Obsessed

Obsessed

last updateLast Updated : 2026-03-13
By:  UfiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
61Chapters
277views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Obsessed Alina terobsesi pada Lingga—laki-laki dingin yang selalu sulit dijangkau. Setiap langkahnya selalu diperhatikannya, setiap senyumnya membuat hati berdebar. Mereka tertawa, bercanda, dan merasakan chemistry yang sulit diabaikan. Tapi di balik momen manis itu, muncul salah paham, cemburu, dan kata-kata yang tak sengaja menyakitkan hati. Satu malam mengubah semuanya. Alina pergi, meninggalkan Lingga dalam penyesalan dan hati yang hampa. Kini pertanyaannya tersisa: apakah cinta bisa bertahan dari obsesi dan salah paham, atau semuanya hanya meninggalkan luka yang tak mudah sembuh?

View More

Chapter 1

Bab 1

Alina Jingga, siswi kelas XI IPA 3, tak bisa melepaskan pandangannya dari lapangan. Tepatnya, dari sosok seorang pria yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat—Lingga Dharma Prajiwo. Tinggi, tegap, wajahnya pucat namun menawan, rahang tegas, hidung mancung, dan mata tajam yang seakan bisa menembus siapa pun. Setiap gerakan Lingga, dari lompatan hingga menendang bola, membuat Alina menahan napas. Bahkan cara rambutnya tersapu angin seakan sengaja menambah pesonanya.

Tak ada senyum di wajah Lingga. Hanya bibir tipis yang terlihat dingin, dan tatapan tajam yang membuat Alina menunduk setiap kali mereka bersinggungan pandang. Namun bagi Alina, itulah daya tarik yang tak bisa ia hindari. Sudah tiga tahun ia mengagumi pria itu—dengan senyum yang tak pernah pudar, meski sering ditolak, diacuhkan, atau dipermalukan. Hatinya selalu tersengat, campuran kagum, takut, dan rasa ingin mendekat.

Braakkk!

Suara benturan keras terdengar cukup dekat untuk membuat Alina melonjak. Lingga terjatuh setelah tertabrak salah satu siswa di lapangan. Tanpa berpikir panjang, Alina berlari mendekat, jantungnya berdegup kencang, napas tersengal.

“Lingga! Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanyanya sambil memeriksa tubuh pria itu. Tangan Alina gemetar, dan ia menahan diri agar tidak menangis melihat Lingga kesakitan.

“Apaan sih, lebay banget,” sahut Lingga, menepis tangan Alina sambil bangkit. Semua mata tertuju pada mereka, tapi Alina tak peduli—hatinya tetap terpaku pada Lingga.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu pula, ia belajar satu hal: pantang menyerah. Cita-citanya hanya satu: mendapatkan perhatian Lingga, dan ia bersedia menunggu, menghadapi cemoohan, dan segala rintangan demi itu.

“Na, lu nggak capek apa ditolak mulu sama Lingga? Gua yang capek lihat lu ngejar-ngejar dia. Gue kenalin sama sepupu gue ya, cakep, lebih cakep dari Lingga, sekolah di SMA Harapan. Nanti ku kasih nomornya ya,” sahut Luna, sahabat setianya, sambil menggeleng penuh ekspresi setengah kesal, setengah geli.

Alina tersenyum ringan. “Lun, gue nggak capek. Gue cuma punya satu tujuan—pacaran sama Lingga. Untuk mencapai cita cita itu tidak ada kata menyerah dalam kamus gue. Titik.” Rambut panjangnya terikat rapi, wajahnya tetap ceria, menutupi badai perasaan yang kadang bergejolak di dalam.

Kriiing… Kriiing…

Jam istirahat kedua berbunyi.

"Makan ke kantin yuk na, gue yang traktir." Luna sang sahabat bersemangat tentang hal itu. Alina buru-buru menutup laci mejanya, tapi pikirannya sudah melayang ke Lingga. “Sorry, Lun. Gua nggak bisa. Gua buru-buru, harus nyamper Lingga sebelum dia ngilang,” ucapnya sambil berlari keluar kelas.

"Ya ampun na, lu dipelet ya jangan jangan sama Lingga." Luna kesel, Alina selalu menjadikan Lingga prioritas.

Di koridor, mata elang Alina berkeliling mencari sosok Lingga. Alina melihat Lingga berjalan sendiri. Tanpa ragu, ia mengikuti pria itu hingga ke sebuah ruangan… dan dia ragu apa boleh masuk atau tidak. hatinya terhenti sejenak. Pada akhirnya Alina masuk, egonya mengalahkan akal sehatnya.

“Hei, apa apaan ini?” terdengar suara Lingga yang dingin.

“Yang… yang benar saja!” terdengar suara riuh lainnya.

Alina gugup, suaranya tercekat.

“Aaa… apa yang kau lakukan di sini?”

Beberapa siswa buru-buru menaikan celana, melarikan diri setelah menyadari ada seorang perempuam didalam toilet laki laki. Yap, itu adalah toilet laki-laki. Lingga menatap Alina, mata tajamnya menusuk. Alina mundur perlahan, menundukkan kepala, tak berani menatap balik. Langkah Alina terhenti saat mereka sudah berada diluar. Tatapan Lingga seakan menuntut jawaban. Dengan napas berat, ia berkata, “Apa aku terlihat murahan?” tidak ada jawaban, seakan tidak puas dengan itu, Lingga kembali bertanya,

“Apa… apa kamu yang murahan?” Alina terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut pujaan hatinya itu, hatinya berdesir. Alina tetap menunduk, diam. Pertanyaan itu terdengar tajam, menyakitkan, tapi juga membangkitkan perasaan campur aduk yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—takut, sakit, dan ingin membela diri sekaligus. Otaknya berfikir keras, alasan apa yang akan dia gunakan untuk kebodohannya kali ini. Takut dan malu itu yang sekarang Alina rasakan.

---

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
61 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status