Mag-log inSetelah satu bulan berlalu, Lucianne kembali ke kediaman Jenderal Agung. Wanita itu segera menemui suaminya di ruang kerja.
Senyum tampak di wajah Lucianne ketika ia melihat Altherr sedang serius membaca laporan militer. Wanita itu sangat merindukan suaminya. Sebelum ini, ia tidak pernah berpisah lama dengan Altherr, bahkan ketika Altherr memimpin perang, ia juga akan ikut menemani suaminya.
"Suamiku, aku kembali." Lucianne berkata dengan lembut.
Altherr sudah menyadari kedatangan istrinya, bagaimana mungkin dia tidak tahu keberadaan belahan jiwanya.
Lucianne tahu bahwa suaminya masih marah padanya. Wanita itu meraih laporan yang dibaca oleh Altherr lalu meletakannya di maja. Ia naik ke atas pangkuan suaminya, menatap pria itu dengan lembut dan penuh kasih.
"Aku sangat merindukanmu, Altherr."
Altherr ingin mengabaikan Lucianne, tapi hatinya terlalu lembut. Ia tidak bisa mengabaikan Lucianne, terlebih ketika wanita ini bersikap manja padanya.
Tanpa mengatakan apapun, Altherr mencium bibir Lucianne dengan penuh hasrat. Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan istrinya, tidak merasakan pelukan hangat dan ciuman lembutnya. Altherr benar-benar sangat merindukan Lucianne sampai dadanya terasa sesak.
Hari itu, Altherr menahan Lucianne di sisinya, melepaskan rindu sampai akhirnya Lucianne tertidur karena kelelahan.
Altherr memperhatikan wajah cantik istrinya, jarinya membelai wajah Lucianne dengan lembut. Ia menyadari bahwa tubuh istrinya kehilangan banyak berat badan.
Di luar istrinya tampak tegar melihatnya bersama wanita lain, tapi jauh di dalam hatinya wanita ini juga tersiksa. Ia mungkin harus berdamai dengan keadaan, jika Athena mengandung dengan cepat, maka semuanya bisa berakhir dengan cepat pula.
Setelah wanita itu melahirkan, kehidupannya dengan Lucianne akan kembali seperti semula, ditambah dengan anak yang dilahirkan oleh Athena maka keluarga kecil mereka akan semakin lengkap. Tidak akan ada lagi tetua yang akan memaksanya untuk menikah lagi,, tidak akan ada lagi yang menekan Lucianne karena belum bisa melahirkan penerus untuknya.
Altherr merasa bersalah pada Lucianne, ia tidak akan mengabaikan atau marah pada Lucianne lagi.
**
"Apakah Kakak sudah kembali?" Athena bertanya pada Sopia.
"Yang Mulia telah kembali, saat ini Yang Mulia sedang bersama dengan Jenderal Agung."
Athena akan menemui Lucianne nanti, ia akan memberitahu Lucianne bahwa bulan pertama masih belum membuahkan hasil. Athena harap dia tidak akan mengecewakan Lucianne.
Setelahnya Athena beristirahat, terhitung sudah lima hari ia tidak mengunjungi Altherr. Periode bulanannya telah berakhir hari ini. Besok, dia harus kembali menjalankan tugas dari Lucianne.
"Sopia, bagaimana kabar gadis kecil itu?" Athena mengurungka niatnya untuk beristirahat.
"Kondisinya sudah jauh lebih baik, Yang Mulia. Hanya saja perilaku gadis itu sedikit aneh. Tatapannya begitu dingin. Saat ditanya siapa namanya dan di mana dia tinggal serta nama orangtuanya, dia tidak mengingatnya sama sekali."
Athena diam sejenak. "Gadis kecil itu mungkin mengalami trauma sehingga membuatnya melupakan identitasnya sendiri, setelah beberapa waktu dia mungkin akan mengingat kembali identitasnya.
Apakah ada laporan warga yang kehilangan anak atau anggota keluarganya?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
Athena diam lagi. Satu-satunya cara yang tersisa adalah hanya menunggu gadis kecil itu mendapatkan kembali ingatannya. "Kau bisa istirahat, Sopia."
"Baik, Yang Mulia."
Sopia kemudian undur diri.
**
Pagi harinya Athena dipanggil ke paviliun utama. Ini sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Athena karena sejak ia memasuki kediaman ini ia tidak pernah dipanggil ke paviliun utama melainkan datang sendiri.
Saat Athena tiba di paviliun utama, ia melihat Lucianne duduk di bangku taman tempat itu.
"Selir Athena! Kemari!" Lucianne memanggil Athena dengan antusias.
Athena tersenyum, ia segera melangkah menuju ke Lucianne.
"Selamat pagi, Kakak." Athena menyapa Lucianne.
"Selamat pagi. Ayo duduk!"
Athena kemudian duduk. Di dekat meja bundar itu terdapat tiga tempat duduk. Satu lagi tempat duduk yang kosong, dan itu adalah tempat untuk Altherr.
"Apakah kau sudah mulai terbiasa tinggal di sini?" Lucianne bertanya dengan perhatian.
"Tempat ini sangat nyaman, sangat mudah membiasakan diri di sini."
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya."
"Bagaimana perjalanan Kakak?"
"Perjalanan kali ini memberiku lebih banyak ketenangan. Aku harap akan segera ada jawaban dari doa-doa yang aku lantunkan."
Athena merasa tidak enak hati, ia tahu salah satu doa yang dipanjatkan oleh Lucianne adalah kehamilannya disegerakan.
"Kakak, aku masih belum mengandung. Beberapa hari lalu aku datang bulan." Athena tidak ingin membuat Lucianne kecewa, tapi ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Lucianne.
Lucianne meraih tangan Athena lalu menepuknya pelan. "Tidak apa-apa, masih ada banyak waktu. Aku yakin kau ditakdirkan untuk melahirkan penerus bagi suami kita."
Tidak jauh dari dua wanita cantik itu, Altherr berdiri menatap dua istrinya yang tampak akur.
Lucianne sudah sangat baik terhadap Athena, jika Athena tidak tahu diri dan ingin menyakiti Lucianne, ia pasti akan membunuh Athena dengan tangannya sendiri.
Altherr meneruskan langkahnya, pagi ini ia akan sarapan dengan dua istrinya.
"Selir Athena memberi salam pada Jenderal Agung." Athena berdiri lalu kemudian menundukan kepalanya.
Altherr hanya membalas dengan dehaman singkat.
Athena merasa canggung, sekarang dia benar-benar merasa seperti orang ketiga di sana.
"Selamat makan, Suamiku." Lucianne meletakan makanan ke wadah makan Altherr.
"Selamat makan, Istriku."
"Selamat makan, Athena."
"Selamat makan, Kakak."
Ketiga orang itu kemudian menyantap sarapan mereka, Lucianne adalah orang yang aktif mengisi makanan ke piring Altherr dan Athena.
Altherr mengambil irisan daging dan memasukannya ke piring Lucianne. "Kau kehilangan berat badanmu, makan lebih banyak."
"Baik, Suamiku."
Dihadapkan dengan kasih sayang yang nyata di depannya, Athena merasa pahit di hatinya. Bukan karena ia iri, tapi karena ia merasa Sang Pencipta benar-benar memiliki cara untuk menguji kasih sayang mereka. Pasangan yang sempurna, penuh cinta tapi belum juga memiliki keturunan.
Sarapan pagi itu selesai.
"Suamiku, aku akan membawa Selir Athena memasuki istana hari ini. Selir Athena sudah memasuki kediaman ini selama satu bulan, tapi aku belum membawanya menemui Ibu Suri."
"Tidak perlu pergi hari ini, kau baru saja kembali dari perjalanan yang melelahkan. Istirahat saja untuk hari ini."
"Baiklah." Lucianne tidak membantah suaminya.
"Athena, ayo ke paviliunku."
"Baik, Kakak."
"Suamiku, kami undur diri." Lucianne berdiri, wanita itu menunduk sejenak lalu kemudian berbalik dan pergi, begitu juga dengan Athena.
Altherr melihat kedua istrinya pergi, jika itu pria lain maka mereka pasti akan sangat senang memiliki istri lebih dari satu dan sangat akur. Namun, tidak dengan Altherr, baginya Athena adalah duri dalam hubungannya dengan Lucianne.
**
"Athena, besok aku akan membawamu ke istana. Aku akan menjelaskan padamu silsilah keluarga kerajaan." Lucianne kemudian mulai menyebutkan tentang keluarga kerajaan.
Raja saat ini adalah kakak dengan ibu yang sama dengan Altherr. Selain Raja dan Altherr masih ada dua anak laki-laki yang berbeda ibu dengan Altherr. Selain itu ada juga dua putri, satu memiliki ibu yang sama dengan Altherr.
Dua pangeran juga telah menikah, masing-masing dari mereka memiliki beberapa selir yang berasal dari keluarga berpengaruh di kerajaan.
Raja terdahulu memiliki tiga istri, ibu suri dan dua selir agung yang masing-masing melahirkan anak untuk mendiang raja.
Lucianne menjelaskan karakter-karakter dari semua orang di istana.
"Athena, kehidupan di dalam keluarga kerajaan dipenuhi oleh intrik dan perebutan kekuasaan, kau harus berhati-hati untuk tidak menyinggung siapapun. Kakak pasti akan melindungimu selama kau tidak membuat kesalahan.
"Beberapa orang mungkin akan menatapmu dengan dingin, jangan merasa rendah diri, kau adalah selir Jenderal Agung. Kau memiliki status yang tinggi."
"Aku mengerti, Kakak."
Lucianne tersenyum kecil. "Apakah satu bulan ini berjalan dengan baik?"
"Kakak, maafkan aku. Yang Mulia hanya memilikimu di hatinya, aku tidak memiliki cukup kemampuan untuk menggodanya."
"Ini pasti sulit bagimu menghadapi tempramen Jenderal Agung. Jangan menyerah, aku yakin kau pasti bisa menjalin hubungan yang baik dengannya."
"Kakak, maafkan aku jika ini terdengar lancang. Namun, aku hanya perlu melahirkan penerus, pendekatan aku pikir tidak perlu. Ini hanya akan menyiksa Yang Mulia." Athena benar-benar sadar diri. Dia tahu siapa dirinya, dan tidak cukup pantas untuk menjalin hubungan yang baik dengan Altherr.
Lucianne tahu bahwa Athena tidak akan pernah memanfaatkan keadaan. Athena datang hanya untuk menjalankan tugas, tidak mengharapkan lebih dari itu.
"Tidak ada yang salah dengan memiliki hubungan yang baik dengan suami sendiri. Percaya padaku, suatu hari nanti Jenderal Agung pasti akan menerimamu." Lucianne meyakinkan Athena. "Aku berharap kita bisa melayani Jenderal Agung sampai akhir hayat."
Athena tidak berani memikirkan tentang hal ini. Ia sudah bertekad untuk pergi setelah melahirkan anak untuk Lucianne dan Altherr.
tbc
Pagi ini pencarian terhadap Altherr dan Athena telah dilakukan. Ean terjun dari tebing dan mulai menyelam bersama dengan puluhan prajurit lain. Sementara kelompok lainnya menyisiri aliran sungai dan mencari ke berbagai tempat lain.Altherr keluar ke permukaan, ia kemudian menemukan beberapa prajurit yang juga muncul ke permukaan.“Jenderal Agung!” Seorang prajurit berseru.“Jenderal Agung telah ditemukan!” Prajurit lainya berteriak memberitahu siapapun yang mendengarkannya.Beberapa saat kemudian Ean juga muncul ke permukaan. Pria itu sangat lega ketika ia melihat majikannya masih hidup. Pria itu segera berenang mendekat ke Altherr.“Jenderal Agung.” Ean bersuara lega.“Keluar dari sini, siapkan selimut untuk Selir Athena.”Darah yang bercampur air muncul di punggung Altherr lalu kemudian menyebar.“Jenderal Agung, tubuh Anda terluka.”“Segera jalankan perintahku!”“Baik, Tuan.”Setelah memastikan situasinya aman, Altherr kembali berenang menembus air terjun. Pria itu tidak mungkin me
Matahari bergerak naik, Altherr dan Athena masih terus melesat masuk ke hutan. Saat ini mereka telah mendapatkan banyak hewan buruan, entah itu binatang buas atau bukan.Athena dan Altherr berhenti ketika sekumpulan pasukan berpakaian hitam menghadang mereka, lalu kemudian seumpulan lagi berada di belakang mereka.Baru tiga bulan menikah dengan Altherr, Athena telah menghadapi dua kali percobaan pembunuhan. Benar-benar kematian selalu mengincarnya.Para pria berpakaian hitam itu segera menyerang Altherr dan Athena serta prajurit yang bersama Altherr.Jumlah pasukan itu cukup banyak, sementara Altherr dan Athena hanya kurang dari sepuluh orang.Athena mengambil anak panah, wanita itu memanah dari atas kuda, sementara Altherr segera menarik pedangnya dan terjun dari kudanya.Kali ini pasukan yang menyerang lebih ganas dari sebelumnya. Pasukan itu benar-benar menginginkan nyawa mereka.Beberapa prajurit yang dibawa oleh Altherr telah terluka. Hanya tersisa tangan kanan Altherr dan dua pr
Hari ini adalah hari ulang tahun Menteri Kehakiman. Altherr, Lucianne dan Athena datang ke perayaan ulang tahun orang penting di Luminastra itu.Setelah memberi salam dan hadiah pada Menteri Kehakiman, Athena membawa Lucianne berkumpul dengan para wanita, sementara Altherr, pria itu saat ini sedang mengobrol dengan beberapa petinggi kerajaan yang juga hadir di sana.Athena merasa tidak nyaman di lingkaran orang-orang kelas atas.“Kakak, aku akan keluar untuk mencari udara segar.”“Ya, Sopia akan menemanimu.”“Baik, Kakak.”Athena segera keluar dari tempat itu. Ia berjalan-jalan ke sekitar taman.“Sopia, aku meninggalkan kipasku. Bisakah kau mengambilkannya?”“Baik, Yang Mulia.”Sopia pergi, Athena kembali melangkah. Wanita itu berhenti hendak menuju ke jembatan lengkung, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang pria dan wanita sedang bercumbu penuh nafsu di balik pohon.Athena tidak memiliki keinginan untuk mengintip, tapi jika ia melanjutkan langkahnya maka ia akan menggan
“Ada apa ini? Apakah sesuatu yang baik terjadi?” Lucianne melihat ke meja makan yang dipenuhi oleh berbagai jenis hidangan yang tampaknya sangat menggugah selera.“Hari ini Ibu sudah sadarkan diri. Semua makanan ini adalah ungkapan terima kasihku pada Kakak karena telah membantuku.”Lucianne mengerti kenapa saat ini Athena tampak bahagia.“Itu adalah kabar yang sangat baik. Aku turut bahagia untukmu.”“Terima kasih, Kakak.”Lucianne membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman ringan.Altherr datang, pria itu melihat Lucianne dan Athena yang tampak akur.“Suamiku, kau sudah datang.” Lucianne segera menyambut suaminya.“Ya, Istriku.”“Ayo duduklah!”Altherr segera duduk. Meja makan yang dulunya hanya ada dua tempat duduk itu kini telah menambahkan tempat duduk yang baru.Lucianne ingin ia, Altherr dan Athena setiap harinya makan bersama.Altherr melihat ke meja makan, cukup banyak hidangan di sana dan Altherr yakin bukan Lucianne yang memasaknya, karena menu masakan itu baru ia lih
Keesokan harinya Ean menemui Altherr, pria itu telah menyelidiki mengenai identitas Athena.Athena berasal dari sebuah desa kecil, wanita itu awalnya tinggal bersama dengan paman dan juga ibunya. Pamannya adalah seorang prajurit yang saat ini sudah gugur saat desa tempat tinggal mereka diserang olah para pemberontak beberapa tahun lalu.Setelah itu Athena pindah ke beberapa tempat bersama dengan ibunya dan akhirnya menetap di ibukota. Ibu Athena menderita penyakit serius hingga membuat wanita itu hanya bisa terbaring di ranjang. Setelah ibunya sakit, Athena yang saat itu masih berusia enam belas tahun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan ibunya juga untuk biaya pengobatan ibunya.Athena bekerja di sebuah kedai mie di pusat ibu kota, selain itu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecil, tempat tabib yang biasa mengobati ibunya membuka usaha.“Saat ini ibu Selir Athena dirawat di rumah sakit kerajaan.” Ean mengakhiri laporannya.Di luar, Athena berdiri. Di
Athena sedang memberi makan seekor anak kucing di taman. Wanita itu menyukai kucing, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki hewan peliharaan karena dia terlalu sibuk.Athena bisa saja mengambil kucing liar dan membawanya ke rumah, tapi dia tahu menelantarkan kucing di rumahnya adalah tindakan tidak bertanggung jawab.Beberapa langkah tidak jauh dari Athena saat ini ada Declan. Pria itu tersenyum misterius lalu kemudian melangkah menuju Athena.Saat ini Athena dan anak kucing itu terlihat sangat manis, tapi Declan benar-benar tahu bahwa Athena jelas bukan kucing yang manis melainkan kucing liar yang memiliki cakar tajam.“Salam, Tuan Declan.” Sopia segera memberi salam pada Declan.Athena yang tadinya berjongkok segera berdiri, wanita itu kini menatap Declan.“Nona, kita bertemu lagi.” Declan tersenyum pada Athena.Athena hanya membalas dengan anggukan singkat.“Apakah Nona berasal dari kediaman Adipati Miles?”“Tuan, ini adalah Selir Athena, Selir Jenderal Agung.” So







