Setiap lukisan memiliki harga yang tertera dengan jelas. Pada lukisan termahal, tercantum harga yang mencolok, lima keping perak.Tangan Anindya yang mencengkeram kertas lukisan itu gemetar hebat. Tepi kertas yang tajam menggores ujung jarinya hingga berdarah. Butiran darah merembes keluar, bercampur dengan air hujan dan air mata di wajahnya, lalu menetes satu demi satu ke atas lukisan-lukisan memalukan itu.“Nyonya, jadi beli atau tidak? Kalau tidak, jangan dirusak!” tegur si pedagang dengan tidak sabar sambil mengulurkan tangan untuk merebut lukisan-lukisan tersebut.Anindya sontak melepaskan tangannya seolah baru saja tersentuh benda panas. Gulungan-gulungan lukisan itu jatuh ke tanah dan basah diguyur hujan. Tinta mulai luntur, membuat wajah orang-orang di dalamnya perlahan-lahan mengabur.Dia bahkan tidak tahu kapan dirinya meninggalkan tempat itu.Yang dia ingat, sepanjang perjalanan pulang, langkahnya begitu cepat, bahkan nyaris seperti orang yang berjalan sempoyongan.Dahulu, d
더 보기