分享

Bab 5

作者: Fana
Anak?

Dia mengandung anak?

Rasa kantuk, hilangnya nafsu makan, dan kelelahan tanpa sebab yang selama ini dirasakannya ternyata bukanlah gejala penyakit. Semua itu terjadi karena dirinya sedang mengandung.

Namun, bahkan sebelum sempat mengetahui keberadaan anak itu, Anindya sudah kehilangan buah hatinya.

Jari-jari Anindya bergetar saat perlahan mengusap perut bagian bawahnya.

Perutnya masih rata seperti semula, tetapi pernah ada kehidupan kecil yang bersemayam dengan tenang di sana.

Seperti apakah rupanya nanti? Akankah dia lebih mirip dirinya atau Sakha? Anindya tidak akan pernah tahu jawabannya.

“Cuma seorang anak.” Suara Sakha terdengar dari balik penyekat ruangan, tetap tenang tanpa sedikit pun gejolak. “Sejak awal aku memang tidak menginginkannya. Baguslah kalau sudah tidak ada. Jadi, tidak perlu repot-repot.”

Jari-jari Anindya seketika mencengkeram erat selimutnya.

Baguslah kalau sudah tidak ada.

Lima kata itu meluncur begitu ringan, seakan hanya sedang menepis debu dari atas meja.

Di mulut Sakha, anak mereka tak lebih dari beban yang justru lebih baik jika sudah tiada.

Suara langkah kaki berangsur menjauh. Tabib kediaman itu pun menghela napas sebelum mengikuti Sakha pergi.

Di balik penyekat ruangan, Anindya kini sendirian, ditemani kesunyian dingin yang memenuhi seluruh ruangan.

Air mata mengalir tanpa suara di pipi Anindya. Setetes, dua tetes, lalu semakin deras hingga tak mampu lagi dibendung.

Dia menggigit bibir, berusaha menelan isak tangisnya. Namun, tangisan itu seolah hendak meledak dari dalam dadanya, tak sanggup lagi ditahan.

Selama tiga tahun ini, sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang ditumpahkannya. Namun, belum pernah sekalipun dia merasakan kepedihan sedalam ini, hatinya seakan tercabik-cabik.

Suara langkah kaki kembali terdengar.

Anindya mengira Sakha kembali setelah pergi. Hatinya seketika mencelos. Tanpa sadar, dia memejamkan mata, tak ingin pria itu melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.

Sesaat kemudian, penyekat ruangan terbuka. Namun, sosok yang muncul ternyata Kirana, yang datang sambil membawa semangkuk obat.

“Kakak,” Kirana menghampiri ranjang lalu duduk perlahan di sisinya. Suaranya terdengar lembut. “Kakak baru saja keguguran. Tubuh Kakak pasti masih lemah. Ayo, minum obatnya dulu.”

Dia menyendok sedikit ramuan obat, lalu menyodorkan sendok itu ke bibir Anindya.

Anindya memalingkan wajah dan tidak meminumnya.

“Kakak, kalau tidak minum obat, luka Kakak tidak akan sembuh.” Suara Kirana tetap lembut saat dia kembali menyodorkan sendok itu sedikit lebih dekat.

Anindya mengangkat tangan dan menepis mangkuk obat tersebut hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen itu pecah berkeping-keping, sementara cairan obat memercik hingga membasahi ujung rok Kirana.

“Di sini tidak ada orang lain,” Anindya menatapnya dengan suara lirih. “Sampai kapan kau akan terus berpura-pura?”

Kirana sempat tertegun. Dia menunduk, memandangi noda obat di ujung roknya, lalu tiba-tiba tertawa.

Senyumannya kini sama sekali berbeda dari kelembutan yang ditunjukkannya tadi. Wajahnya justru memancarkan kepuasan seorang pemenang.

“Berpura-pura?” Kirana bangkit berdiri, lalu menatap Anindya yang terbaring di ranjang dengan pandangan merendahkan. “Benar, aku memang lagi berpura-pura. Memangnya kenapa? Sakha percaya padaku, bukan kau.”

Dia kembali berjongkok agar bisa menatap mata Anindya sejajar dengannya. Suaranya merendah, hampir seperti bisikan.

“Kau pasti penasaran kenapa aku menjebakmu, ‘kan? Karena posisi yang sekarang kau tempati itu seharusnya milikku. Aku dan Jenderal sudah saling kenal sejak kecil, dan kami saling mencintai. Tapi, cuma karena wajahku mirip dengan wanita simpanan mendiang Jenderal, Nyonya Besar mati-matian melarang kami bersama. Coba pikir, bukankah aku yang paling dirugikan?”

Kirana mengulurkan tangan, lalu membelai pipi Anindya dengan lembut.

“Kakak sangat cantik. Selama bertahun-tahun ini, Jenderal pasti sering menginginkan Kakak, ‘kan? Aku dengar dari para pelayan, Jenderal sering datang ke kamar Kakak di malam hari. Kadang sekali, kadang dua atau tiga kali.”

“Lalu, memangnya kenapa? Orang yang dicintainya ‘kan aku. Baginya, kau tidak lebih dari seekor anjing. Saat masih berguna, dia akan main-main denganmu. Begitu tidak lagi berguna, dia akan menendangmu jauh-jauh. Apa kau percaya? kalau aku memintanya membunuhmu, dia bahkan tidak akan membutuhkan waktu lama sebelum melakukannya.”

Anindya memejamkan mata. Rasa sakit yang bergejolak di dadanya hampir merobek hatinya.

“Kau tidak perlu menganggapku sebagai saingan. Aku tidak pernah berniat mencampuri hubungan kalian.”

Kirana sempat tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar jernih dan merdu, tetapi justru lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Tidak pernah berniat? Tapi kau sudah mencampuri hubungan kami! Kau merebut posisiku, tidur dengan pria yang kucintai, lalu berlenggak-lenggok di depan umum dan menyandang gelar istri Jenderal. Anindya, bukankah konyol sekali kalau kau masih bersikeras bilang bahwa kau tidak pernah berniat melakukannya?”

“Aku sudah berencana cerai dengannya.” Anindya membuka mata dan menatapnya lekat-lekat, mengucapkan setiap kata dengan tegas. “Aku akan meninggalkan tempat ini dan mengakhiri semuanya. Kau tidak perlu lagi bersusah payah menjebakku.”

Tawa Kirana mendadak terhenti.

Dia menatap Anindya. Sesuatu yang rumit melintas di matanya, tetapi dengan cepat tergantikan oleh siasat yang lebih dalam.

“Cerai?” ulangnya pelan. Senyum tipis perlahan tersungging di bibirnya. “Apa Kakak tega melepaskannya? Pria seperti Jenderal itu ....”

Belum sempat Kirana menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar ringkikan kuda yang menggelegar dari luar.

“Kudanya mengamuk! Cepat menyingkir!” teriak seseorang.

Belum selesai teriakan itu menggema, seekor kuda gagah yang ketakutan menerjang gerbang halaman hingga jebol, lalu berlari lurus ke dalam.

Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, lalu mengarahkannya ke tempat Kirana berdiri, siap menginjaknya!

Seluruh tubuh Kirana menegang. Dia sama sekali tidak sempat menghindar.

Pada saat yang sangat genting, sesosok bayangan mendadak menerobos masuk.

Itu Sakha.

Dia bergegas menerobos masuk, tetapi kuda itu sudah berada sangat dekat. Kedua kaki depannya terangkat tinggi, siap menghantam Kirana.

Dalam sekejap, Sakha mengulurkan tangan, mencengkeram Anindya, lalu mendorongnya kuat-kuat ke depan.

Anindya bahkan belum sempat menjerit ketika tubuhnya terdorong oleh kekuatan besar hingga jatuh tepat di bawah kaki kuda itu.

Kaki kuda itu menghantam dada Anindya dengan keras. Dia mendengar suara tulang-tulangnya patah, lalu memuntahkan seteguk darah yang memercik ke wajah Sakha.

Sementara itu, Sakha memeluk Kirana erat-erat, melindunginya dalam dekapan, tanpa menoleh sekali pun pada Anindya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status