Share

186

Penulis: Rossy Dildara
last update Tanggal publikasi: 2026-04-05 22:30:05

"Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."

Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.

Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen meneg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   186

    "Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja." Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah. Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu. Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba. Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan. "Bu Laura!" Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terd

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   185. Kai aku ambil

    "Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu.Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba.Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan."Bu Laura!"Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   184. Jangan, Om!

    Bau menyengat langsung tercium menusuk hidung. "Om ngapain?" suara Qiara langsung berubah tegang, nada khawatir bercampur ketakutan terdengar jelas. Dia berjalan cepat mendekati suaminya. "Itu bukannya bensin, ya?""Iya, Sayang." Jawaban Bagas terdengar santai. Bahkan terlalu santai untuk situasi yang begitu berbahaya dan gila ini.Tangannya kembali terangkat, hendak menyiramkan lagi—tapi dengan cepat Qiara menahannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat pergelangan tangan Bagas yang kekar, berusaha menghentikan aksi nekat itu."Terus kenapa Om siram? Bensin 'kan bahaya, Om. Kalau kena api bisa kebakar." Matanya memandang Bagas lekat-lekat, berharap suaminya sadar akan apa yang sedang dia lakukan.Bagas menoleh. "Justru Om ingin membakarnya."Degh!Jantung Qiara seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar."Om mau bakar rumah Ayah?" tanyanya lagi, berharap dia salah dengar."Iya." Bagas mengangguk mantap, tanpa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   183. 5 liter bensin

    "Mbak, aku mau pesan dua porsi soto ayam, dua air mineral, dan dua jus mangga. Di take away, ya," ucap Bagas pada kasir restoran."Baik, Pak. Mohon ditunggu, ya."Kasir wanita itu segera mencatat pesanannya dengan cekatan, lalu mengetik cepat di mesin kasir untuk mentotalkan harga pembayaran.Sementara itu, Bagas merogoh dompetnya mengeluarkan sebuah blackcard berwarna hitam pekat, dan membayar dengan cepat tanpa menunggu struk pembayaran tercetak sepenuhnya.Setelah selesai, dia melangkah pergi menuju salah satu kursi kosong di sudut restoran yang agak sepi.Dia duduk. Sembari menunggu pesanan jadi, dia berniat menelepon asisten pribadi dulu.Panggilan tersambung dalam satu nada dering."Halo.""Halo, Bos, selamat siang." Suara asistennya terdengar ramah dan ceria dari seberang sana."Temui aku di restoran soto ayam yang baru buka, dekat pasar Teluk Gong, lalu bawakan bensin di dalam jerigen. 5 liter saja.""Mobil Bos kehabisan bensin?" tanya sang asisten, suaranya terdengar ragu."E

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   182. Kubakar saja

    Mata Dylan sontak membulat, jelas terkejut dengan pertanyaan istrinya. Sedikit pun, tak pernah terlintas di benaknya untuk melakukan hal sekejam itu—terlebih pada cucu pertamanya yang begitu dia sayangi."Bunda ini bicara apa? Kita nggak perlu melakukan tindakan gila seperti itu pada Kai, Kai nggak salah apa-apa di sini. Dia suci, dia nggak berdosa." Suaranya tegas, bahkan sedikit meninggi. Ada naluri melindungi yang begitu kuat dalam ucapannya."Iya, Bunda tau." Laura mengangguk pelan. Tatapannya melembut, namun pikirannya tetap bekerja.Sebetulnya dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Pertanyaan tadi… hanyalah cara untuk menggali isi hati suaminya."Tapi sekarang apa yang ingin Ayah lakukan pada Kai?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan, kali ini lebih tenang, lebih dalam.Dylan menggeleng tanpa ragu. "Nggak ada. Kai nggak perlu dibawa-bawa dalam masalah ini. Yang Ayah masalahkan hanya orang tuanya, hanya mereka, Bun." Nada suaranya mulai turun. Namun amarah itu—belum ben

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   181. Berhak marah

    Dylan tampak terdiam beberapa saat, memandangi mereka secara bergantian. Lalu bukannya menjawab permintaan maaf mereka, dia justru mendorong keduanya untuk melepaskan lututnya, setelah itu dia langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu.Bagas segera menyangga punggung Qiara, khawatir perempuan itu akan terjungkal.Melihat Dylan seperti hendak masuk ke dalam rumah, Qiara bergegas berlari menyusul."Ayah, kenapa Ayah masuk? Jawab dulu permintaan maaf dari ...." Ucapan Qiara belum selesai, tapi Dylan sudah keburu masuk dan menutup pintu sembari membantingnya.Brakk!!!"Astaghfirullah!!" Bagas tersentak, merasa kaget. Dia lalu mendekat ke arah Qiara, memeluknya lalu mengelus dada istrinya, khawatir perempuan itu kaget juga. "Kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang?""Ayah!" panggil Qiara, meraih gagang pintu. Saat diturunkan pintu itu justru telah terkunci dari dalam. "Kenapa dikunci pintunya, Ayah! Kita belum selesai bicara!" tambahnya berteriak."Dylan, apa-apaan kamu? Buka pintunya, Lan!" Ba

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   118. Mogok makan

    Aku sontak terkejut, kaget sekaligus heran dengan apa yang Ayah sampaikan.Tapi bagaimana bisa Ayah sampai berpikir sejauh itu tentang Om Bagas? Dan semua prasangkanya benar-benar keliru.Meski dia sudah berumur, tapi tak ada satupun yang peot dari diri Om Bagas, terutama burungnya. Bahkan benda tu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   116. Ayah Vs Om Bagas

    Bibirku gemetar saat ingin membuka suara. Napasku tersendat. "Om Bagas su-sudah—" "Aku sudah menikahinya!" Om Bagas tiba-tiba menyela, suaranya lantang, memotong kalimatku sebelum sempat selesai. "Menikah??" Mata Ayah seketika membulat. Sorot matanya berubah drastis, dari marah menjadi terkeju

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   121. Benar-benar nekat

    “Keterlaluan! Dia benar-benar nekat!”Mataku terasa panas saat menatap layar laptop. Rahangku mengeras, kedua tanganku mengepal begitu kuat sampai terasa bergetar.Emosiku sudah benar-benar meluap ketika rekaman CCTV memperlihatkan kejadian semalam—detik demi detik yang membuat darahku mendidih.Di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   117. Saling mencintai

    Ayah dan Om Bagas sama-sama membeku sesaat. Pegangan tangan mereka terlepas bersamaan, tubuh keduanya mundur refleks. Wajah yang tadi penuh amarah kini berubah kaget—lalu seketika menegang menahan mual. “Uh—” “Eugh—!!” Mereka langsung membungkuk. Om Bagas lebih dulu muntah di pinggir jalan, caira

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status