LOGINWhen Mafia boss Leo Vance becomes the target of a new head of the investigation team, his childhood friend turned enemy, Omar, employs a junior agent, Mae Yrote, to eliminate Leo. However, Mae's mission takes an unexpected turn when Leo captures her, leading to a dangerous game of cat and mouse. As Mae attempts to carry out her mission, she uncovers the dark underworld of Leo's operations and finds herself entangled in a complex web of deceit and betrayal. Both Leo and Mae struggle with their growing feelings for each other, adding another layer of tension to their already precarious, dangerous situation. Mae must navigate between her duty to the government and her conflicted emotions for Leo. A story where loyalties are tested and destinies are intertwined in an unexpected twist of events. The boundaries between predator and prey blur against a shadow of love, betrayal, and redemption as Leo and Mae's destiny crosses path.
View More"Ganti bajumu!"
Seorang wanita paruh baya menyelipkan rokok di sela-sela jari serta sesekali ia menyesapnya, lalu meniup hingga kepulan asap putih mengepul di depan wajahnya.Gadis yang baru menginjak usia dua puluh tahun yang ada di hadapannya memunguti kain yang tercecer di lantai. Sepasang matanya membulat kala membeberkan baju yang mungkin lebih pantas disebut dengan baju renang karena begitu ketat.Ada perang batin dalam hati wanita yang bernama Nayla Larasati. Ia memang tidak mengenakan hijab, tetapi untuk memaki pakaian yang minim dan seksi sama sekali tidak terbiasa."Cepat ganti bajumu! Tidak mungkin kamu bekerja di sini dengan pakaian seperti itu!" ucap perempuan yang lebih sering disebut Madam.Nayla masih gamang untuk menerima pekerjaan sebagai pemandu karaoke. Tidak menjual diri, tetapi paling tidak ia akan lebih sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari kliennya nanti. Namun, perasaan itu segera ia tepis saat mengingat pendidikannya yang hanya sekolah menengah atas pun, tidak selesai. Ia putus sekolah.Meski berat hati akhirnya Nayla pergi ke kamar ganti untuk mengganti baju kemeja lengan panjang dan celana jeans panjangnya dengan mini dress yang pendek dan ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, apalagi payudaranya yang besar karena ia sedang menyusui putri kecilnya yang baru berusia sekitar empat puluh hari. Ia terpaksa menitipkan bayinya ketika bekerja pada tetangga kost-nya."Wow, cantik!" ucap Madam Sahara––pemilik karaoke di barnya saat Nayla keluar dengan malu-malu dari kamar ganti.Madam Sahara bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati, bahkan mengelilingi tubuh sintal Nayla yang baru saja melahirkan. Bukan hanya itu, Nayla juga dikaruniai wajah cantik serta kulit putih dan bersih sehingga meski tidak berdandan secara berlebihan, ia sudah terlihat menarik."Saya harus apa, Madam?" Suara merdu itu terdengar begitu indah di telinga Madam Sahara.Kedua sudut bibir merahnya melebar, lalu ia menerangkan apa saja yang harus dilakukan oleh Nayla sebagai pemandu karaoke."Kamu mengerti?" tanya Madam Sahara setelah ia selesai menerangkan sedikit pekerjaan itu pada Nayla.Nayla mengangguk."Nanti kamu akan ditemani oleh Olivia," ucap Madam Sahara yang disertai anggukkan lagi oleh Nayla. "oh, iya, namamu siapa Cah Ayu?""Nama saya Nayla Larasati, panggil saya Laras, Madam.""No, no, no! Di sini panggilanmu Nay––Nayla, bukan Laras. Kampungan sekali nama itu," ketusnya yang kemudian kembali duduk setelah memanggil Olivia melalui telepon. Ia merupakan wanita yang sudah bekerja padanya lebih dari lima tahun pada Madam Sahara. Otomatis ia begitu paham harus mengajarkan apa pada Nayla yang ia anggap sebagai juniornya di bar tersebut.*Nayla kini sudah berada dalam ruangan yang tidak terlalu besar dengan layar LED yang besar serta sound system' yang menggelegar saat musik karaoke mulai mengalun. Ia masih memperhatikan orang-orang yang bernyanyi bahkan meminta untuk ditemani berjoget, tak ayal mulai ada kontak pisik meski hanya melalui tangan. Tentu saja Nayla risih diperlakukan seperti itu."Jangan kau tepis lengan mereka, itu sumber uang tambahan buat kau di luar gaji pokok dari Madam Sahara," bisik Olivia."Tapi aku risih, Mbak," bantah Nayla yang berbisik pada Olivia."Kau lihatlah pendapatanku dalam satu malam ini, kau akan tau setelah uang yang dibayarkan nanti," ucap Olivia yang kemudian kembali bergabung dan bersenang-senang bersama kliennya yang mungkin saja mata keranjang.Untung saja klien di bar Madam Sahara itu mengerti ketika ada karyawati baru. Mereka tidak mengganggu hanya sekedar melirik nakal pada sosok wanita bertubuh sintal yang masih berdiri di salah satu sudut dan hanya memperhatikan mereka saja.Nayla melihat tangan-tangan klien itu sesekali memegang dagu dan merangkul pinggang Olivia, tetapi wanita itu terlihat biasa-biasa saja bahkan terlihat menikmatinya sampai waktu kerjanya selesai saat jam menunjukkan di angka dua pagi."Sampai ketemu besok, Om! Bye, bye!" ucap Olivia saat tamu-tamunya bergegas pergi meninggalkan Olivia dan Nayla saja.Olivia mengajak Nayla ke ruangan Madam Sahara untuk menerima upah mereka. Ya, Madam Sahara memang membayar gaji mereka perhari di malam itu juga ia membayar cash keringat karyawan/karyawatinya.Amplop tipis telah berada di tangan Olivia dan juga Nayla, setelah itu Madam Sahara pamit untuk beristirahat."Bukalah," ucap Olivia saat bibir Nayla merekah menerima gaji pertamanya meski ia tidak bekerja. Nayla beruntung karena Olivia merupakan teman yang cukup baik di sana.Jemari lentik Nayla mulai membuka dan di dalamnya hanya ada pecahan lembar uang berwarna biru dua lembar saja. Untuk hidup di kota besar pastinya tidak akan cukup. Apalagi ia yang harus membiayai bayi mungilnya yang harus membeli susu dan juga membayar pengasuhnya."Lihatlah punyaku," ucap Olivia sambil membuka amplop yang ada di tangannya."Sama saja, seratus ribu," gumam Nayla yang disertai tawa dari Olivia."Hahaha ... ia memang sama, bedanya dari sini." Olivia mengeluarkan lebar-lebar uang yang ia keluarkan di tengah-tengah bra.Sepasang mata Nayla membulat ketika melihat lembar uang Olivia yang melebihi dari gaji pokoknya di bar."Hijau, kan, mata kau?" ucap Olivia sambil mendekatkan wajahnya pada Nayla. "Ini yang aku maksud, temani saja mereka, buat mereka senang dan kau akan menerima uang lebih dengan gampang dari mereka," bisik Olivia lagi.***Sepenggal kisah kelam itu Nayla ingat ketika awal bekerja sebagai pemandu karaoke. Dari sanalah ia memulai hidup baru berstatus singel parent bersama satu orang anak. Bibir merahnya merekah ketika ia mengingat perjalanan hidupnya yang kini sudah menapaki angka lima tahun seperti usia putrinya yang ia beri nama Allea."Mommy!" Allea memanggil Nayla saat tubuh kecilnya berlari dan melewati pintu gerbang sekolah.Ya, Allea sudah masuk sekolah taman kanak-kanak sekitar satu bulan lalu. Awalnya ia sekolah baik-baik saja, tetapi tidak untuk saat ini yang sering sekali beralasan. Mulai dari malas, sakit dan hal-hal lain yang berakhir dengan tidak masuk sekolah."Muachh!" Nayla mencium pucuk kepala Allea saat gadis kecilnya memeluk. "Gimana sekolahmu, Nak?"Bibir Allea mengerucut."Looohhh ... kenapa? Ada yang enggak kamu sukai?" tanya Nayla dengan lembut yang disertai anggukkan dari putrinya. "Ceritalah. Eh, tapi jangan di sini. Kita cerita di rumah es krim aja, ya?" Nayla menggendong putrinya.Nayla memang begitu menyayangi Allea. Ia begitu memanjakan dan cukup protektif akan putri kecilnya dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti hati putrinya.Hingga sesampainya di rumah es krim bibir Allea masih mengerucut dengan sigap si mama muda itu langsung memesan satu tepak es krim rasa vanilla kesukaan putrinya."Tadaaaaa ... es krim vanilla sudah datang," ucap Nayla bermaksud menghibur putrinya. "Ayok, makan dulu es krimnya, baru nanti Lea ceritakan apa yang membuat kesal di sekolah."Mereka berdua menikmati es krim dengan santai. Hingga akhirnya Nayla syok ketika ada sosok laki-laki yang menghampiri mereka berdua."Selamat siang?" Suara bariton itu membuat Nayla dan Allea menoleh."Uncle Kenan?" ucap Allea dengan senyum ceria saat melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dengan wajah tampan berkarisma berdiri di hadapannya. Sementara Nayla menganga dan mata membulat saat melihat sosok tersebut.I laughed when I saw the gun in his hand but he didn't laugh along. I groaned and went to lean in the same position he was leaning against when I joined him here."I thought of the possibility of you doing this, but then I shoved it to the back of my mind. I told myself Omar wouldn't do that shit. But here you are, doing that shit.""If you won't help me. I'll help myself. I know you won't kill me. If you wanted to, you'd have all these while. So that leaves me no choice. I have to kill you to save myself.""You're in flames for killing the little girl, and you want to kill me too? You still enjoy playing with fire, don't you Omar?""..." He didn't say anything after me. He just held the gun tighter and licked his trembling lips."Alright, enough of this shit. Sixty seconds, you've got sixty seconds to kill me or I'm leaving. I want to be at the hospital when Mae wakes up." I told him and took off my suit jacket."If I don't pull the trigger in sixty seconds, will you kill me?" He swa
Who the hell looks this beautiful in a sick bed? I sat by Mae's hospital bed and watched her sleep on. The doctor she lost a lot of blood but she should wake soon; that was what I was waiting for.My phone vibrated in my hands. I looked and saw that it was Pete calling so I left to answer it. I was expecting that call of his. He had told me that he found some gadgets and equipment being used by those FIA agents so he took them with him and was going to check through them.****Three weeks later.I was driving to the hospital to check on Mae. She had woken up but hadn't fully recovered. The doctor in charge of her treatment said she would need some more time to be on her feet and active again."Omar," I called over the phone after picking up my ringing phone."You must have learned the full story behind the FIA agents being at that building that day." He sounded dull.I hissed and wanted to end the call. I was in no mood to speak about that, at least not now that I was on my way to se
I had gone back to assure the other kids that they would be okay. I felt the need to, especially after one of them watched her sister get shot. Thankfully, Rhea was there to stop them from witnessing me shoot the man who did it.I went on one knee to be able to talk to the sister of the dead girl. She wasn't saying anything so I took out my handkerchief and wiped the blood of her sister off her face.I got up from my kneeling position and turned around to meet Mae standing halfway to the car and watching me. I wanted to smile at her but my cheeks felt too heavy to be lifted into a smile at the moment.I helped Rhea and the kids into a car before planning to join Mae in the car. I turned around to start in the car's direction and saw a red dot traced at her. It was at the back of her head and then it retraced to her heart.My heart skipped a beat."Mae!" I called out to her and began running to her but she turned around. The moment she did, she got shot.I stopped running. I was just a
I got out of the car and headed to where Rhea was. I know Leo asked me to remain in the car but I don't know how he was thinking that was possible when he drove me here."Rhea?" I called to make sure it was her before getting too close.She turned to me and with a reflex action, pulled out her gun. I raised my hands in the air."The fuck are you doing here?" She asked when she put down her gun."Leo brought me.""Mr Vance brought you? Really? For what?" She couldn't believe me."I was driving with him when he suddenly turned around and drove us here. I figured either you or Pete called him. So what happened?""Thx asshole in there, he just..." Rhea sighed and ran her fingers through her hair."He killed one of them.""One of them? Them?""Mae, just go back to the car." She advised."Come on, tell me what happened?""The asshole was supposed to sell the kids to us but he said he won't do it if sir Vance wasn't here. We've been trying to talk him out of it but the mother-fucker just pull
He just kissed me. My eyes rounded in surprise at how gentle his kiss was. And then the realization hit me. He was looking into my eyes to prepare me for a kiss and I, fuck, I stupidly stared back like it was a fucking staring contest.His kiss was light and harmless. For someone who let hickeys all
Fifty million. Fifty fucking million is what Lade's aide and some other guy placed on the separating table in between the sofas where Lade and Leo sat.Leo didn't count the money. Maybe because it was too much to start to count, I don't know but he didn't ask Pete to bother counting it. He just gave
"Give me the gun," Pete commanded like he was Leo and I'd readily obey."So you can shoot me with it?" I raised a brow when I asked that. Leo was going to sell me off to Lade today, he had already informed me so the only thing in my head since then has been the fact that Lade could kill me the moment
I listened to the recorder play the message intended for Leo and my breathing became louder from the terror of it. I had thought the mutilated hands in the suitcase were horrifying enough till the recorder started to play and my assumption that they were a young girl's hand proved right.I had guesse






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews