Teilen

Bab 194

last update Veröffentlichungsdatum: 24.09.2025 19:04:54

“Galtero Torres!” Nicolas menepis tangan adik iparnya itu, hingga serbet terjatuh ke lantai. Beruntung restoran ini tidak terlalu ramai karena bukan jam makan. Namun, tetap saja dua pria dewasa yang sama-sama matang itu mencuri perhatian.

Dua pasang mata biru saling beradu pandangan tajam. Tak ada yang mau mengalah.

“Kamu!” tunjuk Nicolas, wajahnya garang. Rahangnya mengeras.

Galtero menyeringai, dengan suara khasnya yang intimidatif ia menyahut, “Mulutmu kotor, aku hanya membersihkannya saja.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 240: TAMAT

    Pagi hari terasa datang lambat sekali. Suara debur ombak yang memecah bebatuan membangunkan Galtero dengan posisi tubuh yang masih kaku akibat tidur tegang semalaman. Mata biru terangnya menatap Sofia yang tersenyum di sampingnya. Di antara mereka, Ezio tidur pulas, kedua tangannya memeluk bantal asam kesayangan. Pagi-pagi sekali anak itu dipindahkan secara paksa oleh Nicholas. ​“Pagi yang indah, Mi Amor,” ucap Galtero sinis, berusaha meredakan rasa kesalnya. “Ternyata pagi ini tetap kenyataan bahwa kita diganggu oleh bocah hiperaktif dan kakak ipar yang iri hati.” ​Sofia tertawa kecil. Ia mengusap lembut pipi Galtero. “Kakak ipar yang tidur di sofa kecil, maksudmu? Kak Nico sudah dapat balasan setimpal. Sekarang, kamu masih membencinya?” ​“Bukan itu masalahnya! Intinya aku tidak punya waktu untukmu,” gerutu Galtero. “Setiap kali aku mendekat, Ezio muncul seperti hantu di mana pun. Dan sekarang aku harus berbagi vilaku pada Nicholas hanya karena dia tidak mau kalah denganku… menungg

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 239: Ternyata…

    ​Galtero menekuk wajah. Malam ini benar-benar mengesalkan baginya. Bukan lagi ketiban sial, tetapi semesta seperti membencinya. Gagal bercinta dan terpaksa menahan nafsu membuat badannya panas. Ditambah lagi, kehadiran kakak ipar. Mereka bertamu di vilanya. ​“Aku senang, Kakak ke sini. Apa mengambil cuti?” Sofia begitu antusias. Ia juga rindu pada kakaknya. ​“Iya, cuti. Aku pikir …” Nicholas menatap Isela dan putri kecil mereka. “Kami butuh liburan sesekali. Tidak baik bekerja terus,” sambungnya diiringi senyum kaku. ​Galtero yang berdiri di belakang Sofia mendengkus sebal. Jelas, ia terganggu. Momen intim bersama sang istri yang diharapkan meninggalkan memori indah, justru gagal total. ​“Dulu kamu bisa sewa vila di sebelah, kenapa sekarang menginap di vilaku?” Galtero menyembur, dan menatap sinis. ​Biarlah ia dianggap tidak menghargai ipar, yang jelas ia tidak suka berbasa-basi. ​“Ah … itu … dulu aku tidak memiliki pasangan dan keluarga. Aku hanya manusia yang terbiasa hidup sen

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 238: Ayah dan Anak Laki-lakinya 

    Suara Nicholas memang pelan, tetapi Sofia mendengarnya lantaran posisi ponsel cukup dekat dengan bibir pria itu. Sofia tersenyum geli membayangkan wajah sang kakak.​Panggilan video berakhir karena Nicholas yang iri hati melihat kehidupan adik iparnya tidak berubah drastis.​“Kakak ada-ada saja,” gumam Sofia. Ia melirik ke arah suami dan putranya yang makin besar, makin tampan. Bahkan menurut Sofia, Ezio lebih tampan daripada Galtero.​“Mi Amor, sudah selesai belum?” Galtero berteriak dari bibir pantai.​Sofia tahu jika sudah begini, suaminya itu pasti kelelahan menjaga Ezio yang sangat aktif.​“Ya, aku ke sana,” sahut wanita itu sembari berlari kecil mendekati kuda Andalusia putih.​“Papa, aku ingin ke kebun anggur lagi. Ayo, Pa! Kenapa harus pulang?” oceh Ezio dengan bibir yang menekuk kecil. Bocah itu bahkan melipat tangan di depan dada, persis seperti apa yang tengah dilakukan Sofia saat ini.​“Kenapa lagi?

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 237: Ayah dan Anak perempuannya

    ​Sudah enam tahun berlalu. Setiap hari yang dilewati oleh Isela begitu ringan seolah tanpa beban. Meskipun sejak usia Alba memasuki tiga tahun, ia mulai disibukkan dengan pekerjaan kantor. Nicholas memaksa untuk menjadi asisten pribadi lagi. Namun, tidak sekalipun ibu satu anak itu melewati masa tumbuh kembang Alba.​Tak jarang Isela membawa Alba ke kantor jika tidak ada kesibukan. Seperti sekarang ini, Isela bekerja sambil memperhatikan putrinya yang duduk di kursi kerja Nicholas. Bukan hanya duduk biasa, tetapi kedua tangan mungilnya itu memegang sisir dan jepit rambut. Ia begitu luwes menyisi rambut sang ayah. Bahkan Nicholas sampai diperintah untuk duduk di bawah.​“Apa sudah selesai salonnya, Putriku?” Nicholas menatap pantulan dirinya di depan cermin. Untung saja hari ini tidak banyak pekerjaan ataupun rapat. Kalau iya, ia bisa terlambat karena harus melepas ikat kecil yang menghiasi rambutnya.​Alba menggeleng pelan. “Belum, Papa. Papa harus diam sampai semua selesai,” celoteh

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 236: Benci Tapi Tidak Tega

    ​Abel berbaring miring sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Malam makin pekat dan sunyi, suhu dingin seakan menyayat kulitnya yang tipis. Cairan bening dan asin mengalir dari ekor matanya.​“Mama, Papa, kalian di mana?” gumamnya pelan. Sudah hampir satu bulan ini Abel tidak dijenguk oleh kedua orang tuanya. Wanita itu hanya bisa bersuara pada diri sendiri tanpa bisa beraksi apa pun.​“Aku merindukan kalian. Tolong ke sini, Pa, Ma.” Abel memejamkan mata, tubuhnya bergetar pelan di bawah selimut.​Ia yang terbiasa bergaul dengan teman-temannya untuk belanja, duduk di kafe, dan jalan-jalan ke luar negeri, merasa menyesal karena tak pernah memiliki waktu untuk kedua orang tuanya.​Saking sibuknya Abel, ia memercayakan jodohnya pada orang tua. Berpikir bahwa Nicholas pasti bersedia menerimanya, tanpa perlu ia berusaha meluluhkan hati kepala keluarga Marquez itu.​Sekarang rasa percaya dirinya luntur tak bersisa. Ia yakin tuan muda dari keluarga mana pun tidak akan ada yang mau mener

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   ​Bab 235

    ​Isela hanya memerlukan waktu satu hari untuk observasi di rumah sakit. Setelahnya pun ia kembali pulang ke Mansion Marquez bersama putri kecilnya yang sehat.​Sepanjang perjalanan, Isela tersenyum lebar dan manis. Matanya menatap ke samping, ke arah di mana Nicholas duduk sambil memandangi putri kecil yang ada di tengah-tengah mereka.​“Aku tidak menyangka memiliki anak secantik ini.” Nicholas terpesona memandangi putrinya. Bahkan itu menjadi kegiatan baru yang menyenangkan. Tentu saja euforia menjadi ayah sangat berbeda. Ia merasa hidupnya lebih berwarna dan ada sesuatu yang dinantikan.​“Kapan dia bangun? Kenapa dia tidur terus? Seingatku selama hamil kamu tidak mengonsumsi obat tidur.” Nicholas mengetuk-ngetuk dagunya. Ia merasa heran karena sejak bayi itu dilahirkan, ia lebih sering tidur dibanding berinteraksi dengan orang tuanya. Padahal Nicholas berharap bisa mengobrol dan membuat bayinya tertawa, ya, seperti gambar keluarga bahagia yang dilihatnya di majalah.​Isela melirik m

  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 208 

    Galtero tampaknya cukup tahu diri. Setelah mereka berhubungan intim tadi, pria itu memberikan Sofia pil KB. Ia memerintah anak buahnya untuk membelinya di apotek.“Katanya kamu mau menghamiliku lagi?” ujar Sofia dengan nada setengah menggoda.Sambil mengeringkan rambutnya yang basah, Galtero menyen

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 218: Gunakan Mulutmu

    Alih-alih memeriksa CCTV seperti yang disindirkan oleh Nicholas, Isela lebih memilih mengendus apakah ada aroma asing di kaus suaminya. Dipungutnya pakaian kotor itu dari lantai. Tidak ada noda, tidak ada aroma mencurigakan.“Apa aku salah sudah mencurigainya?” gumam Isela, matanya melirik ke arah

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 212: Menyaksikan Adegan 21+

    Tahu kalau suaminya menyindir, tetapi ia merasa terlalu sayang untuk menanggapi celotehan Galtero itu. Bukan tanpa alasan tentunya bagi Sofia membela diri hanya untuk keluarga Marquez terlalu buang-buang waktu.Meskipun begitu, sebagai wanita ia menunjukkan sisi manjanya. Bibir agak tebalnya maju d

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Sentuhan Berbahaya Tuan Muda   Bab 215: Ditolak

    Beberapa hari setelahnya tepat sebelum Sofia dan Galtero kembali ke Barcelona, Nicholas, yang tak kunjung mendapat undangan dari adik iparnya, berinisiatif mengajak mereka sarapan bersama di toko roti milik Livy.“Apa kalian tidak bisa tinggal lebih lama di Madrid?” tanya Isela, menatap sendu pada

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status