"Kayaknya Lindsey nggak bakal datang hari ini ya? Sudah empat tahun dia nggak kontak kita."
"Kalau aku jadi dia, aku nggak bakal datang ke acara reuni begini. Dulu, gara-gara dia jadi pelakor, hebohnya sampai ke mana-mana. Masa dia nggak malu?"
Tangan Lindsey Tanoto baru saja menyentuh gagang pintu ruang privat saat dia mendengar percakapan dari balik celah pintu. Jari-jarinya tanpa sadar menegang sedikit, lalu dia menarik tangannya dan menyentuh telinganya.
"Brandon baik ke dia cuma karena kasihan. Eh, dia malah mau merebut pacar orang."
"Sekarang Brandon sudah nikah, bahkan sudah punya anak. Kalau dia masih cari gara-gara, benar-benar menjijikkan deh."
"Pantas saja dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Delusinya sudah terlalu parah. Dia bahkan bilang pernah pacaran sama Brandon. Dasar pembohong."
"Hah? Kok tiba-tiba nyebut rumah sakit jiwa?"
"Lho ... ternyata kalian belum tahu ...."
Suara-suara di dalam terus terdengar ramai. Keberanian yang susah payah Lindsey kumpulkan seketika lenyap.
Empat tahun lalu, dia memang pernah berpacaran dengan Brandon, hanya saja hubungan mereka berakhir secara tiba-tiba tanpa alasan apa pun.
Tepat setelah dia menyerahkan dirinya untuk pertama kalinya, ketika hubungan mereka sedang berada di titik paling membara, Brandon tiba-tiba pergi ke luar negeri bersama teman masa kecilnya.
Orang yang sedetik sebelumnya mengatakan mencintainya, malah sedetik kemudian mengunggah foto bersama teman masa kecilnya di media sosial.
Satu-satunya pesan yang dia tinggalkan untuk Lindsey hanyalah ....
[ Hal-hal yang nggak pernah kulakukan bersamamu, sudah kulakukan bersamanya. ]
Setelah itu, semua kontak Lindsey diblokir. Dia sama sekali tidak bisa menghubungi Brandon lagi.
Sahabat terbaiknya mengatakan bahwa Lindsey telah dipermainkan Brandon. Anak orang kaya seperti Brandon memang paling suka perempuan polos seperti dirinya yang tidak tahu apa-apa.
Namun, Lindsey tidak percaya.
Empat tahun sudah berlalu, dia masih tidak percaya. Dia ingin mendapatkan jawaban.
Dia berdiri di depan pintu ruang privat itu. Ujung jarinya yang sudah terulur tak kunjung mendorong pintu.
Ucapan orang-orang di dalam semakin keterlaluan, bahkan mulai menyinggung rumah sakit jiwa yang paling dia takuti.
Lindsey mundur selangkah, tetapi punggungnya justru menabrak dada seseorang yang hangat.
Lindsey tertegun. Dia refleks berbalik dan melihat ke belakang. Hitam matanya seketika menyempit. Itu Brandon Kurniawan.
Berbeda dengan sosok cowok pemberani yang penuh pesona dalam ingatannya, kini Brandon tampak jauh lebih dewasa dan terkendali. Dia mengenakan jas yang pas. Hidungnya mancung, matanya dalam, dengan kelopak mata ganda, sementara sudut matanya yang sedikit terangkat memberikan kesan malas dan santai.
Wajah Brandon nyaris sempurna. Beberapa kancing kemejanya saat ini belum dikancingkan, memperlihatkan tulang selangkanya.
Dia berdiri di sana dengan aura berkelas dan dingin, sementara cahaya lampu di atasnya seolah membentuk kubah kaca transparan di sekelilingnya.
Dulu, mereka pernah berbaring di ranjang yang sama sambil saling berjanji tentang masa depan. Siapa sangka, ketika bertemu lagi, ternyata mereka sudah terpisah selama empat tahun.
Namun, Lindsey selalu merasa Brandon seolah tidak pernah benar-benar pergi selama bertahun-tahun itu. Sosoknya ada di mana-mana. Di setiap sudut jalan, Lindsey seolah bisa melihat bayangannya.
Sahabatnya pernah memeluknya sambil menangis dan mengatakan bahwa Lindsey sudah gila. Brandon sudah menghancurkan hatinya sampai dia menjadi gila.
Telapak tangan Lindsey yang berada di belakang tubuhnya diam-diam mengepal erat.
"Lama nggak ketemu, Brandon."
Suara yang menyebut nama itu sedikit bergetar. Malam ini, Lindsey datang karena dia tahu Brandon akan datang.
Brandon sangat tinggi, hampir mencapai 189 sentimeter. Kemunculan Lindsey tampaknya sama sekali tidak menimbulkan perubahan emosi padanya. Dia seolah hanya sedang melihat seorang teman sekolah biasa.
Tatapannya hanya berhenti beberapa detik pada Lindsey sebelum beralih. Nada bicaranya terdengar datar.
"Nggak masuk?" Suara yang keluar dari mulutnya terdengar agak dingin.
Lindsey menunduk. Pertanyaan yang sudah lama dia persiapkan tersangkut di tenggorokan. "Aku datang untuk tanya sesuatu ...."
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, seseorang muncul dari sudut lorong. Dengan nada penuh kebingungan, orang itu berkata, "Brandon, bukannya aku sudah menyuruhmu nggak usah menunggu?"
Seluruh tubuh Lindsey menegang. Ketika dia mengangkat pandangan dan melihat Cecilia, kuku jarinya tanpa sadar menancap ke telapak tangan.
Cecilia Lesmana adalah teman masa kecil Brandon. Dia menggandeng tangan seorang anak perempuan berusia empat tahun. Wajah anak itu memiliki kemiripan sekitar 30% dengan Brandon.
Cecilia berpakaian sangat anggun. Dia tersenyum dan menyapa Lindsey, "Lindsey ya? Lama nggak ketemu."
Pandangan Lindsey tertuju pada anak itu. Telapak tangannya mengepal erat.
Anak perempuan itu mengangkat tangan dan menarik jas Brandon, lalu memanggil, "Papa."
Brandon membungkuk dan langsung menggendongnya. Wajahnya berubah menjadi sangat lembut. "Kenapa?"
Mata anak perempuan itu dipenuhi binar senyum. Dia mengecup pipi Brandon.
Cecilia berpura-pura marah dan berkata, "Sayang, kamu baru saja makan kue mangga. Kamu lupa papamu alergi mangga?"
Dia mengeluarkan tisu dan hendak mengusap pipi Brandon.
Namun, Brandon secara refleks menghindar. "Nggak apa-apa."
Cecilia memelotot kepadanya. "Terus saja kamu manjain dia."
Sepertinya baru saat ini Cecilia ingat masih ada orang lain di sana. Dia menoleh ke arah Lindsey. Lindsey seolah tertusuk oleh pemandangan di hadapannya. Dia buru-buru berbalik dan mendorong pintu ruang privat yang tadi tidak berani dia buka.
Suasana di dalam yang semula ramai mendadak hening karena orang-orang melihat Lindsey. Lalu, saat melihat tiga orang yang berada di belakang Lindsey, wajah semua orang pun menunjukkan ekspresi penuh arti.
Lindsey sedikit panik dan langsung memilih tempat duduk paling pojok. Kedua tangannya yang diletakkan di atas lutut mengepal erat. Dia harus menggunakan rasa sakit itu untuk menyadarkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh melakukan kebodohan yang sama lagi.
Orang-orang di sana buru-buru menyapa Brandon. Sama seperti dulu, dia selalu menjadi orang yang paling mencolok di tengah kerumunan. Sekarang, orang-orang yang ingin menjilatnya pun semakin banyak.
Lindsey tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan orang-orang di sekitarnya, sampai seseorang bertanya apakah anak itu adalah anak Brandon.
Nada bicara Brandon masih terdengar agak dingin. Sambil menggendong anak perempuan itu, dia menjawab, "Kalau bukan anakku, masa bisa semirip ini?"
Dengan wajah mereka yang disandingkan seperti itu, tidak mungkin ada yang mencurigai apa pun.
"Selamat, selamat! Kalian sudah adain pernikahan di luar negeri ya? Kapan undang kami makan-makan?"
"Brandon, hidupmu benar-benar sempurna. Cecilia sudah menunggumu bertahun-tahun, 'kan?"
"Anaknya mirip banget sama kamu. Lucu banget."
Dari sudut matanya, Brandon melirik sosok kecil yang duduk diam di kejauhan, lalu melanjutkan obrolannya bersama orang-orang di sana dengan santai.
Cecilia mengambil anak itu dan memperingatkannya, "Nggak boleh minum alkohol ya."
Orang-orang kembali bersorak menggoda, "Wah, Brandon takut istri nih!"
Brandon tertawa kecil tanpa mengatakan apa-apa.
Mereka semua sudah beberapa tahun masuk ke dunia kerja, jadi siapa yang tidak pandai membaca situasi? Tentu saja tidak ada yang akan membicarakan masalah Lindsey pada saat seperti ini.
Bagaimanapun, Lindsey tidak pernah menjadi sosok penting. Di sekolah pun dia selalu pendiam.
Tidak ada yang menyangka gadis pendiam yang keluar dari desa seperti dirinya akan memiliki hubungan dengan Brandon, sang anak emas yang ditakdirkan untuk sukses.
Karena itu, semua orang secara sepihak menganggap bahwa waktu itu Lindsey memang mengalami gangguan jiwa.
Suasana di sekeliling begitu meriah. Namun, semua itu tidak ada hubungannya dengan Lindsey. Di tengah kemeriahan itu, dia justru merasa sekujur tubuhnya perlahan menjadi dingin.
Dia menunduk, secara naluriah ingin menghilang dari tempat ini. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara seorang perempuan.
"Lindsey, bukannya dulu kamu cari Brandon ke mana-mana? Sekarang orangnya ada di sini."
Semua tatapan langsung tertuju padanya, penuh dengan niat buruk.
Dulu, ketika Lindsey tak mampu menemukan Brandon, dia begitu cemas sampai membuat unggahan di forum sekolah. Namun, informasi pribadinya malah berhasil dibongkar orang-orang.
Dalam sekejap, rumor beredar ke mana-mana. Ditambah lagi, Brandon segera mengunggah pernyataan di media sosial untuk menjauhkan dirinya dari Lindsey.
Bahkan wali kelasnya pun memanggilnya untuk berbicara. Setiap kalimat terdengar halus, tetapi setiap katanya jelas menuduh Lindsey berbohong.
"Sejak SMP kamu sudah dibantu oleh orang dermawan, 'kan? Kamu tahu siapa orang yang membiayai sekolahmu?"
"Mereka orang Keluarga Lesmana. Cecilia adalah putri Keluarga Lesmana. Sekarang kamu malah menyebarkan rumor kalau kamu tinggal dan tidur bersama pacarnya. Seperti ini caramu membalas kebaikan orang yang sudah membantumu?"