LOGINRose, a beautiful, abused and neglected wife in her early twenties, tries running from her husband but founds herself in the arms of Blake, a prince in search for a crowned princess. Both hiding their true identity, What would be their fate after discovering their possibility of having one mother
View More‘Sang Hyang Widhi! Inikah hidup untuk hamba? Berakhir begini saja? Hamba harus mati di usia muda tanpa keluarga! Inikah keadilanmu, Gusti Sang Hyang Widhi?’ Di detik-detik terakhir kehidupannya, Arjanuwanggabrata menyeru kepada Dewata di hatinya.
Meski begitu, dia masih sempat berbisik lirih, “Tapi … hamba puas karena bisa mati bersama perempuan yang hamba cintai. Tuan Putri Sarnika, maafkan hamba yang tidak berguna menjaga Tuanku. Ndoro Putri adalah cinta sejatiku … selamanya.”
Namun, Arjanuwanggabrata seperti mendengar suara lembut tuan putri di sampingnya, “Tuan Panglima, aku bahagia bisa mati bersamamu. Hari ini sungguh sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.”
Hah?
Zap!
Mata Arjanuwanggabrata segera membuka dengan cepat disertai helaan napas keras dan jantung berdegup kencang, seakan-akan dia baru terjaga dari mimpi mengerikan.
Yang dia ingat terakhir kalinya hanyalah pelukan tuan putri pada lengannya dan bisikan Beliau, lalu sinar merah terang membutakan dan menutup pengelihatannya.
Segera saja, usai tubuh Arjanuwanggabrata bergerak karena terkejut, banyak orang lari berhamburan keluar. Keadaan menjadi gempar seketika.
Ada yang berteriak, “Mayat hidup!”
“Mayatnya hidup lagi!” timpal yang lainnya sambil berlari.
Dengan cepat, beberapa orang dewasa masuk ke ruangan tersebut dan menyaksikan orang yang sudah menjadi jenazah dan siap dikubur, saat ini sedang duduk terbatuk-batuk disertai napas tersengal-sengal.
“Ju—Juna? Kamu masih hidup? Apakah kamu masih hidup?” Lelaki berumur pertengahan 50-an mencoba mendekat ke Arjanuwanggabrata yang masih linglung.
‘Juna?’ Hati sang panglima bertanya. Dia menatap lelaki itu dan kemudian sekitarnya. Sebuah tempat yang aneh dan asing. Bahkan, tata rumahnya tidak selayaknya yang lazim di kerajaannya. Apakah ini kerajaan lain? Dia berhasil selamat dari jurang?
Kemudian, muncul wanita cantik dari belakang lelaki paruh baya tadi dan memekik, “Juna hidup lagi, Mas! Dia itu hidup lagi! Tidak jadi mati!”
Lelaki paruh baya menatap ke wanita cantik tadi, berkata, “Kamu yakin?”
“Mas ini bagaimana, sih? Lihat itu, wajahnya tidak pucat seperti tadi, sudah ada rona warnanya, itu tandanya dia hidup lagi!” Demikian kata si wanita. “Mana Nita? Panggil Nita, bilang kalau suaminya hidup lagi!”
‘Juna? Kenapa mereka memanggilku demikian? Tapi lebih baik aku diam dan mengamati situasi dulu.’ Arjanuwanggabrata masih belum paham kerajaan mana yang telah menyelamatkan dia.
Kabar mengenai Juna atau Arjuna telah hidup kembali dan baru saja mengalami mati suri pun merebak di lingkungan tersebut.
Kemudian, muncul sosok wanita muda lainnya, tak kalah cantik dengan yang dipanggil Wen. Wanita muda itu menubruk Arjanuwanggabrata dan terisak keras sembari memeluk. “Juna! Ya ampun, Juna! Ternyata kamu tidak jadi mati! Ya ampun, Juna! Hu hu hu … hampir saja kau dikubur hidup-hidup!”
Mendapatkan pelukan dari wanita muda nan cantik, lelaki mana yang sanggup menolak? Meski kebingungan, tapi Arjanuwanggabrata tidak keberatan dipeluk demikian erat oleh wanita tersebut.
Tak sampai menit berganti, pelukan itu dilepas si wanita dan menatap Arjanuwanggabrata dengan mata yang dikerjap-kerjapkan, membuat dia bertanya-tanya, kenapa tak ada lelehan air mata? Atau mungkin sudah mengering dengan cepat saat memeluk tadi. Dia membalas tatapan itu.
Ya, wanita muda di depannya ini memang cantik, matanya lebar dengan bulu mata panjang dan alis melengkung tipis. Bibirnya cukup tipis tapi tetap terlihat menarik, apalagi diberi pemerah seperti itu. Di zaman Arjanuwanggabrata, hanya wanita dari golongan ningrat saja yang boleh memberi pemerah pada bibir. Apakah wanita ini seorang tuan putri?
Mengingat tuan putri, Arjanuwanggabrata teringat akan tuan putri tercintanya. Apakah tuan putri juga selamat seperti dirinya? Di mana Beliau sekarang? Apakah kerajaan lain menyelamatkannya?
“Juna! Bicaralah! Jangan diam saja seperti orang tolol, kau ini!” Wanita cantik itu berteriak di depan wajahnya, mengakibatkan Arjanuwanggabrata terkejut.
‘Kenapa aku disebut tolol? Apa salahku?’ Arjanuwanggabrata bertanya di hatinya. Dia akhirnya mencoba bersuara setelah wanita bernama Wen memberinya segelas air putih. Dia meneguk dulu air itu, sungguh nyaman sekali ketika membasahi tenggorokannya. “Ahhh!”
“Nita, biarkan suamimu istirahat di kamar, jangan banyak diajak bicara dulu.” Wanita bernama Wen berbicara ke wanita muda yang ternyata bernama Nita.
‘Tunggu dulu! Apa tadi kata si Wen?’ Arjanuwanggabrata menyeru di benaknya. ‘Suami? Suami siapa? Suami dari si cantik ini?’ Mata si panglima kuno menatap lekat pada Nita.
“Nita, bawa Juna ke kamar. Dia pasti masih bingung karena mati surinya.” Lelaki paruh baya tadi berkata kepada Nita.
‘Jadi … dia bernama Nita? Dia istriku?’ Arjanuwanggabrata kini paham. Namun, baru saja dia hendak berdiri dibantu istrinya, mendadak saja kepalanya terserang sakit berdenyut luar biasa. “Erkh!” Dia sampai meremas rambut dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya limbung.
“Juna!” Lelaki paruh baya dan si Wen berteriak bersama-sama sambil meraih tubuh limbung Arjanuwanggabrata sebelum menghantam lantai.
Arjanuwanggabrata mencoba bertahan, berusaha tetap berdiri pada kedua kakinya meski kepala sakit bukan main.
Di saat sakit seperti itu, seperti ada yang melintas cepat di otaknya bagaikan pijar demi pijar adegan yang memercik di sana, memberikan kilasan aneh.
Ada adegan sosok mirip dia bertemu dengan istrinya yang dipanggil Nita tadi, dan mereka sepertinya jauh lebih muda dari saat ini.
Ada pula adegan pernikahan mereka dan malam pertama yang hampa karena si istri menolak disentuh.
Lalu adegan istrinya marah-marah saat hamil dan ada pula adegan sang istri menangis keras ketika dinyatakan keguguran.
Semuanya muncul seperti potongan-potongan memori yang menyerbu kepalanya. Kemudian, ada kilasan ingatan mengenai dia berenang di danau dan kemudian dia seperti panik di dalam air, dan kemudian kilasan itu berhenti.
Ketika kilasan memori yang sangat cepat itu selesai, napas Arjanuwanggabrata tersengal-sengal diiringi peluh mengucur di sekujur tubuhnya. Dia dipapah si lelaki paruh baya dan si Wen ke sebuah kamar.
Setelah mencapai tempat tidur dan duduk tenang di sana, Arjanuwanggabrata menerima suara yang samar di kepalanya, seakan itu memang berasal dari otaknya, bukan dari luar dirinya.
Mendadak saja, dia mendapatkan banyak memori seperti banjir tsunami melanda otaknya, membuat dia sedikit kewalahan menerima luapan informasi yang datang tanpa peringatan.
‘Oh, jadi namaku di tempat ini adalah Arjuna alias Juna. Baiklah.’ Sang panglima mulai menerima namanya berganti menjadi Juna.
‘Lelaki paruh baya tadi bernama Hartono Sasongkojoyo, ayah mertua pemilik badan ini. Lalu, wanita yang dipanggil Wen itu namanya Wenti Karmila, istri muda Hartono.’
‘Hm, jadi mereka suami dan istri.’ Juna bermonolog di dalam hatinya saat dia mulai mengolah informasi yang datang.
‘Istriku di sini bernama Lenita Sasongkojoyo, pemilik tubuh ini memanggilnya Nita atau sayangku. Cih! Panggilan macam apa itu!’ Juna merasa jijik dengan cara Arjuna memanggil istrinya. Secara otomatis, dia menoleh ke wanita yang dikatakan sebagai istrinya.
Namun, informasi yang datang di kepalanya begitu deras hingga dia membatin, “Hei, hei, pelan-pelan, bisa? Aku masih bingung! Tolong pelan agar aku tidak melewatkan satu pun hal yang perlu kuketahui mengenai pemilik tubuh ini.’
Seakan memahami keinginan Juna, mendadak saja informasi yang datang mulai bergulir pelan dan terkadang mengulang jika itu belum sempat ditelaah Juna dengan seksama.
‘Terima kasih! Aku memang butuh semua informasi di sini, karena aku tak tahu, aku berada di mana dan di kerajaan apa ini.’ Si mantan panglima memejamkan mata sambil bergerak patuh ketika tubuhnya direbahkan oleh istrinya, Lenita.
Anehnya, begitu Juna membatin kalimat tadi, seakan sesuatu di kepalanya memberikan informasi yang berkaitan dengan apa yang sedang dipertanyakan.
‘Hah? Tahun 2017? Apakah itu tahun 2017 Jawa Purwa? Bukan? Ini juga bukan kerajaan melainkan kota Samanggi? Negara Nusantara?’
Blake knew how much Rose loved her father, Hardin, and the fact that he was in prison had been a constant source of pain for her. As the King of Greenville, Blake had the power to commute sentences, and he was determined to use that power to help Rose and her father.Blake began by speaking with the prison warden and requesting that Hardin be transferred to a more comfortable cell. He also made sure that Hardin had access to better food and medical care.Blake then went to work on the legal side of things. He enlisted the help of the best lawyers in the country, and they began to work on a strategy to get Hardin released.The case was complicated, as Hardin had been convicted of several serious crimes, including drug trafficking and racketeering. However, Blake was confident that they could find a way to prove Hardin's innocence.Blake also used his connections in the government to put pressure on the judge who had presided over Hardin's trial. He convinced the judge to grant a retria
Rose couldn't believe how much her life had changed in just a few short months. From being a simple waitress in Greenville to eloping with her half-brother Blake, discovering her true parentage, and now, being crowned as the new queen of New Orleans. She felt overwhelmed with all the new responsibilities that came with her new position, but at the same time, she knew that she was ready for the challenge.The coronation ceremony was a grand affair, attended by dignitaries from all over the world. Rose looked resplendent in her new crown and gown, with her hair styled in an intricate updo. She had never felt more beautiful or more nervous in her life.Blake stood by her side, holding her hand as they walked down the aisle towards the throne. He looked dashing in his formal attire, and she couldn't help but feel grateful that he was there with her.As they approached the throne, the Archbishop of New Orleans stepped forward to perform the coronation ceremony. He asked Rose to swear an oa
Sharon and Chris' wedding was a grand affair, attended by their family and friends, as well as members of the royal family and high society. The ceremony took place in the beautiful garden of the palace, with white roses and lilies adorning the surroundings.Sharon wore a beautiful white gown with a long train, while Chris looked dapper in a tailored suit. They exchanged vows, promising to love and cherish each other for the rest of their lives, and sealed it with a kiss.The reception was held in the palace ballroom, which had been decorated in shades of pink and gold. The tables were adorned with crystal glasses and silver cutlery, with pink roses as the centerpiece. A live band played romantic music as guests enjoyed a sumptuous meal and champagne.As the night wore on, the newlyweds took to the dance floor, holding each other close as they swayed to the music. Chris couldn't believe that he was finally marrying the love of his life, after years of waiting and uncertainty. Sharon w
Hardin walked beside his daughter, Rose, with a sense of awe as they approached the palace gates. This was the first time he had ever been here, and the grandeur of the palace was truly breathtaking.As they entered the palace, they were greeted by a member of the royal staff, who ushered them towards a grand hall. Hardin felt a sense of nervousness in the pit of his stomach, knowing that they were about to meet the royal family.Rose, on the other hand, seemed more composed, and Hardin was grateful for her steady presence.As they approached the grand hall, Hardin felt a sudden jolt of recognition when he saw the Queen. He had not seen her in years, but he knew her instantly."Is everything okay, Father?" Rose asked, noticing his hesitation.Hardin took a deep breath and spoke in a low voice. "I know that woman. That's my run away wife, your mother Rose!."Rose's eyes widened in surprise. "You mean, Queen Bianca?"Hardin nodded. "Yes, that's her."Rose's jaw dropped as the realizatio
As soon as Rose received the call from Sammie, she rushed to the location he gave her. She was nervous, anxious, and had no idea what to expect. When she arrived at the location, Sammie was waiting for her. He led her to a small cabin deep in the woods forcefully. When they got there, Sammie opened
Blake knew how much Rose loved her father, Hardin, and the fact that he was in prison had been a constant source of pain for her. As the King of Greenville, Blake had the power to commute sentences, and he was determined to use that power to help Rose and her father.Blake began by speaking with the
Blake's PovGreenville looked very peaceful and homely for me. There wasn't much pressure felt here and most especially no mother and Veronica thrusting me up and down. I was for once in a long time very comfortable and felt so free minded and cool.Waking up everyday in the palace to mother's visit i
Rose's PovWhenever Sharon got angry, I became my worst days, the loneliness and feeling that I had annoyed her was one thing I found had to go through. She would totally ignore my calls and that was very draining. The last time we quarreled she ended up showing up when I was down with fever. The mos












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.