Compartir

Bab 58

Autor: Saggyryes
last update Última actualización: 2026-01-01 03:10:17

"Berhenti!" tegas Andini.

Ia melepas ciuman secara tiba-tiba dan pergi berlari meninggalkan Dion begitu saja.

Dion tersenyum. Ia memegang bibirnya dengan tangan kanan. Masih terasa aroma strawberry dan rasa manis di sana.

"Akhirnya, aku bisa mencium bibir mungil Andini. Seberjalannya waktu, mungkin bisa lebih dari itu." ucapnya yakin.

Netra Dion berjalan memperhatikan Andini dari kejauhan. Tidak ada sedikitpun terbesit niat untuk mengejar Andini.

Ia sengaja memberi waktu pada Andini. Agar Andini bisa berfikir lebih dalam mengenai informasi yang baru saja ia rancang.

Sadar akan kesalahan fatal yang baru saja dia lakukan, Andini berlari cukup kencang. Ia mengambil kunci motor dan bergegas mengendarainya.

"An, kamu dari mana? Kok mata kamu sembab gitu?" tanya Agung Rahadian, yang tidak lain adalah pamannya. Saat ia baru saja sampai.

Tadi, Agung melihat Andini setelah selesai memarkirkan motor dan sengaja menunggunya.

"Nggak apa-apa, Om. Aku masuk duluan ya." jawab Andini. Ia ber
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 87

    "Istri?!" Andini membulatkan matanya. Satria terkekeh. "Saya cuma becanda. Tapi, kalau kamu udah siap sih, aku seneng banget.""Apaan sih, bikin kaget aja.." ucap Andini, sambil mengerucutkan mulutkan. Ia takut Satria menagih janjinya waktu itu. Jujur, saat ini ia masih belum siap untuk menjalani pernikahan. Terlebih, status sosial antara dirinya dan Satria terlampau jauh. Selain takut ketahuan Siska, ia juga khawatir banyak orang yang menentang hubungan mereka. "Kok kaget sih? Ayolah, An... saya sudah tidak sabar untuk bisa bersama kamu setiap hari." tanya Satria, ia mulai merajuk. "Saya ingin disiapkan makanan, pakaian, atau hal lainnya dan disambut sama kamu setiap waktu. Bukan hanya di kantor, An..." lanjutnya. Andini terkekeh. "Masa sih? Bukannya maksud kamu mau melakukan itu setiap waktu?"Satria nyengir, "Kalau itu sih nggak usah kamu tanyain lagi, kamu lebih paham dibandingkan diri saya sendiri." "Jadi, gimana? Karena saya harus segera mengurus kontrak kerja kamu, An."

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 86

    "Ah...." renguh Andini. Tanpa sadar, ia menarik rambut Satria karena menikmati hentakkan demi hentakkan yang Satria lakukan dibawah sana.Semakin lama, kenikmatan yang Satria berikan semakin membuat Andini terbuai dan selalu ingin berlama-lama dengannya. Satria memangut bibir Andini lagi, lalu beralih ke puncak dadanya yang makin mengeras karena kenikmatan yang ia berikan. Ia menggigit gemas puncak tersebut hingga membuat si empunyanya meringis. "Pelan... Om.. " ucap Andini sambil mengejang nikmat saat cairan kenikmatan keluar dari bagian intinya untuk kesekian kali. "Ah... Enak banget.." Racau Andini. Satria tersenyum menang. Seolah Ia sudah mengalahkan Andini berkali-kali.Kini, Andini merosot ke bawah. Ia ingin mengulum bagian inti Satria yang besar dan keras. Bagian yang selalu membuatnya ketagihan."Jangan An.. " ucap Satria menahan Andini. "Tadi kan saya udah masukkin ke dalam." lanjutnya. "Nggak apa-apa sayang... " ucap Andini seraya memohon karena ingin menikmatinya lag

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 85

    "Iya sih.. " jawab Andini. 'Benar juga kata Tante. Apalagi sekarang Satria adalah salah satu orang terdekat yang tidak lain adalah kekasihku.' batin Andini. Ia terkikik dalam hati. 'Aku nggak bisa langsung ambil keputusan sendiri begitu aja.'Andini bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya dan segera mengirim pesan kepada Satria. Saat ia selesai menekan tombol kirim, ponselnya mulai bergetar. Nomor yang tertera bukanlah nomor yang ia kenal. Ia mencoba menimbang, lalu akhirnya mengangkat panggilan telpon tersebut. "Halo, siapa ini?" tanya Andini dengan kening berkerut. "Apa benar, ini nomor.. Andini Larasati?!" tanya seorang perempuan dengan suara paraunya yang khas. Masih terdengar isakkan tangis disela-sela suaranya saat ia berbicara. Alis sebelah kanan Andini naik. "Iya, benar. Ini siapa, ya?" tanya Andini sambil berjalan kembali menuju sofa panjang dimana Cinta dan Siska berada. Seper

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 84

    "Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang perusahaan properti kepada Dion dan membuatnya seperti sekarang?"Raya mengangguk lemah. "Tapi bukannya berterima kasih, dia malah menusuk kami dari belakang. Apa menurut Tante, orang seperti itu harus mendapatkan bekas kasih dari kami?!" tanya Satria. "Tapi, Sat.. Saya yakin ada alasan khusus kenapa Dion bersikap seperti itu. Terlebih, saya yakin kalau sebenarnya... Dion nggak pernah melakukan korupsi atau penyelewengan apapun." tutur Raya. "Pasti ada kesalahan, Sat. Ada orang yang ingin menjebak Dion dengan data yang tidak benar dan membuatnya ke luar dari perusahaan ini secara paksa."'Tebakan yang tepat, Tan! Tapi sayang, semua itu sudah aku sulap seperti nyata!' batin Satria. 'Sekara

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 83

    "Sebenarnya..." Andini melirik ke arah Siska. "Sebenarnya apa, An? Kok jawabnya ngegantung gitu sih?" tanya Cinta."Sebenarnya, aku cuma memar pada bagian kening dan kaki aja Tan, nggak ada cedera serius." jawab Andini jujur.Cinta mengerutkan kening"Terus, kenapa kamu harus dirawat dan bermalam di rumah sakit kalau nggak ada yang serius, An?" "Ini karena.. Pak Satria dan Siska khawatir dengan kondisi aku, Tan. Jadi, mereka meminta aku untuk beristirahat disini selama satu atau dua malam." "Iya, Tan. Kami berfikir, ini mungkin bisa jadi salah satu cara untuk mengurangi trauma dalam diri Andini. Karena setelah kejadian, Andini sempat nggak sadarkan diri." Siska menjelaskan "Pas nggak sadarkan diri, ia menangis dan tubuhnya demam. Makanya, kami khawatir dan meminta Andini dirawat di sini untuk menenangkan hati dan pikirannya, Tan." lanjutnya. Cinta membulatkan mata, ia tidak menyangka Andini yang begitu kuat dimatanya bisa menjadi seperti itu. Dengan cepat, Cinta berjalan mengha

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 82

    "Raya... " gumam Cinta. Ia melihat ke arah Andini sekilas, seolah meminta persetujuan. Dengan cepat, Andini mengangguk menyetujui. Cinta kembali melihat layar ponsel dan segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. "Jadi, gimana Ibu Cinta, apa Andini berkenan mencabut gugatan itu?" tanya Raya, penuh harap. "Maaf Bu Raya, Andini tetap akan menjalani gugatan yang telah dilayangkan untuk Dion." jawab Cinta. Meski hatinya sangat kesal dengan Dion, tapi Cinta tidak bisa bersikap dan bertutur kata tidak sopan kepadanya. Bagaimanapun, sikap dan perilakunya, tak terkecuali yang terucap dari mulutnya merupakan cermin pribadi yang selalu memberikan dampak besar bagi Andini. Jadi, meski ia kesal, ia selalu berusaha maksimal untuk mengontrol emosinya. Terdengar isakan tangis dari balik ponsel Cinta. Ia yakin, kali ini, Raya sedang menangis meratapi kemalangan yang menimpa anak semata wayangnya karena ulahnya sendiri. "Maaf Ibu Cinta, a-apa Andini tidak bisa dibujuk Bu? Saya... " ucap

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status