Short
Aku Bukan Lagi Pengantin Pengganti

Aku Bukan Lagi Pengantin Pengganti

By:  DisanCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah titah pernikahan politik diumumkan, Putri Agung Kirana tidak memedulikan citranya lagi dan langsung memeluk suamiku di depan semua orang. Dia berkata sambil menangis, "Aku tidak mau pergi ke Kerajaan Arkapura, aku ingin berada di sisimu." Namun, Galang Wicaksana justru mengulurkan tangan dan mendorong sang putri agung. Nada suaranya terdengar acuh tak acuh. "Yang Mulia, pernikahan politik itu adalah tanggung jawabmu dan juga sudah menjadi takdirmu." Meski pakaian sang putri agung sudah dibasahi air mata, itu tetap tidak bisa menggoyahkan sikap Galang yang acuh tak acuh. Para istri bangsawan di sekitar pun mulai berbisik-bisik memujiku karena pandai menaklukkan suami. Sang pangeran bupati yang bahkan mempunyai hubungan dengan sang putri agung selama sepuluh tahun pun bisa berhasil kutaklukkan dengan mudah. Aku hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tak lama kemudian, Galang membawaku kembali ke kediaman kami. Sesampainya di kediaman, dia duduk di depanku tanpa melontarkan sepatah kata pun. Seperti dugaan, aku bertanya dengan nada datar, "Apa yang harus aku lakukan?" Setelah menatapku dan terdiam sejenak, Galang akhirnya berkata, "Pernikahan politik itu memang takdir Putri Agung Kirana, tapi aku tidak ingin membiarkannya menikah begitu saja." "Karena wajah kalian sangat mirip, aku ingin memintamu menggantikannya untuk menikah dengan Pangeran Arkapura. Selain itu, aku juga ingin meminta ayah dan kakakmu kembali mengenakan baju zirah. Tujuh tahun kemudian, kita akan menjatuhkan Kerajaan Arkapura." Tanpa sedikit pun keraguan, aku langsung mengangguk dan menyetujuinya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Dia memasukkan sebuah lencana komando ke telapak tanganku, seolah-olah ingin memberiku kompensasi.

"Lencana ini dipegang ayahmu, sementara urusan persediaan dan logistik ditangani kakakmu. Kamu pergi saja dengan tenang."

Aku pun tersenyum sambil berkata, "Baik."

Setelah aku menyetujuinya, Galang langsung menghela napas lega.

Aku menyunggingkan sudut bibir.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku dan Pangeran Arkapura tumbuh bersama sejak kecil.

Sebab itu, aku menerima lencana komando dan juga setuju menikah dengan Pangeran Arkapura dengan senang hati.

....

Aku menyimpan lencana komando itu ke dalam lengan bajuku.

Sudut logamnya yang dingin menusuk tulang pergelangan tanganku, sehingga membuat telapak tanganku terasa sakit.

Saat aku hendak berbalik dan berjalan pergi, Galang tiba-tiba menghentikanku.

Dia mengambil selembar kertas dari atas meja dan mendorongnya ke hadapanku.

"Ada satu hal lagi."

Begitu menundukkan kepala, aku melihat bahwa itu adalah surat perceraian.

Bahkan cap pribadi miliknya sudah tercetak di atasnya.

Setelah melihat surat itu dalam waktu yang lama, barulah aku bertanya dengan nada datar,

"Kapan kamu menyiapkannya?"

Galang mengatupkan bibirnya. Setelah terdiam sejenak, dia pun menjawab.

"Semalam."

Mataku sontak berkaca-kaca.

Setelah titah pernikahan politik diumumkan semalam, dia sudah memutuskan untuk menyuruhku menggantikan identitas Putri Agung Kirana.

Dia ingin menyuruhku menggantikan wanita yang dicintainya untuk masuk ke jurang penderitaan, bahkan juga ingin menyuruhku mengorbankan nyawaku demi pujaan hatinya.

Melihatku tidak mengucapkan sepatah kata pun, alisnya sedikit berkerut.

"Nanti kami akan mengumumkan bahwa penyakit lamamu kambuh, sehingga meninggal mendadak di kediaman."

"Kalau kamu sudah memutuskan untuk menggantikan Putri Agung Kirana, kamu tidak bisa menyandang gelar sebagai istri pangeran bupati lagi."

Aku seketika tercekat

"Jadi, Nadira akan mati?"

"Itu Cuma sekadar formalitas."

Suara Galang mendadak menjadi lembut.

"Cuma tujuh tahun saja."

"Setelah ayah dan kakakmu menjatuhkan Kerajaan Arkapura, aku akan mencari cara untuk membawamu kembali. Saat itu, kamu bisa mengganti nama dan identitas. Aku juga bisa menjamin hidupmu makmur selamanya."

Begitu melihat Galang, aku merasa hawa dingin yang menusuk tulang memenuhi seluruh tubuhku.

Ternyata ketika seseorang sudah tidak menginginkanmu, bahkan kompensasi yang dia berikan pun bisa dianggap seperti sebuah anugerah.

Setelah memejamkan mata sejenak, aku langsung mengambil kuas.

Sebelum aku sempat menulis namaku, Galang tiba-tiba menahan tanganku.

"Nadira,"

ujar dia sambil menatapku.

"Kenapa kamu tidak menanyakan alasannya?"

Mendengar kata-kata itu, aku mencibir dan berbicara,

"Kamu takut reputasi sang putri agung akan hancur."

"Biar suatu hari nanti dia ingin menikah denganmu, orang-orang tidak akan mengatakan bahwa dia yang merebut suami orang."

Tatapan Galang dipenuhi kekacauan yang tidak bisa kupahami. Tak lama kemudian, dia berkata dengan nada serak,

"Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang, jadi tidak sanggup menanggung gosip seperti itu."

Usai mendengarnya, aku pun mengangguk dan mencibir.

"Aku sanggup."

"Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Tidak apa-apa."

Aku memutar pergelangan tanganku hingga berhasil melepaskan diri dari genggamannya.

Setelah itu, aku perlahan-lahan menulis namaku di atas surat perceraian itu.

Ini adalah terakhir kalinya aku menggunakan namaku untuk menjadi istrinya.

Sebelum tinta hitamnya kering, terdengar suara langkah kaki dari luar.

Putri Agung Kirana berjalan masuk dengan wajah penuh air mata.

Begitu melihat surat perceraian di atas meja, air matanya seolah tertahan di pelupuk mata dan tidak mengalir lagi.

"Nadira."

Dia menggenggam tanganku sambil berkata dengan nada serak,

"Maaf sudah membuatmu merasa dirugikan."

Dia meminta maaf padaku, tetapi tatapannya malah dipenuhi kesenangan dan kelegaan.

Aku perlahan-lahan menarik kembali tanganku, kemudian menahan nada suara yang hendak menangis.

"Yang Mulia sudah bercanda."

"Hamba cuma menggantikan Yang Mulia untuk menikah, bagaimana mungkin hamba merasa dirugikan?"

Mendengar kata-kata itu, wajah Putri Agung Kirana sontak memucat. Dia melihat ke arah Galang dengan tatapan tak berdaya.

Galang langsung berteriak,

"Nadira."

Aku terkekeh setelah mengambil surat perceraian itu.

"Maaf, Yang Mulia."

"Mulai sekarang, Nadira sudah tidak ada lagi."

Suasana di dalam ruangan seketika menjadi hening.

Putri Agung Kirana menggigit bibir dan buru-buru menjelaskannya dengan suara pelan,

"Aku tidak bermaksud untuk mengirimmu ke jurang penderitaan. Galang belum memberi tahumu, 'kah? Tujuh tahun kemudian, dia akan menjemputmu kembali."

"Iya."

Setelah menarik napas dalam-dalam, aku tanpa sadar berkata dengan nada lantang,

"Tujuh tahun."

"Lalu, bagaimana kalau aku mati di Kerajaan Arkapura?"

Mendengar pertanyaan itu, Putri Agung Kirana menundukkan kepala dan terus meremas saputangan di tangannya.

Galang melihatku dengan napas yang yang semakin berat.

Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya berkata,

"Kamu tidak akan mati."

Aku menatapnya sambil berkata,

"Kenapa kamu begitu yakin? Galang, bagaimana kalau aku benar-benar mati di Kerajaan Arkapura?"

Mendengar pertanyaan itu, dia pun mengerutkan kening. Akhirnya, ketidaksabaran mulai terpancar dari matanya.

"Nadira, soal menggantikan pengantin itu sudah menjadi keputusan yang tidak bisa diubah. Ucapan buruk seperti itu bisa menjadi kutukan bagi dirimu sendiri."

Kata-kata yang hendak diucapkan tersangkut di tenggorokan. Bagaimanapun, aku tidak sanggup mengatakannya.

Aku mengalihkan pandangan, lalu menyerahkan surat perceraian yang menjadi bagiannya.

"Aku sudah paham."

Melihat adegan ini, Galang pun menghela napas lega.

Senyuman polos juga muncul di wajah Putri Agung Kirana.

Kelihatannya, semua tampak berakhir bahagia.

Aku mundur beberapa langkah. Jari-jariku yang tersembunyi di dalam lengan baju terus mengusap lencana komando.

Mati pun tidak masalah.

Seseorang yang sudah mati di Kota Jayapura tidak akan bisa melibatkan Nadira lagi meski melakukan sesuatu di masa depan.

Galang telah mengubur namaku dengan tangannya sendiri.

Dia juga mengakhiri semua jalanku.

Namun, dia tidak tahu.

Ketika seseorang sudah tidak memiliki jalan, baru saat itulah dia benar-benar akan melangkah maju.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status