A Story We Misread

A Story We Misread

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-09-09
Oleh:  Ann AzureBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
15Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Dua orang itu bertemu di tempat yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka juga tidak mengira bahwa pertemuan itu justru mengantarkan mereka pada sebuah kesalahpahaman besar. Reana akui, bertemu Issa adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Namun, terkadang, hanya terkadang, ia berharap seharusnya mereka tidak perlu bertemu. Sama sekali.

Lihat lebih banyak

Bab 1

PROLOG

Mereka terlihat sangat dekat dan… mesra.

Reana bertanya-tanya apakah ia dan lelaki itu pernah terlihat semesra ini di mata orang lain? Lalu apakah lelaki itu juga pernah memeluknya seerat itu?

Reana tidak mungkin salah mengenali. Ia bahkan bisa tahu didetik pertama kalau lelaki di dalam foto itu adalah dia. Lelaki yang terlihat sedang memeluk perempuan lain di foto itu adalah lelaki yang sama dengan yang minggu lalu menghabiskan malam di apartemen bersamanya.

Rasa iri dan marah mulai berdesir dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perasaan yang sebelumnya tak pernah ia ketahui bahwa ia akan merasakannya. Namun sekarang Reana akui bahwa ia merasa sangat… cemburu.

Reana penasaran, setelah itu, setelah momen di dalam foto itu, kemana mereka pergi? Apa yang mereka lakukan? Apakah setelah berpelukan, mereka saling menyentuh satu sama lain? Apakah dia menyentuh perempuan itu sama seperti saat dia menyentuhnya?

Jari-jemari Reana perlahan membuat lembar foto itu kusut. Bibirnya terkatup rapat dan sepasang matanya mulai terasa panas. Cemburu ini mulai terasa menyiksa. Namun Reana tidak bisa menangis dan kalah begitu saja. Setidaknya tidak di sini, tidak saat ini.

Ia memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam sebelum mengangkat wajahnya dan menatap seseorang yang duduk tepat di hadapannya.

“Dari mana kamu mendapatkan foto ini?” tanya Reana.

Lelaki itu mengangkat sedikit sudut bibir, memberikan Reana senyum tipis yang khas. Ia merasa takjub pada Reana yang sekarang masih bisa duduk tenang dan mengontrol emosi dengan baik.

“Apakah itu masih penting sekarang?” Lelaki itu balik bertanya. “Dia, lelaki yang selalu kamu banggakan, seperti itulah dia di luar sana. Liar.”

Rahang Reana mengeras, kepalan tangannya semakin kencang, membuat foto itu semakin kusut tak berbentuk.

“Lalu apa tujuanmu memberitahuku hal ini?”

“Tujuanku?” Lelaki itu mencodongkan tubuh ke arah Reana, lalu ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. “Tentu saja karena aku ingin kamu membuka matamu dan sadar, Reana… Jangan melihat terlalu jauh, tapi lihatlah baik-baik mana lelaki yang sungguh-sungguh berjuang untukmu. Mungkin selama ini dia ada tepat di depan matamu.”

Reana balas menatap sepasang mata hitam itu sama lekatnya. Ini bukan kali pertama mereka saling menatap, dan Reana tahu meskipun dia terlihat tajam dan mengintimidasi, namun di saat yang sama ada kehangatan yang terlihat tulus.

Tapi, darahnya tak pernah berdesir, hatinya tak pernah berdetak kencang untuk lelaki itu. Bahkan rasa cemburu dan emosi yang sedang ia tahan saat ini, tak pernah sekalipun ia rasakan untuknya.

“Reana, jangan bertahan untuk seseorang yang sedang menghancurkanmu perlahan-lahan.”

Reana berkedip dan memalingkan wajahnya dari lelaki itu. “Aku tahu,” ucapnya pelan.

Lelaki itu menarik tubuhnya dan kembali duduk bersandar pada sofa. Ia sengaja tidak begitu banyak bicara karena ia sedang berusaha memberi Reana ruang untuk berpikir.

Untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai lelaki itu berkata, “Kamu tahu aku selalu ada di sini, bahkan jika kamu mau membalas dendam atas rasa sakit pengkhianatan itu, aku selalu ada di sini untukmu.”

Reana kembali menatap lelaki di depannya dengan tatapan tajam, keningnya berkerut setelah mencerna apa yang baru saja ia dengar.

“Balas dendam?”

Lelaki itu mengangguk, “Tidakkah kamu menginginkannya?” tanyanya.

“Berhenti bicara omong kosong!” tiba-tiba Reana meninggikan suara. “Dia tidak seburuk yang—”

“Buktinya sudah jelas.” Lelaki itu memotong ucapan Reana. “Kamu sedang memegang buktinya sekarang.” Katanya lagi sambil menunjuk selembar foto yang masih berada di genggaman tangan Reana dalam keadaan kusut.

Tanpa sadar Reana menahan napas. Kata-kata itu terus terulang di telinganya seperti kaset rusak. Balas dendam… benarkah ia menginginkannya? Haruskah ia melakukannya?

Lalu bayangan-bayangan kenangan muncul satu-persatu begitu saja, saat Reana dan lelaki dalam foto itu sedang bersama. Menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Saling menyentuh dengan kasih sayang. Ucapan-ucapan manis yang terdengar seperti masa depan.

Namun apakah Reana satu-satunya perempuan yang diperlakukan sebaik itu olehnya? Atau apakah di luar sana ada banyak perempuan lain yang punya perasaan yang sama dengannya?

Balas dendam… entah kenapa, tiba-tiba jadi terdengar sangat masuk akal sekarang.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
15 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status