih beberapa gulungan lukisan yang ditumpuk begitu saja di atas meja, lalu membentangkannya dengan kasar.

Lukisan pertama menggambarkan dirinya dan Sakha di ruang kerja. Dia telungkup di atas meja, dengan ujung rok tersingkap hingga ke pinggang, sementara Sakha berdiri di belakangnya. Lukisan itu dibuat dengan begitu terperinci, bahkan setetes air mata di sudut matanya pun terlihat jelas.

Lukisan kedua menggambarkan mereka di kandang kuda. Anindya berlutut di atas jerami, sementara Sakha mencengkeram pinggangnya. Kepalanya sedikit menoleh ke samping, memperlihatkan wajah yang dipenuhi rasa malu dan penderitaan.

Lukisan ketiga menggambarkan kejadian di perjamuan hari ini. Anindya duduk di pangkuan Sakha dengan wajah terbenam di dadanya. Bagian di balik ujung roknya sengaja diperbesar, digambar dengan begitu terperinci hingga setiap detailnya terlihat jelas.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status