Se connecterhaloo akak semuanya, maaf terlambat yaa 🥰
Sudah lebih dari enam puluh persen ditandatangani, yang artinya sebagian besar orang di kantor ini tidak senang Brianna menjadi bagian dari Arcadia dan dianggap membuat nama baik perusahaan menjadi hina akibat skandal dirinya yang menjadi wanita simpanan CEO.“Orang-orang ini maunya apa sih, dasar gila!” celetukan Katie dari meja seberang terdengar penuh rasa marah.Pandangan mereka sejenak bersirobok sebelum Brianna mendengar dering intercom dari atas mejanya.Yang saat ia menerimanya, itu adalah panggilan dari kepala cabang.“Ya, Pak Han?”“Tolong naik ke ruanganku, Brianna,” ucap pria paruh baya itu.“Baik.”Brianna menutupnya dan beranjak dari kursinya. Selangkah menjauh, Katie mencegahnya.“Brie,” panggilnya. “Jangan pedulikan petisi itu dan jangan terpengaruh!”Barangkali Katie melihat wajah suntuk Brianna dan berpikir ia akan menuruti tuntutan pengunduran diri itu.“Iya. Kamu bersiaplah ikut denganku ke lapangan setelah ini, Kat.”Brianna melangkah meninggalkan ruangan, menuju
Menghabiskan semalam di klinik, Brianna sudah sedikit lebih baik pagi ini. Ia tengah duduk di tepi ranjangnya saat seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaannya seraya menyerahkan hasil cek darah.“Semuanya normal, Nona Brianna. Pusing dan mualnya kemungkinan besar datang dari gejala awal kehamilan. Perbanyak istirahat, dan jangan sampai kelelahan,” ucap seorang dokter pria berkacamata.Usianya pertengahan tiga puluhan. Ia sepertinya pemilik tempat ini karena namanya sama dengan name tag yang bisa dibaca oleh Brianna, Dokter Kai Lorgan.“Baik, Dokter. Terima kasih,” jawab Brianna, menunduk menghindar dari tatapannya. “Tolong jangan katakan soal kehamilan itu pada teman saya, biar saya sendiri yang memberitahunya nanti.”“Tentu saja.”“Kapan ... kira-kira saya boleh pulang?”“Untuk saat ini masih belum bisa, Nona Brianna. Anda masih saya rujuk ke dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan kehamilan. Silakan beristirahat kembali.”Brianna mengangguk samar sebelum pria b
Kelopak mata Brianna terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ditangkap oleh inderanya adalah cahaya putih yang mengapung di atasnya. Membutuhkan waktu bagi Brianna untuk menyadari bahwa itu adalah lampu di langit-langit kamar yang asing.Melalui sudut matanya, ia dapat melihat pergelangan tangannya yang diinfus.Ia berusaha mengingat apa yang terjadi hingga dirinya terbaring di tempat yang dingin ini.Benar ... beberapa saat yang lalu ia masih berada di dalam kamarnya. Membaca berita tentang pernikahan Leon dan Fiona yang membuat dadanya sesak.Tubuhnya mendadak merasakan gigil yang luar biasa dan itu membuat Katie ketakutan.Temannya itu mendekapnya dan memapah Brianna untuk menuju mobil seraya berujar, ‘Ayo kita ke rumah sakit, Brie!’Lalu, Brianna tidak sadarkan diri setelah itu.“Brie?!” panggil Katie dari samping kanannya.Dorongan napas Katie terdengar sangat lega saat ia memeluk Brianna. Suaranya serak dan menahan tangis saat mengatakan, “Astaga ... kamu membu
“Tante mengatakan itu untuk melindungi Leon agar tidak disebut sebagai perebut suami orang, Fiona.” Nyonya Susan menghela dalam napasnya sebelum memandang Fiona. “Orang media terus mengejar. Dan kami pikir menyebut kalian akan menikah adalah pilihan yang paling benar. Kalaupun benar kalian menikah juga tidak ada salahnya, ‘kan?” Di atas ranjang rawatnya, tubuh Fiona meremang. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan berakhir dengan luruh. “Apa tidak ada cara lain?” tanya Fiona sekali lagi. “Kak Leon akan sangat membenciku setelah ini, Tante.” “Itu cara yang paling cepat untuk menyelamatkan kita semua,” sahut Tuan Harlan. Fiona memilin ujung selimutnya, menunduk merasakan debaran jantungnya yang tidak nyaman dan menusuk. Rasa nyerinya menyapa hingga pelipis dan menjalar di kepalanya. “Om dan Tante harusnya menanyakannya dulu ke Kak Leon.” Fiona berujar lirih, “Kak Leon pernah bilang padaku kalau Brianna itu sudah bercerai dengan suaminya. Jadi hubungan mereka itu sebenarnya
Setelah meninggalkan ruang rapat, Leon mengatakan pada Ricky bahwa situasi mereka sangatlah krisis. Ia memanggil kepala pengacara RN Empire, CFO dan investor utama yang kebetulan teman dekatnya. Ia meminta pertemuan tanpa formalitas yang berlebihan. Tujuannya adalah menyelamatkan RN Empire sehingga semua dibahas secara cepat. Risiko hukum dipetakan, dana diamankan, dan rekomendasi dari tim penilai dijaga agar tidak berubah arah. Ia pontang-panting menguras otak bersama Ricky agar tidak ada pihak-pihak yang menunggangi skandal ini, terutama Josh. Partnernya yang kurang ajar itu! Leon ada di dalam mobil yang mengantarnya untuk pulang petang ini dan hendak menghela sejenak napasnya sebelum tiba-tiba Ricky yang ada di balik kemudi mengatakan, “Pak Leon, sepertinya Tuan dan Nyonya besar sudah mengambil tindakan.” Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik di kaca spion. Kedua alis Leon berkerut dibuatnya. “Apa maksudmu, Rick?” “Saya baru membaca pesan dari orang media kala
“Brianna!”Suara Katie terdengar di ambang pintu, kental akan kepanikan sebelum ia menyusul Brianna masuk ke dalam kamar mandi dan mengusap punggungnya.“Kamu kenapa, Brie?”“Hukk—“Brianna tak menjawab, ia masih sibuk dengan gelombang yang memilin lambungnya dan membuatnya mual.Isi perutnya tumpah di dalam closet dan itu membuat Katie cemas.“Asam lambung?” terka Katie sekenanya, barangkali juga tidak tega melihat wajah Briana yang sudah sepucat dinding.Katie menekan flush, membantu Brianna bangun setelah muntahnya selesai. Membiarkannya untuk berkumur dan barulah mereka meninggalkan kamar mandi.“Istirahatlah, Brie,” pinta Katie saat Brianna duduk di tepi tempat tidur.“Iya.”“Kamu sepertinya terlalu banyak pikiran. Tidurlah, aku belikan obat dulu.”“Terima kasih, Kat.”Katie mengangguk sebelum menjauh darinya. Suara langkahnya menghilang di luar kamar, menyisakan Brianna yang terdiam dalam lamunan.Pandangannya tertuju pada kalender kecil yang ada di atas meja, saat Brianna mempe







