로그인Ketika berita tentang Isla Anggara yang terlibat dalam skandal satu malam dengan triliuner tampan bernama Gabriel Wijaya tersebar luas, kabar itu langsung menjadi sorotan utama media. Untuk melindungi reputasi Isla sekaligus menjaga nama baik Keluarga Wijaya, kakek Gabriel yang berpengaruh memaksa keduanya menikah secara tiba-tiba. Namun, ada satu masalah. Gabriel mencintai wanita lain, Delphine Windaya, kekasih masa kecilnya. Dia setuju menikahi Isla hanya demi meredam skandal dan memulihkan citra publiknya. Hubungannya dengan Delphine pun tetap berlanjut. Kini, terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta dan dihakimi oleh keluarga yang menganggapnya tak lebih dari noda dalam garis keturunan mereka, Isla berjuang untuk bertahan. Dia berusaha membuat pernikahannya berjalan baik. Namun perlahan, dia mulai menyesuaikan diri, memilih untuk fokus pada kariernya daripada pada cinta yang dia yakini tak akan pernah menjadi miliknya. Isla mencintai Gabriel sepenuh hati, tetapi cintanya tidak pernah terbalas. Gabriel memberinya segalanya. Nama, kekayaan, dan perlindungan, tetapi tidak hatinya. Bagi Gabriel, Isla hanyalah seorang teman. Sampai akhirnya Isla memutuskan untuk menceraikannya. Namun, Gabriel menolak. Dia tidak akan pernah melepaskannya. Ketika rahasia-rahasia tersembunyi mulai terungkap, pandangan Gabriel terhadap Isla perlahan berubah. Untuk pertama kalinya, dia mulai merasakan perasaan yang tulus kepada istrinya dan mengakhiri hubungan panjangnya dengan Delphine, wanita yang selama ini semua orang kira akan dia nikahi. Namun saat benih cinta mulai tumbuh di antara Isla dan Gabriel, musuh pun bermunculan, dan bahaya mulai mengepung mereka dari segala arah .... Dalam jalinan rumit antara dendam keluarga, pengkhianatan, dan kebenaran yang terkubur, mungkin hanya Isla yang bisa menjadi kunci untuk memperbaiki segalanya atau justru menghancurkan mereka selamanya. Sebuah kisah penuh cinta, gairah, rahasia, dan penebusan yang menggugah hati.
더 보기Steve langsung mengambil liontin dari tangan Adara begitu wanita itu menyerahkannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi gerakannya cepat dan hati-hati, seperti orang yang sudah siap menghadapi apa pun."Kalau jam tangan anakku ada kameranya," katanya pelan. "Berarti di dalam liontin ini juga pasti ada sesuatu. Keduanya diberikan kepada kami oleh orang yang sama, di hari yang sama. Aku pikir itu hadiah ... tapi sekarang aku tahu, itu bukan sekadar hadiah."Steve mengangguk singkat, lalu segera keluar dari ruangan. Dia membutuhkan tempat yang sepi untuk memeriksanya.Sekarang, hanya Gabriel dan Adara yang tersisa di ruangan sunyi itu. Keheningan itu terasa berat.Adara menarik napas dalam-dalam, lalu kembali bicara."Dulu aku seorang aktris lokal," katanya. "Aku juga sering jadi pemeran pengganti."Mata Gabriel sedikit membesar.Sekarang dia mengerti kenapa wanita itu terlihat familier sejak awal. Dia sudah berkali-kali mencoba mengingat, berusaha menempatkan wajah itu di ingatannya.'Jadi da
Adara terbaring diam di ranjang rumah sakit, matanya menatap pola-pola indah yang terukir di langit-langit ruang VIP. Desainnya elegan dan mahal, tetapi dia tidak melihat keindahan di sana. Dadanya naik turun terlalu cepat, napasnya tidak teratur, karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal.Anaknya. Desmond.Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia ketakutan? Apakah dia berpikir kalau dia dicampakkan? Semua itu terus memenuhi pikirannya.Pintu kamar terbuka pelan, dan jantungnya langsung berdebar kencang.Dia segera menoleh, matanya terpaku ke arah pintu. Dua pria memasuki ruangan. Dia langsung mengenali salah satunya.Gabriel Wijaya, suami atasannya.Pria yang sangat mirip dengan anaknya, sampai-sampai selalu membuatnya takut.Pria lain di sampingnya bertubuh tinggi, sikapnya tegas, dan mengeluarkan aura tenang yang berbahaya. Matanya tajam, dingin, dan penuh pengamatan. Dia tidak mengenalnya, tetapi semua hal tentang pria itu memancarkan wibawa.Rasa takut langsung menjalar di tubuhn
"Apa yang terjadi pada ayahku, Steve?"Suara Gabriel terdengar pelan dan tertahan saat matanya menangkap pemandangan di depannya.John dan Gladys terbaring di dua ranjang rumah sakit yang berbeda, diletakkan berdampingan di dalam satu ruang privat.Bunyi pelan alat monitor jantung memenuhi ruangan, stabil tetapi menegangkan. Selang-selang terpasang di tubuh John, jumlahnya lebih banyak dibanding Gladys. Mesin-mesin mengelilinginya, diam-diam bekerja menggantikan fungsi tubuhnya yang kesulitan bekerja dengan normal.Melihat ayahnya seperti ini, dengan perban melilit di kepalanya, membuat dada Gabriel terasa sesak."Mereka diculik," kata Steve dengan tenang, tetapi tatapannya serius. "Ayahmu mengalami luka yang cukup parah."Rahang Gabriel mengeras."Aku menduga Wyatt terlibat besar dalam semua ini," lanjut Steve. "Kita akan tahu semuanya setelah ayahmu cukup kuat untuk bicara dengan jelas."Gabriel memejamkan matanya.Selama beberapa detik, dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berdir
Tawa kecil terdengar.Lalu lagi.Dan lagi.Hanya itu yang dilakukan oleh John.Suara itu menggema pelan di dalam ruangan besar yang dingin, memantul di dinding kosong dan lantai berubin. Ruangan itu berbau semen lembap, darah kering, dan sesuatu yang lebih menjijikkan.John dan Gladys duduk di lantai, punggung mereka menempel ke dinding. Tangan mereka terikat erat di belakang, dan kaki mereka diikat menjadi satu dengan tali tebal. Tidak ada jalan keluar. Bahkan jendela kecil di sana pun tertutup rapat.Kemeja putih yang dikenakan John sudah tidak lagi berwarna putih. Kainnya basah oleh darah kering yang menghitam. Bibirnya pecah, wajahnya lebam, dan darah masih merembes pelan dari sudut mulutnya.Namun, bahkan dalam kondisi seperti itu pun dia tetap terlihat tampan.Dan dia tertawa seolah-olah dirinya belum cukup disiksa. Tawa itu hambar, mengejek, dipenuhi rasa sakit dan perlawanan."Kamu pikir kamu lucu, John? Sama sekali nggak!" bentak seorang wanita paruh baya berambut pendek dan b
"Jangan kaget, Isla," kata Alfred dengan senyum tipis penuh makna. "Ada banyak hal tentang diriku yang belum kamu ketahui. Dan hari ini, aku akan menceritakan sedikit. Bukan karena aku ingin, tapi karena kamu pantas mengetahuinya."Dia berhenti sejenak, mencengkeram gagang tongkatnya sebelum berjala
Gabriel berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit di kantor besarnya, menatap hiruk-pikuk Jalan Waduk, salah satu distrik bisnis tersibuk di Carapa. Malam telah tiba dan jalanan di bawah berkilau oleh cahaya lampu mobil keemasan serta bayangan orang-orang yang bergerak cepat. Mereka berge
"Wow," kata Isla perlahan, suaranya sarat sarkasme. "Wow, Delphine. Benar-benar ... wow. Aku nggak menyangka ingatanmu sependek ini."Ucapan itu memecut seperti cambuk. Desahan terkejut terdengar di sekeliling mereka, bergema lembut di ruangan itu. Untungnya, tak ada orang luar di sana. Para pengawa
Gabriel tidak mengetuk. Dia mendorong pintu kantor Isla hingga terbuka dan masuk, kehadirannya seolah-olah memenuhi seluruh ruangan.Semua orang langsung terdiam. Jeff dan yang lainnya menghentikan pembicaraan, dan rasa takut begitu jelas terlihat di wajah mereka. Ini CEO mereka, tak ada seorang pun












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기