MasukMalam itu, aula utama kediaman dipenuhi oleh kemegahan yang luar biasa. Elian, dengan segala pesona dan koneksi luasnya sebagai seorang Putra Mahkota, mengadakan sebuah jamuan perayaan yang teramat mewah. Acara ini digelar khusus untuk merayakan kemenangan mutlak Scarlett yang kini telah resmi dinobatkan sebagai Penguasa Kota yang baru. Musik klasik mengalun indah, berpadu dengan dentingan gelas-gelas kristal berisi anggur terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu dan pekatnya malam, kekuatan alkohol mulai bekerja pada tubuh para pria perkasa di sekeliling Scarlett. Valerian, sang panglima perang yang biasanya berdiri kokoh bagai tebing karang, kini tampak goyah. Efek wine madu yang pekat membuat kesadarannya menipis. Saat mencoba bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, tubuh kekarnya limbung dan hampir saja jatuh tersungkur ke lantai. Beruntung, Caspian yang duduk tidak jauh darinya memiliki refleks yang sigap. Pendeta Agung itu langsung melangkah maju dan menopang tu
Gemuruh sorak-sorai di dalam aula Grand Forum of Trials masih terdengar membahana. Di tengah keriuhan itu, gerbang dimensi emas di sebelah Scarlett mendadak meredup dan hancur perlahan. Sosok Rosalie melangkah keluar dengan napas yang memburu. Namun, begitu kedua kelopak matanya terbuka sempurna dan indera pendengarannya menangkap gema suara MC yang mengumumkan kemenangan telak Scarlett, tubuh Rosalie seketika membeku. Wajahnya yang semula penuh ambisi langsung memucat pasi. Dia tercengang, menatap layar magis dengan pandangan tidak percaya. "Tidak mungkin... Tidak mungkin aku kalah!" teriak Rosalie, suaranya melengking frustrasi di antara kerumunan. Kedua belah tangannya mengepal dengan sangat kuat di sisi gaun kuning emasnya hingga kain berenda itu kusut. Rasa hancur dan amarah yang meluap membuat akal sehatnya hilang. Dia berteriak histeris ke arah pang
Di tengah ruang makan palsu yang sunyi dan mencekam, Scarlett berdiri tegak dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja merebut kembali takhtanya. Sepasang mata ungunya berkilat tajam, tidak lagi menyisakan setitik pun keraguan atau ketakutan. Dia menatap lurus ke arah kegerangan hampa di depannya, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada suara yang memancarkan keteguhan absolut. "Jadi... tolong percaya juga bahwa aku bisa bangun dengan kekuatanku sendiri," ucap Scarlett, suaranya menggema penuh otoritas, memotong sisa-sisa melodi ilusi yang menakutkan. "Satu-satunya keinginanku saat ini adalah... bawa aku pergi dari tempat terkutuk ini!" WUSH! Tepat setelah kata terakhir itu selesai diucapkan, semua pendaran cahaya di tempat itu mendadak lenyap total dalam sekejap mata. Suasana menjadi gelap gulita selama satu detik, sebelum akhirnya
Suasana di dalam aula Grand Forum of Trials semakin menegangkan seiring berjalannya waktu. Fokus ribuan pasang mata kini terbagi di antara layar-layar magis yang melayang di udara. Sang MC, yang sejak awal memandu jalannya final dengan cermat, melangkah ke tepi panggung utama. Pandangannya bergantian menatap layar emas milik Rosalie dan layar ungu milik Scarlett. "Nona Muda Kedua dari keluarga Grand Duke sepertinya sudah mulai menemukan celah ilusi!" seru MC dengan suara membahana, memberikan analisis terbarunya. "Melihat fluktuasi energinya, dia mungkin akan segera keluar dan memenangkan seleksi ini!" Jika dilihat langsung dari arah gerbang dimensi emas, gejolak energi yang terpancar dari tubuh Rosalie memang sudah mulai stabil. Isak tangis dan ketakutannya akan kemiskinan perlahan mereda karena log
Scarlett masih berusaha mencerna seluruh ucapan Valerian yang terasa begitu nyata namun membingungkan. Di tengah lamunannya, suara berat dan serak milik Killain mendadak terdengar dari arah belakang kursinya. "Kalau begitu, aku yang bertanggung jawab untuk membereskan dan mempersiapkan kamar," ucap Killian, nadanya datar namun sarat akan pengabdian. "Agar Tuan bisa merayakan hari ulang tahun ini dengan tenang tanpa ada gangguan." Kalimat itu benar-benar mencerminkan ciri khas sang bodyguard. Dia selalu siap siaga, penuh pengertian, dan fokus pada kenyamanan mutlak Scarlett. Tidak mau kalah, Zayn menimpali dari posisinya. Duyung berambut biru itu sengaja memasang nada suara yang dibuat-buat mengalah, terdengar sedikit menyedihkan namun sangat manja di telinga Scarlett. "Selama Tuan merasa senang... bagiku, melakukan apa pun sama sekali tidak menjadi masalah."
Di dalam ruang makan yang hangat dan dipenuhi aroma manis, ibu Scarlett melangkah mendekat dengan langkah kaki yang begitu lembut. Wajahnya memancarkan kasih sayang yang murni, tipe kehangatan keluarga yang sudah sangat lama tidak pernah Scarlett rasakan sejak terjebak dalam permainan penaklukan ini. Wanita paruh baya itu menurunkan tubuhnya sedikit, menyerahkan sebuah kue ulang tahun dengan hiasan buah stroberi segar yang cantik tepat ke hadapan Scarlett. "Scarlett, selamat ulang tahun. Mulai sekarang, ayah dan ibu akan selalu menemanimu di masa depan," ucap sang ibu dengan suara keibuan yang teramat lembut. Scarlett tercengang di kursinya. Tubuhnya kaku, dan sepasang mata ungunya mendadak berkaca-kaca menatap pendaran lilin di atas kue stroberi tersebut. Dadanya terasa begitu sesak, dihantam oleh gelombang emosi yang luar biasa besar. Dia tahu betul ini adalah ujian final dari gerbang dimensi ilusi, namun menyembunyikan kebenaran ini dari hatinya sendiri adalah hal y







