Share

23. Kesalahpahaman

Penulis: Rossy Dildara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 01:39:00

Tiba di restoran favorit, aku menarik napas dalam. Sebelum membuka pintu mobil, jemariku lincah membuka ponsel, mencari nama Om Bagas di daftar blokir, lalu mencabutnya. Sebuah chat singkat kuketik,

[Maaf ya, Om.]

Kalimat itu meluncur. Berharap dengan aku menuliskankan kalimat itu, tak akan menimbulkan curiga jika nomor Om Bagas habis kublokir.

Usai terkirim, ponsel kembali kumasukkan ke dalam tas.

"Nona mau saya tunggu atau bagaimana?" tanya Pak Sopir, memecah keheningan, membuatku sedikit ter
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   140. Kurang apa

    Aku langsung menggeleng cepat.“Nggak usah.” Aku menatap mereka bergantian dengan ekspresi tidak setuju.Maira ini stres apa gila? Atau mungkin keduanya?Julia 'kan orang asing. Kenapa juga harus ikut menginap di sini?“Julia pulang saja, kamu juga pulang. Papi nggak usah ditemani.” Nada suaraku tegas, tidak memberi ruang untuk dibantah. Aku sama sekali tidak suka ide ini.Namun Maira justru menghela napas pelan, lalu menatapku dengan wajah sebal yang bercampur kesal.“Papi 'kan lagi sakit, mana mungkin aku tinggalin. Ya meskipun Papi selalu ninggalin aku pas aku sakit, tapi aku nggak akan bales. Aku 'kan orangnya nggak tegaan dan aku sayang banget sama Papi.”“Tapi Papi hanya tunggu kantong infusan ini habis, sebentar lagi juga habis.”Aku mendongak menatap kantong infus yang menggantung di tiang besi. Cairannya menetes perlahan melalui selang bening menuju punggung tanganku.Entah kenapa sejak aku bangun, isinya seperti tidak berkurang sama sekali.Masih setengah.Apa tidak jalan, y

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   139. menginap

    “Bukan.” Dylan menggeleng. “Kata Maira sih tadi ada dari temennya, dari sesama Dokter di sini, para perawat, suster, bahkan satpam segala.”Aku menoleh lagi ke arah tumpukan buket bunga dan parsel buah yang memenuhi meja nakas hingga ke lantai.Berlebihan sekali mereka ini, sampai kompak memberikanku bunga dan buah segala. Padahal setelah kantong infusanku habis aku akan langsung pulang, lalu mengajak Qiara kencan lagi.Aku kembali menatap Dylan.“Yang dari Qiara nggak ada?” tanyaku, karena menurutku hanya Qiara yang paling penting untukku.Dylan mendengus pelan, lalu menunjuk ke arah tempat sampah kecil di samping ranjang, di mana cup plastik bekas minuman yang tadi kuminum masih tergeletak di dalamnya.“Kan air kelapa muda, yang tadi kamu minum.”Aku mengangguk pelan, meski sedikit merasa kurang puas.“Kirain dia juga sambil nitipin buket bunga dari toko Bundanya.”Dylan langsung memutar bola matanya dengan kesal, lalu menatapku tajam.“Udah dikasih hati minta jantung kamu, Gas! Buk

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   138. Tidak mau jauh darinya

    (POV Bagas)Kesadaranku perlahan kembali bersama rasa ringan di kepala. Entah sejak kapan aku tertidur, tapi saat kedua mata ini terbuka, yang pertama kali kulihat adalah langit-langit putih khas ruang rumah sakit. Bau obat-obatan samar tercium di hidungku.Aku berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatan.Saat akhirnya benar-benar sadar, aku mendapati diriku berada di ruang perawatan. Selang infus terpasang di punggung tanganku, cairannya menetes perlahan dari kantong yang tergantung di tiang besi di samping tempat tidur.Mataku langsung berkeliling, mencari-cari keberadaan kesayanganku. Sosok yang ingin kulihat begitu membuka mata. Namun yang justru kutemukan adalah Dylan.Dia duduk santai di sofa yang berada tidak jauh dari ranjangku, tubuhnya sedikit membungkuk dengan ponsel di tangan. Ibu jarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang membalas pesan atau membaca sesuatu dengan serius.Selain itu, ada hal lain yang membuatku sedikit heran.Di atas meja nakas, meja depa

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   137. Kelapa muda

    "Maira??"Aku benar-benar terkejut melihatnya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tampak dingin seperti biasa—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui ayahnya dirawat karena muntaber.Padahal baru beberapa menit lalu aku mencoba menghubunginya berkali-kali dan tidak tersambung, dan sekarang dia sudah berada di depan mata."Kamu tau dari siapa kalau—""Sekarang kamu pulang saja, biar Papi aku yang temani."Dia langsung menyela ucapanku. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi.Tanpa menatapku lebih dari dua detik, dia melangkah masuk dengan sepatu haknya yang berbunyi pelan di lantai. Tangan kanannya mendorong sebuah koper berukuran sedang. Isinya mungkin pakaian ganti dan perlengkapan pribadi milik Om Bagas. Dia meletakkannya disudut ruangan."Aku pulangnya nanti saja, setelah Om Bagas bangun, Mai." Aku mencoba bicara selembut mungkin.Maira menoleh cepat. Sorot matanya tajam. "Jangan egois deh, Qia. Aku bilang pulang sekarang ya, sekarang!"

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   136. Akal-akalan

    "Sekarang Om Bagas lagi diperiksa, tapi aku sih yakin penyebab dia seperti itu karena habis makan rujak, Ayah." "Mana mungkin Om Bagas makan rujak." Ayah tampaknya tidak percaya. Aku menghela napas pelan. "Aku juga awalnya nggak percaya." "Setau Ayah dia itu nggak suka buah-buahan yang asem, dia juga nggak suka pedes." "Setauku juga begitu. Tapi katanya Om Bagas lagi ngidam, makanya tiba-tiba dia kepengen makan rujak. Padahal sih rujaknya nggak pedes manurutku." "Aneh, masa dia ngidam? Kan kamu yang hamil. Bukan dia." Aku terdiam sesaat. Tanganku tanpa sadar menyentuh perut buncitku. "Katanya calon ayah juga bisa ngidam, Ayah. Itu namanya Couvade Syndrome." Ayah mendengus kecil di seberang sana. "Tapi 'kan kamu hamil anaknya si Bilal, bukan anaknya Bagas." Kalimat itu terasa menusukku. "Iya sih," jawabku pelan. "Ah paling itu akal-akalan Om Bagas saja. Aslinya dia nggak kenapa-kenapa. Sekarang kamu pulang, ya? Nanti sopirnya Bunda jemput kamu." Aku menoleh ke arah pintu rua

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   135. Kelemahan Om Bagas

    Pintu bergetar keras, tapi belum terbuka. Dadaku ikut bergetar setiap kali bahu satpam itu menghantam kayu di depannya.Sekali lagi."Satu… dua…"BRAK!!Engselnya mulai longgar. Kayu retak di bagian sisi, serpihannya jatuh ke lantai.Aku menutup mulutku menahan isak yang hampir lolos."Tolong… cepat ,…" bisikku lirih, hampir tak terdengar.Untuk ketiga kalinya mereka menghantamkan bahu ke pintu.BRAAAK!Pintu akhirnya terbuka paksa dengan suara keras yang memantul ke seluruh ruangan, menggema sampai ke dinding keramik.Dan pemandangan di dalamnya membuat mataku membulat.Seorang pria tengkurap tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.Tapi bukan Om Bagas.Tubuh pria itu lebih kurus. Bahunya lebih kecil. Rambutnya pun berbeda. Meski wajahnya belum terlihat karena masih menghadap lantai, aku tahu—itu bukan dia.Jantungku yang tadi hampir berhenti kini justru berdetak semakin kacau.Lalu… di mana Om Bagas?"Astaghfirullah .…" Satpam langsung berjongkok mendekat ke arah pria itu. Dengan ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status