Short
Setelah Aku Menurut, Keluargaku Menjadi Gila

Setelah Aku Menurut, Keluargaku Menjadi Gila

โดย:  Mulafaจบแล้ว
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8บท
3.3Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Pada tahun keenam setelah diusir dari keluarga kaya karena dianggap sebagai putri palsu, aku bertahan hidup dengan menjual darahku. Baru saja aku menerima sedikit uang dan hendak menghubungi dokter untuk membeli obat, seorang pengawal menendang belakang lututku dengan keras. Saat jatuh berlutut, aku mendengar seorang wanita kaya berteriak tak terkendali. "Dasar anak nggak tahu terima kasih! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau coba celakai Sophia-ku lagi?" Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Aku baru menyadari bahwa itu adalah ibuku yang sedang mengumpulkan sumber darah untuk putri kesayangannya, Sophia. Melihat ibuku yang putus asa, kakak laki-lakiku, Owen, segera memerintahkan para pengawal untuk mengusirku. Dia menatap uang di tanganku dan mencibir, "Sepertinya, beberapa tahun terakhir masih belum mengubah sifatmu. Demi kemewahan semu, kamu bahkan rela menjual darah untuk dapatkan beberapa ratus ribu." "Sophia akan lulus dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi dalam setengah bulan. Dia nggak butuh perhatian eksklusif keluarga lagi, sedangkan kamu juga nggak akan bisa menindasnya. Nanti, aku akan jelaskan alasannya kepada Ayah dan Ibu, lalu membawamu pulang. Kamu akan tetap menjadi tuan putri di rumah." "Pulang ... tuan putri?" gumamku. Akhirnya, aku hanya menggeleng dan tertawa terbahak-bahak. Aku mengidap penyakit ALS, penyakit saraf yang bisa menyebabkan tubuh lumpuh secara perlahan. Penyakit ALS-ku berkembang terlalu cepat dan aku bahkan tidak akan mampu bertahan sebulan lagi. Lagi pula, ketika dia menuduhku sebagai putri palsu demi Sophia yang hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, aku sudah lama kehilangan rumah.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 1 

Pada tahun keenam setelah diusir dari keluarga kaya karena dianggap sebagai putri palsu, aku bertahan hidup dengan menjual darahku. Baru saja aku menerima sedikit uang dan hendak menghubungi dokter untuk membeli obat, seorang pengawal menendang belakang lututku dengan keras.

Saat jatuh berlutut, aku mendengar seorang wanita kaya berteriak tak terkendali. "Dasar anak nggak tahu terima kasih! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau coba celakai Sophia-ku lagi?"

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Aku baru menyadari bahwa itu adalah ibuku yang sedang mengumpulkan sumber darah untuk putri kesayangannya, Sophia.

Melihat ibuku yang putus asa, kakak laki-lakiku, Owen, segera memerintahkan para pengawal untuk mengusirku. Dia menatap uang di tanganku dan mencibir, "Sepertinya, beberapa tahun terakhir masih belum mengubah sifatmu. Demi kemewahan semu, kamu bahkan rela menjual darah untuk dapatkan beberapa ratus ribu."

"Sophia akan lulus dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi dalam setengah bulan. Dia nggak butuh perhatian eksklusif keluarga lagi, sedangkan kamu juga nggak akan bisa menindasnya. Nanti, aku akan jelaskan alasannya kepada Ayah dan Ibu, lalu membawamu pulang. Kamu akan tetap menjadi tuan putri di rumah."

"Pulang ... tuan putri?" gumamku. Akhirnya, aku hanya menggeleng dan tertawa terbahak-bahak.

Aku mengidap penyakit ALS, penyakit saraf yang bisa menyebabkan tubuh lumpuh secara perlahan. Penyakit ALS-ku berkembang terlalu cepat dan aku bahkan tidak akan mampu bertahan sebulan lagi.

Lagi pula, ketika dia menuduhku sebagai putri palsu demi Sophia yang hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, aku sudah lama kehilangan rumah.

...

Aku terlalu lemah untuk menangkap uang kertas yang tersapu oleh embusan angin. Aku pun menyeret kakiku yang tak mau menuruti perintahku dan mengejar uang itu.

Semua orang di sekitarku menatapku seolah-olah aku adalah monster. Namun, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya tahu bahwa jika uang itu hilang, obat khusus yang sudah lama kurencanakan ingin kubeli akan kembali jadi angan-angan.

Seluruh perhatianku terfokus pada uang kertas yang tertiup angin, sampai-sampai aku tidak mendengar makian kasar dari orang-orang yang lewat. Suara-suara hinaan itu membuat ekspresi Owen perlahan-lahan menjadi sangat suram.

Dia tidak tahan lagi dan berseru marah, "Kaia! Sialan! Kamu bahkan rela membuang semua harga dirimu demi buat aku merasa kasihan padamu? Bukannya aku cuma mengusirmu dari rumah dan titipkan kamu kepada orang lain untuk sementara? Keluarga itu cukup kaya. Siapa yang mau coba kamu bodohi dengan tampang menjijikkanmu ini?"

Suara yang familier itu menghantam hatiku seperti pukulan palu. Jantungku bergetar hebat. Dia bisa mendeskripsikan hal itu dengan santai, tetapi itu adalah neraka yang tak ingin kuingat lagi seumur hidupku. Tenggorokanku terasa pahit, tetapi aku hanya berhenti untuk mengumpulkan kekuatan sebelum lanjut melangkah lagi.

Caraku berjalan benar-benar aneh. Ekspresi Owen pun sedikit melunak. Matanya yang gelap akhirnya menunjukkan bahwa dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia melangkah dengan cemas ke arahku, lalu hendak mengajukan pertanyaan.

Tiba-tiba, Sophia muncul dan menutup mulutnya dengan terkejut. "Oh, Kak Kaia, kamu bukan cuma minta pihak rumah sakit untuk buat hasil diagnosis ALS palsu, tapi juga mulai bersandiwara?"

Sambil berbicara, dia menyerahkan hasil diagnosisku kepada Owen. Suaranya penuh dengan kesedihan saat berkata, "Kak Owen, aku tahu Kak Kaia berbuat begini cuma agar bisa cepat pulang. Aku yang sudah pengaruhi hubungan kalian. Kalau nggak, kalian kirim saja aku ke luar negeri lebih awal?"

Owen membaca laporan medis itu. Akibat hasutan kata-kata Sophia, dia mengepalkan tangan dan menggertakkan gigi.

"Aku hampir tertipu sama tipu dayamu! Kaia, setelah bertahun-tahun, selain berbohong, kamu bahkan belajar berpura-pura sakit? Jangan sampai kamu benar-benar mati sebelum pulang ke rumah!"

Owen melempar laporan medis itu ke arahku dan langsung menarik Sophia pergi. Aku baru tersadar ketika Sophia berbalik dan memberiku isyarat kemenangan.

Aku menertawakan diriku sendiri. Memangnya kenapa meskipun aku adalah adik kandung Owen? Apa pun yang terjadi, selama itu melibatkan Sophia, semuanya adalah salahku dan aku yang berbohong.

Namun, semua itu tidak penting lagi sekarang. Aku hanya ingin segera mendapatkan obatku agar bisa merasa lebih baik. Aku mengambil uang itu dan naik bus menuju rumah sakit.

Aku terjebak macet cukup lama karena ada antrean panjang truk dengan spanduk yang mengiklankan donasi Keluarga Junardi. Saat melihat video di internet, aku baru menyadari bahwa Owen yang menyumbangkan perlengkapan medis ke area pegunungan.

Tiba-tiba, aku menerima telepon dari dokter. Dia menghela napas dengan menyesal.

"Nona Kaia, kamu nggak usah datang lagi. Pak Owen bilang, kamu cuma pura-pura sakit. Dia sudah turunkan perintah untuk melarang semua rumah sakit meresepkan obat buat kamu agar nggak sia-siakan bahan obat."

Namun, dokter ini jelas-jelas tahu mengenai kondisiku dan sudah berjanji untuk menyimpan obat untukku. Tidak peduli bagaimana aku memohon, dia tidak bergeming dan akhirnya menutup telepon.

Aku menatap kosong spanduk donasi Keluarga Junardi di luar jendela mobil dan merasa itu benar-benar ironis. Ketika mensponsori Sophia dulu, Owen tidak pernah ragu untuk menghabiskan uang baginya. Dalam tim bantuan dan donasi untuk wilayah pegunungan, Keluarga Junardi juga secara konsisten menduduki peringkat pertama.

Aku hanya membeli obat dengan uangku sendiri. Namun, di mata Owen, itu malah merupakan hal menyia-nyiakan bahan obat.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

SiDer
SiDer
singkat dan jelas. ungkapan diakhir benar² melegakan.
2026-04-22 15:34:06
0
0
Sarah Kamilya
Sarah Kamilya
ah cerita jelek yg terlalu dipaksakan, nyesel gue bacanya, cuma dapet darting nya doang wkwk, kirain karma buat orang2 biadab dan tolol melebihi binatang itu bakalan setimpal, ternyata engga.
2026-05-13 08:15:03
0
0
Sarah Kamilya
Sarah Kamilya
cerita diluar nalar dan akal pikiran manusia, masa iya ada keluarga se TOLOL ini, cuma modal omongan orang asing langsung percaya gitu aja sampe menelantarkan bahkan menyiksa adik dan putri kandungmya bertubi2... keluarga junardi ini kl diukur IQ nya sama binatang juga masih tinggian IQ binatang wkwk
2026-05-13 08:08:28
0
0
Sarah Kamilya
Sarah Kamilya
penyelesaian konfliknya terlalu diburu2in jadi ga dapet feels nya, ibaratnya si kaia udg disiksa bertubi2 eh karma buat orang2 jahat - biadabnya cuma diringkas dalam 1 bab doang... mana karma buat si lonte sophia cuma begitu doang, harusnya disiksa sampe berhari2 bahkan berbulan2 bukan sekali doang!!
2026-05-13 08:06:01
0
1
8
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status