MasukANDREW BERHENTI GAK GUE BILANG 😡😡
Brianna tak dapat menahan erangan kala mereka telah berpindah ke ranjang. Hampir dua bulan dalam pekan-pekan yang penuh dengan penantian berlalu hingga tiba pada hari ini. Rasa manis yang diberikan Leon tidak pernah berubah. Selalu membuat Brianna kosong setiap sentuhan itu menjelajah setiap inci tubuhnya. Meremang tubuhnya hingga kebas, memantik gairah dan hasrat setelah hari demi hari hanya dihabiskan dalam pelukan tanpa melewati batas. "Leon ...." Gumaman itu membumbung di udara saat Brianna meremas rambut hitam Leon yang kini sedang sibuk di puncak merah muda pada dadanya. Terpapar dirinya tanpa satu helai kain yang melindunginya. "Ahh ...." Pinggang Brianna menggeliat, sedetik kemudian tangan besar Leon merenggut dagunya dan mendaratkan kecupan panas. Pagutan kecilnya berubah menjadi candu kala lidah mereka saling berkelindan. Tanpa menarik dirinya dari Brianna, Leon melucuti pakaiannya sendiri. Dijatuhkannya ke lantai, bertumpuk dengan gaun tidur Brianna yang tela
Dari hisapan atau ciuman yang panas. Dari remasan tangan dan lumatannya yang manis, entah berapa kali Brianna harus mengingatkan Leon bahwa mereka tak bisa melakukan sesuatu yang berlebihan untuk sementara waktu. Meski kadang sedikit di luar kendali, tapi Leon masih dapat menahannya. Brianna kerap membisikkan, 'Bersabarlah sebentar ... nanti kita bisa melakukannya kapanpun kamu mau.' Dari hari ke Minggu, waktu beranjak ke waktu yang tak disangka telah menumbuhkan si kembar kecil Leiden dan Cassandra yang sudah mulai teratur pola tidurnya. Leon pun juga sudah rutin pergi ke kantor, dan hari-hari Brianna akan diisi oleh kegiatannya yang menyenangkan. Mengantar Lionel dan Evangeline ke sekolah, pergi ke studio miliknya, atau sekadar menikmati udara sejuk di belakang mansion. Aah, seperti inikah hidup dalam damai yang didamba itu? Ia banyak-banyak mensyukurinya. Malam ini, Lionel dan Evangeline sudah tidur lebih cepat. Mereka sepertinya kelelahan setelah berlarian saling me
Sekalipun telah membuat anak perempuannya kesal setengah mati, tapi Leon berhasil membujuknya. Dibelikannya es krim dalam ukuran besar dan boneka kuda poni yang kapan hari dibicarakan oleh Evangeline. Sekarang, di sanalah mereka berada. Di ruang tengah mansion yang cukup besar, Brianna meletakkan beberapa cangkir cokelat hangat dan kue kering yang tadi dibuatkan oleh Kim. Selagi Evangeline sedang sibuk dengan boneka barunya, Lionel sedang mengajak Leon untuk bermain catur. Aah ... Brianna lupa ini, anak lelakinya itu sangat cerdas. Dalam beberapa kali kesempatan yang pernah dilihatnya, Leon yang dibuat kewalahan olehnya. Sementara ... ada sesuatu yang menghangatkan hati Brianna kala melihat pemandangan itu. Di gendongan lengan kekar Leon, Cassandra terlelap di sana, tadi ia dengar baru menangis dan Leon yang menghangatkan susunya. Sedangkan Leiden sedang tidur di bouncer, di dekat hening kakak lelaki dan ayahnya yang mempersiapkan strategi di atas papan catur. "Bisakah Lion memin
Jika dulu saat Brianna membuka mata untuk menyusui anak kembarnya maka sang Ibu yang pasti lebih dulu berdiri di samping box bayi milik Lionel dan Evangeline, kini pemandangan yang berbeda terjadi.Bukan ibunya yang berdiri dengan menggendong bayinya, melainkan Leon.Beberapa hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Brianna terjaga sekitar pukul satu dini hari dan merasakan dadanya penuh. Ia pikir harus mengambilnya sekarang.Saat itulah ia melihat Leon di sudut remang, tengah menyenandungkan lagu untuk anak gadisnya yang mungil, Cassandra.Sebenarnya, mereka memiliki dua orang baby sitter untuk merawat Leiden dan Cassandra, hanya saja Leon meminta mereka mulai mengasuh nanti saat dirinya telah kembali bekerja dari cuti yang ia ambil selama beberapa pekan ke depan.Brianna turun dari ranjang, berjalan menuju Leon yang sepertinya tidak menyadari bahwa ia bangun dan melihat apa yang ia lakukan. Melirik ke arah box bayi milik Leiden, anak lelakinya itu terlelap dengan kedua tangan te
Menolak disebut keracunan jamur, Leon bergegas mengikuti Brianna yang sudah lebih dulu keluar melewati pintu rumah. Meninggalkan Lionel dan Evangeline yang akan tinggal sementara bersama dengan Nyonya Susan dan Kim yang diminta Leon untuk berada di rumah dan menyusul nanti bersama orang tuanya Brianna saat persalinannya telah usai. Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk tiba di rumah sakit. Tentu saja, tidak ada hal menakutkan seperti yang dipikirkan oleh Leon. Brianna dipindah ke ruang rawat yang sekaligus akan menjadi ruang bersalinnya nanti. Selagi ia berganti pakaian pasien, Leon memilih untuk mandi lebih dulu dan muncul dengan keadaan rambut yang setengah basah. Brianna duduk di tepi ranjang, mengatur napasnya. "Sayangku, apa kata dokter?" tanya Leon yang membuatnya mengangkat wajah. Menjumpai wajah Leon yang tak sepanik saat mereka di rumah sebelumnya. "Air ketubannya masih banyak, baru akan masuk ke pembukaan delapan." "Syukurlah ...." Leon menarik kursi yang ada
Norwald, pertengah musim semi, satu tahun kemudian. .... Leon sengaja membeli rumah ini adalah agar anak-anaknya dapat bermain secara leluasa, menghabiskan banyak waktu dengannya sebagai penebusan atas banyaknya tahun di belakang sana di mana ia tidak dapat hadir membersamai keduanya. Halamannya memang luas, bahkan Brianna sering ia lihat di sini, duduk di bawah pohon maple dengan sebuah buku yang terbuka sementara Lionel dan Evangeline berlarian atau bersepeda. Nanti saat Leon pulang, mereka akan menyambutnya dengan senyum yang bahagia. Namun, sebuah pemandangan yang tak seharusnya terlihat terpapar di matanya. Bukan istri dan anak-anaknya yang ia lihat setiap kali ia pulang dan menuju ke sana. Melainkan sebuah nisan yang dengan berat hati ia peluk dan ia tangisi saat memeluknya. [Brianna Ellery] Apakah ini sebuah kutukan hingga semua orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya? Brianna pergi meninggalkannya, tidak pernah kembali lagi, tidak pula di suatu tempat yang dapat di
Petang itu, Leon dibawa kembali ke rumah sakit. Untuk kali kedua, dokter menyatakan bahwa dirinya kembali koma.Akumulasi lelah yang diabaikan membuat tubuhnya yang baru saja bangun dari koma panjang kehilangan sebagian fungsi organ.Stres berat yang dialaminya, kurangnya tidur berhari-hari, dan fi
“Ayo pulang!” ajak Tuan Alastair kala Brianna masih berkutat dengan air matanya.Beliau melepas Brianna dari dekapannya, meraih payung hitam yang baru saja dilemparkannya begitu saja. Menggunakannya untuk menaungi Brianna saat mereka beranjak meninggalkan halte.Dari sudut mata Brianna, ia melihat
BRIANNA ELLERY, LIMA TAHUN YANG LALU. .... Arven Medical Care—sebuah rumah sakit kecil di kota Arven. “Akh ... sakit sekali.” Brianna terbungkuk, merintih kesakitan seraya memeluk perutnya. Air matanya berlinangan kala sebuah pikiran buruk terlintas bahwa ia akan kehilangan bayi dalam kandungann
Di awal musim dingin yang menusuk kulit, embusan angin seakan bisa membekukan apapun yang ada di luar ruangan. Pagi itu, Leon berhenti melangkahkan kakinya dan menatap ke sebuah nisan yang tak percaya akan dilihatnya secepat ini bersanding di sebelah peristirahatan terakhir Fiona. Harlan Loy Ronan







