LOGINMemiliki ayah yang pemabuk, penjudi serta suka main tangan membuat Rani menganggap perlakuan Bima—suaminya, terasa lembut meskipun ia kasar dan suka menghancurkan barang disekitarnya ketika emosinya meledak. Penggambaran cinta yang sesat lantas membuat Rani bertanya-tanya apakah ada pria yang bisa lebih lembut dari suaminya? Suatu saat ia bertemu dengan Fabio, sahabat suaminya yang ternyata juga kakak seniornya sendiri di kampus. Kepribadiannya yang dingin namun perhatian tampaknya malah membuat cinta lama yang telah layu itu kembali terbakar. Saat gairah dan nafsu mulai menguasai diri, keduanya pun mulai melewati batas dan terlibat dalam hubungan penuh rahasia yang tak seharusnya.
View MoreRani terkejut bangun ketika pintu rumahnya di gedor dengan kasar. Samar, suaminya berteriak dari luar memanggil namanya.
Sambil mengerjapkan matanya yang kantuk, Rani menendang selimut lalu bangun dan berjalan dengan tergesa sambil menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul tiga pagi. Ia menghela nafasnya dengan berat. Entah sejak kapan Rani mulai malas menegur Bima yang selalu pulang malam. Setiap kali Rani bicara, Bima pasti akan menjawabnya dengan marah-marah seolah dirinya yang bersalah. "Buka pintunya, Sialan!" Bima mengamuk dari luar membuat Rani makin mengejar langkahnya. Ia menjadi terburu-buru hingga tak sengaja tersandung karpet yang terlipat dan menabrak ujung meja kayu. Rani meringis kesakitan namun suaranya teredam pukulan Bima pada pintu yang makin brutal seperti akan membelah pintu rumah mereka. Sambil menahan sakit, Rani terseok menuju pintu dan membukanya namun sebelum pintu terbuka lebar, Bima langsung menyentaknya dan mendorong pintu dengan kuat hingga Rani terpental. Ia kembali meringis sakit namun Bima tampak tidak peduli. "Lama sekali kamu membukanya!" Bima terdengar sangat marah membuat dada Rani berdebar ketakutan. "Ma—maaf. Aku tersandung tadi ...," "Jangan bohong kamu, sialan! Kamu sengaja supaya aku terlihat bodoh, kan!?" Dengan nada tinggi, Bima memukul pintu hingga bergetar, mengejutkan istrinya. "Sttt, jangan keras-keras, Kak." Rani menegur pelan, berusaha lembut agar Bima tidak tersinggung. Pasalnya, sudah beberapa kali Rani ditegur tetangganya perkara suara tinggi Bima setiap kali ia mengamuk. Rasanya, hanya rumah Rani yang paling berisik padahal mereka hanya tinggal berdua. "Jangan suruh aku diam, dasar istri gak berguna! Berani-beraninya mengaturku!" Bima kembali berteriak, tidak terima dengan ucapan Rani. "Aku kan cuma ngasih tau." Rani mengecilkan suaranya namun Bima menanggapinya dengan emosi. Dengan marah, Bima meraih guci kecil diatas meja dan membantingnya hingga hancur ke lantai sambil menginjak-injaknya dan berteriak pada Rani. Rani melompat menelan suaranya. Ia memandang Bima dengan horor. Kepalanya memutar kembali masa lalunya bersama keluarganya. Ayahnya memiliki sifat serupa seperti Bima yang kasar. Dalam level emosi seperti ini, ibunya sudah pasti dipukul oleh ayahnya. Bagi Rani, level Bima masih dalam batas wajar. Dibanding memukul Rani, Bima lebih pilih membanting benda disekitarnya sebagai bentuk pelampiasan. "Beruntung kamu nikah denganku! Kalau dengan orang lain, sudah habis kamu dihajar!" kata Bima keras sambil menunjuk bola mata Rani sambil melotot. Bima langsung pergi meninggalkan Rani yang terdiam menuju kamar Melihat kekacauan di sekelilingnya, Rani tersadar akan kekosongan dalam rumahnya. Sifat Bima yang pemarah dan suka menghancurkan barang membuat rumah ini tampak luas dengan sofa usang dan meja kayu yang kakinya di perbaiki oleh Rani. Meskipun kayu tambalannya berantakan, meja itu selalu kokoh menjadi penyangga seperti Rani dalam rumah ini. Dengan pilu, ia memandang guci yang ia beli dengan uang menjadi tukang cuci piring setiap tetangga dan kenalannya ada acara. Sebuah profesi yang juga dijalani ibunya. Diam-diam Rani mengambil pekerjaan itu supaya bisa membelanjakan keperluannya dan Bima. Jika ibunya tahu, apakah ibunya akan marah? Sebab Rani dikuliahkan ibunya dengan susah payah agar Rani tak perlu repot mencari uang sepertinya. Dalam hati, Rani diam-diam memohon ampun pada sang ibu karena kala menikah dengan Bima, ia menyerah pada karirnya. Rani menghela nafasnya sambil memungut satu persatu pecahan dari guci tersebut. Rasanya seperti sedang memungut hatinya yang hancur. Jika ia mengeluh, kata-kata ibunya selalu bergetar di kepalanya. "Suami seperti itu karena kekurangan kita. Jangan mengeluh. Sabar saja dan doakan, dia pasti akan berubah. Sudah tugas istri untuk memaklumi dan memahami suami." Benar kata ibunya. Inilah takdir seorang istri. Rani merasakan hatinya berkedut. Setitik air mata jatuh ke lantai. * “Kak Bima, kayaknya ada orang di depan,” suara Rani terdengar dari dapur, di sela gemericik air saat ia membersihkan udang segar. Bima tetap terpaku pada layar ponselnya. Ibu jarinya lincah menekan tombol game sambil menyeruput kopi. “Kamu aja yang liat. Aku lagi sibuk,” sahutnya datar tanpa mengangkat kepala sedikit pun. Rani menarik napas berat, menyeka tangannya tergesa, lalu meletakkan baskom ke wastafel. Degupan jantungnya perlahan meningkat saat ketukan pintu terdengar. “Sebentar …,” gumamnya, menyeret langkah menuju ruang depan. Begitu pintu terbuka, udara seolah mengeras. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwajah dingin, dengan sorot mata tajam yang membuat bulu kuduknya meremang. “Halo, Bu …,” sapanya canggung. Jantungnya berdegup tak beraturan setiap kali menatap perempuan itu. Dina—ibu Bima mengamati Rani dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menilai barang murah di pasar. “Kenapa nggak ngabarin kalau mau datang, Bu?” tanya Rani, mencoba terdengar ramah meski tenggorokannya kering. “Buat apa?” Dina mendengus, melangkah masuk tanpa izin. “Ini rumah anakku. Aku nggak perlu minta izin sama kamu.” Kata-katanya menghantam seperti cambuk. Rani menahan sesak di dadanya. Dina segera melesat ke dapur, melihat putranya yang sedang santai di sana. Tak memperdulikan Rani. Ia kemudian mengobrol dengan putranya dan bertindak seolah-olah Rani tidak ada disana namun menerima pelayanan Rani seolah keberadaannya hanya sekedar pelayan rumah tangga. Dina memperhatikan Rani dari ujung kaki hingga rambut. Raut kesalnya tak dapat ia sembunyikan. Mata Dina lantas menangkap lebam di lengan dan kaki Rani. "Kenapa lengan dan kakimu biru?" tanya Dina. Rani terkejut kemudian melirik lengan dan kakinya. Daster tanpa lengannya menunjukkan bagian tubuhnya yang membiru karena kejadian semalam. Gerak tubuhnya berusaha menutupi. "Jatuh semalam," jawabnya lirih menyembunyikan kebenaran. "Sengaja ya, kamu pakai baju begitu? Biar ngadu ke orang-orang kalau badan kamu biru? Begitu?" kata Dina sambil menyesap kopinya menolak jawaban Rani. Rani yang terkejut langsung menggeleng. "E—enggak kok, Bu ...," Melihat wajah gugup Rani, Dina tampak meremehkannya. "Terus apa? Buat godain orang?" Segera Rani menyesal memakai dasternya ini. Ia tak terpikirkan sama sekali pemikiran yang diutarakan ibu mertuanya. "Bu—bukan, Bu! Saya pakai supaya bisa cepet-cepet kerja." Rani membantah walaupun ia tahu itu sia-sia. Tanpa banyak bicara, ia meraih sweater di jemuran dan memakaikannya agar tidak menjadi bahan pembicaraan lagi. "Kamu sengaja, ya, pakai baju begitu buat pamer ke orang kalau kamu dipukul Bima?" Dina menolak melupakan pembicaraanya dan kembali menyudutkan Rani. "Kalau gitu sih, emang pantes dipukul. Aku gak ngapa-ngapain malah caper. Dasar istri gak bener!" Bima menimpali, setuju dengan kata-kata ibunya meski matanya menempel pada layar ponsel. Rani diam saja, tahu betul apapun yang ia katakan akan sia-sia. Dina menggelengkan kepalanya, memandang Rani dengan penuh penilaian. "Kamu udah cek ke dokter belum kandunganmu? Masa lima tahun gak hamil-hamil?" Rani terdiam sebentar. Tampaknya, niat hati Dina yang sebenarnya untuk mengunjungi Bima sedang ia utarakan. Lagi-lagi, topik melelahkan ini yang dibahas. "Masih nunggu," "Nunggu apaan selama lima tahun? Kamu ini bisa punya anak gak? Lama-lama kan saya jadi mikir kamu ini mandul!" Dina berteriak marah. Sepertinya, menunggu selama ini sudah mencapai batas sabar semua orang. Rani juga tentu sudah tidak sabar lagi ingin punya anak. Namun, apalah daya dirinya? Ia sudah berusaha dan hampir putus harapan terutama ketika orang-orang terus menggunjingkannya. Rani memandang Bima, berharap ia mau membantu Rani menjawab sebab Bima lah orang yang menolak pergi ke dokter untuk menunggu hasil secara alami. Bima jelas tidak tertarik untuk menolong Rani. Tiba-tiba saja Bima berdiri dengan pandangan horor pada ponselnya. "Sialan!" kata Bima, mengejutkan semua orang.Rani merasa kepalanya semakin pusing, sementara rasa ingin muntah kembali menendang perutnya tanpa ampun. Ia tak sanggup menahannya lagi dan akhirnya bersandar di wastafel, muntah-muntah sekali lagi, hanya mengeluarkan cairan dan ludah yang justru membuat tenggorokannya perih dan pikirannya semakin kacau.“Minum dulu, Rani,” kata sang ibu sambil menyodorkan segelas air hangat. Wanita itu lalu memijat punggung Rani perlahan, berusaha menenangkan putrinya dan membantu meredakan rasa pusing yang menyerang.“Terima kasih banyak, Bu,” ucap Rani lirih sambil tersenyum tipis. Ia menerima gelas itu dan meneguk air hangat sedikit demi sedikit.“Kamu sudah cek kehamilan kamu?” tanya ibu Rani tiba-tiba, tepat ketika Rani masih menelan air minumnya.Pertanyaan itu membuat Rani hampir memuntahkan kembali air yang baru saja diminumnya. “Ibu…” katanya lemah, napasnya tertahan.“Kenapa? Kamu belum tes?” tanya wanita itu lagi, seolah tak terlalu memedulikan keterkejutan di wajah putrinya.Rani terdiam
Ketika Rani membuka pintu, tampak seorang perempuan berdiri dengan canggung di hadapannya, masih mengenakan helm yang belum dilepas.“Rumah Pak Bima?” tanya wanita itu hati-hati, suaranya terdengar ragu.Rani mengangguk pelan sambil memandangnya heran. “Iya. Ada perlu apa?” tanyanya sopan.“Oh, Bu, ini kami mau ngasih undangan,” kata perempuan itu sambil menyodorkan sebuah amplop undangan ke arah Rani.Rani menerimanya dan membuka sekilas. Ternyata itu undangan pernikahan kerabat Bima. “Oh, iya. Terima kasih banyak, ya,” ucap Rani setelah membacanya singkat.“Itu saja, Bu. Saya pamit dulu. Masih mau nganterin ke yang lain lagi,” kata perempuan itu sopan sebelum berbalik dan pergi.Rani menutup pintu perlahan. Dari dalam rumah, ibunya sudah berdiri mendekat, jelas penasaran dengan tamu yang datang.“Siapa, Nak?” tanya sang ibu heran.Rani menoleh, tersenyum kecil, lalu kembali ke ruang makan sambil membawa undangan itu. “Orang,” jawabnya ringan. “Nganterin undangan doang ternyata,” lan
“Loh, Mira? Kok kamu di sini?” Rani terkejut melihat Mira muncul dari balik mobil setelah wanita itu menurunkan kaca dan menyapa.“Pak Fabio menyuruh saya untuk menjemput ibu di sini,” jawab Mira dengan ekspresi datar, nyaris tanpa perubahan raut wajah.Ibunya memandang Mira dengan heran. Sejak tadi ia tersenyum ramah, namun Mira sama sekali tak membalas senyum itu. Kebingungan jelas tergambar di wajah wanita tua tersebut. Ia tampak ragu—apakah wajar ia diantar oleh perempuan yang asing dan bersikap sedingin itu?Rani menghela napas berat. Ah, bukankah sudah ia katakan pada Fabio bahwa ia ingin menjemput ibunya sendiri?“Kata Bapak, kalau-kalau Anda ingin menolak, ingatlah bahwa saya yang menjemput Anda, bukan Pak Fabio,” lanjut Mira, menjelaskan dengan gamblang tanpa sedikit pun basa-basi.Statusnya yang berselingkuh dengan Fabio membuat dada Rani terasa mengencang. Ia bergidik pelan. Sekilas pikirannya melayang pada ibunya—pada apa yang mungkin wanita tua itu pikirkan jika tahu kebe
“Kak Fabio?” Rani memandang kaget laki-laki yang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan yang tak sempat ia sembunyikan.Tanpa basa-basi, Fabio langsung melangkah maju dan memeluk Rani dengan erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja. Pelukan itu hangat, kuat, dan terlalu familiar—membuat jantung Rani berdegup tak karuan.Rani sendiri masih terkejut dengan kehadiran sang kekasih. Bagaimana bisa Fabio ada di sini? Di saat yang sama, di tempat yang sama, ketika hidupnya sedang terasa begitu sempit.“Kok Kakak ke sini? Bukannya Kakak sibuk?” tanya Rani di sela-sela pelukan Fabio. Kali ini ia tak menolak seperti biasanya. Rasa rindu telah menghapus kewarasannya sendiri.Fabio tersenyum, lalu perlahan melepas pelukannya meski jelas ia belum puas. Dengan tangan kanannya, ia menyibakkan rambut Rani yang jatuh ke wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut.“Aku berhasil dapat waktu kosong. Kam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore