LOGINDemi menyelamatkan reputasi dan karirnya sebagai editor muda, Rhea Prameswari nekat menawarkan kerja sama sebagai kekasih palsu pada Adrian Mahendra si kepala divisi IT yang kaku dan dingin. Di sisi lain, Adrian juga memiliki masalah, sering dikejar-kejar oleh anak pemilik perusahaan dan membutuhkan partner kerja sama yang saling menguntungkan. Keduanya tak sadar, rasa cinta sesungguhnya hadir di tengah perjanjian kontrak tersebut. Saat semua rencana berjalan dengan lancar, masalah muncul tiba-tiba sebagai dampak kebencian terhadap Rhea. Salah satunya, Rhea difitnah membocorkan data proyek ke pesaing perusahaan. Dibantu oleh Adrian, Rhea berhasil menyelamatkan nama baiknya. Di saat itu pula, Adrian merobek kertas perjanjian dan menyatakan perasaannya. Melihat hal itu, Rhea pun akhirnya sadar, ia juga telah jatuh cinta pada Adrian.
View MoreRhea melangkah pelan menyusuri koridor lantai lima menuju pantry. Tepat lima langkah menuju pintu, ia mendadak menghentikan langkahnya.
Matanya yang tajam menatap lurus ke arah dua orang yang tengah berlarian di sepanjang koridor. Rhea mengenali keduanya, si Adrian kepala IT yang kaku dan selalu berwajah datar kini berjalan cepat dengan ekspresi panik. Di belakangnya, Olivia, putri pemilik perusahaan, mengejar sambil membawa buket bunga raksasa, diikuti dua pengawal berbadan tegap. Melihat kekacauan di depan matanya, sebuah ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya. Ini semua berkat kalimat beracun yang tak sengaja didengarnya di toilet beberapa menit lalu. "Eh, aku dengar Rhea dipromosikan jadi kepala editor ya? Hebat banget, baru dua tahun kerja sudah dapat posisi tinggi." "Ah, tidak heran. Pasti dia ada 'main belakang' sama pak Baskoro. Kabarnya, dia dia itu sering centil di depan para petinggi." "Wajar sih, namanya juga perempuan pelosok. Pasti ngiler lihat bos muda yang tampan kaya raya." Mereka bahkan tertawa setelah mengucapkannya dan tawa itu masih terngiang-ngiang di telinga Rhea. Mengingat kembali rumor itu, dada Rhea terasa sesak. Tangannya yang berada di samping blazer tiba-tiba mengepal, menahan marah yang memuncak di kepalanya. Mereka telah menginjak-injak hasil kerja kerasku, batin Rhea. Rhea mengembuskan napas panjang, mengusir hawa panas dari matanya. Rhea berkata dalam hati, "Suatu saat nanti, mereka harus tahu siapa sebenarnya Rhea." Ketika kesempatan ada di depan mata, Rhea yang kebetulan melihat Adrian tiba-tiba masuk ke dalam pantry untuk menghindari kejaran anak bos, ia pun ikut menyelinap di belakangnya. Setelah masuk, Rhea segera menutup pintu dan memutar kuncinya dari dalam. Klekk. Adrian yang sedang bersandar pasrah di dekat dispenser langsung tersentak. Tubuhnya yang tinggi bergeser ke samping hampir menjatuhkan dispenser beserta galon air. "Rhea, kamu ngapain kunci pintu? Saya lagi tidak mau diganggu." Tiba-tiba dari luar pantry terdengar suara Olivia berteriak memanggil nama Adrian. "Mas Adrian, di mana sih? Ada di dalam ya?" "Pak Adrian." Rhea melirik ke arah pintu lalu melangkah maju mendekati Adrian hingga tersisa jarak satu langkah di depannya. Adrian refleks menggeser tubuhnya, lalu mundur hingga pinggangnya membentur pinggiran meja dapur. Matanya menyipit curiga. "Mau apa kamu? "Bapak lagi sembunyi dari Olivia, anaknya Pak Bram kan?" tanya Rhea tanpa basa-basi. Adrian terdiam, dahinya berkerut. "Saya lagi butuh tameng untuk membungkam rumor beracun di kantor ini. Bagaimana kalau kita bekerja sama?" Adrian menatap Rhea dengan tatapan yang dalam. "Apa hubungannya sama saya?" "Hubungannya adalah....kita memiliki masalah yang solusinya bisa dipecahkan bersama-sama. Kebetulan, saya juga lagi kena rumor dengan salah satu petinggi di kantor." Rhea menyunggingkan senyuman tipis yang membuat Adrian tertekan dan mulai terintimidasi. "Kita pura-pura pacaran di depan semua orang." Adrian tertegun. Ia menatap Rhea dalam tiga detik untuk memastikan wanita di hadapannya tidak sedang dalam kondisi setengah mabuk. "Kamu sudah gila?" bisik Adrian dingin. "Saya baru saja keluar dari masalah dan kamu malah menawarkan masalah baru sama saya." "Ini bukan masalah, ini namanya win-win solution. Pak Adrian butuh tameng, saya juga sama," pangkas Rhea tanpa basa-basi. "Nantinya, pak Adrian bisa selamat dari kejaran anak bos dan saya juga bisa selamat dari gosip murahan di kantor ini. Tenang saja, ini hanya akting. Tidak ada komitmen apapun." Adrian meremas bungkus roti yang tergeletak di meja pantry, menimbang tawaran gila yang menurutnya logis. Di luar pantry, samar-samar terdengar suara langkah sepatu hak tinggi milik anak bos yang mulai mendekati koridor. Rhea menaikkan sebelah alisnya, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Bagaimana pak Adrian? Mau diselamatkan oleh saya atau—" Adrian memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya. Ketika ia membuka mata, tatapannya tertuju pada Rhea yang tengah tersenyum nakal padanya. "Buat draf kontraknya lalu kirim ke email saya nanti malam," tegas Adrian. "Jangan lupa masukkan pasal dilarang bersentuhan fisik secara berlebihan." Rhea tersenyum puas, tangannya terulur mengajak Adrian berjabat tangan lalu memutar kunci dan membukanya sedikit. "Senang bekerja sama dengan anda, Pak Adrian." Namun, begitu melangkah keluar dari pantry, Rhea justru menjadi bimbang di dalam hatinya. Entah mengapa di dalam hatinya, ia merasa ini adalah sebuah kesepakatan langka dan beresiko yang pernah dibuatnya. Dulu, ia juga pernah memainkan peran kekasih pura-pura tapi tak pernah merasa seaneh ini. Keesokan harinya, Rhea masuk kantor seperti biasa. Suasana di ruang editor lantai lima masih tetap riuh dengan suara papan ketik, aroma kopi dan kasak-kusuk gosip hangat. Mata berdiri di sebelah Siska, berbisik sambil membungkukkan badannya. "Aku kemarin lihat Olivia masuk ke pantry sama Pak Adrian." "Serius?" Siska membelalakkan matanya. "Jangan- jangan." Tepat pukul sembilan pagi, keheningan mendadak menyapu area divisi editorial. Adrian melangkah masuk. Pria dingin dan kaku yang biasanya duduk mengurung diri di depan laptop kini muncul, berdiri tegap di tengah ruangan. Kemeja mewahnya terlihat rapi, warna dasinya juga serasi, mempertegas aura dingin di wajahnya. Di tangannya, ada secangkir kopi yang berasal dari kafe mewah bawah gedung. Maya dan Siska, dua dalang gosip di divisi editorial terlihat saling menyikut di balik kubikel. Mata mereka melebar penuh rasa ingin tahu. Adrian berjalan lurus menuju meja Rhea. "Kopi," kata Adrian pendek dan datar dengan ekspresi kaku. Rupanya, Adrian meletakkan cangkir kopi itu dengan kasar tanpa perasaan. Gerakannya kaku, ada beberapa tetes yang terciprat ke atas meja. Rhea menarik napas panjang. Di dalam hati ia berkata, "Kaku banget." Ruangan masih hening. Rhea menoleh ke belakang memperhatikan keadaan sekitar. Semua mata sekarang tertuju pada mereka berdua. Ini adalah bagiannya, pikir Rhea. Ia segera berdiri merapikan kemeja Adrian dan dasinya yang sedikit miring. Karena terkejut, Adrian bergerak ke samping, menghindari sentuhan Rhea. "Dasi kamu miring, Mas. Terima kasih kopinya ya." nada bicara Rhea dibuat selembut mungkin. Tiba-tiba saja bulu kuduk Adrian merinding begitu mendengarnya. Adrian agak tersentak. Begitu melihat senyuman Rhea, dirinya ikut tersenyum walau terlihat kaku. "Tidak masalah," ujar Adrian yang suaranya sedikit serak. "Ini buat kamu." Siska menutup mulutnya yang hampir saja berteriak, sementara Maya menggigit bibir bawahnya. Mungkin adegan tadi terlalu gemas di pikirannya. "Kamu tahu saja kesukaanku," balas Rhea. Dengan gerakan yang teramat canggung, Adrian mengangkat tangannya, menepuk-nepuk kepala Rhea dengan lembut. Dua kali. Adegan ini membuat satu ruangan menahan napas karena terkejut. Momen langka hari ini terjadi di depan mata. "Kerja yang rajin, ya," ujar Adrian datar. "Iya, Mas," sahut Rhea malu-malu. Rhea pikir drama hari ini akan berjalan dengan sukses. Namun, sebelum Adrian berbalik arah menuju ruangannya, tiba-tiba pintu ruangan divisi editorial terbuka dari luar. BAM... "Mas Adrian!" Suara melengking Olivia memecah keheningan. Anak bos pemilik perusahaan itu berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar dengan wajah merah menahan marah, didampingi pak Bram ayahnya yang menatap lurus ke arah tangan Adrian yang masih melayang di kepala Rhea. "Saya tidak mengira hubungan kalian berdua cukup dekat." suara Pak Bram terdengar rendah namun tajam. "Ada yang ingin kalian jelaskan?" Seluruh ruangan membeku. Rhea dan Adrian berdiri kaku tanpa bisa berkutik.Pukul sembilan tepat Adrian sudah berdiri gagah di depan pintu ruangan divisi editorial. Kehadirannya membuat ruangan yang semula riuh mendadak menjadi sunyi. Satu persatu staf divisi yang dijadwalkan mengikuti rapat hari ini, satu persatu keluar ruangan sambil membawa laptop dan laporan tertulis. Rhea buru-buru menyambar laptop dan lembaran draf hasil revisinya semalam. Saat Rhea melangkah menuju pintu kaca, ia bisa merasakan sebuah tatapan tajam dan permusuhan menusuk punggungnya dari belakang. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik tatapan itu. Itu adalah tatapan Andini, salah satu editor senior di tim fiksi ilmiah yang selama dua tahun terakhir terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Adrian. Ia telah berulang kali mendekati pria itu, tapi selalu berakhir dengan lirikan tajam tanda waspada untuk menghindarinya. Andini adalah tipe wanita ambisius dalam mengejar targetnya. Ia sering menggunakan alasan ingin berkonsultasi bersama tim divisi IT hanya untuk mengobrol
"Rhea!" panggil Maya yang berdiri di depan pintu lift. "Sini!" Rhea yang baru masuk melewati pintu detektor segera berlari kecil ke samping Maya. Si ratu gosip itu tersenyum lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan menahan kekehan. Arah matanya melirik ke sebelah kiri Rhea, berpura-pura terkejut seolah baru menyadari seseorang berdiri di sana."Baru datang?" tegur Adrian. Rhea terkejut mendengar suara bariton yang beberapa hari ini telah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh lalu mengangguk pelan. "Ini, kopi!" Rhea mengambil kopi hangat yang disodorkan oleh Adrian. Ia tersenyum tipis menerimanya. "Terima kasih." "Ada rapat pembahasan aplikasi baru untuk peluncuran buku digital jam sembilan," ujarnya pelan. Rhea yang baru saja menyeruput hangatnya kopi tiba-tiba teringat tentang rapat pagi ini. "Oh, yang waktu itu pernah dibahas Pak Baskoro ya?" tanya Maya yang tiba-tiba menyambar pertanyaan. "Iya," sahut Adrian datar. Pintu lift pun terbuka. Segerombolan karyawan ya
Pertemuan di kafe semalam, ternyata membuat Rhea tak bisa berkonsentrasi hari ini. Bayangan saat Adrian memeluk pinggang dan menggenggam tangannya, masih terasa kehangatannya. Tak ada yang menyangka, pria yang terkenal dengan wajah datar dan dingin itu mampu berakting romantis dan mengintimidasi di setiap tingkahnya. Pagi ini di lantai lima. Rhea melangkah memasuki area pantry kantor dengan mata yang masih agak sembab karena kurang tidur. Di tangannya, ada cangkir mungil berbetuk kucing kesayangannya. Niatnya, ia ingin menikmati segelas kopi hangat hari ini. "Ternyata, pura-pura pacaran lebih melelahkan daripada edit naskah." batin Rhea. Tepat saat mesin kopi dinyalakan, pintu pantry terbuka. Rhea refleks menoleh dan dari balik pintu muncullah sosok pria yang semalam tak bisa membuatnya tidur nyenyak. Adrian masuk sambil menggulung lengan kemejanya. Entah kenapa, adegan itu membuat Rhea semakin gugup. Jantung Rhea tiba-tiba berdegup kencang, lalu memberanikan diri melangkah lebih d
Sejak ancaman Pak Bram tadi pagi, Rhea tak berhasil memejamkan matanya setelah pulang ke apartemen. Ia tak mungkin menghancurkan karir yang telah dibangunnya dalam sekejap mata hanya karena tindakan bodoh dirinya yang mengajak Adrian bekerja sama. Kalau saja Olivia tidak datang pagi tadi, semuanya tak akan serumit ini. Maka dari itu, demi mempertahankan reputasi serta posisinya di kantor, Rhea nekat bertemu dengan Adrian di sebuah kafe setelah pulang kerja. Semua ini demi masa depan karirnya, kalau tidak, buat apa ia rela duduk bermanis-manis di depan pria muka datar itu."Pak Adrian, selanjutnya punya rencana apa?" tanya Rhea sembari menyeruput minumannya. Adrian melirik dari sudut kacamatanya, mengembuskan napasnya sedikit kesal. "Jangan panggil pak," potong Adrian. Mata Rhea berkedip-kedip. "Kenapa memangnya?"Sambil menyerahkan lembaran dokumen berisi draf kontrak terbaru, Adrian menjawabnya dengan tenang. "Pasangan tidak memanggil Pak.""Oh, begitu? Baik, Adrian," sahut Rhea






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.