Share

Melepas Batas

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2026-10-08 15:16:32

Semburat keraguan dan gejolak batin masih jelas terlukis di wajah Sabiya, membuat wanita itu tak mampu memberikan jawaban pasti.

Melihat kebisuan Sabiya, Roman mencondongkan tubuhnya, lalu menyatukan dahi mereka. Napas hangat keduanya beradu dalam keheningan malam kamar yang temaram.

"Sayang, bila kau tidak setuju, aku tidak akan memaksa," bisik Roman, suaranya serak tetapi penuh kelembutan.

Sabiya menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tetapi bobotnya terasa begitu berat.

Roman menunggu, mata
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Dii Naa
kasihan Bru aj bhgia ad aj musibhy
goodnovel comment avatar
Erni Widiastuti
jangan sampe roman celaka tor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kejutan untuk Papa

    Di sisi lain apartemen, di dalam kamar tidur anak-anak yang tertutup, Sabiya tengah sibuk memberikan petunjuk rahasia kepada Ares dan Altair."Ingat, anak-anak, kerajinan tangan ini harus selesai," ucap Sabiya sambil membantu Ares melipat kertas origami.Altair dan Ares mengangguk antusias. Dengan berbekal gunting kertas, lem, dan bahan-bahan yang baru saja mereka beli di toko alat tulis tadi, si kembar bekerja sama dengan penuh konsentrasi.Ares asyik melipat kertas origami, sementara Altair dengan teliti memoleskan cat metalik di atas karton hitam.Sabiya tersenyum melihat keseriusan kedua putranya. Ia mendekat, lalu berbisik memberikan arahan."Ares, Altair... di bagian bawah lukisan dan burung kertas, tuliskan 'Papa' ya."Mendengar kata tersebut, tangan Ares seketika terhenti. Bocah itu mengerjap heran, menatap ibunya dengan bola mata yang membesar."Papa?" tanya Ares tak percaya. "Jadi, Paman Roman itu adalah Papa kami, Ma? Bukan Papa Jetro?"Sebelum Sabiya membuka mulut untuk me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Jaga Istri dan Anakku

    Setelah menyematkan cincin di jari manis Sabiya, Roman mengecup punggung tangan wanita itu. Kemudian, ia mengambil cincin pria dari dalam kotak beludru tersebut.Roman meletakkannya di telapak tangan Sabiya, sembari menatap ibu dari anak-anaknya itu lekat-lekat."Sekarang, giliranmu, Sayang," bisik Roman parau. "Sematkan cincin ini di jariku.”Sabiya menelan ludah, berusaha menahan rasa haru yang mendesak di tenggorokannya. Dengan jari-jarinya yang sedikit bergetar, ia mengambil cincin pria berukuran lebih besar itu.Perlahan, dengan penuh kesungguhan, Sabiya menyelipkan cincin berukir angsa tersebut ke jari manis kiri Roman. Setiap sentuhan jarinya pada kulit pria itu seolah menyalurkan seluruh doa dan harapan, agar keluarga mereka bisa utuh kembali. Di meja sebelah, Ares dan Altair menyaksikan momen pertukaran cincin itu dengan mata membulat. Ares yang bertepuk tangan lebih dulu, diikuti oleh Altair. Sebelum si kembar sempat bertanya, Roman sudah berdiri lebih dahulu. Ia melirik j

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kita Terikat dalam Cinta

    Esok harinya, Sabiya mengerjap dan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Sisi ranjang di sebelah kanannya kosong, pertanda Roman sudah bangun lebih dulu. Dengan langkah pelan dan masih mengenakan piyama tidur, Sabiya keluar dari kamar. Ia menuju area dapur karena mencium aroma mentega.Begitu Sabiya tiba, sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan tersaji di hadapannya. Roman sedang berdiri sambil memegang satu kruk untuk menjaga keseimbangan. Dengan satu tangan, pria itu sibuk membalik dua lembar pancake di atas teflon. Keningnya sedikit berkerut serius, seolah sedang menghadapi strategi perang paling rumit.Melihat usaha keras yang dilakukan oleh Roman dalam menyiapkan sarapan, Sabiya melangkah mendekat tanpa suara. Ia mengambil alih pekerjaan pria itu dan memindahkan tangan Roman ke samping."Duduklah, Roman. Kau tidak perlu merepotkan diri begini," bisik Sabiya rendah, suaranya menyiratkan rasa tersentuh yang dalam. Roman tersenyum lembut seraya merapikan helai

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Melepas Batas

    Semburat keraguan dan gejolak batin masih jelas terlukis di wajah Sabiya, membuat wanita itu tak mampu memberikan jawaban pasti.Melihat kebisuan Sabiya, Roman mencondongkan tubuhnya, lalu menyatukan dahi mereka. Napas hangat keduanya beradu dalam keheningan malam kamar yang temaram."Sayang, bila kau tidak setuju, aku tidak akan memaksa," bisik Roman, suaranya serak tetapi penuh kelembutan.Sabiya menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tetapi bobotnya terasa begitu berat.Roman menunggu, matanya menatap lekat, mencari jawaban di relung paling dalam dari hati Sabiya."Aku bisa bertahan selama hampir enam tahun dalam kesepian. Aku masih bisa menunggumu sampai kau siap.”Sabiya menelan ludah.Bertahun-tahun ia membangun tembok di sekeliling hatinya, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan Roman lagi. Namun kini, pria itu ada di sini, rapuh, terluka, dan meminta kerelaan penuh darinya.Sabiya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Kau boleh tidur di kamarku setelah ga

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Memilikimu Sebelum Berpisah

    Sabiya menatap wajah Roman lekat-lekat. Pria yang biasanya berdiri dengan angkuh itu kini tampak diliputi kecemasan. Bahkan, cengkeraman Roman pada kruk terasa begitu kaku.Entah mengapa hatinya mendadak ikut gelisah. Maka, Sabiya akhirnya memenuhi permintaan Roman."Baiklah... kita pulang sekarang," ucap Sabiya akhirnya, memutuskan untuk menepis segala egonya.Ia segera berbalik dan menghampiri Jetro yang sudah sampai di mejanya. Dengan tatapan penuh permohonan, Sabiya berpamitan."Kak Jetro, maaf, aku harus pulang lebih dulu bersama Roman dan anak-anak. Kabari aku jika kau sudah sampai di Monella.”Jetro menatap Sabiya sejenak. Pria itu melirik sekilas ke arah Roman yang berdiri dengan wajah muram di ujung ruangan, lalu mengangguk maklum."Pergilah, Sabiya. Jaga dirimu."Sementara itu, dari sudut lain di dalam ballroom, Dominic Sterling berdiri menyandarkan punggungnya pada pilar marmer. Sambil menyesap minuman, ia mengamati kepergian Sabiya dan Roman yang tampak tergesa-gesa mening

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Antara Dua Pilihan Sulit

    "Tuan Roman, ada hal penting yang harus saya sampaikan," bisik Dante.Menangkap adanya getar kecemasan dalam suara Dante, insting Roman langsung waspada. Ia yakin tangan kanannya itu baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan.“Katakan, Dante. Siapa yang berani menggangguku di tengah pesta?”Dante kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Ada surel darurat masuk ke sistem keamanan kantor pusat Valeriano Corp. Si pengirim memberikan pesan untuk Anda, dan melampirkan tiga buah foto."Roman menunduk, menatap layar ponsel yang disodorkan asisten setianya itu.Seketika, manik abu-abunya melebar. Di dalam surel tersebut, tertera sebuah pesan yang sangat provokatif dan sarat akan ejekan.[Ibumu ada di tanganku. Jika kau masih ingin melihatnya bernapas, datanglah segera ke kota Lisea. Waktumu tidak banyak, Roman Valeriano]Seluruh darah di tubuh Roman seolah tersedot habis dalam satu detik, usai ia membaca pesan tersebut.Pandangannya lantas turun untuk memeriksa tiga bukti visual yang

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Acuh Tak Acuh

    Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Wanita yang Dicintai Suamiku

    Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status