LOGINElang Nugraha, 28 tahun. Dokter bedah paling dingin di Elite Medical Hospital. Dia terlibat dengan seorang dokter residen cantik dan pemalu yang selalu menganggap dirinya rendah. Seiring berjalannya waktu, mereka terus bertemu. Siapa yang akan menyangka kalau Elang diam-diam sudah menyukai perempuan itu dari jaman mereka masih kuliah.
View MoreElite Medical Hospital.
Seorang laki-laki tampan dengan kharisma yang membuat banyak perempuan tergila-gila itu masuk ke dalam aula pesta. Ia mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jas dokter miliknya. Semua dokter dan staf tidak diijinkan berdandan ala pesta karena setelah itu mereka masih lanjut kerja menghadapi pasien. Paling-paling yang datang dengan dandanan pesta hanyalah para tamu undangan. Meski begitu laki-laki tersebut tampak begitu rapi dan menawan. Ruangan yang ia masuki adalah aula khusus yang di buat untuk penyelenggaraan acara seperti pesta ulang tahun, penyambutan dan lain-lain. Aula tersebut di dirikan dengan ukuran yang terbilang sangat besar, bahkan bisa menampung lima ribu orang di dalamnya. Rumah sakit ini milik keluarga sahabatnya, Dean. Memang rumah sakit mewah yang terbilang sangat lengkap. Fasilitasnya tidak main-main. Tapi tentu saja, menyelamatkan pasien adalah nomor satu. Lampu-lampu kristal bergemerlapan, meja-meja bundar di tata rapi dengan dekorasi bunga segar, dan pelayan mondar-mandir membawa nampan berisi jenis-jenis minuman. Kemunculannya membuat beberapa staf rumah sakit melirik ke arahnya. Para dokter dan perawat wanita tampak berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah pria bernama lengkap Elang Nugraha itu. Siapa yang tidak tahu nama Nugraha? Salah satu keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. "Lihat-lihat, dokter Elang astaga tampan sekali. Kenapa bisa ada laki-laki setampan itu ya?" Seorang perawat perempuan yang berdiri bersama teman-temannya angkat suara. Elang berjalan santai ke arah meja utama tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang menatapnya. Namun belum mencapai tujuannya, seorang anak kecil yang entah muncul dari mana berlari melewatinya sambil tertawa kencang, di ikuti dengan seorang wanita berpakaian dokter yang tidak sengaja menginjak sesuatu di lantai hingga badannya oleng dan ... Bukkk! Wanita itu hampir saja jatuh ke lantai kalau Jason tidak cepat-cepat menangkap tubuhnya. Posisi mereka sangat dekat, tangan Elang memeluk pinggang ramping wanita itu. Tatapan mereka bertemu, dan Elang langsung mengenalinya. Zoey Green, dokter residen di rumah sakit ini. Baru bekerja setahun. Elang dapat melihat jelas wajah kaget dan malu dari wajah cantik itu. Ya, bagi Ethan dia cantik. Dan lugu. Para perempuan yang berada di aula pesta iri sekali melihat pemandangan itu. "Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus dokter residen itu sih? Jangan-jangan dia memang sengaja lagi." "Pasti sengaja. Dia memang terkenal gonta-ganti laki-laki dan sering keluar masuk club kan?" "Wajahnya polos, sayang sekali hatinya tidak begitu. Suara itu tidak sampai di telinga dokter Elang dan Zoey. Tapi Zoey tahu mereka pasti sedang membicarakan dia. Ia berusaha lepas dari laki-laki yang masih memeluk Erat pinggangnya dan terus menatapnya. Malu sekali rasanya menjadi bahan perhatian begini. "Do-dokter, bisa di lepas?" suara Zoey bergetar pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan di keramaian aula. Elang sedikit tersadar. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Zoey perlahan mengendur, namun tatapannya belum juga lepas dari wajah wanita itu. Seolah ada sesuatu yang membuatnya enggan berpaling. Sesaat kemudian, ia kembali memasang tampang datarnya. "Kau terlalu ceroboh." kata itu keluar pelan dari Elang. Zoey buru-buru berdiri tegak, merapikan jas dokternya yang sedikit kusut. Wajahnya masih memerah, entah karena hampir jatuh atau karena puluhan pasang mata yang masih memperhatikan mereka. "La-lantainya terlalu licin." ucap Zoey malu-malu. Elang hendak bicara lagi, namun seseorang memanggil namanya. "Elang," Seorang wanita dan pria yang mengenakan jas yang sama dengan mereka. Dean dan Audrey. Temannya sejak dia kuliah. Dia hanya dekat dengan Dean, tapi Audrey selalu muncul seakan akrab dengan mereka juga. "Kau baru datang tapi sudah membuat drama dengan ..." Dean menertawai Elang sambil matanya menatap ke Zoey yang menundukkan wajahnya. "Zoey?" Zoey mengangkat wajahnya menatap Dean, lalu memaksakan senyum. Dalam hati dia merutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya ceroboh sampai harus berhadapan dengan orang-orang populer kampus ini. Pertama, Elang Nugraha. Siapa yang tidak kenal? Putra tunggal dari konglomerat ternama. Keluarganya memiliki perusahaan besar yang bergerak di bidang farmasi. Sekarang dia menjabat sebagai dokter bedah terbaik. Usianya masih terbilang muda. Namun namanya sering di sebut oleh para dokter senior. Kedua, Dean. Direktur rumah sakit ini sekaligus sahabat dekat Elang dari SD. Rumah sakit ini milik keluarga Dean, dan orangtua Elang adalah investor utama. Ketiga, Audrey. Dokter spesialis yang dikenal tidak hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena pesonanya yang sulit diabaikan. Banyak yang mengatakan, jika ada perempuan yang pantas berdiri di sisi Elang, maka Audrey adalah orangnya. Zoey merasa seperti orang kecil berada di antara mereka. Ia bahkan bisa merasakan keberadaannya di dekat mereka sama sekali tidak di sukai. Terutama oleh dokter Audrey. "Kau, bukankah aku menyuruhmu menjaga pasien? Kenapa malah ada di sini?" Audrey angkat suara menatap Zoey tajam. Dia makin tidak suka karena tadi melihat betapa dekatnya posisi perempuan itu dengan Elang yang diam-diam dia suka. Ia bahkan tidak pernah sedekat itu dengan Elang. Zoey menunduk. "Maaf dok, anak tadi ..." "Jangan cari-cari alasan! Kau selalu seperti itu. Kerja tidak becus. Kau pikir aku tidak tahu semua orang di bangsal lantai 2 sering membicarakanmu? Kalau tidak mau serius jadi dokter, jangan kerja di sini!" Zoey tertunduk malu. Audrey memang bukan atasan langsungnya. Tapi posisi perempuan itu jauh di atasnya. Dia mau suruh-suruh apa, tidak mungkin Zoey menolak bukan? Apalagi dia memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. "Audrey, jangan terlalu galak. Lihat, dia ketakutan." Dean angkat suara. Elang juga tampak tidak suka dengan sikap kasar Audrey. Apalagi mereka sedang di depan umum. "Tapi dia memang selalu membuat kesalahan. Kalau aku tidak menegurnya sekarang dia ..." "Menegur boleh, tapi kau harus pastikan dia memang bersalah atau tidak. Dan itu bukan di lakukan di depan umum." Elang ikut bicara. Dingin, tanpa menatap Audrey. Audrey terdiam. Berbeda dengan Zoey yang sedikit kaget karena laki-laki sedingin Elang secara tidak langsung sedikit membelanya. "Sudah-sudah. Jangan merusak pesta ulang tahun rumah sakit ini. Apalagi Zoey ini termasuk junior kita. Aku sudah membaca data-datamu. Ternyata kau juga lulusan Apex Medical University." Zoey mengangguk. "Bagaimana rasanya bekerja di rumah sakit ini?" Tanya Dean lagi. Elang diam-diam menatap dari ujung matanya. "Mm, baik dok." Dean tersenyum. "Jangan kaku begitu. Jangan pikirkan pekerjaan dulu, tetaplah di sini. Nikmati saja pestanya. "Tapi Dean, dia ..." Audrey angkat suara keberatan. "Aku direktur rumah sakit Audrey. Jangan mengaturku." Audrey terdiam lagi. Dalam hatinya dia kesal sekali.Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung.
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan membungkuk di depannya. Wajahnya tepat datar dan aura dinginnya mendominasi. Para tamu lain sudah keluar aula, banyak yang masih syok tapi ada juga yang lebih syok melihat aksi dokter Elang memukuli seorang tamu laki-laki demi membela perempuan. Dan perempuan itu malah dokter residen yang namanya sudah jelek di rumah sakit ini. Lutut kiri Elang bertumpu di lantai. Pandangannya lurus ke depan, menatap Zoey. "Kau bisa berdiri sendiri?"Zoey belum menjawab. Masih syok dan kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Entahlah. "Hey," Laki-laki di depannya kembali bicara. Zoey bergeming lalu berusaha berdiri sendiri namun tubuhnya hampir limbung. Elang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Lagi-la
Salah satu pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu, melangkah maju. Dengan suara lantang dia berteriak, "SEMUANYA TETAP DIAM DI TEMPAT! JIKA ADA YANG MENCOBA BERTINDAK BODOH, KAMI TIDAK SEGAN-SEGAN MENEMBAK!"DOR!Satu tembakan lagi tembak ke langit-langit aula. Orang-orang makin panik. Elang yang kini berada di sudut lain ruangan itu tetap tenang meski ekspresinya serius. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, saat dulu dia ikut sekolah militer. Dia pernah sekolah militer dua tahun, tentu berhadapan dengan pistol dan orang-orang jahat itu bukan hal yang biasa. Matanya kembali melirik ke meja tempat Zoey berada. Dia harus melindungi gadis itu. "KAU! MERUNDUK BRENGSEK!"Orang-orang di depan sana menunjuknya dan berteriak kasar. Ah, sepertinya hanya perampok biasa. Jason hanya mendongak dengan tatapan dingin ketika salah satu perampok itu mengarahkan senjata ke arahnya. Ia sama sekali tidak bergerak panik seperti tamu-tamu lain yang masih bersembunyi di balik meja dan k
Pesta terus berlanjut. Ketua rumah sakit, alias ayahnya dokter Dean sedang berpidato di depan. Semua orang menatapnya serius. Zoey memilih berdiri di bagian paling belakang yang tidak terlihat oleh siapa pun. Terakhir kali ia menghadiri pesta seperti ini waktu jaman kuliah. Sesekali pandangannya akan mencuri-curi pandang ke depan, ke tempat dokter Elang berdiri bersama dokter Dean dan Audrey. Si paling populer bahkan saat mereka di kampus. Saat pertama kali Zoey menjadi mahasiswi, ia masih sempat melihat orang-orang itu. Walau waktunya tidak lama karena mereka adalah mahasiswa pascasarjana yang sebentar lagi selesai. Zoey masih ingat dengan jelas bagaimana suasana kampus saat itu. Nama Elang Nugraha, Dean, dan Audrey hampir selalu jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya karena mereka pintar, tapi juga karena pengaruh, prestasi, dan … kehidupan mereka yang terlihat begitu sempurna.Sedangkan Zoey?Ia hanya mahasiswi biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.