Short
Ramalan yang Membunuhku

Ramalan yang Membunuhku

By:  MakjosCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat aku dan kakakku lahir, orang tuaku sampai memanggil seorang peramal untuk meramal nasib kami. Kata peramal itu, kakakku akan menderita depresi berat karena prestasiku yang terlalu cemerlang. Setelah nilai ujian masuk universitas diumumkan, dia akan melompat dari atap sekolah dan mengakhiri hidupnya. Demi menyelamatkan kakakku, mereka mendidikku dengan penuh tekanan dan caci maki selama 18 tahun. Bahkan, pada hari ujian, mereka merampas kartu ujianku. Aku berlutut memohon pada mereka, dahiku membentur ubin dengan keras. Ayah menendangku sampai terpental ke dalam ruang pembeku, lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari luar. "Kamu tahu 'kan kakakmu bisa mati gara-gara kamu, tapi kamu masih ngotot mau ikut ujian. Apa kamu sengaja mau mendesaknya sampai mati, hah?" Suhu di dalam ruang pembeku itu minus 30 derajat Celcius. Aku cuma pakai seragam sekolah lengan pendek. Aku menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga. "Ibu, di sini dingin banget! Tolong keluarin aku …." "Ngapain sih ngada-ngada?" Suara Ibu melengking tajam. "Di dalam sana sama sekali nggak dinyalain pendinginnya! Kakakmu tinggal selangkah lagi buat lepas dari ramalan sialan itu, dan kamu masih aja mikirin diri sendiri?" Suara langkah kaki menjauh. Darah terus mengalir deras dari dahiku, menetes membasahi seragam sekolah, dan seketika terasa membeku. Aku meringkuk di sudut ruangan. Tubuhku perlahan-lahan .... Menjadi kaku ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Anggota tubuhku terasa berat seolah dibebani timah.

Aku mendengar suara Kakak dari balik pintu.

"Ayah, Ibu, mendingan kalian keluarin Saras deh! Nilainya 'kan bagus banget, sayang kalau sampai nggak ikut ujian ...."

"Diam!"

Suara Ibu terdengar panik dan marah.

"Ini situasinya genting, kamu masih aja membela dia? Kamu lupa waktu dia juara satu dan pamer-pamer di depan kamu?"

Aku tahu kejadian yang dimaksud Ibu.

Waktu itu aku sepuluh tahun.

Aku dapat nilai sempurna di matematika, 20 poin lebih tinggi dari Kakak.

Aku berlari pulang sambil mengacungkan lembar ujian, saking senangnya sampai wajahku memerah.

Aku bilang, "Aku lebih jago dari Kakak!"

Begitu Kakak mendengarnya, matanya langsung memerah.

Ibu langsung panik dan menangis.

Ayah langsung menghampiriku dan menamparku keras sampai aku terjatuh.

Darah hidungku mengalir, menetes membasahi lembar ujian bernilai sempurna itu.

Malam itu, aku dikurung di ruang pembeku untuk merenungi kesalahanku.

Keesokan paginya, saat aku dikeluarkan, tangan dan kakiku sudah mati rasa.

"Dia tuh dari kecil udah punya pikiran yang nggak bener. Tahu ada ramalan itu masih aja pamer. Aku yakin dia emang sengaja!"

Suara Ibu terdengar dingin.

Aku bersandar di pintu, bahkan tak punya tenaga untuk menggeleng.

Bukan begitu, Ibu.

Waktu itu aku baru sepuluh tahun.

Cuma seorang anak yang ingin dipuji oleh orang tuanya.

Aku mengerti kalian takut kehilangan Kakak.

Namun, kenapa kalian malah menganggapku musuh?

Aku juga anak kalian, 'kan ....

Tanganku mengetuk pintu berulang-ulang.

Aku cuma ingin mengingatkan mereka kalau pendinginnya lupa dimatikan.

"Bu, tapi sekarang aku udah dewasa, nggak serapuh dulu lagi. Mana mungkin aku sampai stres cuma karena Saras lebih hebat dari aku?"

Suara Kakak terdengar sungguh-sungguh cemas.

"Gimana kalau peramal itu cuma ngarang? Kalian nggak bisa dong cuma gara-gara itu ngurung Saras ...."

Ayah langsung menyela.

"Cukup, Anna! Kami nggak bakal biarin kamu ambil risiko itu!"

Selesai bicara, dia menoleh ke arah ruang pembeku.

Nadanya berubah berat, seolah sedang menasihati.

"Saras, ini semua demi kebaikan keluarga kita. Kamu juga nggak tega 'kan lihat kakakmu lompat dari gedung gara-gara kamu?"

"Kamu nurut aja di dalam. Tunggu kakakmu selesai ujian. Semuanya bakal beres, oke?"

Aku tak bisa bersuara.

Hawa dingin sudah memenuhi paru-paruku.

Dadaku sakit seolah-olah mau retak karena membeku.

Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku. Untuk terakhir kalinya, mengetuk pintu dengan keras.

Ibu bergegas menghampiri dan menendang pintu.

"Saras! Kamu ngapain ngamuk sih? Apa harus aku kasih pelajaran biar kamu kapok?"

Selesai membentak, dia membuka pintu ruang pembeku.

Pintu akhirnya terbuka sedikit, menyisakan celah.

Seberkas cahaya menerobos masuk.

Jantungku seketika menegang.

Apa aku sudah diselamatkan?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status