LOGINWren Calloway hat eine Regel: Fallen Sie niemals auf den Boss herein. Aber der Moment Alpha CEO Kane Ashford fängt ihren Duft um Mitternacht in einem verschlossenen Aufzug ein, jede Regel, nach der sie jemals gelebt hat Beginnt sich zu entwirren. Er ist der reichste Mann des Landes, der mächtigste Alpha der Welt, Und das eine Geheimnis, das sie nie entdecken sollte. Sie ist seine Sekretärin, sein Schatten, Die Frau, die ihm verboten war zu wollen. Wenn das Schicksal sie als seine markiert, eine alte Bindung kein Wolf Kann sich weigern, Kane muss zwischen dem Imperium, das er auf Geheimnissen aufgebaut hat, und dem menschlichen Frau, die dazu bestimmt ist, neben ihm zu regieren. Aber in einer Welt der verborgenen Wölfe und rücksichtslosen Rudel, Von einem Alpha ausgewählt zu werden, macht dich nicht sicher. Es macht dich zu einem Ziel.
View More"Dia bukan ibuku," kata Liqa dengan pelan.
"Apa kamu bilang?" bentak Farhan sambil berdiri dengan tangan yang mengepal, menunjukkan kalau ia sangat marah. Sore ini Farhan dan Rosita datang ke rumah orang tua Farhan, disana ada Liqa anak pertama Farhan dengan istri pertamanya, Sari. Liqa tinggal bersama orang tua Farhan. Liqa sebenarnya malas bertemu dengan ayahnya, apalagi kalau kesini bersama Rosita. Tapi tadi Pak Umar, kakeknya, memintanya untuk menemui Farhan. Dengan ogah-ogahan ia menuruti permintaan kakeknya. Pak Umar menyadari semua itu. Tapi ia tidak ingin melihat Liqa selalu membenci ayahnya sendiri. Karena itu ia meminta Liqa menemui ayahnya. "Farhan, sudahlah," kata Pak Umar berusaha meredam emosi Farhan. "Bapak selalu memanjakan Liqa, seperti ini jadinya, pembangkang," kata Farhan. Kemudian ia duduk kembali dan menarik nafas panjang untuk meredam emosinya. "Sudah Mas. Aku nggak apa-apa, kok. Anak-anakmu memang tidak ada yang menyukaiku. Beda dengan Melia yang sangat penurut. Tapi aku tetap menyayangi mereka seperti anakku sendiri," sahut Rosita dengan nada sendu. Melia adalah anak pertama Rosita dengan suaminya terdahulu. Melia memiliki adik bernama Nuria yang tinggal bersama Nugroho ayahnya. "Cuih! Cari muka," kata Liqa dalam hati. "Tentu saja Melia jadi anak penurut, semuanya demi uang dari Pak Farhan. Beda perlakuan, anak tiri jadi anak kandung, sedangkan anak kandung seperti anak tiri, tidak dianggap." Liqa berkata dengan penuh emosi. Liqa beranjak di duduknya, ia sudah muak melihat Rosita dengan segala dramanya. Pandai mencari muka di depan ayahnya. "Duduk!" bentak Farhan sambil berdiri lagi, "Kamu ini memang susah sekali dinasehati, seperti ibumu." "Jangan sebut-sebut Ibu. Ibu lebih mulia dari perempuan itu." Liqa sangat marah ketika ada yang menghina ibunya. Plak! Tangan Farhan mendarat mulus di pipi Liqa. Semua yang ada disitu tampak terkejut. Rosita tampak tersenyum licik, Pak Umar yang melihat ekspresi wajah Rosita menjadi geram. "Farhan! Kamu rela menampar anakmu demi perempuan itu?" teriak Bu Tari, ibunya Farhan. Bu Tari memang tidak menyetujui pernikahan Farhan dan Rosita. "Tampar lagi, Pak Farhan yang terhormat. Sampai anda puas." Liqa berkata dengan tegas. "Liqa, kamu jangan melawan ayahmu. Bagaimanapun juga itu ayah kandungmu. Suatu saat kamu butuh dia untuk menjadi wali nikahmu." Rosita berkata pada Liqa. "Nggak usah ikut-ikutan Bu Rosita. Aku punya Aksa yang bisa menjadi waliku. Andai anda tidak datang ke rumah kami, tentu hidup kami sekarang bahagia. Inikah balasan anda terhadap Ibu? Ibu rela menolongmu saat kamu tidak ada tempat untuk berteduh. Ternyata malah Ibu terusir dari rumahnya sendiri. Ini namanya menolong anjing kejepit." Liqa menjawab dengan tegas. Disaat Rosita sedang pisah ranjang dengan Nugroho, suaminya, ia selalu curhat dengan Sari, adik sepupunya. Mereka menjadi sangat akrab. Tapi siapa sangka justru ia mencuri ranjang Sari dengan merebut suaminya, Farhan. Aksa adalah adik laki-laki Liqa. Ia masih kelas sepuluh dan bersekolah di pesantren. "Jadi kamu samakan aku dengan anjing? Tidak ada yang mengusir ibumu, Liqa?" kata Rosita dengan wajah merah padam karena disamakan dengan anjing oleh Liqa. "Memang tidak ada. Tapi karena anda, menjadi perempuan penggoda dan membuat Pak Farhan menikahimu. Perempuan mana yang mau dimadu, apalagi tinggal serumah dengan madunya? Benar-benar tidak tahu diri. Sudah ditolong malah merebut dan menguasai. Tapi aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya, kalau Pak Farhan kuat iman, nggak bakal tergoda rayuanmu." Liqa berkata sambil menatap Rosita. "Kamu!" teriak Farhan sambil mengangkat tangannya hendak menampar Liqa. "Silahkan tampar aku sampai puas. Tapi benar kan Pak Farhan apa yang aku katakan. Pintarnya hanya menasehati saja. Jujur, aku sangat kecewa dan aku menyesal memiliki ayah seperti anda. Kalau memang bisa, aku mau menghapus nasabku aku tidak mau binti Farhan." Liqa benar-benar emosi. "Farhan, pulanglah." Bu Tari berkata dengan pelan. "Ibu mengusir kami?" tanya Farhan dengan kesal. "Kehadiran kalian disini membuat semuanya jadi kacau." Bu Tari menambahi. "Anak itu yang membuat kacau." Farhan membela diri, ia tidak mau disalahkan. Menurutnya seorang anak itu harus patuh pada orang tuanya, bukan malah melawan. Ia tidak menyadari jika sikap Liqa itu merupakan bentuk kekecewaan yang berkepanjangan. "Kalian berdua yang membuat kacau. Kalian hanya mementingkan nafsu saja, tanpa memikirkan akibatnya." Bu Tari berkata dengan sengit. Walaupun Farhan sudah menikah hampir tiga tahun, tapi Bu Tari masih saja tidak menyukainya. "Jangan melawan ayahmu, Liqa. Nanti ia tidak mau membiayai kuliahmu." Rosita ikut-ikutan menyerang Liqa. Perempuan ini sama saja dengan suaminya, merasa paling benar. "Aku tidak butuh biaya darinya. Ibu sudah mampu membiayai kami," kata Liqa. "Ya tentu saja mampu. Dia kan jadi TKW atau mungkin jadi simpanan majikannya ya?" ejek Rosita. "Rosita! Tutup mulut busukmu itu!" teriak Bu Tari dengan emosi. "Mending jadi TKW. Daripada kamu, modal selangkangan untuk merebut suami ibuku." Liqa berteriak. Rosita tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mendekati Liqa. Plak! Plak! Giliran Rosita yang menampar Liqa. Liqa yang kaget hanya terdiam, ia tidak mengelak sama sekali. Ia menatap Rosita dengan wajah menantang dan tatapan sinis. Rosita semakin kesal, ia hendak mengangkat tangannya lagi, tapi Farhan sudah berteriak. "Rosita!" teriak Farhan, walaupun tadi ia menampar Liqa, tapi tetap saja ia tidak terima kalau ada yang menampar Liqa. Liqa tampak melihat dengan mata yang penuh dendam pada Rosita. Farhan yang menatap Liqa merasa menyesal sudah membuat hati anaknya itu terluka. Tapi karena egonya yang sangat tinggi, ia hanya diam saja. "Lihat saja pelakor, aku akan membuat hidupmu berantakan seperti yang kamu lakukan pada ibuku," kata Liqa dalam hati. "Lihat tuh Farhan, perempuan itu berani menampar anakmu. Kalau kamu menamparnya, walaupun aku tidak setuju tapi aku maklum. Ini, orang lain sampai menampar anakmu, kamu diam saja?" Pak Umar ikut marah. "Farhan, kalau kamu masih menganggap aku ibumu, jangan pernah kesini bersama dia." Bu Tari sudah sangat marah. Kemarahannya sudah ada di ubun-ubun. "Assalamualaikum." Terdengar suara seseorang mengucapkan salam.Das Treffen bei Einbruch der Dunkelheit begann um sieben, was Wren ungefähr sechs Stunden allein in der Alpha‑Hütte ließ mit Atlas, der den äußeren Rand bewachte, ihrem hochgelagerten Knöchel auf der niedrigen Bank, dem geschlossenen Familienbuch auf dem Tisch neben ihr und ihren Gedanken, die sich in jenen vorsichtigen, methodischen Kreisen bewegten, die sie sich für die komplexesten Probleme vorbehielt, die man ihr je zu lösen gegeben hatte.Sie war immer gut mit Problemen gewesen. Das war die schlichte Wahrheit, der Faden, der sauber und ungebrochen durch jedes Kapitel eines Lebens lief, das ihr nie etwas leicht gemacht hatte. Er hatte sie durch eine Kindheit gebracht, in der es wenig Geld und viel Schweigen in Räumen gab, die lauter hätten sein sollen. Er hatte sie durchs Studium getragen, mit zwei gleichzeitigen Jobs, durch zwei Jahre Bewerbungsgespräche, bevor sie Arbeit fand, in der sie wirklich gut war, durch jeden Morgen, an dem sie den Cross Tower betreten hatte, die Last vo
Kane saß genau zwei Minuten lang mit der geöffneten Notiz seines Vaters in den Händen da. Wren wusste das, weil sie ohne es zu wollen auf die Uhr über dem Kamin blickte und die Stille der Lodge zählte wie den Abstand zwischen Blitz und Donner, bereit für das, was diese Pause bedeutete.Dann faltete er die Notiz mit den sorgfältigen, präzisen Bewegungen eines Mannes zusammen, der absichtlich etwas tat, um nichts Explosives zu tun, schob sie zurück ins Tagebuch und stand auf.„Atlas“, sagte er, laut genug, dass es durch die Tür der Lodge trug.Die Tür öffnete sich innerhalb von Sekunden. Atlas war offenbar nicht weit entfernt gewesen, und sein Blick sprang zwischen Kane und Wren und dem Tagebuch in Kanes Hand hin und her, dann zurück zu Kanes Gesicht, mit der raschen, geübten Einschätzung eines Menschen, der Kane Ashford lange genug kannte, um die besondere Spannung in seiner Haltung so zu lesen, wie andere Leute das Wetter lasen.„Hol Greta“, sagte Kane. „Sofort. Und noch niemand sonst
„Eingeschlossen“ war in Wrens Erfahrung ein Wort, das Menschen benutzten, wenn sie Gefangenschaft vernünftig klingen lassen wollten, und sie hielt es im Kane’schen Lodge ungefähr vierzig Minuten aus, bevor sie aufhörte, die Tür anzustarren, und anfing, sich den Raum anzusehen.Kane hatte sie dort gelassen, mit Atlas vor der Tür und drei weiteren Wölfen, die sie nicht kannte und die jenseits der Fenster die Baumgrenze patrouillierten. Er hatte sie aus dem Ratssaal herausgeholt und mit der knappen, widerspruchslosen Effizienz eines Mannes dort untergebracht, der Triage betrieb, während ringsum alles leise Feuer fing. Sie hatte nicht protestiert. Sie hatte die Lage im Saal klar genug gelesen, um zu verstehen, dass das Nützlichste, was sie in der nächsten Stunde oder zwei tun konnte, darin bestand, nicht im Weg zu stehen, während Kane tat, was nötig war, um zu verhindern, dass der Rat völlig auseinanderbrach. Sie hatte zugestimmt, man hatte sie hineingeführt, und dann hatte sie vierzig Mi
Der Ratssaal sah bei vollem Tageslicht völlig anders aus als die von Fackeln erhellte, schattige Kammer von vor wenigen Stunden. Der Morgen drang hart und klar durch die Lücken in der Steindecke, schnitt den Raum in scharfe Gold- und Grauwinkel, und die sieben Ratssitze hinter dem langen Tisch waren alle besetzt, noch bevor Kane und Wren den Eingang überhaupt erreicht hatten. Das bedeutete, dass die Ältesten sich selbst zu einer Sitzung zusammengerufen hatten, während Wren noch vom Waldboden aufgeholfen wurde, was wiederum bedeutete, wie Wren leise bemerkte, als sie sich auf den harten Holzstuhl setzte, den Atlas ihr nahe der Saalmitte zurechtrückte, dass jemand sie hatte bereit sein lassen.Jemand, der schon gewusst hatte, dass der Morgen schiefgehen würde, bevor es geschah.Sie saß aufrecht, obwohl der bandagierte Knöchel vorsichtig auf dem kalten Steinboden ruhte, die Hände im Schoß gefaltet, der Ausdruck gefasst mit jener besonderen Disziplin, die sie sich in zwei Jahren in Vorsta











