Se connecter“Ah! Le-lepaskan aku, Leon ….” Akibat menantang untuk tidur bersama, Brianna Ellery berakhir terjerat dalam hubungan rumit dengan atasannya. Leon Alejandro Ronan, yang juga merupakan mantan kekasihnya di masa lalu. Meski tahu ini harus dihentikan, tapi tubuhnya membangkang. Sentuhan panas Leon mengusik, godaan yang diberikannya membuat Brianna goyah. Segala sesuatu menjadi tidak pada tempatnya, perasaannya, akal sehatnya, dan juga … kecupan basah Leon yang sekarang jatuh di lehernya. “Kita pindah ke ranjang, atau kamu lebih senang kita melakukannya di sini?” IG @almiftiafay
Voir plus“Tidak becus! Bawa timmu pergi dari sini dalam dua hari, Brianna Ellery!”
Jari-jari Brianna mati rasa saat kalimat itu menghantam telinganya. Suara dingin yang membungkam seisi ruangan itu datang dari seorang CEO perusahaan developer, Leon Alejandro Ronan. Saat ini, mereka tengah bekerja sama dalam pembangunan sebuah rumah sakit. Banyaknya kelalaian yang dilakukan oleh project manager sebelumnya membuat Brianna dimutasi ke kota kecil ini. Kini, ia lah yang bertanggung jawab membersihkan ‘sampah’ yang ditinggalkan oleh rekannya itu. Meski sudah berusaha sebaik mungkin, tapi bagi Leon kehadirannya masih dianggap tidak bisa memperbaiki keadaan. Keterlambatan kedatangan bahan konstruksi dari pihak vendor dinilai Leon sebagai kelalaian yang menghambat, dan pria itu berakhir mengusir mereka. Berdiri di dekat layar proyektor, Brianna menelan ludah, darahnya berdesir panas sewaktu mengatakan, “Tolong, dengar—” “Rapat selesai,” potong Leon seraya menutup map di depannya. Leon berdiri, berjalan melewati Brianna bersama anak buahnya tanpa menoleh sedikit pun. Brianna hanya bisa menyaksikan punggungnya menghilang di balik pintu. Detak jantungnya berpacu kencang. Rasa malu seperti menarik kulit wajahnya hingga terkelupas. Di mata Brianna, kepribadian pria itu sangat jauh berbeda dengan yang pernah ia kenal. Leon adalah mantan pacar Brianna di masa lalu dan dulunya ia adalah seorang pribadi yang hangat. Namun, lima tahun yang lalu, hubungan mereka berakhir dengan cara yang kurang baik. Mungkinkah karena itu sekarang Leon bersikap angkuh? “Kamu baik-baik saja?” tanya Katie, teman sekaligus bawahannya. Ia berjalan menghampiri Brianna saat semua orang sudah pergi dari ruangan itu tanpa banyak berkomentar, mereka sudah hafal betapa buruk hubungan kerjasamanya dengan Leon. “Iya, Kat.” “Setidaknya dia harus mendengar penjelasanmu dulu, ‘kan? Kita juga tidak mau ada keterlambatan seperti ini.” “Aku tidak mau pergi dari proyek ini, Kat. Kalau ini gagal, aku pasti dipecat. Kepala divisi terlanjur percaya padaku.” Dengan khawatir, Katie bertanya, “Lalu sekarang bagaimana, Brianna?” “Tidak tahu, sebentar biar aku pikirkan,” jawab Brianna seraya duduk dan meremas rambutnya. “Ya sudah aku keluar dulu. Beri tahu aku kalau mau kembali ke kantor.” Brianna mengangguk, sementara Katie meninggalkan ruang meeting dan menyisakan dirinya di dalam sana. ‘Dua hari.’ Peringatan Leon terngiang dan membuat perutnya mual. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu menatap ponselnya yang bergetar di atas meja. Satu notifikasi muncul di layar, yang tanpa pikir panjang Brianna segera melihatnya. Sebuah foto dari sosial media milik wanita yang dibenci setengah mati oleh Brianna, wanita selingkuhan suaminya. ‘Honeymoon’, begitu yang tertulis di sana. Sebenarnya, kepergian Brianna ke kota ini bukan semata untuk pekerjaan, tapi karena ia ingin menenangkan diri dari kenyataan pahit yang diketahuinya tentang Robert Elwin, suaminya. Pernikahannya ada di ambang kehancuran karena pria itu berselingkuh. Ditambah lagi, wanita simpanannya sedang hamil sepuluh minggu. Banyak sekali foto-fotonya, bahkan ada beberapa yang menunjukkan Robert secara jelas meski itu hanya dari belakang. Seolah yang mereka lakukan itu tidak berdiri di atas hatinya yang luluh lantak. Brianna bangun dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan Leon. Memutuskan dalam hati, tak akan ia biarkan mantan pacarnya itu membuatnya semakin terpuruk. Sudah cukup Robert dan wanita itu saja. Brianna mengetuk pintu berdaun dua di depannya. Suara berat terdengar dari dalam mempersilakannya masuk. Di balik mejanya, Leon tak langsung menoleh. Ia hanya mengangkat sedikit wajah tampannya. Tatapan beberapa detik itu membuat dada Brianna seakan diremas. Meski ada banyak kemelut di benaknya, ia memaksa dirinya terus melangkah. “Jangan bawa masalah pribadi dalam hal ini, Leon,” ucap Brianna tanpa basa-basi. “Kalau tidak suka padaku sebaiknya kamu bilang! Jangan dicampurkan ke pekerjaan!” “Jangan terlalu percaya diri.” Leon tertawa lirih, mengunci pandang pada manik hazel Brianna dan dengan tenang menyandarkan punggungnya. “Aku tidak perlu alasan pribadi untuk menyingkirkan orang yang menghambat proyekku.” “Dengar dulu penjelasan—” “Tidak akan mengubah apapun,” balas Leon, nyaris terdengar enggan. “Aku sudah mengatakan semuanya tadi di ruang meeting.” Brianna mengamati Leon yang tampak sibuk dengan map dokumen, hampir tak sudi menatapnya. “Aku akan lakukan apapun untuk tetap berada di sini. Pekerjaan ini bukan hanya aku saja yang membutuhkan. Ada banyak orang yang bergantung. Jangan egois!” Pena yang digenggam oleh Leon diletakkan tanpa celah emosi. Ada hening panjang yang terjadi kala pria itu menatap Brianna. “Jadi kamu mau apa?” Leon bangun dari duduknya. Langkah tenangnya mengitari meja, berhenti di depan Brianna yang harus menengadahkan wajah sebab ia hanya berdiri sebatas dada pria itu. “Jangan berharap bisa merayuku dengan wajah cantikmu itu, Brianna!” Brianna mengepalkan jemarinya di samping tubuh, “Aku tidak—” “Tapi—” Leon menyela seraya selangkah mendekat. Mata birunya menatap Brianna cukup lama dengan rahang yang mengetat. “Kalau kamu bisa mencari cara yang membuat kita sama-sama diuntungkan, aku akan pertimbangkan permintaanmu.” Brianna menahan napas mendengarnya, pria itu seolah memberinya tantangan yang sama sekali bukan soal pekerjaan. Ia meraba-raba dalam prasangka, apa yang sebenarnya diinginkan Leon? “Pergilah kalau sudah selesai bicara.” Kalimat bernada pengusiran itu terdengar bersamaan dengan Leon yang mengayunkan kakinya untuk pergi dari hadapan Brianna. “Leon, tunggu,” panggil Brianna. Langkah Leon berhenti di dekat pintu. Namun, ia tak sepenuhnya menoleh, hanya menatap melalui bahunya sebelum Brianna mengatakan, “Kalau begitu, ayo tidur denganku!”Leon sedikit memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Lionel yang mengiba seolah agar Leon mengabulkan keinginannya.Leon lebih dulu meneguk cokelat hangat yang tadi diberikan oleh Brianna, baru meletakkannya di meja kecil yang tak jauh dari sisinya.Ia kembali menoleh pada Lionel yang sepasang mata birunya menawan.Leon tahu anak lelakinya ini memang tampan.Namun, yang lebih menghangatkan hatinya sebenarnya adalah bagaimana selama ini ia selalu bersikap sebagai ‘pria’ pada usia yang belum semestinya.“Lionel,” panggil Leon dengan lembut, mengusap puncak kepalanya.“Yes, Daddy?”“Memiliki Adik untuk kamu dan Evangeline bukan hanya diputuskan oleh Daddy saja, Sayang,” katanya. “Tapi juga harus dengan persetujuan Mommy. Mommy yang akan mengandung selama sembilan bulan sebelum kalian melihat bayi yang lucu. Sebelumnya Daddy melakukan kesalahan dengan tidak ada di samping Mommy selama hamil dan membesarkan kamu serta Adik Eva, dan Daddy sebenarnya senang kalau diberi kesempatan unt
Leon menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. Sedang para orang tua yang mendengar itu saling sikut. Tak sepenuhnya percaya bahwa Leon adalah pemilik RN Empire yang memang sedang menjadi buah bibir sebab dalam waktu singkat di Vienna, gedungnya berdiri megah dan mengambil beberapa sektor pembangunan yang berpengaruh.Tapi saat sekali lagi melihat mobil Leon yang terparkir tak jauh dari mereka, harganya yang fantastis telah menegaskan bahwa sepertinya Evangeline benar.“Wah ... pantas kalau Pak Leon jarang terlihat, Anda memang orang sibuk,” ucap salah seorang di antara mereka.“Hubungi saya kalau Anda memerlukan pengacara.”“Ah, kalau Anda butuh konsultan bisnis, silakan hubungi saya juga.”“Atau barangkali mau bekerja sama dalam pemeliharaan tata ruang, Pak Leon juga bisa menghubungi saya.”Mendadak saling bertukar kartu nama.Leon yang tadinya terjebak dalam kecanggungan kini merasa suasananya lebih cair. Ia pun memberikan kartu namanya, dan orang-orang pun percaya bahwa ia m
“Kalau begitu kita selesaikan dengan cepat.” Leon berbisik kemudian memberi kecupan di bibir Brianna.Ia menegakkan tubuhnya, menguraikan dasi yang masih menjerat lehernya kemudian vest yang menutupi kemeja putih miliknya.Melihat dada bidangnya yang perlahan tampak tatkala kancing kemeja itu terurai, Brianna tak bisa mengendalikan debar jantungnya yang berpacu gila-gilaan.Brianna menelan saliva dengan kasar, memejamkan mata saat sentuhan Leon menggerus leher dan dagunya.Gaun yang dikenakan Brianna terlepas, menyisakan inner sebatas paha yang hanya bertahan sementara di sana sebelum Leon menjauhkannya.Terhempas di lantai, bertumpuk dengan pakaian Leon yang telah jatuh di sana sebelumnya.“Ahh—“Lembutnya hisapan di dada Brianna membuatnya sesaat lupa terhadap dunia.Aneh ... pada puncaknya terasa gatal, ia ingin Leon menggigit dan menghisapnya lebih kuat. Ia menyelipkan jemarinya di antara rambut hitam Leon yang sepertinya tahu apa yang harus dilakukannya.Prianya itu melahap habis
Katie dan Ricky benar menurut apa yang disarankan oleh Leon. Yakni melakukan resepsi pernikahan.Lokasinya bukan di tempat yang mewah, tetapi di sebuah hotel dengan tamannya yang luas dan undangan duduk di bawah tingginya pohon pinus.Tak seperti Brianna dan Leon yang melaksanakannya pada pagi hari, mereka memilih waktu malam. Sehingga lampu-lampu keemasan dan cahaya lilin yang dinyalakan seolah membawa mereka mamasuki negeri dongeng.Melihat wajah Katie yang bahagia saat memotong kue bersama dengan Ricky, Brianna turut senang.Akhirnya ... mereka mendapat kehidupan yang mereka dambakan.Setelah acara itu usai, Brianna memilih untuk pulang bersama dengan Leon dan si kembar. Sedikit jauh dari rumah memang, tapi Brianna tidak ingin besok anak-anak terlambat sekolah.Ada kegiatan yang harus mereka hadiri dan keduanya sangat antusias untuk melakukannya.Leon yang mengemudikan mobilnya meninggalkan keramaian pesta, di atas jalan-jalan menuju Norwald yang mulai lengang.“Biar aku saja yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.