MasukMidas tidak berhenti. Setelah keajaiban pertama terjadi, ia kembali bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Tangannya dingin namun pasti, jemarinya menekan titik nadi, menyesuaikan infus, memeriksa pupil mata, mendengarkan paru-paru. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua tindakannya berbicara sendiri.Setiap pasien yang disentuhnya menunjukkan perubahan nyata. Napas menjadi dalam dan teratur. Denyut jantung stabil. Warna kebiruan yang tadi membuat semua orang putus asa perlahan menghilang, digantikan rona segar yang mustahil disangkal. Beberapa pasien bahkan sudah mampu menggerakkan jari, menoleh, dan bertanya dengan suara lemah.Alma berdiri kaku di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Semua teori, semua ramuan, semua ambisi yang ia banggakan runtuh di depan matanya sendiri. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tenggorokannya terkunci. Tidak ada satupun alasan yang bisa ia ucapkan saat kenyataan menamparnya begit
Alma berdiri terpaku di depan deretan ranjang pasien. Monitor jantung berbunyi ritmis, namun baginya suara itu terdengar seperti hitungan mundur yang kejam. Wajah-wajah pucat terbaring tak berdaya, napas mereka bergantung pada alat dan keputusan yang pernah ia buat dengan penuh ambisi. Untuk pertama kalinya, Alma tidak merasa sebagai legenda, hanya seorang dokter yang kehabisan jawaban.Pintu terbuka pelan.Seorang suster masuk dengan langkah ragu. “Dokter Alma…,” suaranya bergetar. “Midas sudah datang. Bersama dokter Mita, Brian, Tomi, Jian, dan Ardi. Mereka berada di depan gerbang, tapi masih dihadang pengawal Tuan Akimoto.”Alma memejamkan mata. Dadanya naik turun, menahan sesak yang menekan tenggorokan. Nama itu… Midas yang kembali mengoyak harga dirinya, namun juga membawa harapan terakhir yang tidak ingin ia akui.Ia membuka mata perlahan.“Izinkan mereka masuk,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar jiwanya. “Sekarang.”Suster itu terkejut. “Tapi… pe
Alma masih duduk membeku di kamarnya, lampu redup menyorot wajahnya yang pucat dan tegang. Kedua tangannya terkatup kuat, kuku-kukunya menekan telapak hingga memerah, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara menahan pikirannya yang berantakan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.“TIDAAAK…!” teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan. “MIDAS!”Namanya meluncur dari bibir Alma seperti sumpah serapah. Ia berdiri mendadak, meraih vas di meja dan membantingnya ke lantai. Kaca pecah berserakan, namun amarahnya belum surut. Buku, dokumen, bingkai foto—semuanya dilempar tanpa arah. Kamarnya berubah menjadi medan perang kecil, cermin dari pikirannya yang hancur.“Aku ingin jadi yang paling hebat,” gumamnya parau. “Dokter paling hebat… bukan bayangan siapa pun.”Namun kalimat itu berakhir pahit. Ia tertawa singkat, getir. Semua usahanya runtuh. Ramuan gagal. Pasien mati. Dunia mulai meragukannya. Dan Midas—lelaki yang selalu menjadi bayang-bayang—kini berdiri jauh di atasnya.
Midas akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja laboratorium. Wajahnya pucat, sorot matanya lelah, namun tetap tenang. Ia menatap kamera terakhir yang masih menyala dan berkata dengan suara datar namun tegas, “Ramuan hampir selesai. Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Siaran ini dihentikan sampai tahap akhir.”Lampu indikator padam satu per satu. Live resmi ditutup, menyisakan keheningan yang terasa berat di ruangan itu.Begitu kamera mati, bahu Midas sedikit merosot, seolah seluruh beban dunia baru saja menekannya sekaligus. Saat itulah Mita melangkah cepat menghampirinya. Tanpa ragu, ia memeluk Midas erat, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu.“Kamu tidak sendirian,” bisik Mita lirih, suaranya bergetar menahan cemas. “Apa pun yang terjadi… aku di sini. Selalu.”Midas terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Hangat. Nyata. Sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.“Aku tahu tekanannya besar,” lanjut Mita sambil menatapnya, matanya be
Midas berdiri mematung di tengah laboratorium. Lampu putih memantul di permukaan baja, menciptakan kilau dingin yang menegaskan keheningan. Di balik dinding kaca, kamera siaran langsung menyorot setiap sudut ruangan. Jutaan mata menatapnya, menunggu, menuntut, menghakimi.Perkataan Toshiro bergaung di kepalanya seperti gema tak berujung. Jangan tunjukkan semua rahasia itu ke publik.Tak seorang pun berani berbicara. Tomi menahan napas. Jian menggenggam tepi meja hingga buku jarinya memucat. Brian dan Ardi berdiri kaku, seolah satu gerakan saja bisa memicu bencana. Mita menatap punggung Midas, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ditenangkan.Beberapa menit berlalu, terasa seperti jam. Lalu, Midas tersenyum.Senyum kecil, tenang, yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Ia melangkah maju, menatap deretan bahan yang telah ia pesan, yaitu cairan bening berlabel kode, serbuk mineral mikroskopis, larutan penetral, dan ampul-ampul steril yang tersusun simetris. Tangannya bergerak cekat
Alma masih berdiri membeku di tengah kerumunan. Bibirnya terkunci, pandangannya kosong, seolah semua suara telah menjauh. Hingga langkah sepatu kulit yang tegas memecah kebisuan.Akimoto muncul.Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Para wartawan terdiam sejenak, lalu gemuruh pertanyaan kembali membanjir lebih ganas. Namun Akimoto mengangkat tangan, satu gerakan sederhana yang memaksa semua orang menahan napas.Kerumunan wartawan kembali bergejolak saat Akimoto berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Kilatan kamera menyambar tanpa ampun, mikrofon hampir menempel ke wajahnya.“Tuan Akimoto!”“Benarkah virus J Blood berasal dari negara J?”“Jika negara J aman dan bersih, kenapa virus mematikan ini justru menyebar ke luar negeri?”Akimoto berhenti melangkah. Tatapannya dingin, menusuk, membuat beberapa wartawan refleks menelan ludah.“Apakah Anda menyangkal keterlibatan pemerintah negara J dalam pengembangan virus ini?” salah satu wartawan berani bertanya.Belum sempat Akimoto menj







