로그인Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.
Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur dengan kebingungan.
Martha baru saja selesai menata kotak makanan di atas meja, sementara Mia memegang nampan kosong.
Sabiya mengabaikan tatapan penuh tanya dari kedua pelayannya, lalu duduk dengan anggun.
Seperti pesan yang ditulisnya tadi, sebagian besar hidangan sudah terbungkus di dalam kotak-kotak makanan, siap untuk dibagikan ke luar gerbang. Di atas meja hanya tersisa segelas jus jeruk dan sepotong kecil pancake yang sengaja disisakan Martha untuknya.
Sabiya meraih garpu, memotong sedikit bagian pancake dan menyuapkan ke dalam mulut. Namun, tenggorokannya yang meradang membuat tindakan menelan terasa seperti siksaan.
Dengan susah payah, Sabiya meneguk jus jeruk untuk meradakan rasa perih.
Merasa tak sanggup lagi untuk makan, Sabiya meletakkan garpunya. Ia mengambil buku catatan kecil yang selalu ia selipkan di saku gaun, lalu menuliskan beberapa patah kata untuk sang pelayan.
[Bantu aku siapkan korek api, minyak tanah, dan sebuah tong besi kosong di halaman belakang.]
Martha membaca tulisan itu, lalu bertukar pandang dengan Mia yang nampak cemas.
"Nyonya Muda... apakah Anda benar-benar ingin membakar semua barang di dalam kardus? Ini semua adalah barang-barang berharga."
Sabiya tidak membalas dengan tulisan baru. Ia hanya menatap Martha dengan sorot dingin dan tegas. Kelembutan yang biasanya memancar dari wajah sang nyonya muda telah menguap sepenuhnya.
Melihat kekerasan hati Sabiya, Martha akhirnya menundukkan kepala. "Baik, Nyonya Muda. Kami akan menyiapkan segera."
Lima belas menit kemudian, Sabiya sudah berdiri di area halaman belakang rumah. Sebuah tong besi berukuran besar diletakkan di atas tanah, sementara di sampingnya ada kardus berisi memori masa lalu yang akan ia buang.
Martha menyerahkan sebotol minyak tanah dan sekotak korek api kepada Sabiya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sabiya menerima benda-benda itu tanpa kata. Dengan gerakan tenang, ia mulai melemparkan barang-barang dari kardus. Dimulai dari gumpalan gaun-gaun bertali satu, kotak musik, jam tangan, dan terakhir foto pernikahannya bersama Roman.
Sabiya membuka tutup botol minyak tanah dan menyiramkan cairan berbau menyengat itu ke dalam tong. Tanpa ragu sedikit pun, ia lantas melemparkan sebatang korek api yang telah dinyalakan.
Wushhh!
Dalam sekejap, api berkobar besar, menjilat ke atas dan melahap semua barang di dalam tong. Asap hitam pekat mulai membubung tinggi ke atas langit.
Sabiya berdiri terpaku, menatap kobaran api yang memantul di dalam sepasang matanya yang redup.
Ia melihat bagaimana wajah tersenyum Roman di dalam foto perlahan menghitam, melepuh, dan hancur menjadi abu. Gaun-gaun sutra yang dulu pernah dipuji Roman kini meleleh tak bersisa.
Namun, saat barang-barang itu hampir berubah menjadi tumpukan arang, tubuh Sabiya mulai memberikan sinyal bahaya. Rasa perih di tenggorokannya terasa kian mencekik, seolah api di dalam tong telah berpindah dan membakar bagian dalam lehernya.
Napas Sabiya mendadak tersendat-sendat. Pandangan matanya mengabur dan berputar, dengan latar belakang asap hitam yang membubung.
"Nyonya Muda!"
Martha dan Mia langsung berlari kencang saat melihat tubuh Sabiya limbung ke samping. Dengan sigap, kedua pelayan itu menahan tubuh sang nyonya sebelum sempat menghantam tanah.
"Ya Tuhan, tubuh Nyonya sangat panas!" pekik Mia.
Tak kalah cemas, Martha segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Sabiya.
"Nyonya demam tinggi! Tubuhnya seperti membara. Mia, cepat bantu aku memapahnya ke dalam!"
Dirundung kepanikan yang memuncak, Martha dan Mia memapah tubuh Sabiya yang sudah terkulai lemas ke dalam rumah. Mereka membawa wanita itu ke ruang tengah dan membaringkannya di atas sofa beludru panjang.
Sabiya terduduk lemas di sana, kepalanya bersandar pada bantalan sofa dengan wajah memerah. Matanya setengah terpejam, kesadarannya mulai timbul tenggelam akibat suhu tubuhnya yang melonjak drastis.
"Mia, ambilkan kompres air dingin dan air putih hangat sekarang!" perintah Martha dengan suara bergetar.
Sementara Mia berlari kencang menuju dapur, Martha merogoh saku celemeknya untuk mengeluarkan ponsel. Sebagai kepala pelayan, ia memiliki jalur komunikasi langsung dengan sang tuan muda untuk masalah darurat rumah tangga.
Tanpa membuang waktu, Martha mencari kontak Roman dan menekan tombol panggil. Suara nada sambung telepon terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
Dalam kondisinya yang lemas dan menahan rasa sakit, Sabiya masih bisa mendengar segalanya.
Tut... Tut... Tut...
Telepon itu tidak segera diangkat. Martha mondar-mandir di depan sofa dengan raut wajah frustrasi, menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga.
"Ayo, Tuan Muda, angkat..." gumam Martha panik.
Setelah dering kelima, barulah sambungan telepon itu terhubung.
Suara Roman terdengar dari seberang saluran, tetapi tidak terlalu jernih. Di latar belakang telepon, Sabiya bisa mendengar bunyi hiruk-pikuk khas rumah sakit.
"Ada apa, Bi Martha? Aku sedang sibuk sekarang," ucap Roman dari seberang sana. Nadanya terdengar ketus, tidak sabar, dan dipenuhi kecemasan yang tertuju pada hal lain.
"T-tuan Muda, maaf mengganggu Anda," ucap Martha dengan terbata-bata. "Nyonya Muda Sabiya sakit. Tubuhnya demam tinggi dan wajahnya pucat sekali. Nyonya hampir pingsan di halaman belakang. Apa... apa Tuan Muda bisa pulang sekarang?"
Hening sesaat merayap di seberang saluran telepon. Sabiya menahan napasnya yang terasa panas, menanti jawaban dari pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Aku sedang ada urusan yang sangat penting di luar. Aku tidak bisa pulang,” balas Roman dingin.
Sabiya memejamkan matanya, merasakan ada belati tajam yang menusuk tepat di tengah jantungnya yang sudah hancur.
Jadi, Roman menganggap urusan menemani Clara yang berpura-pura sakit, jauh lebih penting daripada menjenguk istrinya yang tak berdaya di rumah.
"Berikan Sabiya obat penurun panas yang ada di kotak obat, lalu suruh dia beristirahat," lanjut Roman dengan nada acuh tak acuh. "Aku baru bisa kembali ke rumah nanti malam.”
Tepat setelah Roman menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara wanita memanggil dari arah belakang.
"Roman... dokter memanggil kita masuk ke ruang periksa."
Mendengar panggilan manja itu, nada bicara Roman langsung berubah drastis. “Lakukan saja apa yang kukatakan tadi, Bibi Martha!”
Bip.
Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak oleh Roman, tanpa menunggu jawaban dari sang pelayan.
Setelah ciuman mendadak yang tak ia duga, Sabiya refleks mendorong dada bidang Roman agar menjauh. Napasnya masih memburu, sementara pipinya merona merah padam akibat keterkejutan yang luar biasa."Roman, jangan pernah bertindak sembarangan seperti itu," protes Sabiya setengah berbisik. Ia menunjuk ke arah kursi depan lewat sudut matanya."Di depan ada sopir dan pengawalmu... mereka bisa melihat kita!"Bukannya merasa bersalah, Roman malah menampilkan ekspresi tanpa dosa yang menyebalkan."Mereka tidak akan melihat apa pun. Ada tirai yang menutupi kita," balas Roman santai."Kau tadi yang bertanya aku mau apa. Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan cara yang paling jujur."Sabiya mendengus kesal. Ia memilih untuk tidak mendebat pria itu lebih jauh, karena Roman selalu memiliki argumen yang kuat.Beruntung, perdebatan kecil itu terhenti ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir hotel.Ketika mobil berhenti, Sabiya langsung membuka pintu tanpa menunggu aba-aba. Ia melihat m
Dengan dibantu oleh pengawalnya yang memasangkan kruk di lengan kanan, Roman Valeriano memantapkan langkah. Ia berjalan mendekati pelataran Flagship Boutique.Begitu tiba di dekat Sabiya dan Dominic, Roman tidak membuang waktu. Ia menatap lekat wanita di hadapannya dengan sorot mata yang melembut, lalu berucap dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan."Sayang, aku datang menjemputmu," ucap Roman tenang.Saking terkejutnya dengan kehadiran Roman yang tiba-tiba, tubuh Sabiya menegang. Lidahnya kelu, sementara Roman sudah berdiri begitu dekat di sisinya.Tatapan pria itu yang setajam elang kemudian meluncur turun.Fokus Roman terkunci pada kotak beludru merah tua yang masih berada di tengah. Ujungnya masih dipegang secara bersamaan oleh Dominic dan Sabiya, yang berusaha menolaknya tadi.Tanpa ragu sedikit pun, tangan kanan Roman terulur cepat. Dengan gerakan yang tegas, ia merebut kotak beludru itu dari tangan mereka, mengambilnya alih sepenuhnya.Sabiya sontak terkesiap, dadanya ber
Melihat wajah bosnya yang tegang, Dante yang sangat peka langsung mengikuti arah pandang sang atasan. Dalam sepersekian detik, asisten setia itu tahu apa penyebab kemurkaan yang tiba-tiba melanda Roman.Di seberang jalan sana, Dominic Sterling berdiri terlalu dekat dengan Sabiya, memasang senyuman penuh pesona yang tampak begitu mengganggu pemandangan."Tuan... apa Anda ingin turun sekarang?" tanya Dante hati-hati.Roman menarik napas perlahan, mencoba meredam api kecemburuan dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Pria itu menggeleng tegas."Nanti saja, Dante. Kita tunggu Sabiya selesai memimpin acara itu. Jangan buat kekacauan di hari pentingnya."Di seberang jalan, detik-detik peresmian yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sabiya, dengan senyuman terbaik yang menghiasi wajah cantiknya, segera menggerakkan tangan.Pita merah penanda resmi dibukanya Flagship Boutique telah terpotong sempurna, diiringi suara tepuk tangan dan letupan confetti kertas perak dari sisi kanan dan kiri.Dua o
Penolakan dari Sabiya membuat raut wajah Dominic Sterling seketika berubah drastis. Senyuman penuh percaya diri yang tersungging di bibirnya langsung memudar, digantikan oleh kerutan tajam di dahi."Kau sudah punya calon suami, Rosella?" tanya Dominic dengan nada suara yang sedikit meninggi. Terlihat jelas bahwa pria itu tidak memercayai perkataan Sabiya begitu saja."Kenapa selama ini dia tidak pernah terlihat bersamamu di Denver?"Sontak, Sabiya menelan ludah kasar akibat kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia terpaksa mengakui keberadaan "calon suami" semata-mata agar Dominic jera dan berhenti mengejarnya. Namun, ia tidak menyangka respons pria itu akan sejauh ini."Calon suami saya sedang sakit, Tuan Dominic," jawab Sabiya mencari alasan sekenanya. "Kondisi kesehatannya sedang tidak baik, jadi dia memang jarang terlihat di hadapan publik."Dominic mengangguk kecil, meski matanya masih menyipit curiga."Kalau dia berada di Caspia bersamamu, dia pasti akan menjemputmu setelah acar
“Roman, apa yang kau lakukan?” tegur Sabiya dengan suara parau. Refleks, Sabiya memundurkan tubuhnya untuk menjauhi pria itu.Melihat raut muka Sabiya yang tegang, Roman buru-buru memberi penjelasan."Maafkan aku, Sabiya... Aku tidak punya pilihan lain,” tutur Roman sedikit menundukkan kepala.“Aku sudah memanggil namamu berkali-kali dan menggoyang lenganmu. Tapi, kau sama sekali tidak bergeming. Bahkan, alarm ponselmu sudah mati sendiri karena kau abaikan,” lanjut Roman“Hanya ide ini yang terpikir olehku. Menciummu agar kau bangun."Sabiya mendelik tajam sambil meraba bibirnya sendiri dengan jemari. "Kau bisa memakai cara lain untuk membangunkanku, Roman. Tidak harus dengan menciumku!"Roman hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tanpa dosa. Ia mengubah posisi menjadi duduk."Tapi, cara ini terbukti berhasil," balas Roman santai. "Coba lihat jam berapa sekarang. Waktu sudah hampir pukul tujuh."Mendengar angka tujuh disebutkan, kesadaran Sabiya seketika terkumpul penuh. Kelopak matany
Sabiya memilih untuk tidak menanggapi pernyataan penuh tekad dari Roman. Ia khawatir pertahanan hati yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini akan runtuh begitu saja."Kita selesaikan makan malam ini, lalu beristirahat," pungkas Sabiya, berusaha mengalihkan topik. "Besok pagi, aku harus memimpin acara grand opening di Flagship Boutique.”Tanpa menunggu balasan, Sabiya mengambil mangkuk sup ikan yang tadi diabaikan Roman. Ia mengambil sendok, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke bibir pria itu."Makanlah sup ikan ini," ujar Sabiya lembut.Roman menerima tiga suapan pertama dengan patuh. Namun, ketika sendok keempat hendak disodorkan, pria itu menggeleng pelan."Sudah cukup, Sabiya," kata Roman dengan suara serak. "Lebih baik kau simpan tenaga dan tidur lebih awal.”Sabiya meletakkan mangkuk itu kembali ke atas nampan. Tatapannya beralih meneliti pria di hadapannya."Di mana tas obatmu? Kau harus minum obat terlebih dahulu sebelum tidur."Roman menunjuk sebuah tas kulit hi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi







