Mag-log inPanggilan yang familiar itu sontak menghancurkan sisa-sisa kantuk Sabiya.Tubuhnya tersentak hebat. Ia membuka matanya lebar-lebar, lantas bangkit dari posisi berbaring.Tanpa memedulikan kakinya yang masih lemas, Sabiya berlari semampunya. Ia langsung berdiri di samping brankar, tempat Roman berbaring.Di bawah pendar cahaya temaram ruangan, Sabiya bisa melihat sepasang mata kelabu milik Roman telah terbuka. Tatapan pria itu tampak sangat sayu, kosong, dan tidak fokus.Efek obat bius dosis tinggi dan ketidaksadaran selama berhari-hari membuat Roman kehilangan orientasi ruang dan waktu.Kelopak mata Roman bergerak lambat, mengerjap beberapa kali seolah cahaya lampu di atasnya menyiksa retina matanya.Napas pria itu tiba-tiba berubah memburu. Dada bidangnya yang dibalut perban naik turun dengan cepat, mengembunkan bagian dalam masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya.Di dalam alam bawah sadar Roman yang masih kacau, memori terakhir yang terekam adalah penculikan dan pertempuran d
Usai berpamitan, dokter dan perawat berjalan keluar dari kamar rawat, menyisakan Sabiya bersama para pengawal. "Nyonya, kami bertiga akan berjaga di depan kamar ini. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, cukup panggil kami,” ujar Dante.Sabiya memandang ke arah Dante. Ia bisa melihat dengan jelas betapa kacaunya kondisi pria di hadapannya ini.Dante telah mengatur pertempuran, mengevakuasi Roman, mengurus jenazah Nyonya Regina, hingga terbang melintasi samudra tanpa memejamkan mata sedetik pun. Begitu pula dengan Liam dan Nathan yang telah bersiaga sejak pagi."Kalian tidak perlu menunggu di luar malam ini," ucap Sabiya. Ia menatap Dante, Liam, dan Nathan secara bergantian."Sebaiknya, kalian bertiga pulang. Kembalilah ke rumah, bersihkan diri, dan beristirahatlah dengan tenang.""Tapi, Nyonya, keamanan Tuan Roman—""Lantai ini sangat aman, Dante. Aku sendiri yang akan menemani Roman sepanjang malam,” potong Sabiya meyakinkan. “Kalian bisa kembali besok.”Mendengar ketegasan dari istri bo
Angin malam Denver berembus semakin kencang, menusuk lapisan mantel yang dikenakan Sabiya hingga ke pori-pori kulitnya. Namun, rasa dingin itu sama sekali tidak dihiraukannya.Sabiya terus berdiri mondar-mandir di selasar lobi Rumah Sakit Sentral Denver. Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat erat, sementara pandangannya tak pernah lepas dari jalan raya.Sudah lewat dua puluh menit dari waktu perkiraan yang Dante sebutkan, tetapi tanda-tanda kedatangan rombongan itu belum juga terlihat.Sabiya mencoba menghubungi nomor Dante untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, suara operator otomatis kembali terdengar, menyatakan bahwa nomor tersebut masih di luar jangkauan.Berbagai skenario buruk mulai berkelebat di dalam kepala Sabiya.Bagaimana jika terjadi sesuatu pada pesawat itu? Bagaimana jika kondisi Roman memburuk di udara?Kepanikan Sabiya hampir mencapai puncaknya, hingga sayup-sayup terdengar deru mesin mobil memecah kesunyian.Sabiya menahan napas. Dari ujung jalan, sorot lampu yang
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat Denver, membuat suhu udara di luar sana turun drastis.Di dalam unit apartemen milik Sabiya, suasana ruang makan terasa begitu hangat. Meja makan dipenuhi oleh hidangan malam lezat yang disiapkan oleh Bibi Elma.Sabiya duduk di kursi, menemani kedua putranya menyantap makan malam mereka.Meski hatinya dipenuhi oleh debar kecemasan menjelang kepulangan Roman, Sabiya berusaha keras menampilkan senyuman paling cerah. Ia tidak ingin Ares dan Altair merasakan kegelisahan yang sama."Brokoli dan bayam jangan disisihkan, Ares," ucap Sabiya lembut.Ares mengangguk patuh, mengunyah makanannya dengan pipi yang menggembung lucu.Di sebelah Ares, Altair makan dengan lebih tenang dan teratur, tetapi sepasang mata bulat anak itu terus mencuri pandang ke arah ibunya.Altair memiliki kepekaan yang sangat tajam. Ia tahu sang ibu sedang memikirkan sesuatu.Usai makan malam selesai, Sabiya memanggil kedua putranya untuk duduk bersama di sofa ruang tengah. Ia merang
Tepat di saat kepalanya hampir meledak oleh berbagai intrik jahat, ponsel milik Clara yang tersimpan di dalam saku blazernya berdering nyaring.Dengan napas yang masih tersengal-sengal, ia menarik benda pipih tersebut. Layar ponsel menampilkan nama sang ayah.Clara pun membuang napas kasar melalui mulut untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Setelah yakin emosinya cukup terkendali, barulah ia menggeser ikon hijau."Halo, Papa," sapa Clara, nada suaranya dibuat sedatar mungkin.Dari seberang saluran internasional, suara Tuan Simon menyapa pendengaran Clara."Sayang, kau berada di mana sekarang?"Clara memutar bola matanya malas. Kekecewaan dan kesal yang ia rasakan pada dunia mendadak ia tumpahkan pada ayahnya sendiri."Aku masih di sekolah!" sahut Clara dengan nada ketus. "Aku sudah bilang pada Papa berulang kali, sekarang aku bekerja menjadi guru musik di Denver. Telepon dari Papa ini benar-benar mengganggu pekerjaanku."Terdengar helaan napas pasrah dari Tuan Simon di sebera
Suasana di ruang musik Bright School terasa lebih riuh dari biasanya. Jam pelajaran terakhir sengaja digabungkan antara kelas Ares dan kelas Altair karena ruang auditorium utama sedang dipakai untuk persiapan acara tahunan.Di sudut depan ruangan, Clara sedang mengiringi latihan vokal anak-anak.Dengan setelan rok lipit anggun dan senyum manis yang sengaja ia poles di wajahnya, Clara memainkan beberapa nada terakhir di atas tuts piano.Namun, di balik keramahan palsu yang ia tunjukkan kepada murid-muridnya, mata wanita itu tak pernah lepas mengawasi dua anak laki-laki kembar yang duduk di barisan tengah.Ares dan Altair. Dua bocah yang selalu menjadi target bagi niat terselubungnya.Saat jarum jam menunjukkan akhir dari pelajaran musik, Clara berdiri dari kursi. Ia menepuk tangan beberapa kali untuk menarik perhatian seluruh murid di ruangan tersebut."Baiklah, Anak-anak, pelajaran musik hari ini sudah selesai," ucap Clara lantang. "Tapi, sebelum kalian membereskan tas dan pulang, Mis
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de







