Short
Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap

Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap

Oleh:  TulipTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
20Bab
53Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Setelah jatuh dari tebing, Inara seolah berubah menjadi orang yang berbeda. Pada pagi hari, dia tak lagi berjaga di dapur, tidak lagi memasak sup hangat untuk menjaga kesehatan lambung Sanjaya. Pada siang hari, dia tak lagi pergi menjemput Sanjaya di istana, hanya demi bisa mengobrol beberapa patah kata lebih banyak dengannya di dalam kereta. Malam hari, dia tak lagi menyalakan lilin untuk menunggu Sanjaya. Lilin itu dimatikan begitu saja, tak pernah lagi dinyalakan khusus untuk pria itu. Bahkan ketika pergi menikmati bunga prem, ketika tanpa sengaja melihat Sanjaya dan Pertiwi sedang berciuman, dia pun tidak mengamuk, tidak menangis histeris, melainkan hanya mengalihkan pandangan dengan tenang sebelum berbalik pergi. "Inara?!" Suara Sanjaya terdengar sedikit tergesa-gesa dari belakang. Inara menghentikan langkah, tetapi tidak menoleh. Suara langkah kaki pria itu mendekat dengan cepat. Sanjaya berjalan memutar hingga menghalangi jalan Inara. Jarang sekali terlihat kepanikan di wajahnya. Ujung telinganya memerah, sementara tatapannya terkunci erat pada Inara. "Kamu ... tadi kamu lihat ya? Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Tadi Pertiwi terpeleset, jadi aku membantunya. Kami berdua sama-sama kehilangan keseimbangan dan jadinya bertabrakan. Itu nggak sengaja!" Dia menjelaskannya dengan tergesa-gesa, seolah takut Inara salah paham.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Inara mendongak dan menatapnya. Sanjaya memang memiliki wajah yang sangat tampan. Alisnya tegas, matanya jernih dan tajam, hidungnya mancung.

Saat ini, alisnya sedikit berkerut, tatapannya menunjukkan kegelisahan karena ingin segera meluruskan kesalahpahaman. Ekspresi yang jarang terlihat darinya itu membuatnya tampak lebih hidup.

Dulu, Inara sangat menyukai wajah ini. Dia mencintai setiap perubahan kecil dalam ekspresi Sanjaya. Namun, sekarang dia hanya merasa ... pria ini berisik.

Dia menarik kembali pergelangan tangannya yang digenggam Sanjaya dan berkata dengan nada datar, "Suamiku, jangan berpikir terlalu jauh. Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa. Meski itu bukan salah paham, kalaupun kalian benar-benar berciuman, nggak masalah."

Sanjaya tertegun, seolah tidak memahami perkataannya. "Apa? Apa maksudmu dengan nggak masalah sekalipun kami benar-benar berciuman?"

Dia mengamati ekspresi Inara dengan saksama, berusaha menemukan sedikit ketenangan yang dibuat-buat atau kesedihan yang sedang ditahan.

Namun, tidak ada apa-apa. Tatapan istrinya seperti sebuah sumur tua yang tak terlihat dasarnya, begitu tenang hingga membuat hati Sanjaya gelisah.

"Kamu ...." Nada bicaranya merendah, mengandung sedikit keraguan dan kekesalan yang nyaris tak terlihat.

"Kamu masih dendam padaku karena kejadian sebelumnya, 'kan? Aku sudah bilang, aku terpaksa menyuruhmu menggugurkan kandungan. Kamu jatuh dari tebing. Itu kecelakaan. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkanmu ...."

"Aku nggak menyimpan dendam padamu." Inara memotong ucapannya, "Aku benar-benar nggak peduli. Lagi pula, bukannya ini yang selama ini kamu inginkan?"

Dia menatap Sanjaya dengan tatapan jernih. "Kamu selalu bilang Pertiwi nggak punya siapa-siapa untuk diandalkan dan satu-satunya orang yang bisa dia jadikan tempat bergantung hanyalah kamu. Karena itu, kamu membawanya masuk ke kediaman kita dan menyuruhku untuk nggak mempermasalahkannya."

"Saat suasana hatinya sedang buruk, kamu menemaninya semalaman hingga nggak pulang dan menyuruhku untuk menerimanya. Saat dia menyukai gelang dan anting-antingku, kamu menyuruhku memberikannya. Sekarang, aku sudah melakukan semuanya sesuai keinginanmu. Apa kamu ... nggak senang?"

Sanjaya dibuat bungkam oleh perkataannya. Jakunnya bergerak beberapa kali, tetapi dia sama sekali tak mampu membantah satu kata pun.

Ya, selama ini dia memang berharap Inara tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Pertiwi, tidak terus-menerus cemburu dan membuat rumah tangga mereka kacau.

Ketika menikahi Inara, dia memang tidak mencintainya. Namun selama bertahun-tahun, kebaikan Inara yang diberikan kepadanya dengan sepenuh hati bagaikan bara api paling hangat di musim dingin. Kehangatan itu perlahan mencairkan hatinya yang membeku karena Pertiwi menikah dengan orang lain.

Hatinya bukan terbuat dari batu. Dia sudah lama memutuskan untuk melepaskan masa lalu dan menjalani kehidupan yang baik bersama Inara.

Namun, siapa sangka Pertiwi akan bercerai dan kembali ke ibu kota.

Perasaannya kepada Pertiwi adalah cinta paling tulus dan membara yang dia rasakan di masa muda. Selama bertahun-tahun menyukai Pertiwi, Sanjaya telah melakukan begitu banyak hal bodoh dan gila demi wanita itu.

Dia tahu bahwa mereka kini sudah tak mungkin bersama lagi. Dia juga tidak pernah berniat menghidupkan kembali hubungan mereka. Namun, ketika melihat Pertiwi yang tampak kurus, lemah, dan tak memiliki siapa-siapa untuk diandalkan, hatinya yang sudah lama tenang tetap tak mampu menahan rasa iba. Dia selalu ingin memberikan segala sesuatu yang terbaik kepada Pertiwi.

Adapun Inara ... wanita itu adalah istrinya. Wanita itu akan selalu berada di tempat yang sama, menunggunya. Menunggunya menyelesaikan urusan Pertiwi, menunggunya menata kembali perasaannya. Setelah itu, dia akan menebus semuanya dengan memperlakukan Inara jauh lebih baik. Mereka masih memiliki waktu yang panjang untuk dijalani bersama.

Selama ini, begitulah yang dia pikirkan.

Namun sekarang, melihat Inara yang sama sekali tak peduli, bahkan mendorongnya menjauh, keyakinan yang selama ini dia anggap begitu wajar tiba-tiba retak.

Dia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, entah itu menjelaskan ataupun berjanji.

Pada saat ini, kusir kereta Inara berlari kecil menghampiri mereka. "Nyonya, poros kereta tiba-tiba patah. Butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Jadi ... keretanya nggak bisa jalan."

Entah sejak kapan, langit mulai menurunkan gerimis yang membawa hawa dingin musim dingin.

Sanjaya melirik langit, lalu segera berkata, "Nggak masalah. Kereta Pertiwi ada di depan. Kebetulan kami juga akan pulang ke kediaman. Kamu bisa ikut dengan kami."

Setelah berkata demikian, dia langsung menarik pergelangan tangan Inara dan mengajaknya menuju kereta tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.

"Naik."

Inara mencoba melepaskan tangannya, tetapi gagal. Akhirnya, dia pun tak menolak lagi.

Pertiwi sudah menunggu di dalam kereta. Ketika melihat Inara, senyum yang sulit diartikan muncul di wajahnya.

"Inara, kamu juga ikut? Cepat naik. Di luar dingin."

Inara tidak menjawab. Dia hanya mengangguk ringan, lalu mengangkat ujung roknya dan bersiap naik ke kereta.

"Ah!" Pertiwi tiba-tiba berseru kaget, "Inara ... kenapa ada darah di belakangmu?"

Inara tertegun, lalu segera menyadari bahwa mungkin haidnya datang lebih awal. Tadi dia berjalan cukup lama di antara pepohonan prem dan tidak menyadarinya.

Sanjaya juga melihatnya. Dia segera melepaskan jubah luar berwarna hitam pekat yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Inara.

"Cepat naik. Di dalam hangat. Jangan sampai kedinginan."

Jubah itu masih menyimpan kehangatan tubuh Sanjaya dan sedikit aroma segar kayu pinus. Perbuatannya juga bisa dibilang cukup perhatian.

Namun, Inara hanya menunduk, tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Saat ini, wajah Pertiwi tiba-tiba memucat. Dia bersandar dengan lemas ke arah Sanjaya. "Kak Jaya ... aku ... aku agak pusing ...."

Sanjaya buru-buru menopangnya. "Ada apa?"

"Aku ... sejak kecil memang agak takut lihat darah. Kalau lihat darah, jantungku berdebar dan napasku terasa sesak. Rasanya sangat nggak nyaman ...." Pertiwi bersandar dalam pelukan Sanjaya. Sudut matanya memerah.

"Ada darah di baju Inara .... Di perjalanan pulang nanti, aku takut kalau aku ... nggak akan tahan ...."

Mendengar itu, gerakan Sanjaya terhenti. Ekspresi serbasalah muncul di wajahnya. Setelah terdiam sejenak, dia menoleh kepada Inara.

"Inara ... Pertiwi memang nggak tahan melihat darah. Kalau lihat darah, dia merasa sangat nggak nyaman. Lagi pula, kita sudah nggak jauh dari kediaman. Bagaimana kalau ... kamu jalan kaki saja?"

Setelah mengatakannya, sepertinya dia sendiri merasa perkataan itu agak tidak pantas, jadi dia menghindari tatapan Inara.

Kalau dulu Sanjaya terang-terangan memihak Pertiwi seperti ini dan meninggalkannya di tengah hujan, Inara mungkin akan merasa hatinya tercabik-cabik. Dia akan menangis karena merasa diperlakukan tidak adil, lalu mempertanyakan apakah di dalam hati Sanjaya masih ada sedikit saja tempat untuknya.

Namun, hatinya kini begitu tenang. Bahkan dia merasa pilihan yang dibuat Sanjaya memang sudah sewajarnya, sesuatu yang sejak awal sudah bisa dia duga.

Dia mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, lalu berbalik hendak melangkah ke tengah hujan.

"Tunggu!" Sanjaya kembali memanggilnya.

Inara menoleh.

Sanjaya membungkuk dan mengambil sesuatu dari dekat kakinya. "Liontin giokmu."

Dia menyerahkan liontin giok putih kepada Inara. "Tadi terjatuh."

Ketika melihat liontin giok itu, untuk pertama kalinya wajah Inara yang tenang tanpa gejolak menunjukkan sedikit perubahan.

Dia sontak mengulurkan tangan dan menerimanya, menggenggamnya erat di telapak tangan. Nadanya pun mengandung sedikit kegelisahan yang nyaris tak terdengar.

"Terima kasih. Untung kamu melihatnya."

Melihat perubahan ekspresi Inara yang begitu tiba-tiba, entah kenapa hati Sanjaya diliputi perasaan sangat tidak nyaman.

Tadi, ketika melihatnya dan Pertiwi tanpa sengaja begitu dekat, ekspresinya bahkan tidak berubah sedikit pun. Sekarang, hanya demi sebuah liontin giok yang tampak biasa saja, dia justru menunjukkan betapa pentingnya benda itu baginya.

"Liontin giok ini ... sangat penting?"

Inara tertegun sejenak. Kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.

"Ya, sangat penting."

Karena ini adalah pemberian calon suaminya untuknya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
20 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status