LOGIN"Kamu bercanda, kan? Masa arsitek kaya raya pelitnya tujuh turunan sampai nggak bisa bayar tukang bersih-bersih?"
Avena berdiri kaku di ambang pintu kamar utama. Kamar itu luas, sangat luas malah, dengan ranjang king-size berseprai abu-abu gelap yang tampak sangat empuk. Masalahnya, kamar ini hanya punya satu ranjang itu. Tidak ada kasur lantai, tidak ada daybed, bahkan karpet bulu di bawahnya pun terlalu tipis untuk dijadikan alas tidur manusia normal. Rafsen tidak memedulikan protes yang mirip petasan renteng itu. Pria itu berjalan menuju sebuah meja kayu di sudut kamar, tempat sebuah foto berbingkai perak diletakkan di samping vas bunga sedap malam yang masih segar. Di dalam foto itu, Kakek Arga tersenyum lebar memakai kemeja batik. Rafsen memandangi foto itu selama beberapa detik. Tatapannya tiba-tiba melunak, tangan kanannya terangkat, menyentuh pelan pinggiran bingkai foto. "Kek, aku sudah menikah," ucap Rafsen, suaranya sangat lirih. "Cucumu sudah membawa menantu untuk rumah ini. Jadi, Kakek bisa tenang di surga. Jangan gentayangan lagi untuk menerorku lewat mimpi." Avena yang tadinya siap menyemburkan omelan babak kedua, mendadak terkunci mulutnya. Kalimat pendek Rafsen barusan menghantam dadanya dengan rasa haru yang tidak siap ia antisipasi. Ia baru ingat, Kakek Arga telah berpulang dua minggu setelah menjenguk neneknya di rumah sakit. Kepergian mendadak itulah yang mempercepat pernikahan kilat ini. Rafsen mungkin terlihat tidak punya hati, tapi caranya berbicara pada foto sang kakek membuktikan bahwa pria ini memikul kerinduan besar. Avena berdeham kecil, merasa agak bersalah karena sudah berisik. "Eum, maaf. Aku nggak bermaksud—" "Tidur di sebelah kanan," potong Rafsen cepat, berbalik badan dengan wajah lempengnya yang semula. "Aku di kiri. Jangan melewati batas tengah." Rasa bersalah Avena langsung menguap ke udara, digantikan oleh kedutan kesal di pelipisnya. Pria ini benar-benar perusak suasana paling andal di muka bumi. "Siapa juga yang mau lewat batas? Lagian gaun ini ribet banget dibuka, tanganku nggak nyampe ke resleting belakang!" gerutu Avena, berbalik memunggungi Rafsen sambil meraba-raba punggungnya sendiri dengan frustrasi. Resleting gaun pengantinnya macet tepat di tengah punggung. Mendengar suara gemerisik kain yang heboh, Rafsen menghela napas panjang. Langkah kakinya terdengar mendekat. Sebelum Avena sempat berbalik, ia merasakan embusan napas hangat di tengkuknya, disusul oleh sentuhan jari-jari kekar nan dingin di kulit punggungnya yang terekspos. Avena membeku. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. "R-Rafsen? Kamu mau ngapain?" "Diam." Dengan satu gerakan, Rafsen menarik resleting yang macet itu hingga turun ke bawah. Kulit punggung Avena langsung bersentuhan dengan udara malam yang dingin, membuat bulu kuduknya meremang. Begitu selesai, Rafsen langsung mundur dua langkah tanpa mengubah raut mukanya. "Ganti bajumu. Aku mandi di luar," ucapnya datar, lalu melenggang pergi meninggalkan Avena yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus di tengah kamar. "Dasar kulkas dua pintu!" umpat Avena pada pintu yang tertutup, sambil memegangi dadanya yang berdebar aneh. Satu jam kemudian, lampu kamar sudah dipadamkan, Avena berbaring dengan posisi kaku seperti mumi, memeluk guling erat-erat sebagai pembatas wilayah. Di sebelah kirinya, Rafsen berbaring dengan posisi telentang, napasnya teratur dan tampak sudah menjelajah ke alam mimpi. Avena tidak bisa tidur, kamar ini terlalu asing. Dan entah kenapa, wewangian kayu dari tubuh Rafsen yang berada hanya beberapa puluh sentimeter di sebelahnya membuat otaknya terus terjaga. Krieeek! Sebuah suara gesekan kayu dari arah luar kamar membuat Avena tersentak. Matanya membelalak menatap langit-langit, memori tentang ucapan Rafsen soal hantu kakek langsung berputar di kepalanya bagai film horor. Dug! Dug! Kali ini suara langkah kaki samar terdengar di atas loteng. Imajinasi Avena sebagai guru TK yang sering mendongengkan cerita monster langsung liar. Tubuhnya mulai gemetar. Ia melirik Rafsen yang tetap tidur dengan tenang. Gubrak! Avena menjerit tanpa suara, kehilangan seluruh akal sehatnya. Dengan refleks yang luar biasa cepat, ia menggulingkan badannya ke kiri, melompati guling pembatas, dan langsung menerjang tubuh Rafsen. Bruk! "Aduh!" Rafsen mengerang pendek saat tubuhnya ketiban beban mendadak. Sebelum pria itu sempat mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, Avena sudah melingkarkan kedua lengan dan kakinya ke tubuh Rafsen, memeluknya erat-erat seperti anak koala yang ketakutan setengah mati. Wajah Avena tenggelam di dada bidang Rafsen yang hanya terbalut kaus oblong tipis. "Rafsen, ada hantu. Demi apa pun ada suara di luar. Jangan lepasin aku, tolong!" jerit Avena histeris, makin mempererat pelukannya hingga Rafsen nyaris kehabisan napas. Rafsen yang tiba-tiba terbangun karena serangan fisik ini tertegun, seluruh tubuhnya menegang kaku. Dalam kegelapan, ia bisa merasakan kehangatan tubuh Avena yang gemetar, aroma sampo stroberi yang manis menyerbak di hidungnya, dan detak jantung wanita itu yang berpacu liar di dadanya. Refleks seorang pria dalam diri Rafsen mendadak siaga. Posisi mereka sangat mepet, Avena berada di atas tubuhnya dengan kaki yang mengunci pinggangnya. "Avena," panggil Rafsen, suaranya terdengar serak. "Nggak mau, jangan disuruh pindah. Aku mau di sini sampai pagi!" potong Avena keras kepala, malah makin menyurukkan wajahnya ke leher Rafsen. Kecemasannya terhadap hantu mengalahkan rasa malunya. Tangan Rafsen perlahan terangkat. Alih-alih mendorong Avena menjauh, jemari besarnya entah mengapa justru mendarat di pinggang Avena, menahan posisi wanita itu agar tidak terjatuh dari atas tubuhnya. Rafsen memiringkan kepalanya sedikit, membuat bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Avena yang memerah. "Kalau kamu tidak turun dalam hitungan tiga, jangan salahkan aku kalau pernikahan tanpa cinta ini berubah jadi pernikahan sungguhan malam ini," bisik pria itu. Avena langsung membeku, kesadarannya kembali pulih seratus persen. Ia mendongak, dan dalam keremangan malam, sepasang mata elang Rafsen sedang menatapnya dengan pendar yang diselimuti kabut gelap. "Satu ...." Rafsen mulai menghitung, tangannya di pinggang Avena sedikit meremas pelan. Saking paniknya bercampur gengsi yang setinggi langit, Avena langsung memutar tubuhnya untuk kabur kembali ke wilayah tidurnya. Namun sial, kakinya justru tersangkut selimut. Bruk! Wanita itu meluncur jatuh dari kasur dengan posisi yang sama sekali tidak estetik, mendarat telentang di lantai dengan guling pembatas yang menimpa wajahnya. Di balik guling yang menutupi mukanya, Avena memejamkan mata rapat-rapat sambil merintih dalam hati, "Tuhan, besok pagi tolong hapus memori memalukan ini dari ingatanku, kalau bisa sekalian aku menghilang dari muka bumi. Aaaa!""Mobil Pak Rafsen parkir di pinggir jalan raya depan gang, Bu Avena. Beliau jalan kaki ke sini sambil bawa buket bunga Mawar Putih, mana pakaiannya rapi banget kayak CEO-CEO," ucap Pak Slamet, penjaga sekolah, bergema di koridor ruang guru yang mulai sepi. Jam pulang sekolah baru saja berlalu lima belas menit yang lalu.Avena yang sedang merapikan tasnya langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa bersalah yang membakar dadanya sejak pembicaraannya dengan Miss Siska siang tadi."Pak Rafsen jalan kaki ke sini?" ulang Avena tak percaya."Iya, Bu. Anak-anak sama ibu-ibu wali murid yang belum pulang pada ngumpul di depan gerbang, heboh banget ngeliatin suami Ibu," jawab Pak Slamet menyengir lebar.Avena tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari kecil menyusuri koridor, melangkah keluar menuju halaman depan sekolah.Langkah Avena terhenti seketika. Di sana, di antara kerumunan beberapa wali murid yang berbisik-bisik kagum dan sekumpulan anak TK
"Miss Avena, kopi kamu sampai dingin begitu belum tersentuh dari tadi," tegur Miss Siska lembut, meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang guru TK Tulip.Avena tersentak kaget dari lamunannya. Ia memandangi cangkir kopi di depannya yang memang sudah tak lagi menguarkan uap. Jam istirahat anak-anak baru saja dimulai, tetapi sejak melangkah keluar dari mobil Rafsen di depan gang tadi pagi, pikiran dan jiwanya seolah tertinggal di tempat lain. Mengajar mewarnai dan bernyanyi bersama para murid pun dilakukannya setengah hati."Eh, iya, Miss, maaf, saya agak kurang fokus," ujar Avena, menyunggingkan senyum tipis.Miss Siska duduk di kursi samping Avena, menatap rekan kerjanya itu helaan napas lirih. "Sejak perjalanan pulang dari Puncak kemarin sore, raut wajahmu beda sekali, Miss. Anak-anak mungkin tidak sadar, tapi saya lihat kamu lebih banyak melamun. Kalau ada beban yang mengganjal, tidak apa-apa kalau mau cerita. Tapi kalau tidak mau, setidaknya jangan biarkan pikiran buruk i
"Turunkan aku di depan gang. Mobil kamu kebesaran, nggak bakal muat masuk sampai depan TK," kata Avena dingin, matanya menatap lurus ke kaca depan tanpa sedikit pun melirik pria di samping kemudi.Rafsen tidak membalas. Tangan kekarnya mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika mobil berhenti tepat di mulut gang sempit menuju TK tempat Avena mengajar, Avena langsung melepas sabuk pengamannya. Ia meraih tasnya, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan kata terima kasih yang biasanya selalu meluncur manis dari bibirnya.BRAKK!Pintu mobil ditutup kencang, sukses membuat otot rahang Rafsen makin mengeras.Melalui kaca mobil, Rafsen terus menatap punggung Avena. Langkah kaki istrinya begitu cepat, rok kain lebar yang dikenakannya melambai searah dengan emosinya. Pria itu terus mengawasi Avena yang lambat laun menyatu dan menghilang di antara kerumunan orang.Bahkan ketika bayangan Avena benar-benar sudah tidak terl
"Siapa yang mengizinkanmu memindahkan barang-barangmu ke kamar lain?" Pria itu berdiri kaku di ambang pintu kamar tamu, menatap Avena yang sedang menata bantal dan selimut yang dibawanya dari kamar utama. Avena menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Sikap kaku dan tatapan tajam Rafsen selama perjalanan pulang dari Puncak tadi sore masih membakar dadanya. Di dalam bus tadi, mereka berdua saling diam bagaikan dua patung es yang dipajang berdampingan, membuat seluruh guru TK dan anak-anak merinding ketakutan. "Ruang kerja kamu, kan, dekat dari kamar utama, aku nggak mau mengganggu telepon pekerjaan rahasia kamu malam-malam. Di kamar tamu lebih tenang." Rafsen melangkah lebar, memotong jalan Avena dan mengunci pergerakan wanita itu tepat di depan pintu kamar. Iris matanya menatap Avena lekat-lekat, menyembunyikan rasa gelisah yang mulai mencengkeram dadanya. "Saya suami kamu, Avena. Tempat kamu di kamar utama, bersama saya," tegas Rafsen. Avena mendongak, menyunggin
Keesokan Harinya Avena sedang sibuk merapikan tumpukan kertas warna-warni di meja saung terbuka, saat yang sama, ponselnya di dalam tas kecil berdering nyaring. Ia merogohnya, mengira itu telepon dari Rafsen yang sedang mengecek area restoran bersama Bagas.Namun, nomor di layar tidak dikenal."Halo, selamat pagi?" sapa Avena ramah."Selamat pagi, Avena. Maaf mengganggu waktumu." Suara wanita di ujung telepon terdengar begitu halus.Avena menegang. Ia mengenali suara itu. "N-Natasha?"Natasha tertawa kecil. "Senang kamu masih ingat suaraku. Aku cuma mau mengucapkan selamat atas acara study tour-mu yang mewah. Luar biasa, ya, Rafsen sampai menguras fasilitas Vantara Resort cuma demi menuruti kemanjaan kamu."Avena mengepalkan tangannya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Kalau kamu cuma mau bicara hal gak penting, maaf, aku lagi kerja.""Tentu aku tahu kamu sibuk, Avena. Tapi apa kamu tidak penasaran kenapa Rafsen tiba-tiba memanjakanmu setinggi langit?" Jeda sejenak membuat dad
Beberapa Jam Kemudian | Vantara Resort Puncak"Om Bagas, tolong pegangin ember ini. Aku mau nangkep ikan lele giant." Suara cempreng milik Alvaro melengking tepat di telinga Bagas. Asisten pribadi berkemeja polo ketat bertuliskan PANITIA itu memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang kini berdiri melamun di tengah kolam lumpur dangkal Vantara Resort Puncak. Celana bahan mahal yang biasanya melintasi lantai marmer kantor kini digulung asal-asalan sebatas lutut, dipenuhi cipratan lumpur kecokelatan."Eh, bocil, ini Lele Siluman, kalau ditangkap malah kamu bisa dimakan sama dia. Tolong jangan aneh-aneh, ya, Om nggak mau disalahin. Tangkap yang kecil-kecil aja itu," ratap Bagas dengan senyum meringis yang teramat pasrah.Avena yang berdiri di pinggir kolam bersama anak-anak TK kelas Tulip lain langsung tertawa pingkal-pingkal. Mengenakan kaus seragam yayasan dan topi caping mungil, Avena tampak begitu menggemaskan."Semangat, Pak Bagas. Itu demi bonus lima puluh persen," goda Ave







