Home / Romansa / Sayang, Ini Hanya Kontrak / Ketidakadilan Bagi Rhea

Share

Ketidakadilan Bagi Rhea

Author: Rachel Bee
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-19 18:50:59

Di sudut lorong remang-remang dekat tangga darurat lantai lima, seorang pria berjaket hitam tipis berdiri berpura-pura sedang meneliti papan pengumuman internal. Pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan topi yang tak terjangkau dari kamera pengawas.

Dari balik bayangan, matanya yang tajam dan dingin tak lepas mengawasi Rhea.

Hari itu, keputusan penurunan jabatan Rhea resmi diumumkan. Tampak Rhea keluar dari ruangan divisi editorial dengan langkah berat, membawa sebuah kotak karton berisi ba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Ancaman Adrian

    Di lantai atas restoran malam itu, Rhea dan Adrian terjebak dalam keheningan yang cukup lama. Rhea tampak menikmati hidangan mie rebus dengan aneka makanan lainnya, sedangkan Adrian memilih tenggelam dalam notifikasi ponselnya yang terus menerus berdering. Rhea melirik sejenak, lalu kembali menyeruput mie rebus miliknya. Sebelum akhirnya, tingkah menggemaskan itu membuat Adrian tak kuasa melengkungkan senyumannya. "Setelah ini, kamu mau ke mana?" tanya Adrian tiba-tiba. Rhea mengerutkan dahinya, kunyahan di mulutnya ditelannya cepat-cepat. Menyadari ada kesalahan dalam ucapannya, Adrian pun bertanya ulang. "Maksud aku, setelah resign. Kamu sudah dapat pekerjaan baru?" Rhea menaruh sumpitnya. Tindakannya tadi siang benar-benar di luar keinginannya. Ia terbawa emosi, hingga memutuskan untuk resign tanpa rencana ke depannya. Hingga lima menit terdiam, Rhea hanya menghela napas berat. Adrian tetap setia menunggunya untuk bicara. "Adrian, aku..." "Kamu terbiasa kerja shift atau mau am

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Kembali Bersama

    Berita tentang hengkangnya Rhea dari Kyama Group berhembus di seluruh lantai perusahaan, termasuk ruangan IT tempat Adrian bekerja. Ia baru mengetahuinya hari ini, Rhea tak menghubunginya sejak dua hari lalu setelah kejadian itu. Ini wajar, Rhea mungkin masih sakit hati. Tanpa banyak bicara, Adrian segera bergegas mencari sosok Rhea di lantai bawah tempatnya bekerja. Tak ada seorangpun di ruangan kecil dan pengap itu. Adrian pun beralih menuju toilet umum dekat ruangan ganti staf. Ada salah satu bilik yang tertutup dan sayup-sayup terdengar suara seorang wanita tengah menangis. 'Itu suara Rhea.' Adrian menghentikan langkahnya, berdiri mematung di sudut dekat pintu masuk. [Indra, kamu bisa jemput aku enggak? Aku mau pulang ke rumah bibi.]Jantung Adrian serasa diremas. Rhea ingin pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya. Tak sadar, tangannya ikut terkepal, memukul dinding kamar mandi yang tebal. [Kamu ada di luar negeri? Kapan pulang?][Atau, minggu depan saja aku ke sana. Maaf mer

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Pergi Demi Harga Diri

    Rhea menghela napas lelahnya setelah hampir satu hari penuh berkutat dengan puluhan kardus menumpuk di gudang. Dahinya penuh dengan peluh, wajahnya terlihat lusuh, seragam yang dipakainya sedikit basah. Setelah makan siang, ia bermaksud ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya. Namun, takdir seakan tak mengizinkannya, seseorang memanggilnya ke lantai 20 untuk bertemu dengan Pak Bram selaku direktur utama Kyama Group. "Apa jangan-jangan kamu mau dipecat ya?" tanya seorang staf senior di divisi logistik. Rhea terdiam tak menimpalinya. Dua orang berbisik-bisik dekat telinga Rhea. Suaranya sedikit terdengar dengan nada yang mengejek. "Mending dipecat, siapa tahu langsung dibawa ke kantor polisi terus masuk penjara," tambah seorang lagi. Rhea tak bernafsu untuk membalasnya. Ia segera bersiap untuk menghadap Pak Bram. Sesampainya di lantai 20, Rhea berpapasan dengan Olivia dan Nathan yang berjalan bergandengan menuju ruangan pria itu. Nathan sempat meliriknya, sebelu

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Meminta Penjelasan

    Olivia duduk tenang di sudut ruangan kafe yang saat ini dipesannya. Sesekali ia mengecek notifikasi di ponselnya, lalu melongok ke arah pintu masuk ruangan, memastikan seseorang yang diundangnya tak salah masuk ruangan. Setengah jam kemudian, pintu ruangan terbuka. Seseorang yang tengah ditunggunya berdiri dengan wajah dingin dan datar sambil melirik arlojinya. "Nathan!" Olivia melambaikan tangannya, senyum merekah di bibirnya. Nathan hanya melirik sekilas, lalu berjalan dengan langkah pelan menuju meja. "Aku tungguin kamu dari tadi. Aku kira kamu enggak mau datang.""Tadinya begitu. Tapi Om Bram maksa aku suruh datang ke sini. Katanya kamu ada sesuatu yang harus dibicarakan?" ujar Nathan yang kini duduk di seberang Olivia. "Katakan, waktuku tak banyak.""Kamu mau ke mana?" tanya Olivia dengan wajah polos dan suara lembut yang dibuat-buat. "Kita makan malam dulu. Aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu."Tak ada jawaban dari Nathan. Tatapan mata tajamnya menuntut agar Olivia untuk

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Tipu Daya Anna

    Adrian masih duduk di dalam mobil miliknya yang terparkir nyaman di depan pagar rumah kost Rhea. Matanya tajam, menatap tertuju pada bangunan lantai dua di sebelah barat. Lampu kamarnya masih menyala, tanda jika pemiliknya masih terjaga. Ia mengutak-atik ponselnya, mengetik lalu menghapusnya hingga berulang kali tanpa niat mengirimnya. Hatinya masih diliputi rasa bersalah karena tindakan kasarnya tadi. Dalam hati, ia merutuki tindakan bodoh itu. Sedang nyamannya ia melamun, tiba-tiba layar ponselnya menyala. Ada satu notifikasi pesan dari seseorang yang dikenalnya, sang ibunda. Adrian mendesah kesal. [Besok, pulang ke rumah. Ada yang mau mama tanyakan sama kamu.]'Apa sebenarnya yang mama inginkan?'Keesokan harinya, Adrian menuruti perintah ibunya untuk kembali ke rumah. Ia memang telah lama tak mengunjungi ibunya sejak pertengkaran besar lima tahun lalu. Adrian menjaga jarak, tak ingin terlalu dekat dengan ibunya yang terus mempengaruhi keinginannya untuk mulai belajar mandiri, l

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Lepas Kendali

    Emosi Adrian yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak begitu saja mendengar penolakan bertubi-tubi dari Rhea. Hilang sudah kewarasan dan kendali diri atas pria itu ketika melihat wanita yang dicintainya mundur dan memilih menghindar darinya. "Kamu pikir, kamu bisa seenaknya mengabaikan aku, Rhea?" sentak Adrian dengan suara menggelegar di area parkir yang mulai sepi. Rhea bergerak mundur, bersiap meninggalkan Adrian yang tengah mengamuk. Tanpa memberi kesempatan pada Rhea untuk melarikan diri, Adrian langsung menarik tangannya, meraih tengkuk wanita itu mendekat. Ia membungkam bibir Rhea dengan ciuman menuntut, kasar dan sarat akan luapan marah serta keputusasaan yang tertahan selama berhari-hari. Tidak ada kelembutan, hanya perasaan posesif sebagai bentuk kepemilikan mutlak dari seorang kekasih yang ketakutan karena kehilangan kekasihnya. Rhea membelalak kaget, napasnya seketika tercekat. Ia sempat mencoba meronta dan mendorong dada bidang Adrian sekua

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status