Share

Bab 55

Penulis: Saggyryes
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 03:57:24

"Iya..." jawab Andini, singkat.

Seperti biasa ia malas menghadapi perempuan yang sedang tergila-gila dengan seorang laki-laki.

Terlebih, ia tidak memiliki perasaan dan hubungan apapun dengan laki-laki tersebut. Meladeni perempuan seperti Maya baginya hanya membuang waktu dan tenaga saja.

Dila melihat ke arah Andini. Saat ini, ia tidak melakukan apapun dan menunggu respon Andini terlebih dahulu.

Ia sengaja melakukan hal tersebut karena khawatir salah dalam berucap ataupun bertindak, sehingga melakukan kesalahan dan membuat Andini marah.

Maya tersenyum menang. Meski di hatinya sedikit kecewa karena respon Andini sangat biasa. Tidak seperti yang ia harapkan.

"Dasar perempuan muda zaman sekarang! Nggak ada sopan santunnya sama orang yang lebih dewasa!" gumam Maya pelan. Tapi, masih bisa didengar oleh Andini dan Dila.

Andini tidak menanggapi ucapan Maya karena sedang fokus menatap layar laptop.

Saat ini, ia sedang membuat jadwal yang akan Satria jalani besok. Ia tidak mau ada kesala
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 87

    "Istri?!" Andini membulatkan matanya. Satria terkekeh. "Saya cuma becanda. Tapi, kalau kamu udah siap sih, aku seneng banget.""Apaan sih, bikin kaget aja.." ucap Andini, sambil mengerucutkan mulutkan. Ia takut Satria menagih janjinya waktu itu. Jujur, saat ini ia masih belum siap untuk menjalani pernikahan. Terlebih, status sosial antara dirinya dan Satria terlampau jauh. Selain takut ketahuan Siska, ia juga khawatir banyak orang yang menentang hubungan mereka. "Kok kaget sih? Ayolah, An... saya sudah tidak sabar untuk bisa bersama kamu setiap hari." tanya Satria, ia mulai merajuk. "Saya ingin disiapkan makanan, pakaian, atau hal lainnya dan disambut sama kamu setiap waktu. Bukan hanya di kantor, An..." lanjutnya. Andini terkekeh. "Masa sih? Bukannya maksud kamu mau melakukan itu setiap waktu?"Satria nyengir, "Kalau itu sih nggak usah kamu tanyain lagi, kamu lebih paham dibandingkan diri saya sendiri." "Jadi, gimana? Karena saya harus segera mengurus kontrak kerja kamu, An."

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 86

    "Ah...." renguh Andini. Tanpa sadar, ia menarik rambut Satria karena menikmati hentakkan demi hentakkan yang Satria lakukan dibawah sana.Semakin lama, kenikmatan yang Satria berikan semakin membuat Andini terbuai dan selalu ingin berlama-lama dengannya. Satria memangut bibir Andini lagi, lalu beralih ke puncak dadanya yang makin mengeras karena kenikmatan yang ia berikan. Ia menggigit gemas puncak tersebut hingga membuat si empunyanya meringis. "Pelan... Om.. " ucap Andini sambil mengejang nikmat saat cairan kenikmatan keluar dari bagian intinya untuk kesekian kali. "Ah... Enak banget.." Racau Andini. Satria tersenyum menang. Seolah Ia sudah mengalahkan Andini berkali-kali.Kini, Andini merosot ke bawah. Ia ingin mengulum bagian inti Satria yang besar dan keras. Bagian yang selalu membuatnya ketagihan."Jangan An.. " ucap Satria menahan Andini. "Tadi kan saya udah masukkin ke dalam." lanjutnya. "Nggak apa-apa sayang... " ucap Andini seraya memohon karena ingin menikmatinya lag

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 85

    "Iya sih.. " jawab Andini. 'Benar juga kata Tante. Apalagi sekarang Satria adalah salah satu orang terdekat yang tidak lain adalah kekasihku.' batin Andini. Ia terkikik dalam hati. 'Aku nggak bisa langsung ambil keputusan sendiri begitu aja.'Andini bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya dan segera mengirim pesan kepada Satria. Saat ia selesai menekan tombol kirim, ponselnya mulai bergetar. Nomor yang tertera bukanlah nomor yang ia kenal. Ia mencoba menimbang, lalu akhirnya mengangkat panggilan telpon tersebut. "Halo, siapa ini?" tanya Andini dengan kening berkerut. "Apa benar, ini nomor.. Andini Larasati?!" tanya seorang perempuan dengan suara paraunya yang khas. Masih terdengar isakkan tangis disela-sela suaranya saat ia berbicara. Alis sebelah kanan Andini naik. "Iya, benar. Ini siapa, ya?" tanya Andini sambil berjalan kembali menuju sofa panjang dimana Cinta dan Siska berada. Seper

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 84

    "Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang perusahaan properti kepada Dion dan membuatnya seperti sekarang?"Raya mengangguk lemah. "Tapi bukannya berterima kasih, dia malah menusuk kami dari belakang. Apa menurut Tante, orang seperti itu harus mendapatkan bekas kasih dari kami?!" tanya Satria. "Tapi, Sat.. Saya yakin ada alasan khusus kenapa Dion bersikap seperti itu. Terlebih, saya yakin kalau sebenarnya... Dion nggak pernah melakukan korupsi atau penyelewengan apapun." tutur Raya. "Pasti ada kesalahan, Sat. Ada orang yang ingin menjebak Dion dengan data yang tidak benar dan membuatnya ke luar dari perusahaan ini secara paksa."'Tebakan yang tepat, Tan! Tapi sayang, semua itu sudah aku sulap seperti nyata!' batin Satria. 'Sekara

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 83

    "Sebenarnya..." Andini melirik ke arah Siska. "Sebenarnya apa, An? Kok jawabnya ngegantung gitu sih?" tanya Cinta."Sebenarnya, aku cuma memar pada bagian kening dan kaki aja Tan, nggak ada cedera serius." jawab Andini jujur.Cinta mengerutkan kening"Terus, kenapa kamu harus dirawat dan bermalam di rumah sakit kalau nggak ada yang serius, An?" "Ini karena.. Pak Satria dan Siska khawatir dengan kondisi aku, Tan. Jadi, mereka meminta aku untuk beristirahat disini selama satu atau dua malam." "Iya, Tan. Kami berfikir, ini mungkin bisa jadi salah satu cara untuk mengurangi trauma dalam diri Andini. Karena setelah kejadian, Andini sempat nggak sadarkan diri." Siska menjelaskan "Pas nggak sadarkan diri, ia menangis dan tubuhnya demam. Makanya, kami khawatir dan meminta Andini dirawat di sini untuk menenangkan hati dan pikirannya, Tan." lanjutnya. Cinta membulatkan mata, ia tidak menyangka Andini yang begitu kuat dimatanya bisa menjadi seperti itu. Dengan cepat, Cinta berjalan mengha

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 82

    "Raya... " gumam Cinta. Ia melihat ke arah Andini sekilas, seolah meminta persetujuan. Dengan cepat, Andini mengangguk menyetujui. Cinta kembali melihat layar ponsel dan segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. "Jadi, gimana Ibu Cinta, apa Andini berkenan mencabut gugatan itu?" tanya Raya, penuh harap. "Maaf Bu Raya, Andini tetap akan menjalani gugatan yang telah dilayangkan untuk Dion." jawab Cinta. Meski hatinya sangat kesal dengan Dion, tapi Cinta tidak bisa bersikap dan bertutur kata tidak sopan kepadanya. Bagaimanapun, sikap dan perilakunya, tak terkecuali yang terucap dari mulutnya merupakan cermin pribadi yang selalu memberikan dampak besar bagi Andini. Jadi, meski ia kesal, ia selalu berusaha maksimal untuk mengontrol emosinya. Terdengar isakan tangis dari balik ponsel Cinta. Ia yakin, kali ini, Raya sedang menangis meratapi kemalangan yang menimpa anak semata wayangnya karena ulahnya sendiri. "Maaf Ibu Cinta, a-apa Andini tidak bisa dibujuk Bu? Saya... " ucap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status