LOGINSebuah tuduhan Midas dapatkan ketika dia melakukan hal luar biasa. Sentuhan jemarinya yang bisa menyembuhkan seseorang yang sangat penting, justru malah membuatnya harus mendekam di penjara seumur hidup. Namun, seorang wanita misterius tiba-tiba membebaskannya. Satu hal yang ingin dia lakukan adalah mencari kebenaran dan membalas dendam, untuk membuatnya kembali menjadi 'Sang Legenda.'
View More“Heh, Otak Udang! Matamu buta ya? Tidak lihat rumah perlu dibereskan?”
Midas tidak menyahut mendengar teriakan itu. Namun, ia langsung datang sambil membawa plastik hitam besar dan membereskan kekacauan yang ada.
Malam semakin larut di kediaman keluarga Lupes. Mereka sekeluarga baru saja mengadakan pesta.
Anak lelaki pertama mereka telah diangkat menjadi dokter di rumah sakit terbaik International Hospital. Jelas saja mereka sangat senang. Untuk masuk ke sana tidaklah mudah. Hanya dokter pilihan dengan prestasi luar biasa yang dapat masuk ke sana.
Karena acara itu, tentu saja rumah sangat berantakan dan dipenuhi sampah.
"Jangan lupa semua baju yang berada di belakang. Lalu semua piring yang kotor. Cuci semua. Jangan sampai ada yang tersisa."
Midas hanya mengangguk mendengar perintah dari anak pertama keluarga itu, Brian, yang saat ini tengah mabuk.
Namun, saat ia hendak memasukkan semua sampah dan botol bir yang berserakan di depan kolam renang, Brian tiba-tiba saja menendangnya dengan keras hingga Midas jatuh ke kolam.
Byur!
"Haha! Kolam itu juga banyak sampahnya, tahu!” teriak Brian lagi. Tampaknya ia menikmati momen ketika ia bisa mengganggu Midas. "Kau menunggu perintahku ya? Kenapa aku harus memerintahmu? Seharusnya kau bisa mengerti tugasmu!"
"Hei, dia sudah berusaha. Lagi pula, rumah ini sebesar lapangan. Mana bisa dia mengerjakan sendiri?" Adik Brian tidak tahan melihat ini. Dia mendorong kakaknya dengan kasar.
"Hei, aku ini membayarnya. Bukankah dia membutuhkan uang untuk hidup? Ibu memang bodoh sudah memungutnya di jalanan. Seharusnya dia tahu posisinya di rumah ini." Brian tersenyum sinis. Dia tidak menerima pendapat dari adiknya yang berusaha membantu Midas naik ke permukaan.
"Benar kan, Midas?" Brian terus berteriak kepada Midas yang masih memunguti sampah dengan basah kuyup.
Sang adik hanya bisa menggelengkan kepala melihat kejadian ini. Dia mendekati Midas dan menepuk pundaknya. "Biarkan saja pelayan yang melakukan ini." Ardi menarik tangan Midas, "jika kau membutuhkan sesuatu, kabari aku."
"Terima kasih, Ardi." Midas menoleh dan tersenyum setelah menjawabnya. Namun, Midas tetap melanjutkan tugasnya. Mau bagaimana lagi. Nyonya rumah di sana sudah membantunya untuk tetap hidup. Dia sangat paham posisinya.
"Aku beritahu padamu. Kau tidak perlu berbaik hati kepadanya. Dia dipungut di jalanan. Kita sudah berbaik hati selama ini. Permasalahan yang dialami Midas, apa kau bisa membantunya? Hei, dia ini mantan narapidana." Brian masih tidak menyerah, "jika bukan karena kita, bagaimana dia bertahan hidup?"
"Hentikan omong kosong itu!" teriak Ardi.
"Sudahlah." Midas menarik lengan Ardi sambil menggelengkan kepala. "Beristirahatlah. Besok kau harus bekerja."
Dalam keadaan kesal, Ardi meninggalkan mereka. Brian tertawa keras dan puas dengan dirinya.
"Kau sebaiknya melakukan tugasmu dengan baik. Jika tidak, aku akan menghajarmu."
"Tuan Brian. Nyonya sesak napas!" Tiba-tiba salah satu pelayan di sana berteriak.
"Bawa peralatanku ke kamarnya!"
Brian bergegas menuju kamar ibunya dengan panik. Midas melempar kresek sampah yang semula dia pegang begitu saja, kemudian berlari mengikuti Brian. Terlihat semua orang berkumpul di dalam dengan panik.
"Brian, kau dokter terbaik. Lakukan sesuatu!" teriak Ardi.
"Diam! Biarkan aku bekerja." Brian segera membuka peralatan dokternya setelah pelayan memberikannya. Dengan cekatan dia memeriksa ibunya.
Midas menatap tajam Brian. Dia mengepalkan kedua tangannya. 'Tidak! Bukan seperti itu cara dia memeriksa Nyonya.' Midas semakin mengatur getaran jantungnya yang berdetak hebat. Apalagi melihat wanita yang sudah membantunya hidup malah tidak bisa bernapas.
"Brian! Apa-apa'an ini?!" Ardi menarik lengan saudaranya. Dia sangat marah sambil menunjuk ibunya yang semakin melotot dan tidak bisa bernapas.
"Kau dokter terbaik. Apa ini hasilnya? Kau bisa memeriksa atau tidak!"
"Diam! Aku masih melakukan tugasku." Brian tak mau menyerah. Dia terus memeriksa ibunya.
'Seharusnya dia tidak menekan kanan jantungnya. Itu akan membuatnya malah mati!' Midas ingin melangkah maju dan menghentikan itu. Tapi, bagaimana bisa?
"Panggil ambulan!" Brian menyerah dan berdiri. Mendengar hal itu, Ardi segera memanggil ambulan.
"Kau mabuk dan tidak becus! Pergi dan bersihkan dirimu!" Ardi sangat marah. Dia mendorong Brian keluar kamar.
"Aku tidak bisa memeriksa karena tidak memiliki alat. Di rumah sakit aku akan menyembuhkan Ibu." Brian memegang kepalanya. Dia berjalan mondar-mandir kebingungan sampai ambulan datang.
Ardi berlari menuju kamar bersama Brian setelah para petugas masuk ke dalam. Namun, apa ini? Sang ibu memegang telapak tangan Midas dan tersenyum? Beliau dapat bernapas dengan sangat baik.
Mereka berdiri kaku. Tidak percaya dengan penglihatan mereka. Kakak adik itu sama-sama berjalan mendekati ranjang.
"Di mana pasien?" tanya salah satu petugas ambulan yang berada di belakang mereka.
"Aku baik-baik saja. Kalian pergilah," balas Nyonya Lupes dengan tersenyum ke arah beberapa petugas ambulan yang berdiri di samping pintu kamar.
Aneh. Nyonya seketika baik-baik saja. Bahkan, terlihat segar? Brian segera memeriksanya kembali. Midas pun menyingkir karena mendapat pelototan tajam dari Brian.
Ardi yang merasa bersalah, dalam diam mengantar para petugas ambulan untuk meninggalkan rumah. Tentu saja dia meminta maaf dan memberikan beberapa lembar uang.
"Lihatlah. Tentu saja aku memeriksanya dengan benar," ucap Brian tersenyum menatap Ardi yang kini terdiam saat kembali masuk ke dalam kamar. Dia malu karena sudah memaki kakaknya tadi.
"Aku dokter terbaik. Lihatlah. Ibu sangat sehat," lanjut Brian lalu pergi dari sana. Dia berjalan sambil memicingkan mata ke arah Ardi.
Brian terus berjalan dengan cepat dan berpikir, "Kenapa Ibu mendadak baik? Padahal aku tidak melakukan apa pun," gumamnya kemudian mengambil rokok dan menyalakannya saat sampai di halaman belakang rumah.
Di dalam kamar, Lupes semakin tersenyum melihat Ardi mendekat.
"Midas, biarkan ibuku beristirahat." Ardi mendekati ibunya dan tersenyum. "Jika Ibu membutuhkan sesuatu, tekan tombol pemanggil."
"Yah. Ibu memang membutuhkan istirahat." Wanita itu tersenyum saat Ardi mengecup keningnya. Dia pun melambai ke arah Midas, "kau sangat berantakan. Istirahat dan tidur."
"Baik, Nyonya."
Ketika Midas sudah selesai dengan pekerjaannya dan ingin ke kamar, Brian berteriak, "Midas! Aku mau bir dan rokok. Belikan aku seperti biasanya!"
"Tapi ini sudah tengah malam." Wajah Midas mengerut. Menunjukkan protes.
"Diam keparat! Aku akan memberimu lebih!" Brian melempar beberapa lembar uang tepat mengenai wajah Midas.
"Baiklah." Midas memunguti uang itu dan berjalan keluar dari kediaman.
"Dasar penjahat. Makan kotoran pun kau pantas."
Midas mendengar ejekan Brian. Dia hanya menghela napas. Tidak ada yang salah dengan ucapan itu. Dirinya memang orang tidak bermartabat dan miskin.
Midas segera berlari menuju supermarket yang buka 24 jam. Walaupun jauh dari lokasi kediaman, Midas harus melakukan perintah itu.
Dia bergegas menyeberang. Jalanan sangat sepi. Namun, tak lama seorang wanita memakai blazer hitam dan rok pendek berlari mendekatinya. Dia tidak sendiri. Ada beberapa pria garang berjas hitam di belakang wanita itu.
"Ah, syukurlah. Aku akhirnya bisa menemukanmu," ucap si wanita sambil menarik napas panjang.
"Dokter Midas. Waktunya Anda kembali."
Midas tidak berhenti. Setelah keajaiban pertama terjadi, ia kembali bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain dengan ketenangan yang hampir menakutkan. Tangannya dingin namun pasti, jemarinya menekan titik nadi, menyesuaikan infus, memeriksa pupil mata, mendengarkan paru-paru. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Semua tindakannya berbicara sendiri.Setiap pasien yang disentuhnya menunjukkan perubahan nyata. Napas menjadi dalam dan teratur. Denyut jantung stabil. Warna kebiruan yang tadi membuat semua orang putus asa perlahan menghilang, digantikan rona segar yang mustahil disangkal. Beberapa pasien bahkan sudah mampu menggerakkan jari, menoleh, dan bertanya dengan suara lemah.Alma berdiri kaku di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Semua teori, semua ramuan, semua ambisi yang ia banggakan runtuh di depan matanya sendiri. Ia ingin bicara, ingin membantah, namun tenggorokannya terkunci. Tidak ada satupun alasan yang bisa ia ucapkan saat kenyataan menamparnya begit
Alma berdiri terpaku di depan deretan ranjang pasien. Monitor jantung berbunyi ritmis, namun baginya suara itu terdengar seperti hitungan mundur yang kejam. Wajah-wajah pucat terbaring tak berdaya, napas mereka bergantung pada alat dan keputusan yang pernah ia buat dengan penuh ambisi. Untuk pertama kalinya, Alma tidak merasa sebagai legenda, hanya seorang dokter yang kehabisan jawaban.Pintu terbuka pelan.Seorang suster masuk dengan langkah ragu. “Dokter Alma…,” suaranya bergetar. “Midas sudah datang. Bersama dokter Mita, Brian, Tomi, Jian, dan Ardi. Mereka berada di depan gerbang, tapi masih dihadang pengawal Tuan Akimoto.”Alma memejamkan mata. Dadanya naik turun, menahan sesak yang menekan tenggorokan. Nama itu… Midas yang kembali mengoyak harga dirinya, namun juga membawa harapan terakhir yang tidak ingin ia akui.Ia membuka mata perlahan.“Izinkan mereka masuk,” ucapnya dengan suara berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar jiwanya. “Sekarang.”Suster itu terkejut. “Tapi… pe
Alma masih duduk membeku di kamarnya, lampu redup menyorot wajahnya yang pucat dan tegang. Kedua tangannya terkatup kuat, kuku-kukunya menekan telapak hingga memerah, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara menahan pikirannya yang berantakan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.“TIDAAAK…!” teriaknya tiba-tiba, memecah keheningan. “MIDAS!”Namanya meluncur dari bibir Alma seperti sumpah serapah. Ia berdiri mendadak, meraih vas di meja dan membantingnya ke lantai. Kaca pecah berserakan, namun amarahnya belum surut. Buku, dokumen, bingkai foto—semuanya dilempar tanpa arah. Kamarnya berubah menjadi medan perang kecil, cermin dari pikirannya yang hancur.“Aku ingin jadi yang paling hebat,” gumamnya parau. “Dokter paling hebat… bukan bayangan siapa pun.”Namun kalimat itu berakhir pahit. Ia tertawa singkat, getir. Semua usahanya runtuh. Ramuan gagal. Pasien mati. Dunia mulai meragukannya. Dan Midas—lelaki yang selalu menjadi bayang-bayang—kini berdiri jauh di atasnya.
Midas akhirnya menegakkan tubuhnya dari meja laboratorium. Wajahnya pucat, sorot matanya lelah, namun tetap tenang. Ia menatap kamera terakhir yang masih menyala dan berkata dengan suara datar namun tegas, “Ramuan hampir selesai. Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Siaran ini dihentikan sampai tahap akhir.”Lampu indikator padam satu per satu. Live resmi ditutup, menyisakan keheningan yang terasa berat di ruangan itu.Begitu kamera mati, bahu Midas sedikit merosot, seolah seluruh beban dunia baru saja menekannya sekaligus. Saat itulah Mita melangkah cepat menghampirinya. Tanpa ragu, ia memeluk Midas erat, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu.“Kamu tidak sendirian,” bisik Mita lirih, suaranya bergetar menahan cemas. “Apa pun yang terjadi… aku di sini. Selalu.”Midas terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu. Hangat. Nyata. Sesuatu yang selama ini jarang ia rasakan.“Aku tahu tekanannya besar,” lanjut Mita sambil menatapnya, matanya be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore