Share

Acuh Tak Acuh

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 16:08:54

Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.

Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur dengan kebingungan. 

Martha baru saja selesai menata kotak makanan di atas meja, sementara Mia memegang nampan kosong.

Sabiya mengabaikan tatapan penuh tanya dari kedua pelayannya, lalu duduk dengan anggun. 

Seperti pesan yang ditulisnya tadi, sebagian besar hidangan sudah terbungkus di dalam kotak-kotak makanan, siap untuk dibagikan ke luar gerbang. Di atas meja hanya tersisa segelas jus jeruk dan sepotong kecil pancake yang sengaja disisakan Martha untuknya. 

Sabiya meraih garpu, memotong sedikit bagian pancake dan menyuapkan ke dalam mulut. Namun, tenggorokannya yang meradang membuat tindakan menelan terasa seperti siksaan.

Dengan susah payah, Sabiya meneguk jus jeruk untuk meradakan rasa perih.

Merasa tak sanggup lagi untuk makan, Sabiya meletakkan garpunya. Ia mengambil buku catatan kecil yang selalu ia selipkan di saku gaun, lalu menuliskan beberapa patah kata untuk sang pelayan.

[Bantu aku siapkan korek api, minyak tanah, dan sebuah tong besi kosong di halaman belakang.]

Martha membaca tulisan itu, lalu bertukar pandang dengan Mia yang nampak cemas.

"Nyonya Muda... apakah Anda benar-benar ingin membakar semua barang di dalam kardus? Ini semua adalah barang-barang berharga."

Sabiya tidak membalas dengan tulisan baru. Ia hanya menatap Martha dengan sorot dingin dan tegas. Kelembutan yang biasanya memancar dari wajah sang nyonya muda telah menguap sepenuhnya.

Melihat kekerasan hati Sabiya, Martha akhirnya menundukkan kepala. "Baik, Nyonya Muda. Kami akan menyiapkan segera."

Lima belas menit kemudian, Sabiya sudah berdiri di area halaman belakang rumah. Sebuah tong besi berukuran besar diletakkan di atas tanah, sementara di sampingnya ada kardus berisi memori masa lalu yang akan ia buang.

Martha menyerahkan sebotol minyak tanah dan sekotak korek api kepada Sabiya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Sabiya menerima benda-benda itu tanpa kata. Dengan gerakan tenang, ia mulai melemparkan barang-barang dari kardus. Dimulai dari gumpalan gaun-gaun bertali satu, kotak musik, jam tangan, dan terakhir foto pernikahannya bersama Roman.

Sabiya membuka tutup botol minyak tanah dan menyiramkan cairan berbau menyengat itu ke dalam tong. Tanpa ragu sedikit pun, ia lantas melemparkan sebatang korek api yang telah dinyalakan.

Wushhh!

Dalam sekejap, api berkobar besar, menjilat ke atas dan melahap semua barang di dalam tong. Asap hitam pekat mulai membubung tinggi ke atas langit.

Sabiya berdiri terpaku, menatap kobaran api yang memantul di dalam sepasang matanya yang redup. 

Ia melihat bagaimana wajah tersenyum Roman di dalam foto perlahan menghitam, melepuh, dan hancur menjadi abu. Gaun-gaun sutra yang dulu pernah dipuji Roman kini meleleh tak bersisa.

Namun, saat barang-barang itu hampir berubah menjadi tumpukan arang, tubuh Sabiya mulai memberikan sinyal bahaya. Rasa perih di tenggorokannya terasa kian mencekik, seolah api di dalam tong telah berpindah dan membakar bagian dalam lehernya.

Napas Sabiya mendadak tersendat-sendat. Pandangan matanya mengabur dan berputar, dengan latar belakang asap hitam yang membubung. 

"Nyonya Muda!"

Martha dan Mia langsung berlari kencang saat melihat tubuh Sabiya limbung ke samping. Dengan sigap, kedua pelayan itu menahan tubuh sang nyonya sebelum sempat menghantam tanah.

"Ya Tuhan, tubuh Nyonya sangat panas!" pekik Mia.

Tak kalah cemas, Martha segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Sabiya.

"Nyonya demam tinggi! Tubuhnya seperti membara. Mia, cepat bantu aku memapahnya ke dalam!"

Dirundung kepanikan yang memuncak, Martha dan Mia memapah tubuh Sabiya yang sudah terkulai lemas ke dalam rumah. Mereka membawa wanita itu ke ruang tengah dan membaringkannya di atas sofa beludru panjang. 

Sabiya terduduk lemas di sana, kepalanya bersandar pada bantalan sofa dengan wajah memerah. Matanya setengah terpejam, kesadarannya mulai timbul tenggelam akibat suhu tubuhnya yang melonjak drastis.

"Mia, ambilkan kompres air dingin dan air putih hangat sekarang!" perintah Martha dengan suara bergetar.

Sementara Mia berlari kencang menuju dapur, Martha merogoh saku celemeknya untuk mengeluarkan ponsel. Sebagai kepala pelayan, ia memiliki jalur komunikasi langsung dengan sang tuan muda untuk masalah darurat rumah tangga. 

Tanpa membuang waktu, Martha mencari kontak Roman dan menekan tombol panggil. Suara nada sambung telepon terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

Dalam kondisinya yang lemas dan menahan rasa sakit, Sabiya masih bisa mendengar segalanya.

Tut... Tut... Tut...

Telepon itu tidak segera diangkat. Martha mondar-mandir di depan sofa dengan raut wajah frustrasi, menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga. 

"Ayo, Tuan Muda, angkat..." gumam Martha panik.

Setelah dering kelima, barulah sambungan telepon itu terhubung.

Suara Roman terdengar dari seberang saluran, tetapi tidak terlalu jernih. Di latar belakang telepon, Sabiya bisa mendengar bunyi hiruk-pikuk khas rumah sakit.

"Ada apa, Bi Martha? Aku sedang sibuk sekarang," ucap Roman dari seberang sana. Nadanya terdengar ketus, tidak sabar, dan dipenuhi kecemasan yang tertuju pada hal lain.

"T-tuan Muda, maaf mengganggu Anda," ucap Martha dengan terbata-bata. "Nyonya Muda Sabiya sakit. Tubuhnya demam tinggi dan wajahnya pucat sekali. Nyonya hampir pingsan di halaman belakang. Apa... apa Tuan Muda bisa pulang sekarang?"

Hening sesaat merayap di seberang saluran telepon. Sabiya menahan napasnya yang terasa panas, menanti jawaban dari pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.

"Aku sedang ada urusan yang sangat penting di luar. Aku tidak bisa pulang,” balas Roman dingin.

Sabiya memejamkan matanya, merasakan ada belati tajam yang menusuk tepat di tengah jantungnya yang sudah hancur. 

Jadi, Roman menganggap urusan menemani Clara yang berpura-pura sakit, jauh lebih penting daripada menjenguk istrinya yang tak berdaya di rumah.

"Berikan Sabiya obat penurun panas yang ada di kotak obat, lalu suruh dia beristirahat," lanjut Roman dengan nada acuh tak acuh. "Aku baru bisa kembali ke rumah nanti malam.”

Tepat setelah Roman menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara wanita memanggil dari arah belakang. 

"Roman... dokter memanggil kita masuk ke ruang periksa."

Mendengar panggilan manja itu, nada bicara Roman langsung berubah drastis. “Lakukan saja apa yang kukatakan tadi, Bibi Martha!”

Bip.

Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak oleh Roman, tanpa menunggu jawaban dari sang pelayan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Hadidja Laha
biasanya bisa buka ada iklannya rapi ini kenapa tak bisa buka
goodnovel comment avatar
Ati Sumiyati
kenapa ga bisa di buka
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Morning Kiss

    “Roman, apa yang kau lakukan?” tegur Sabiya dengan suara parau. Refleks, Sabiya memundurkan tubuhnya untuk menjauhi pria itu.Melihat raut muka Sabiya yang tegang, Roman buru-buru memberi penjelasan."Maafkan aku, Sabiya... Aku tidak punya pilihan lain,” tutur Roman sedikit menundukkan kepala.“Aku sudah memanggil namamu berkali-kali dan menggoyang lenganmu. Tapi, kau sama sekali tidak bergeming. Bahkan, alarm ponselmu sudah mati sendiri karena kau abaikan,” lanjut Roman“Hanya ide ini yang terpikir olehku. Menciummu agar kau bangun."Sabiya mendelik tajam sambil meraba bibirnya sendiri dengan jemari. "Kau bisa memakai cara lain untuk membangunkanku, Roman. Tidak harus dengan menciumku!"Roman hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tanpa dosa. Ia mengubah posisi menjadi duduk."Tapi, cara ini terbukti berhasil," balas Roman santai. "Coba lihat jam berapa sekarang. Waktu sudah hampir pukul tujuh."Mendengar angka tujuh disebutkan, kesadaran Sabiya seketika terkumpul penuh. Kelopak matany

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bersandar di Bahumu

    Sabiya memilih untuk tidak menanggapi pernyataan penuh tekad dari Roman. Ia khawatir pertahanan hati yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini akan runtuh begitu saja."Kita selesaikan makan malam ini, lalu beristirahat," pungkas Sabiya, berusaha mengalihkan topik. "Besok pagi, aku harus memimpin acara grand opening di Flagship Boutique.”Tanpa menunggu balasan, Sabiya mengambil mangkuk sup ikan yang tadi diabaikan Roman. Ia mengambil sendok, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke bibir pria itu."Makanlah sup ikan ini," ujar Sabiya lembut.Roman menerima tiga suapan pertama dengan patuh. Namun, ketika sendok keempat hendak disodorkan, pria itu menggeleng pelan."Sudah cukup, Sabiya," kata Roman dengan suara serak. "Lebih baik kau simpan tenaga dan tidur lebih awal.”Sabiya meletakkan mangkuk itu kembali ke atas nampan. Tatapannya beralih meneliti pria di hadapannya."Di mana tas obatmu? Kau harus minum obat terlebih dahulu sebelum tidur."Roman menunjuk sebuah tas kulit hi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Racun dan Obat Penawar

    Tanpa bisa dicegah, ingatan Sabiya kembali pada masa lalu, di mana ia dan Roman masih menjadi suami-istri.Kala itu, Roman selalu memilihkan sendiri setiap gaun, piyama, hingga lingerie yang hendak ia pakai. Ternyata, kebiasaan pria itu belum hilang sampai sekarang.Sabiya menelan ludah, buru-buru mengalihkan pandangan.Sebelum ia semakin terlarut oleh kenangan, Sabiya menyambar paper bag tersebut dan bergegas menuju kamar mandi.Tanpa berlama-lama, Sabiya mengguyur tubuhnya dengan air hangat untuk menghilangkan sisa air hujan yang menempel. Setelah badannya bersih, ia mengenakan pakaian dalam dan piyama pemberian Roman.Meski tubuhnya kini sudah terasa lebih hangat, sisa-sisa dingin akibat badai di luar masih terasa. Karenanya, Sabiya lekas kembali ke dalam kamar.Namun, langkahnya terhenti saat melihat Roman sedang berbicara melalui sambungan telepon hotel. Pria bertubuh tegap itu kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam.Begitu Roman membalikkan badan, p

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Satu Kamar Berdua

    Bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka, sorot lampu mobil memantulkan bayangan seseorang yang turun dari dalam kabin.Sabiya berdiri mematung di samping mobilnya. Ia membiarkan butiran air hujan mengalir di sekujur tubuhnya yang sudah basah kuyup.Dari balik derai air, ia melihat sebuah payung hitam besar dibentangkan untuk menaungi sosok pria yang melangkah perlahan.Suara derit kruk logam yang berpadu dengan ketukan sepatu pantofel, menggema di atas aspal jalan tol.Diiringi oleh Dante yang memegang payung, Roman Valeriano berdiri tepat di hadapan Sabiya."Roman...?" gumam Sabiya tertahan. Matanya sampai mengerjap beberapa kali karena ia takut salah melihat."Kenapa kau ada di sini?"Tanpa memedulikan guyuran air hujan yang menciprat ke celananya, pria itu maju mendekat. Ia mengangkat tangan dan merangkul pundak Sabiya yang bergetar karena kedinginan."Karena aku khawatir padamu," jawab Roman dengan suara baritonnya yang serak. Sorot matanya tidak menunjukkan amarah sedikit pun,

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Tengah Badai

    Mendengar kabar bahwa sang ibu tidak kunjung kembali ke mansion, Roman tertegun sesaat. Dahinya berkerut dalam, menimbang-nimbang kebenaran berita tersebut.Namun, alih-alih diliputi kepanikan seperti yang Dante harapkan, sudut bibir Roman justru membentuk seringai sinis. Pengalaman pahit di masa lalu membuat rasa curiganya jauh lebih mendominasi."Lagi-lagi Diana..." ucap Roman tertawa dingin, nada suaranya menyiratkan kegetiran sekaligus ketidakpercayaan."Dulu, sepupuku itu pernah sengaja merekayasa cerita bahwa Mama terkena serangan jantung, hanya demi mengurungku secara paksa di rumah sakit jiwa. Dan sekarang? Dia datang membawa berita kalau Mama hilang?” sarkas Roman.“Berita ini hanya akal-akalan mereka saja. Apa mereka sudah kehabisan cara untuk menjebakku, agar aku mau patuh dan pulang kembali ke Aldena?"Mendengar sang tuan menanggapi situasi genting ini dengan prasangka, Dante menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam."Tuan, saya menger

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kejadian Tak Terduga

    Mendengar Roman melontarkan kalimat putus asa, darah Sabiya mendadak seperti berhenti mengalir. Ada rasa cemas yang bergolak di dalam rongga dadanya.Akan tetapi, kegelisahan itu seketika terkikis oleh gelombang amarah yang membakar. Sabiya pun menatap Roman dengan sorot mata yang menajam."Perlu aku perjelas sekali lagi, Roman? Sekali pun kau menyerahkan nyawamu di hadapanku saat ini, hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku,” tukas Sabiya. “Berhentilah mencari belas kasihan dengan cara yang murahan. Seharusnya, kau memikirkan tanggung jawabmu sebagai ketua klan daripada sibuk berkhayal di sini.”Tanpa menunggu pembelaan dari pria itu, Sabiya langsung berbalik. Ia berjalan meninggalkan taman, meski di balik punggungnya Sabiya masih bisa merasakan tatapan Roman dari kejauhan.Sabiya tahu, kata-katanya barusan mungkin terdengar sangat kejam dan tanpa belas kasihan. Namun, ia tidak punya pilihan lain.Ia harus menegakkan batasan, agar Roman tidak lagi memupuk harapan palsu.Denga

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status