로그인Obsessed Alina terobsesi pada Lingga—laki-laki dingin yang selalu sulit dijangkau. Setiap langkahnya selalu diperhatikannya, setiap senyumnya membuat hati berdebar. Mereka tertawa, bercanda, dan merasakan chemistry yang sulit diabaikan. Tapi di balik momen manis itu, muncul salah paham, cemburu, dan kata-kata yang tak sengaja menyakitkan hati. Satu malam mengubah semuanya. Alina pergi, meninggalkan Lingga dalam penyesalan dan hati yang hampa. Kini pertanyaannya tersisa: apakah cinta bisa bertahan dari obsesi dan salah paham, atau semuanya hanya meninggalkan luka yang tak mudah sembuh?
더 보기Pagi itu kantor sudah cukup ramai ketika Lingga tiba. Beberapa karyawan menyapanya ketika ia berjalan melewati koridor menuju ruang kerjanya. Ia membalas dengan anggukan kecil seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang terlihat aneh. Setidaknya dari luar. Lingga meletakkan tas kerjanya di meja, lalu membuka laptop. Beberapa email sudah menunggu untuk dibalas. Agenda hari itu juga cukup padat. Dua rapat internal. Satu pertemuan dengan investor. Dan satu pembahasan proyek dengan tim arsitek. Lingga membaca agenda itu beberapa detik. Rapat proyek. Artinya akan ada pembahasan desain dari tim Alina. Ia tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya ia mencoba tidak terlalu memikirkannya. --- Satu jam kemudian Lingga sudah berada di ruang rapat. Ruangan itu cukup besar dengan meja panjang di tengahnya. Beberapa orang dari tim manajemen proyek sudah duduk di tempat mereka. Bu Dewi juga ada di sana, sedang membuka beberapa map besar berisi gambar desain. “Pagi, Pak Ling
Malam sudah cukup larut ketika Alina akhirnya menutup laptopnya. Apartemennya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Ruang tamu dan dapur kecil menyatu tanpa sekat, hanya dipisahkan oleh meja makan sederhana yang sering dipenuhi kertas desain dan catatan proyek. Beberapa lembar gambar masih terbentang di meja. Pensil. Penggaris. Dan secangkir kopi yang sudah dingin. Alina memijat pelan pelipisnya. Seharian penuh ia menghabiskan waktu di lokasi proyek, lalu melanjutkan revisi desain di rumah. Ia baru saja hendak membereskan meja ketika terdengar bunyi pintu terbuka. “Lin?” Suara itu langsung membuat Alina menoleh. Damar masuk sambil membawa dua kantong plastik dari minimarket. Jaketnya sedikit basah, mungkin karena hujan yang turun sebentar tadi. “Kamu baru pulang?” tanya Alina. “Iya.” Damar menutup pintu dengan kakinya, lalu berjalan masuk. “Masih kerja?” Alina melirik meja yang penuh kertas. “Kelihatan?” Damar tertawa kecil. “Kelihatan banget.” Ia meletakkan kant
Sore itu langit terlihat sedikit mendung. Lingga baru saja keluar dari sebuah pertemuan dengan salah satu klien lama perusahaannya. Gedung perkantoran tempat mereka bertemu tidak terlalu jauh dari lokasi proyek yang sedang dikerjakan tim Alina. Ia sebenarnya bisa langsung kembali ke kantor. Namun entah kenapa ia memilih berjalan sebentar sebelum memanggil sopirnya. Di sudut jalan dekat gedung itu ada sebuah minimarket kecil. Lampunya terang, kontras dengan langit yang mulai gelap. Lingga masuk ke dalam, berniat membeli air mineral. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang memilih makanan ringan. Lingga mengambil sebotol air dari rak pendingin, lalu berjalan menuju kasir. Saat itulah seseorang di dekat pintu tiba-tiba berkata, “Pak Lingga?” Lingga menoleh. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya, membawa dua gelas kopi dari mesin minuman di dalam minimarket. Pria itu terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar. Lingga butuh beberapa d
Lingga masih berada di ruang kerjanya ketika jam menunjukkan hampir pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor kantor menjadi jauh lebih sunyi dibandingkan siang hari. Hanya beberapa lampu yang masih menyala di lantai itu. Di atas meja, beberapa dokumen proyek masih terbuka. Blueprint. Laporan revisi. Dan catatan-catatan kecil yang ia buat sendiri. Lingga menutup salah satu map perlahan. Ia mengusap wajahnya sebentar, mencoba mengusir lelah yang mulai terasa di kepala. Proyek yang sedang mereka kerjakan memang sedang berada di tahap penting. Banyak keputusan harus dibuat dengan cepat. Dan seperti biasa, Lingga tidak pernah suka menunda pekerjaan. Ponselnya bergetar di meja. Nama Nadine muncul di layar. Lingga mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Masih di kantor?” suara Nadine terdengar santai dari seberang. “Iya.” “Kamu belum makan?” “Belum.” Nadine tertawa kecil. “Direktur yang rajin sekali.” Lingga tersenyum tipis. “Kamu sudah selesai kerja?






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.