Share

Bab 4

Author: Fana
Malam itu, Sakha tidak datang lagi.

Anindya melewati sepanjang malam seorang diri, bertahan menghadapi demam tinggi yang tak kunjung reda.

Hari kedua dan ketiga berlalu, tetapi Sakha tetap tidak datang.

Sebaliknya, kabar tentang Kirana menyebar ke seluruh penjuru Kediaman Jenderal dengan cepat.

“Kalian sudah dengar? Demi selamatkan Nona Kirana, Jenderal sampai ambil darah dari jantungnya sendiri. Nyawanya bahkan hampir terancam!”

“Benar sekali! Jenderal benar-benar rela mengorbankan segalanya demi Nona Kirana. Kudengar, saat Nona Kirana batuk tengah malam, Jenderal menjaganya sepanjang malam tanpa ganti pakaian. Bahkan menyuapi obat dan memberinya minum sendiri.”

“Aku juga dengar, Jenderal sengaja menyuruh orang mengirimkan buah pir segar dari Dirgana hanya untuk meredakan batuk dan melegakan paru-paru Nona Kirana. Buah itu mahal sekali, loh. Mereka sampai memacu kuda siang malam selama perjalanan. Kabarnya, beberapa ekor kuda mati kelelahan.”

“Belum lagi kemarin. Waktu Nona Kirana bilang mau makan kue lapis, Jenderal langsung pergi sendiri ke pasar untuk membelikannya. Coba pikir, sejak kapan orang terpandang seperti Jenderal pernah melakukan hal semacam itu?”

Setiap kali mendengar kabar-kabar itu, wajah Rahayu memucat karena marah. Dia bahkan ingin langsung menerjang keluar dan beradu mulut dengan orang-orang yang bergosip.

Namun, Anindya hanya menggelengkan kepala, mencegahnya melakukan hal itu.

Pada hari keempat, keributan terjadi di pihak ibu mertuanya.

Anindya samar-samar mendengar kabar bahwa ibu mertuanya hendak mengusir Kirana. Sakha bahkan mengancam akan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika Kirana diusir dari Kediaman Jenderal, dia juga akan meninggalkan rumah itu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Ibu mertuanya begitu murka hingga membanting cangkir teh. Namun, pada akhirnya, dia tetap tidak mampu mengalahkan kehendak putranya. Kirana pun diizinkan untuk tetap tinggal.

Anindya tidak lagi memedulikan semua itu. Dia terus berkemas dalam diam.

Pada senja hari kelima, Sakha akhirnya datang.

Anindya sedang melipat beberapa potong pakaian terakhir ketika mendengar langkah kaki. Dia mengangkat kepala dan mendapati Sakha berdiri di ambang pintu, dengan cahaya dari belakangnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap tampak begitu mengintimidasi.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Sakha masuk dan duduk begitu saja di dekat meja. Pandangannya menyapu buntalan barang dan pakaian terlipat di samping Anindya. Alisnya berkerut tipis, nyaris tak terlihat, tetapi dia tidak bertanya apa-apa.

Anindya menghentikan pekerjaannya, lalu duduk di seberangnya dengan kepala tertunduk. Dia tidak menatap Sakha.

“Akhir-akhir ini ada orang baru di kediaman ini. Kurasa kamu sudah mendengarnya. Kirana teman masa kecilku. Kami tumbuh bersama sejak kecil. Tapi, setelah keluarganya jatuh miskin, dia pindah ke rumah neneknya. Beberapa waktu lalu, dia mengalami luka parah, jadi aku bawa dia kemari agar bisa memulihkan diri untuk sementara waktu.”

“Dia akan tinggal di sini selama beberapa waktu,” lanjut Sakha. “Sebagai nyonya rumah, kamu harus memperlakukannya dengan baik, layaknya seorang tamu.”

Anindya mengangguk. “Aku mengerti.”

Sakha meliriknya, tampak sedikit terkejut.

Awalnya, dia mengira Anindya akan bertanya lebih jauh, menangis, atau membuat keributan. Bagaimanapun, selama tiga tahun pernikahan mereka, meski Anindya selalu diam-diam menanggung perlakuan buruknya, setiap kali dia berbuat keterlaluan, mata Anindya pasti akan berkaca-kaca. Wanita itu akan menatapnya dengan wajah pilu, seolah merasa begitu tersakiti, melayangkan protes tanpa suara.

Namun, kali ini Anindya sama sekali tidak bereaksi.

Tidak ada air mata, tidak ada keluhan. Bahkan, dia tidak mengajukan satu pertanyaan pun.

Entah mengapa, perasaan ganjil tiba-tiba menyelinap ke hati Sakha, seolah-olah ada sesuatu yang mulai lepas dari kendalinya. Namun, perasaan itu hanya muncul sesaat. Sebelum sempat memikirkannya lebih jauh, dia sudah mengesampingkannya karena ada urusan yang lebih penting.

“Dia suka kue lapis dan wedang kolang kaling,” lanjutnya. “Masakanmu enak. Nanti buatkan untuknya dan antarkan ke kamarnya. Dia baru datang dan belum kenal keadaan kediaman ini. Sebagai kakak iparnya, kau harus lebih memperhatikannya dan membantunya beradaptasi.”

Jari-jari Anindya sedikit menegang.

Menyuruh istri sahnya memasak untuk wanita lain, lalu mengantarkan makanan itu sendiri kepadanya. Ini bukanlah bentuk perhatian, melainkan penghinaan.

Namun, Anindya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya kembali mengangguk. “Baiklah.”

Melihat sikap Anindya yang selalu pasrah menerima perlakuan apa pun, perasaan ganjil di hati Sakha kembali muncul.

Namun, Kirana masih menunggunya. Pada akhirnya, Sakha tidak bertanya lebih jauh. Dia bangkit berdiri, lalu melirik Anindya sekali lagi.

“Sana, siapkan semuanya.”

Setelah suara langkah kaki Sakha menjauh, Anindya tetap duduk diam di tempatnya. Lama kemudian, barulah dia perlahan bangkit dan berjalan menuju dapur kecil.

Setelah kue-kue itu selesai dikukus, Anindya menatanya dengan cermat ke dalam kotak makanan. Dia menyuruh Rahayu mengantarkannya, sementara dirinya kembali melanjutkan berkemas.

Saat semua barangnya selesai dibereskan, hari sudah benar-benar gelap.

Anindya hanya makan beberapa suap sebelum berbaring. Entah kenapa, selama beberapa hari terakhir, dia terus merasa mengantuk dan kehilangan nafsu makan. Setiap melihat makanan berminyak, perutnya langsung terasa mual.

Dia mengira penyakit parah yang dideritanya beberapa hari lalu belum sepenuhnya sembuh. Mungkin dia hanya perlu beristirahat lebih lama agar kondisinya kembali pulih.

Namun, baru saja tertidur hingga tengah malam, dia terbangun karena seseorang menarik pakaiannya dengan kasar.

Dalam keadaan setengah sadar, Anindya melihat wajah Sakha yang tampan, tetapi tampak dingin dan kejam, begitu dekat di hadapannya. Pria itu sedang merenggut tali pakaiannya tanpa ampun. Belum sempat ia melihat jelas, Sakha langsung menerjang dan menghentak masuk tanpa peringatan.

“Ah ...!” Anindya melengkung menahan sakit, seperti kucing yang ekornya terinjak. Sekujur tubuhnya gemetar. “Jenderal, sakit ....”

Sakha justru mendengus dingin, gerakannya kian beringas. “Kau masih berani bilang sakit? Kalau tahu sakit, kenapa kau mencampurkan sesuatu ke dalam kue Kirana? Kau pasti sudah cari tahu kalau dia tidak boleh makan daun seledri, lalu sengaja mencampurkannya, bukan? Dia baru sembuh dari ruam merah di sekujur tubuhnya, dan kau sudah tidak sabar mencelakainya?”

“Aku tidak melakukannya.” Anindya menggeleng, tangisnya tersengal-sengal. “Aku membuatnya seperti biasa, tidak menambahkan apa pun ....”

“Maksudmu Kirana sengaja menjebakmu?” Sorot mata Sakha dipenuhi rasa jijik. Ia mencengkeram pinggang Anindya dan menghentak sekuat tenaga. “Anindya, ternyata aku terlalu meremehkanmu. Sikap penurutmu di siang hari itu cuma pura-pura? Rupanya kalau tidak diberi pelajaran, kau tidak akan tahu cara menahan diri!”

Dia memperlakukan Anindya seperti penjahat keji yang sedang dihukum. Setiap hentakannya dipenuhi kebencian, jauh berbeda dari kekasarannya yang biasa, seakan hendak meremukkannya.

“Jenderal ... berhenti.” Anindya nyaris pingsan karena sakit. Kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah. “Kumohon ... berhenti ....”

“Berhenti?” Sakha membungkuk dan menggigit cuping telinganya. “Kau begitu liar. Kalau kuhentikan, memangnya kau sanggup menahannya? Ingat baik-baik, jangan sentuh sehelai rambut Kirana lagi. Kalau tidak, aku tak keberatan membuatmu tak bisa turun dari ranjang ini selamanya!”

Anindya menangis memohon, tetapi Sakha tak menggubrisnya.

Sampai cairan hangat mengalir di bawah tubuh Anindya, barulah gerakan Sakha terhenti mendadak.

Dengan bantuan cahaya bulan yang redup dari luar jendela, dia melihat genangan darah merah yang mencolok di atas ranjang.

Anindya ingin mengatakan sesuatu, tetapi pandangannya menggelap dan dia jatuh pingsan karena sakit.

Saat kembali tersadar, dia mendengar percakapan dingin antara Sakha dan tabib kediaman.

“Jenderal, Nyonya sedang mengandung dua bulan. Tapi karena hubungan ranjang yang terlalu kasar, janinnya tidak dapat diselamatkan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status