Sayang, Ini Hanya Kontrak

Sayang, Ini Hanya Kontrak

last updateLast Updated : 2026-08-06
By:  Rachel BeeOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan reputasi dan karirnya sebagai editor muda, Rhea Prameswari nekat menawarkan kerja sama sebagai kekasih palsu pada Adrian Mahendra si kepala divisi IT yang kaku dan dingin. Di sisi lain, Adrian juga memiliki masalah, sering dikejar-kejar oleh anak pemilik perusahaan dan membutuhkan partner kerja sama yang saling menguntungkan. Keduanya tak sadar, rasa cinta sesungguhnya hadir di tengah perjanjian kontrak tersebut. Saat semua rencana berjalan dengan lancar, masalah muncul tiba-tiba sebagai dampak kebencian terhadap Rhea. Salah satunya, Rhea difitnah membocorkan data proyek ke pesaing perusahaan. Dibantu oleh Adrian, Rhea berhasil menyelamatkan nama baiknya. Di saat itu pula, Adrian merobek kertas perjanjian dan menyatakan perasaannya. Melihat hal itu, Rhea pun akhirnya sadar, ia juga telah jatuh cinta pada Adrian.

View More

Chapter 1

Tawaran Kontrak Kekasih Palsu

Rhea melangkah pelan menyusuri koridor lantai lima menuju pantry. Tepat lima langkah menuju pintu, ia mendadak menghentikan langkahnya.

Matanya yang tajam menatap lurus ke arah dua orang yang tengah berlarian di sepanjang koridor. Rhea mengenali keduanya, si Adrian kepala IT yang kaku dan selalu berwajah datar kini berjalan cepat dengan ekspresi panik. Di belakangnya, Olivia, putri pemilik perusahaan, mengejar sambil membawa buket bunga raksasa, diikuti dua pengawal berbadan tegap.

Melihat kekacauan di depan matanya, sebuah ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya. Ini semua berkat kalimat beracun yang tak sengaja didengarnya di toilet beberapa menit lalu.

"Eh, aku dengar Rhea dipromosikan jadi kepala editor ya? Hebat banget, baru dua tahun kerja sudah dapat posisi tinggi."

"Ah, tidak heran. Pasti dia ada 'main belakang' sama pak Baskoro. Kabarnya, dia dia itu sering centil di depan para petinggi."

"Wajar sih, namanya juga perempuan pelosok. Pasti ngiler lihat bos muda yang tampan kaya raya."

Mereka bahkan tertawa setelah mengucapkannya dan tawa itu masih terngiang-ngiang di telinga Rhea.

Mengingat kembali rumor itu, dada Rhea terasa sesak. Tangannya yang berada di samping blazer tiba-tiba mengepal, menahan marah yang memuncak di kepalanya.

Mereka telah menginjak-injak hasil kerja kerasku, batin Rhea.

Rhea mengembuskan napas panjang, mengusir hawa panas dari matanya. Rhea berkata dalam hati, "Suatu saat nanti, mereka harus tahu siapa sebenarnya Rhea."

Ketika kesempatan ada di depan mata, Rhea yang kebetulan melihat Adrian tiba-tiba masuk ke dalam pantry untuk menghindari kejaran anak bos, ia pun ikut menyelinap di belakangnya. Setelah masuk, Rhea segera menutup pintu dan memutar kuncinya dari dalam.

Klekk.

Adrian yang sedang bersandar pasrah di dekat dispenser langsung tersentak. Tubuhnya yang tinggi bergeser ke samping hampir menjatuhkan dispenser beserta galon air. "Rhea, kamu ngapain kunci pintu? Saya lagi tidak mau diganggu."

Tiba-tiba dari luar pantry terdengar suara Olivia berteriak memanggil nama Adrian. "Mas Adrian, di mana sih? Ada di dalam ya?"

"Pak Adrian." Rhea melirik ke arah pintu lalu melangkah maju mendekati Adrian hingga tersisa jarak satu langkah di depannya.

Adrian refleks menggeser tubuhnya, lalu mundur hingga pinggangnya membentur pinggiran meja dapur. Matanya menyipit curiga. "Mau apa kamu?

"Bapak lagi sembunyi dari Olivia, anaknya Pak Bram kan?" tanya Rhea tanpa basa-basi. Adrian terdiam, dahinya berkerut. "Saya lagi butuh tameng untuk membungkam rumor beracun di kantor ini. Bagaimana kalau kita bekerja sama?"

Adrian menatap Rhea dengan tatapan yang dalam. "Apa hubungannya sama saya?"

"Hubungannya adalah....kita memiliki masalah yang solusinya bisa dipecahkan bersama-sama. Kebetulan, saya juga lagi kena rumor dengan salah satu petinggi di kantor." Rhea menyunggingkan senyuman tipis yang membuat Adrian tertekan dan mulai terintimidasi. "Kita pura-pura pacaran di depan semua orang."

Adrian tertegun. Ia menatap Rhea dalam tiga detik untuk memastikan wanita di hadapannya tidak sedang dalam kondisi setengah mabuk.

"Kamu sudah gila?" bisik Adrian dingin. "Saya baru saja keluar dari masalah dan kamu malah menawarkan masalah baru sama saya."

"Ini bukan masalah, ini namanya win-win solution. Pak Adrian butuh tameng, saya juga sama," pangkas Rhea tanpa basa-basi. "Nantinya, pak Adrian bisa selamat dari kejaran anak bos dan saya juga bisa selamat dari gosip murahan di kantor ini. Tenang saja, ini hanya akting. Tidak ada komitmen apapun."

Adrian meremas bungkus roti yang tergeletak di meja pantry, menimbang tawaran gila yang menurutnya logis. Di luar pantry, samar-samar terdengar suara langkah sepatu hak tinggi milik anak bos yang mulai mendekati koridor.

Rhea menaikkan sebelah alisnya, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Bagaimana pak Adrian? Mau diselamatkan oleh saya atau—"

Adrian memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya. Ketika ia membuka mata, tatapannya tertuju pada Rhea yang tengah tersenyum nakal padanya.

"Buat draf kontraknya lalu kirim ke email saya nanti malam," tegas Adrian. "Jangan lupa masukkan pasal dilarang bersentuhan fisik secara berlebihan."

Rhea tersenyum puas, tangannya terulur mengajak Adrian berjabat tangan lalu memutar kunci dan membukanya sedikit. "Senang bekerja sama dengan anda, Pak Adrian."

Namun, begitu melangkah keluar dari pantry, Rhea justru menjadi bimbang di dalam hatinya. Entah mengapa di dalam hatinya, ia merasa ini adalah sebuah kesepakatan langka dan beresiko yang pernah dibuatnya. Dulu, ia juga pernah memainkan peran kekasih pura-pura tapi tak pernah merasa seaneh ini.

Keesokan harinya, Rhea masuk kantor seperti biasa. Suasana di ruang editor lantai lima masih tetap riuh dengan suara papan ketik, aroma kopi dan kasak-kusuk gosip hangat.

Mata berdiri di sebelah Siska, berbisik sambil membungkukkan badannya. "Aku kemarin lihat Olivia masuk ke pantry sama Pak Adrian."

"Serius?" Siska membelalakkan matanya. "Jangan- jangan."

Tepat pukul sembilan pagi, keheningan mendadak menyapu area divisi editorial. Adrian melangkah masuk. Pria dingin dan kaku yang biasanya duduk mengurung diri di depan laptop kini muncul, berdiri tegap di tengah ruangan. Kemeja mewahnya terlihat rapi, warna dasinya juga serasi, mempertegas aura dingin di wajahnya.

Di tangannya, ada secangkir kopi yang berasal dari kafe mewah bawah gedung.

Maya dan Siska, dua dalang gosip di divisi editorial terlihat saling menyikut di balik kubikel. Mata mereka melebar penuh rasa ingin tahu.

Adrian berjalan lurus menuju meja Rhea.

"Kopi," kata Adrian pendek dan datar dengan ekspresi kaku. Rupanya, Adrian meletakkan cangkir kopi itu dengan kasar tanpa perasaan. Gerakannya kaku, ada beberapa tetes yang terciprat ke atas meja.

Rhea menarik napas panjang. Di dalam hati ia berkata, "Kaku banget."

Ruangan masih hening. Rhea menoleh ke belakang memperhatikan keadaan sekitar. Semua mata sekarang tertuju pada mereka berdua. Ini adalah bagiannya, pikir Rhea. Ia segera berdiri merapikan kemeja Adrian dan dasinya yang sedikit miring. Karena terkejut, Adrian bergerak ke samping, menghindari sentuhan Rhea.

"Dasi kamu miring, Mas. Terima kasih kopinya ya." nada bicara Rhea dibuat selembut mungkin. Tiba-tiba saja bulu kuduk Adrian merinding begitu mendengarnya.

Adrian agak tersentak. Begitu melihat senyuman Rhea, dirinya ikut tersenyum walau terlihat kaku. "Tidak masalah," ujar Adrian yang suaranya sedikit serak. "Ini buat kamu."

Siska menutup mulutnya yang hampir saja berteriak, sementara Maya menggigit bibir bawahnya. Mungkin adegan tadi terlalu gemas di pikirannya.

"Kamu tahu saja kesukaanku," balas Rhea.

Dengan gerakan yang teramat canggung, Adrian mengangkat tangannya, menepuk-nepuk kepala Rhea dengan lembut. Dua kali. Adegan ini membuat satu ruangan menahan napas karena terkejut. Momen langka hari ini terjadi di depan mata.

"Kerja yang rajin, ya," ujar Adrian datar.

"Iya, Mas," sahut Rhea malu-malu.

Rhea pikir drama hari ini akan berjalan dengan sukses. Namun, sebelum Adrian berbalik arah menuju ruangannya, tiba-tiba pintu ruangan divisi editorial terbuka dari luar.

BAM...

"Mas Adrian!"

Suara melengking Olivia memecah keheningan. Anak bos pemilik perusahaan itu berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar dengan wajah merah menahan marah, didampingi pak Bram ayahnya yang menatap lurus ke arah tangan Adrian yang masih melayang di kepala Rhea.

"Saya tidak mengira hubungan kalian berdua cukup dekat." suara Pak Bram terdengar rendah namun tajam. "Ada yang ingin kalian jelaskan?"

Seluruh ruangan membeku. Rhea dan Adrian berdiri kaku tanpa bisa berkutik.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status