Share

MENGENAL LEBIH DALAM

Sungguh aneh rasanya, Gedhis tak pernah bertegur sapa sebelumnya tetapi Rio berkata seperti itu. Selama ini, Gendhis memang mengidolakannya namun hanya sebatas kekaguman atas sifat dan sikapnya. Gendhis menatap matanya, Rio hanya tersenyum dan diam. Pesanan mereka datang, Gendhis meneguk susu hangat untuk meredakan segala kecamuk di pikiran.

“Mas, mau belikan oleh-oleh apa untuk atasan-atasan itu?”

“Terserahmu, ambillah lebih juga untuk adik dan ibumu!" perintah Rio.

Dengan cepat Gendhis memasukkan aneka olahan susu, keripik buah, dan strudle.

"Kenapa kamu tergesa-gesa? Apa kamu tak suka berdua denganku Mbak?” tanya Rio.

Gendhis menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak, aku hanya bingung jika kamu diam saja Mas! Jangan memandangku seperti itu, bisa ge-er nih aku! Masak iya aku jadi istri keduamu!” seloroh Gendhis.

“Itu yang ku suka darimu,” Kata Rio sambil tersenyum.

Mereka mengobrol banyak hal sampai tak terasa terdengar suara adzan tanda waktu dzuhur, Rio berpamitan untuk melaksanakan sholat di Mushola kecil samping toko. Sungguh hari ini banyak hal mengejutkan terjadi. Rio dalam diamnya seolah menyimpan banyak rahasia yang sulit dimengerti.

Gendhis meminum susu yang telah dingin itu sampai habis, lalu berjalan masuk menuju toko untuk memilih camilan dan oleh-oleh lagi. Susu itu niknat sekali rasanya dia ingin membeli lebih untuk stok di rumahny sendiri.

Sampai Gendhis merasakan usapan pelan di bahu saking asiknya berbelanja.

“Masih ada lagi atau sudah?” tanya mas Rio.

“Sudah mas, ini lebih dari cukup,” ujar Gendhis.

“Untuk adik dan ibumu sudah?” tanyanya memastikan.

Gendhis mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju kasir. Rio menyerahkan dompetnya pada Gendhis.

“Ambillah, kalau uang cash kurang pakai kartu yang hitam! Pinnya tanggal lahirmu," bisik Rio di telinga Gendhis.

Gendhis tertegun, lelaki di sampingnya ini penuh kejutan.

"Apa kau yakin tak masalah Mas jika aku mengambilnya? Bukankah ini terlalu melanggar privasi?" tanya Gendhis liris.

Rio menggelengkan kepala.

"Antrian berikutnya!" teriak kasir.

Gendhis segera maju ke depan. Kasir menotal semua belanjaannya. Benar saja uang cash yang berada di dompet Rio kurang. Gendhis memandang ke arah Rio. Lelaki itu mengangguk.

Dengan bergetar Gendhis menggesek kartu atm hitam milik Rio dan memasukkan tanggal lahirnya sebagai kode pin. Berhasil, benar apa kata Rio. Pin kartu ATM miliknya adalah tanggal lahir Gendhis.

Setelah membayar semua belanjaan, Gendhis mencari Rio berjalan ke luar toko. Ternyata Rio sudah mengambil mobilnya. Dia turun dan membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil.

“Masuklah, biar aku yang selesaikan!” perintah Rio.

Gendhis menuruti perintah Rio, dia langsung masuk ke mobil. Tak lama Rio menyusul dan menjalankan mobil perlahan. Mereka berdua saling diam. Sungguh situasi yang menyebalkan bagi Gendhis, dia tidak menyukai hening dan diam. Kaku rasanya.

“Oh ya Mas ini kartunya," sodor Gendhis menyerahkan kartu ATM hitam milik Rio.

"Taruh situ saja," jawab Rio.

"Emm... Mas nanti malam kan acaranya bebas ya? Ada hiburannya kan? Aku mau ikut gabung ah yang di kolam renang, boleh kan?” tanya Gendhis.

Rio tak menjawab dia hanya tersenyum dan diam.

“Mas di tanya diem terus, bosen nih! Aku nyalakan ya lagunya? Boleh? Karaokean sendiri nih aku dari pada diem," izin Gendhis.

“Iya, puter aja lagunya, sambungkan ke HP mu, ini Flash disk hanya qiroah qur’an...” jelas Rio.

Gendhis sibuk menyambungkan perangkat HPnya ke audio mobil Rio.

‘Sulit bagiku menghadapi kamu, tapi ku takkan menyerah kau layak di perjuangkan’

‘Perih bagiku menahan marahku, tapi ku akan lakukan bahkan lebih dari itu’

‘Aku yang minta maaf walau kau yang salah, aku kan menahan walau kau ingin pisah’

‘karena kamu penting lebih dari penting dari semua yang ku punya’

Gendhis mulai menyanyikan lagu dari salah satu penyanyi favoritnya, dia melihat Rio hanya tersenyum dan terus mengendarai mobil melaju pelan membelah kota dingin itu.

“Kamu suka lagu seperti ini?” tanya Rio.

“Aku mah segala lagu oke aja, tau sendiri kan mas kadang tamu yang ku bawa usia bapak-bapak yang di bus full lagu kenangan, kadang anak muda sukanya lagu hok a hok e,” jawab Gendhis sambil tertawa.

Rio menatapnya tajam, dan berkata lirih

“Mulai sekarang jangan begitu ya!" perintah Rio.

“Maksudnya?” tanya Gedhis.

Rio mengelus rambut gadis itu dan kembali diam. Jantung Gendhis seolah berhenti berdetak. Bagaimana mungkin seorang Rio yang alim dan terkenal kesholehahnya mau besentuhan langsung dengan bukan muhrimnya, bahkan mengusap pelan rambut Gendhis.

Gendhis langsung terdiam, sambil mendengarkan lagu yang terus berputar. Mereka berdua saling diam selama perjalanan menuju hotel. Sesampainya di parkiran hotel Gedhis langsung turun.

“Masuklah ke kamarmu, istirahat! Biar semua di urus sama Mas Dimas. Nanti malam gala dinner, ada breafing team di depan loby! Jam 19.00,” kata Rio.

Gendhis mengangguk dan berjalan menuju kamar hotel. Nyamanya kasur hotel tidak mampu meredakan gundah yang sejak tadi Gendhis rasakan. Ada apa dengan Rio? Segala pertanyaan memutari kepala Gendhis sampai tertidur.

Suara penyanyi Mahalini dengan lagus Sial membangunkan Gendhis. Ternyata itu nada dering yang di pakai Gendhis tanda ada panggilan masuk.

“Hallo? Iya ko? Aku ketiduran! Jam berapa ini? Oh iya, aku malam ada acara gala dinner sama hiburan! Habis itu aku off istirahat, lanjut besok jam sepuluh pagi cek out baru balik...” jelas Gendhis.

Panggilan masuk itu ternyata dari kekasih Gendhis. Wajar saja dia menghubungi ternyata ini sudah jam lima sore. Tak terasa Gendhis tertidur cukup lama, gegas dia mandi untuk persiapan acara nanti malam.

Dress hitam panjang, berlengan model balon transparan di pilih Gendhis untuk acara malam ini. Rambutnya di biarkan terurai, tak lupa dia menyematkan bross mawar kecil di baju polosnya sebagai pemanis baju. Make up natural, jam tangan klasik Alexander Christie hitam, dan parfum tak lupa di pakai serta wedges untuk menyempurnakan penampilannya.

"Sempurna!" seru Gendhis saat berkaca di cermin.

Gendhis berjalan menuju loby hotel, dia melihat Dimas sudah berada di kursi tamu namun dia hanya terlihat sendiri belum ada teman-teman yang lain.

“Mbak Gendhis sini, Woy sini!” teriak Dimas sambil melambaikan tangannya.

Gedhis berjalan menghampirinya.

“Yang lain masih menyiapkan gala dinner Mbak, termasuk si Bos, sampean (kamu) nunggu sini aja,” perintah Dimas.

Gendhis hanya mengangguk, karena ini bagian team EO bukan dirinya. Untuk menghilangkan bosan Gendhis membuka aplikasi i*******m, menscroll berita ter-update mulai dari gosip sampai politik untuk mengusir rasa jenuh. Tanpa dia sadari Rio sudah berada di hadapannya.

Dan sama seperti biasanya dia hanya tersenyum dan diam. Seolah-olah siang tadi tidak ada kejadian apapun. Mereka lanjut breafing malam team sebelum acara di mulai, setelah semua team kumpul di lanjut makan malam bersama.

Suara musik perlahan mulai terdengar, tanda di kolam renang bawah hiburan sudah berjalan. Jiwa berdangdutanku meronta-ronta.

“Mas, ini udah kan ya? Acaranya bebas kan? Mau ke bawah aku” pamit Gendhis.

“Mbak Gendhis pasti mau nyumbang lagu nih, cus lah! Sekalian mau ambil ketan duren aku,” sahut Dimas.

Mereka berdua meninggalkan meja makan. Gendhis menyumbang satu lagu cmpursari koplo penyanyi Jawa Timur, Dimas berduet dengan Gendhis karena mereka berdua sama- sama menyukai lagu campursari dan koplo.

Iki tulising kidungku

(Ini adalah penulisan lagu saya)

Kanggo siro hapsarining kalbu

(Untuk kepolosan hati nurani)

Eseme kang manis madu

(Senyumnya manis sayang)

Dasar ayu parasmu kang tanpo layu

(Dasar yang baik dari parasmu Anda adalah tanpa memudar)

Tiba-tiba Dimas memegang tangan Gendhis. Mereka saling berpegangan tangan dan menatap satu sama lain.

Yomung ndiko kang sawiji

(Hanya kamu adalah satu-satunya)

Langit bumi kang hanyekseni

(Langit dan bumi bersaksi)

Nalikane ngucap janji ono lathi

Ketika dia membuat janji di lidahnya

Gendihis membalas rangkulan mesra Dimas. Ini membuat para penonton bersorak-sorai. setelah membawakan lagu campursari lagam. Gendhis menyumbangkan sebuah lagu campursari koplo yang sedang hits naik daun. Penonton berjoget bahkan Dimas berpura-pura menyawer agar tambah meriah.

Hampir setengah jam mereka sibuk bernyanyi dan bersenda gurau dengan para peserta gathering, sampai Dimas tiba-tiba menarik tangan Ghendis.

“Mbak bukak hp sampean (kamu) sekarang,” perintah Dimas.

Gendhis segera mengeluarkan HP dari saku dress, terlihat 15 panggilan tak terjawab dari Rio. Segera Gendhis menghubungunginya balik, tetapi tidak diangkat. Dengan tergesa Gendhis berjalan menaiki tangga, dia cari Rio di loby hotel. Terlihat dia duduk dikursi dan diam memandang ke arah Gendhis dengan tatapan tajam dan menusuk.

“Kenapa mas? Ada yang bisa ku bantu?” tanya Gendhis mendekat.

"Apa maumu?" tanya Rio dingin dengan tatapan mengintimidasi.

Bersambung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status