Share

PANGGILAN PERTAMA

Hari ini jadwal Gendhis sangat padat, sedari pagi dia harus menemui beberapa orang untuk membahas pekerjaan yang akan datang. Sore hari menemui kekasihnya membahas masalah bisnis mereka. Lanjut terakhir dia harus ke kota sebelah menjenguk Rosi sahabatnya yang baru pulang dari rumah sakit.

"Ya Tuhan, apakah aku bisa melalui hari ini dengan baik?" keluh Gendhis.

Sejak  kemarin Gendhis sudah berjanji untuk menengok Rosi. Kekasihnya pun tak bisa ikut karena dia harus mengantarkan mamanya cek up ke RS.

"Mah bikin sarapan apa?" tanya Gendhis.

"Anak perawan bangun tidur minta makan, sana bersihkan tempat tidur dulu," bentak mama Gendhis.

Entahlah mengapa seorang ibu tetap memperlakukan putrinya seperti anak kecil walaupun dia sudah dewasa. Setelah menyelesaikan kegiatan hari ini, Gendhi sempatkan mandi di rumah ibunya baru ke kota sebelah menjenguk sahabatnya.

"Mau kemana Mbak?" tanya mamanya.

"Jenguk Rosi mah, dia baru saja pulang dari Rumah Sakit kemarin," jawab Gendhis.

"Sakit apa?" tanya mama Gendhis.

"Lambung kayaknya Mah, mau ikut?" ajak Gendhis.

"Oh kasihan, dia di sini lak sendiri to?"

"Ya Ma, aslinya kan Bandung," jawab Gendhis.

"Ya udah ati- ati, jangan lupa bawakan buah!" pesan mama Gendhis.

"Okey Ndoro!" seloroh Gendhis.

Malam ini Gendhis memilih memakai jampsuit flower pendek, sendal japit indomedit, dan make up seadanya cukup untuk menemui Rosi sahabatnya. Toh Rosi juga di kos hanya sendiri.

Perjalanan dari rumah ke kota sebelah memakan waktu satu jam-an jika di tempuh dengan santai. Pukul 19.30 WIB Gendhis sampai di kos-annya.

"Everybody home? Assalamualaikum, Gendhis Arstari Wijaya, perempuan cantik nan mempesona datang!" teriak Gendhis di depan pintu kamar Rosi.

"Ahhhh! Kangen! Rindu! Peyukkkk!" ujar Rosi manja.

Rosi menyambut dengan senang kedatangan sahabatnya. Sudah lama mereka tidak bertemu untuk sekedar berghibah atau membahas hal tidak penting seperti dulu.

"Kau sendiri?" tanya Rosi.

Gendhis mengangguk.

"Samuel?" tanya Rosi lagi.

"Biasa, Mama tirinya sakit! Harus mengantarnya ke Rumah Sakit," jawab Gendhis.

"Ah kenapa gak koit sekalia!" gerutu Rosi.

"Lambemu (mulutmu)! Hahahahah!" teriak Gendhis.

"Heh Ndhis kau tahu tidak? Ibu tiri saja kejamnya ampun- ampunan bahkan sampek ada lagu ratapan anak tiri, apalagi ini ibu mertua tiri! Mampus hidupmu!" ejek Rosi.

Gendhis terdiam sejenak. Memang benar apa yang di katakan Rosi, entah sampai kapan hubungan asmaranya akan berjalan seperti ini.

"Entahlah Ros, aku juga bingung jika kau sudah membahas lelaki itu," ujar Gendhis.

"Ah! Kau terlalu menjunjung tinggi egomu untuk setia! Hahahaha, sesekali cobalah untuk mendua! Rasanya Ah mantap!" gurau Rosi.

"Halah aku tak sama sepertimu, setahun kenal dirimu lelaki ganti sampek selusin!" cemooh Gendhis.

"Hidup sekali Bosss!" balas Rosi.

Mereka berbicara ngalor ngidul (melantur) membahas hal- hal yang menyenangkan sampai yang menyedihkan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gendhis hendak beranjak pamit pulang, besok masih banyak jadwal dan pekerjaan yang harus dia selesaikan.

"Aku pulang dulu ya Ros," pamit Gendhis.

"Ah elahhhh! Baru juga jam sepuluh!" cegah Rosi.

"Aku besok ada banyak jadwal penting, lagian kau kan harus kerja!" tolak Gendhis.

Rosi memang bekerja di sebuah club malam di Kota ini. Gendhis segera merapikan barang bawaannya, ketika hendak berdiri pergi meninggalkan kamar Rosi, hp- nya berbunyi tanda panggilan masuk. Tertera nama Rio di layar Hp- nya. Tumben sekali telpon, ada apa ya?

BERSAMBUNG

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status