Beranda / Romansa / Sepanas Belaian Mantan Kekasihku / 62. Mencuri Ranjang Brianna

Share

62. Mencuri Ranjang Brianna

Penulis: Almiftiafay
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 14:47:43
Di dalam salah satu kamar, seorang pria tengah bersiap untuk pergi. Ia mengancingkan kemeja yang ada di pergelangan tangannya, tersenyum menghadap cermin yang memantulkan kedatangan seorang wanita dan memeluknya dari belakang.

“Apa kamu akan pergi sekarang, Robert?” tanya wanita itu.

Pria yang dipanggilnya ‘Robert’ itu kemudian menoleh sehingga kini mereka berdiri berhadapan.

Sebuah kecupan diberikan untuk wanita itu teriring jawaban, “Iya, Lucia.”

Jari tangan wanita itu bergerak menyusuri garis dagu Robert dan berhenti di bibirnya. Mengusap bagian bawah bibir pria itu sementara tangannya yang lain menjelajahi dada dan perut Robert sebelum berhenti pada bagian sensitifnya.

“Lucia—jangan menggodaku! Aku benar-benar harus pergi untuk bertemu pembeli biar rumah ini terjual dengan cepat.”

“Ya, aku tidak suka kalau terus kamu minta ke sini karena ranjangnya itu pernah kamu pakai dengan dia.”

Lucia melirik ke arah ranjang yang ada di dekat mereka. Bibirnya tertekuk penuh rasa jijik se
Almiftiafay

suami ogeB dah kalah langkah dari Brie 🤣🤣🤣 eh apa tadi? hamil aja Brie gabisa?? 🫩😵‍💫😤😏

| 8
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Dasar suami busuk gk tau diri,..mampus ajj luw sana ...
goodnovel comment avatar
Eva
Ini si tipe suami yang udah salah tapi malah menyalahkan orang lain, nggak mau mengakui kesalahan dan egois. Brie nggak bisa hamil? Padahal kayanya dia lagi hamil anaknya Leon tuh, kalau Brie beneran hamil kayanya si serbet yang mandul deh, jangan2 yang di kandung Lucia bukan anaknya dia wkwk
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Suami rebel, dia yg selingkuh tp dia juga yg marah2, aneh ya laki modelan begitu. Mudah2an Brie hamil anak Leon lah kalau begini mah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   68. Kecupan Basah di Leher

    “T-tidak di sini, Leon,” cegah Brianna dengan cepat.Ia menjauhkan kepalanya agar Leon tak terus memberi ciuman. Bagaimanapun, mereka sedang ada di luar ruangan sekarang.“Jadi?”Brianna menoleh ke belakang. Hanya sepersekian milimeter yang membuat hidung mereka nyaris bersinggungan.“A-ada yang ingin aku tanyakan,” kata Brianna, menahan diri agar tak tenggelam dalam pesona iris biru Leon yang tampak sangat berkilauan.“Apa?”“Sejak malam itu, kamu masih belum menjawab pertanyaanku soal siapa Fiona, dan kenapa kamu bilang kalau dia bukan selingkuhanmu dulu?”Harusnya Leon ingat, sejak di hotel, kemudian pada pertemuan mereka di depan rumahnya malam itu, Leon masih belum memberinya kejelasan.“Bisakah sekarang kamu hanya memikirkan kita berdua saja? Aku membawamu sejauh ini tidak untuk membicarakan orang lain, Brie ....”Bibir Leon mendarat ringan di pipi Brianna. Tangannya berpindah ke sekitar pinggul, dan sedikit memberi dorongan saat berujar, “Ayo keluar dulu, kamu kedinginan.”Bria

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   67. Bikini

    Brianna meremas kimono yang ia kenakan saat mendengar itu. Sementara Leon kembali ke dalam kolam renang, menunggunya di dekat tangga turun yang ada di dalam air.“Tidak mau?” tanya Leon, kedua alisnya terangkat untuk beberapa detik.Serupa godaan yang merayu Brianna untuk segera menyusulnya.Brianna tak menjawab. Ia perlahan menguraikan ikatan yang ada di pinggangnya, membukanya dan meletakkannya di kursi malas sebelum melangkahkan kakinya dengan hati-hati pada anak tangga.Ia berpegangan pada tangan Leon yang terulur ke depan, seakan memastikan Brianna akan aman bersamanya.Air kolam yang sejuk menyapa. Dari sebatas pergelangan kaki, memenuhi betis hingga ke lututnya. Leon menangkap pinggangnya dengan cepat, memastikan Brianna tetap berada di permukaan sehingga ia bisa bernapas dengan leluasa.“Jangan panik,” kata Leon.Mengisyaratkan pada Brianna agar ia tetap rileks dan mengatur napasnya.Brianna menurutinya. Ia menghela dan membuang napasnya secara teratur. Tangannya yang semula m

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   66. Kencan Rahasia

    Brianna bersama Katie beberapa kali menunggu hingga larut malam agar dapat melihat siapa yang tinggal di seberang jalan. Tapi seperti tahu kedatangannya sangat dinantikan, tak satupun kemunculan yang didapati oleh Brianna maupun Katie. Hari ini, Brianna berpesan pada Katie untuk berhati-hati di rumah. Bahkan menyarankannya untuk pergi ke apartemen anak buahnya yang lain karena Brianna tidak akan pulang sampai hari minggu. Brianna beralasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, padahal ia pergi dengan Leon sejak pagi. Seperti yang telah mereka sepakati sebelumnya, menuju ke vila yang dulu pernah mereka datangi dalam kegiatan team building. Gemuruh terus bermunculan di dada Brianna sepanjang perjalanan hingga saat mereka tiba di sana. Gerbang tinggi dan halamannya yang luas menyambut. Saat keluar dari mobil dan berjalan bersama Leon, Brianna tak bisa menggambarkan seberantakan apa detak jantungnya. “Ayo!” ajak Leon, mengisyaratkan dengan matanya agar mereka masuk. Suasananya sa

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   65. Kebenaran Bersekat Tipis

    Meninggalkan ruang kerja Leon, jantung Brianna berdebar kencang. Panas menjalari tengkuknya dengan hanya membayangkan apa yang akan terjadi di vila itu nanti. ‘Tapi kalau dengan Leon, bukankah sudah pasti kami akan….’ Ia berhenti membatin, mengipasi wajah setibanya di dalam mobil. Perihal bertemu di vila, Brianna setuju akan hal itu. Ia antusias bukan hanya tentang project baru yang ke depannya akan ditanganinya lagi bersama dengan Arcadia, tapi juga karena ia merasa akan memiliki lebih banyak waktu bersama dengan Leon. Saat yang tepat untuk menanyakan apapun yang ingin diketahuinya. Berkendara menjauh dari RN Empire, Brianna menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko bakery. Ada kue yang dijual musiman dan kebetulan Brianna sangat ingin makan manis sekarang ini. Baru setelah itu, ia menuju ke rumah. Setibanya di sana, Katie dijumpainya juga baru datang. Temannya itu keluar dari mobil dan memandang Brianna yang membawa dua kotak kue. “Aku pikir kamu sudah pulang dari tadi, B

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   64. Rengkuhan Hangat di Lorong Senyap

    “Kamu—apa yang kamu lakukan, Leon?!” Brianna melebar kedua matanya, mendorong Leon agar membebaskannya karena mereka berada di tempat yang … ‘rawan.’ Jika ada yang melihat mereka berduaan di tempat sepi seperti ini, apa yang akan terjadi? Tapi sekalipun Brianna memberontak, tapi Leon tetap menghalangi jalannya. Tak seinci pun beranjak sehingga secara praktis Brianna tetap terperangkap di sana. “Kamu sudah gila?!” Hanya ditanggapi dengan mengangkat salah satu alisnya saja. Brianna menjauhkan tangannya dari dada Leon, mengembuskan napasnya dan memutar kedua bola matanya dengan malas. Seberapa kuat usahanya mencoba melarikan diri, itu tak akan berhasil. “Sejak kapan kamu di sini?” tanya Brianna. “Baru saja, melihat kamu dan menunggumu lewat.” “Padahal aku hampir bertemu dengan orang yang parfumnya mirip dengan penguntit itu, Leon. Tapi gara-gara kamu aku malah kehilangan jejak.” Alis lebat Leon berkerut dengan cepat, “Penguntit itu di sini?” “Hanya dugaanku. Wangi parfum meman

  • Sepanas Belaian Mantan Kekasihku   63. Wangi Itu? Tercium di RN Empire

    Di kantor Arcadia, Brianna memandang ponselnya yang berulang kali bergetar karena ada panggilan dari Robert. Meski nomornya tidak disimpan, tapi ia bisa mengenalinya dengan jelas. Brianna mengabaikannya, memilih untuk membaca laporan uji struktural yang kemarin diserahkan oleh tim lapangan melalui Katie. Hasilnya sekali lagi sangat memuaskan. Keseragaman angka yang tertera di sana membuat Brianna mengangguk penuh rasa senang. “Waktunya pergi ke RNE, Bu project manager,” ucap Katie yang berhenti di seberang meja. “Jangan terlambat, anak-anak yang lain sudah aku beri tahu untuk berangkat tadi.” “Iya,” jawab Brianna kemudian menutup laptopnya. Ia simpan terlebih dahulu lalu menghadap pada cermin kecil yang ada di samping monitor, membubuhkan kembali lipstik di bibirnya. “Kamu cantik seperti biasa,” puji Katie sebelum Brianna meninggalkan kursinya. Meraih paper bag berisikan mantel milik Leon yang malam itu diletakkan di punggungnya. “Kenapa harus dikembalikan?” Katie bertanya saa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status