ANMELDENbanyak yang suka, Thor akan tambahin 1 bab lagi. 😁😁 terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar like vote buat Brie sama Leon, 😗😗
Di kantor Arcadia, Brianna memandang ponselnya yang berulang kali bergetar karena ada panggilan dari Robert.Meski nomornya tidak disimpan, tapi ia bisa mengenalinya dengan jelas.Brianna mengabaikannya, memilih untuk membaca laporan uji struktural yang kemarin diserahkan oleh tim lapangan melalui Katie.Hasilnya sekali lagi sangat memuaskan. Keseragaman angka yang tertera di sana membuat Brianna mengangguk penuh rasa senang.“Waktunya pergi ke RNE, Bu project manager,” ucap Katie yang berhenti di seberang meja. “Jangan terlambat, anak-anak yang lain sudah aku beri tahu untuk berangkat tadi.”“Iya,” jawab Brianna kemudian menutup laptopnya.Ia simpan terlebih dahulu lalu menghadap pada cermin kecil yang ada di samping monitor, membubuhkan kembali lipstik di bibirnya.“Kamu cantik seperti biasa,” puji Katie sebelum Brianna meninggalkan kursinya.Meraih paper bag berisikan mantel milik Leon yang malam itu diletakkan di punggungnya.“Kenapa harus dikembalikan?” Katie bertanya saat mereka
Di dalam salah satu kamar, seorang pria tengah bersiap untuk pergi. Ia mengancingkan kemeja yang ada di pergelangan tangannya, tersenyum menghadap cermin yang memantulkan kedatangan seorang wanita dan memeluknya dari belakang.“Apa kamu akan pergi sekarang, Robert?” tanya wanita itu.Pria yang dipanggilnya ‘Robert’ itu kemudian menoleh sehingga kini mereka berdiri berhadapan.Sebuah kecupan diberikan untuk wanita itu teriring jawaban, “Iya, Lucia.”Jari tangan wanita itu bergerak menyusuri garis dagu Robert dan berhenti di bibirnya. Mengusap bagian bawah bibir pria itu sementara tangannya yang lain menjelajahi dada dan perut Robert sebelum berhenti pada bagian sensitifnya.“Lucia—jangan menggodaku! Aku benar-benar harus pergi untuk bertemu pembeli biar rumah ini terjual dengan cepat.”“Ya, aku tidak suka kalau terus kamu minta ke sini karena ranjangnya itu pernah kamu pakai dengan dia.”Lucia melirik ke arah ranjang yang ada di dekat mereka. Bibirnya tertekuk penuh rasa jijik sebelum
Di dalam kamar rawatnya, Fiona duduk dengan mata yang tertuju pada jendela. Di mana di sana ia bisa melihat gugusan mawar yang sedang mekar.Merah, indah dan sangat cantik.Berdiri dengan tangkainya sendiri, kuat dan tegar meski buliran gerimis jatuh pada siang kelabu ini.Fiona rasa … itu jauh berbeda dengan dirinya yang lemah dan selalu menjadi beban siapapun.Kunjungan dari dokter beberapa saat yang lalu membuatnya sejenak merenung. Meski kondisinya dinyatakan stabil, akankah ke depannya akan terus demikian?Sekalipun tampak berhasil, sejauh yang pernah Fiona baca, kemungkinan pendarahan ulang dan penyempitan pembuluh otak pasca operasi tetap bisa terjadi. Dan buruknya, itu akan membuat dirinya semakin rapuh.Saat itu ia berpikir, mati mungkin lebih ramah daripada harus terus membebani bahu orang di sekitarnya, terutama Leon dan keluarga Ronan.“Selamat siang,” sapa sebuah suara pria yang membuat Fiona bangun dari lamunannya.Saat ia menoleh, ia melihat Ricky yang menunduk dan ters
Jika tak ingat ada Katie bersamanya, Brianna sudah pasti akan berteriak.Ia berjalan meninggalkan kamar seraya menjawab, “Iya.”Langkahnya ia buat sepelan mungkin agar tak menimbulkan gema. Brianna lebih dulu mengintip melalui jendela dan memastikan Leon memang benar di depan rumahnya.Pria itu di sana, berdiri menyandarkan dirinya di pintu sedan, memasukkan ponsel ke dalam saku coat panjang yang ia kenakan.Saat Brianna keluar dan menghampirinya, Leon menegakkan punggungnya.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Brianna setelah berhenti dan bersilang pandangan dengannya.“Ingin bertemu denganmu saja.”“Ini sudah sangat malam.”“Lalu kenapa?” Salah satu alisnya terangkat, seolah tak peduli dengan apapun larangan Brianna. “Apa aku tidak boleh menemui pacarku sendiri?”Brianna mendengus dan bersedekap, “Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Leon.”“Sama.”Tawa lirihnya terdengar sebelum pandanganya turun, mengamati Brianna dan bertanya, “Kamu maasih belum tidur?”“Belum.”“Kenapa?”Bria
Leon menoleh ke arah ranjang rawat Fiona. Ia baru saja melihat ada gerakan sehingga bergegas untuk ke sana.Fiona telah membuka matanya, menatapnya dengan sayu dan terlihat mencerna situasi, barangkali mempertanyakan di mana ia berada sekarang.“Kamu sudah sadar?”“Kak Leon ….” sapanya, nyaris tak terdengar.“Iya. Aku di sini, Fiona.”Leon menekan tombol panggil yang ada di atas meja. Tak lama kemudian dokter datang bersama dengan beberapa orang perawat.Mereka memeriksa keadaan Fiona. Dokter pria berkacamata itu tampak mengangguk beberapa kali sebelum memandang Leon dengan tersenyum.“Kondisi Nona Fiona sudah cukup stabil. Untuk melihat apakah fungsi vitalnya membaik, kami harus terus mengawasinya, Pak Leon,” terang beliau. “Beberapa hari ke depan tetap penting untuk memastikan tidak ada komplikasi lanjutan. Jadi kami meminta agar keluarga menjenguk secara bergantian.”Leon mengangguk tak keberatan.“Baik. Terima kasih, Dokter.”Dokter kemudian pergi bersama dengan para perawat. Meni
“Wah—hampir saja,” celetuk suara dari belakang Leon. Disahut oleh celotehan lain yang menyebut bahwa Brianna dan Leon nyaris saja saling membenturkan bibir. “T-terima kasih,” ucap Brianna saat Leon mengendurkan rengkuhannya dan menyisih. Pria itu mengamatinya, menatap Brianna dan Katie bergantian sebelum bertanya, “Apa yang kalian lakukan?” “Tidak ada!” Brianna dan Katie menjawab secara kompak. “Hanya … hiburan pagi sebelum kerja saja, Pak Leon,” kata Brianna, mengatakan apapun yang ada di pikirannya. “A-apa yang Anda lakukan di sini?” Brianna mengangkat wajah setelah beberapa saat tertunduk, Pandangannya jatuh pada bibir bawah Leon yang biru di bagian bawahnya. Bekas luka robek setelah Brianna menggigitnya kuat-kuat semalam. “Mau bertemu kepala cabang,” jawab Leon. “Selamat pagi.” Kepala cabang yang baru saja disebutkan muncul dari belakang Leon. Pria itu meminta maaf karena sedikit terlambat dan membawa Leon untuk ikut dengan beliau. Leon tak serta merta pergi. Iris birun







