مشاركة

Bab 2

مؤلف: Fana
Setiap lukisan memiliki harga yang tertera dengan jelas. Pada lukisan termahal, tercantum harga yang mencolok, lima keping perak.

Tangan Anindya yang mencengkeram kertas lukisan itu gemetar hebat. Tepi kertas yang tajam menggores ujung jarinya hingga berdarah. Butiran darah merembes keluar, bercampur dengan air hujan dan air mata di wajahnya, lalu menetes satu demi satu ke atas lukisan-lukisan memalukan itu.

“Nyonya, jadi beli atau tidak? Kalau tidak, jangan dirusak!” tegur si pedagang dengan tidak sabar sambil mengulurkan tangan untuk merebut lukisan-lukisan tersebut.

Anindya sontak melepaskan tangannya seolah baru saja tersentuh benda panas. Gulungan-gulungan lukisan itu jatuh ke tanah dan basah diguyur hujan. Tinta mulai luntur, membuat wajah orang-orang di dalamnya perlahan-lahan mengabur.

Dia bahkan tidak tahu kapan dirinya meninggalkan tempat itu.

Yang dia ingat, sepanjang perjalanan pulang, langkahnya begitu cepat, bahkan nyaris seperti orang yang berjalan sempoyongan.

Dahulu, dia tidak pernah berjalan seperti itu. Ibunya telah berkali-kali mengajarinya bahwa seorang putri bangsawan harus selalu menjaga sikap dan gerak-geriknya. Setiap langkah harus lembut dan anggun, ringan, perlahan serta tanpa suara.

Namun, sekarang dia tidak lagi peduli pada semua itu.

Jantungnya terasa seperti dicengkeram erat oleh tangan tak kasatmata. Rasa sakitnya begitu hebat hingga dia hampir tak mampu bernapas. Air mata keputusasaan bercampur dengan air hujan, mengalir tanpa suara di pipinya. Seberapa sering pun dia mengusap wajah, air matanya terus mengalir tanpa henti.

Dulu, Anindya mengira Sakha hanyalah seorang jenderal yang tidak memahami kelembutan. Kata-kata kotor yang kerap dilontarkannya dan tuntutannya yang tak mengenal tempat maupun waktu mungkin sekadar cerminan sifatnya yang kasar.

Bahkan, dia selalu berusaha mencari alasan untuk memaklumi suaminya. Sakha sudah terlalu lama bertugas di perbatasan, dikelilingi pria-pria kasar. Bagaimana mungkin dia tahu cara memperlakukan seorang istri dengan baik?

Namun, ternyata, semua yang terjadi selama ini hanyalah bentuk balas dendam.

Balas dendam karena Anindya telah mengambil tempat wanita yang dicintainya.

Namun, sejak awal hingga akhir, apa sebenarnya kesalahan Anindya?

Dia juga seorang gadis yang menikah dengan penuh harapan, berharap bisa mendapatkan kasih sayang dari suaminya.

Selama tiga tahun ini, dia berbakti kepada ibu mertuanya, mengurus rumah tangga, dan memastikan seluruh kediaman jenderal tertata dengan baik. Setiap kali Sakha berangkat berperang, dia selalu memanjatkan doa setiap hari. Setiap malam, dia menatap ke arah perbatasan, berharap suaminya bisa pulang dengan selamat.

Namun, sejak awal hingga akhir, Sakha hanya menganggapnya sebagai mainan yang bisa diinjak-injak sesuka hati.

Bahkan, tubuhnya pun telah dijadikan bahan hiburan bagi orang lain!

Hujan semakin deras. Anindya terus berlari hingga tanpa sadar mendapati dirinya berdiri di depan aula leluhur Keluarga Ranjaya.

Cahaya di dalam aula leluhur tampak remang-remang. Deretan papan nama leluhur berdiri berjajar, menghadirkan suasana khidmat sekaligus mencekam.

Selama tiga tahun menjadi bagian dari Keluarga Ranjaya, Anindya selalu menjalankan kewajibannya memberi salam kepada ibu mertuanya setiap pagi dan petang. Setiap kali hari raya atau perayaan tiba, dia juga tak pernah lupa datang ke aula leluhur untuk berdoa. Tak sekalipun dia melalaikan kewajibannya.

Dia mengira dirinya telah benar-benar menjadi bagian dari Keluarga Ranjaya. Dia juga mengira bahwa selama dirinya terus berusaha menjadi istri yang baik, suatu hari nanti Sakha akan meliriknya dengan penuh kasih.

Namun, ternyata, sejak awal hingga akhir, dirinya hanyalah bahan lelucon!

Kalau begitu, sudah saatnya semua ini berakhir.

Anindya menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk dengan tubuh gemetar. Dia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan tetua keluarga.

Tak lama kemudian, seorang lelaki tua berambut dan berjanggut putih keluar menemuinya. Dia adalah Paman Ketiga, tetua Keluarga Ranjaya yang paling dituakan dan berkedudukan tinggi berdasarkan senioritas.

“Anindya, apa yang sedang kau lakukan?”

Anindya membungkuk memberi hormat. Gerak-geriknya tetap anggun dan sesuai tata krama, sesuai dengan didikan Keluarga Indraswari sejak kecil. Meski kini penampilannya begitu mengenaskan, seperti baru saja diangkat dari kubangan lumpur, bahkan cara dia memberi hormat pun tetap sempurna tanpa cela.

“Paman Ketiga, hari ini Anindya datang untuk memohon satu hal.” Dia kembali menegakkan tubuh dan menatap mata lelaki tua itu, lalu berkata dengan tegas, “Anindya ingin mengajukan permohonan untuk bercerai dengan Sakha Ranjaya.”

Aula leluhur seketika sunyi senyap.

Paman Ketiga menatapnya cukup lama. Alisnya yang telah memutih berkerut rapat. “Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan? Menurut hukum dinasti ini, jika seorang wanita ingin mengajukan cerai atas kemauannya sendiri, dia harus terlebih dahulu melewati Menara Sembilan Tingkat. Apa kau tahu tempat seperti apa itu?”

Tentu saja Anindya tahu.

Sejak dinasti ini berdiri, hampir tidak pernah ada wanita yang mengajukan perceraian atas keinginannya sendiri. Bukan karena mereka tidak ingin, melainkan karena mereka tidak berani. Menara Sembilan Tingkat merupakan belenggu yang sengaja ditetapkan oleh penguasa untuk membungkam kaum wanita.

Menara itu memiliki sembilan tingkat, dan setiap tingkat menghadirkan siksaan yang berbeda. Mulai dari pencambukan, penjepitan jari, besi panas, hingga rantai besi yang menembus tulang selangka. Siksaan diberikan secara bertahap, dengan setiap tingkat yang lebih kejam daripada sebelumnya.

Mereka yang masuk ke sana hanya memiliki dua kemungkinan. Keluar hidup-hidup dan memperoleh surat perceraian, lalu memutuskan segala hubungan dengan keluarga suami. Atau mati di dalam menara, hingga jenazah yang dibawa keluar tak lagi berbentuk akibat luka-luka yang diderita.

Selama lebih dari seratus tahun sejak dinasti ini berdiri, jumlah wanita yang berhasil melewati Menara Sembilan Tingkat bahkan bisa dihitung dengan jari.

“Anindya tahu,” jawabnya tenang.

Alis Paman Ketiga semakin berkerut. “Kalau tahu, kenapa kau masih berani mencobanya? Itu bukan tempat untuk main-main. Kau hanyalah seorang wanita yang lemah ....”

“Paman Ketiga,” Anindya memotong perkataannya. Suaranya tetap tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersembunyi kehampaan yang begitu dalam, “Anindya sudah membulatkan tekad! Mohon kabulkan permintaanku!”

Paman Ketiga menatap kedua mata Anindya yang kosong, tanpa secercah harapan. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.

“Kalau begitu, datanglah ke aula leluhur tanggal lima belas bulan ini. Keluarga akan membuka menara ini untukmu.”

Anindya kembali membungkuk memberi hormat. “Terima kasih, Paman Ketiga.”

Dia berbalik, lalu melangkah perlahan ke tengah hujan.

Di belakangnya, seorang pelayan tua tak kuasa menahan diri, ia langsung bertanya dengan suara lirih, “Paman Ketiga, penghinaan sebesar apa yang dialami Nyonya Muda sampai-sampai dia ingin ....”

“Jangan bertanya lagi.” Paman Ketiga melambaikan tangan, matanya mengikuti sosok Anindya yang perlahan-lahan ditelan hujan. “Semakin banyak bertanya, kita hanya akan menambah luka di hatinya.”

Anindya sendiri tidak tahu bagaimana dirinya bisa kembali ke halaman tempat tinggalnya.

Begitu dia mendorong gerbang halaman, Rahayu langsung melihat keadaannya dan menjerit kaget. “Nona! Kenapa Anda sampai basah kuyup seperti ini?! Cepat, cepat, ganti pakaian dulu!”

Rahayu adalah pelayan yang ikut dibawa Anindya ke Keluarga Ranjaya sebagai bagian dari rombongan pengantinnya. Mereka telah tumbuh bersama sejak kecil, sehingga hubungan mereka jauh lebih dekat daripada dengan orang lain. Dalam kepanikan, Rahayu segera mengeringkan rambut Anindya, menggantikan pakaiannya dengan pakaian kering, lalu mengisi kantong air panas dan menyelipkannya ke dalam selimut untuk menghangatkan tubuhnya.

Anindya berbaring di ranjang. Kepalanya terasa sangat berat, tenggorokannya begitu sakit hingga menelan ludah pun terasa sulit. Rasa ngilu menjalar hingga ke sela-sela tulangnya.

Malam itu, Anindya demam tinggi hingga kesadarannya hampir hilang.

Tubuhnya terasa seperti dipanggang di atas api, tetapi sesaat kemudian juga seperti dilemparkan ke dalam lubang es. Sesaat, dia berkeringat deras karena kepanasan. Sesaat kemudian, dia menggigil hebat hingga giginya bergemeletuk.

Pikirannya kacau balau. Berbagai kejadian berputar-putar di benaknya seperti bayangan yang silih berganti.

Malam pertama pernikahan mereka, ketika Sakha menyuruh orang membawakan air belasan kali. Saat dia berlutut di kandang kuda hingga kedua lututnya lebam. Saat Sakha menariknya ke pangkuan di hadapan seluruh tamu perjamuan. Lukisan-lukisan itu ... lukisan-lukisan yang telah dilihat oleh begitu banyak pria di seluruh kota ....

Bayangan-bayangan itu semakin kacau dan terpecah-pecah, hingga akhirnya semuanya melebur menjadi lautan merah darah.

Dalam keadaan setengah sadar, Anindya merasakan seseorang sedang membuka pakaiannya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status