Share

Bab 4

Author: Nina
Satu demi satu, aku merapikan barang-barang pemberian Samanta selama belasan tahun terakhir.

Dasi ini adalah kado ulang tahunku yang ke-18. Namun, baru sekali aku memakainya ke sekolah, tak lama kemudian aku melihat Mario mengenakan dasi yang persis sama di lehernya.

Dengan wajah malu-malu, dia berkata, "Samanta bilang, apa pun yang orang lain punya, aku juga harus punya."

Lalu ada action figure edisi terbatas yang kini hanya tersisa kotaknya. Samanta mengambil isinya dengan alasan dia menyukai aroma parfumku yang menempel di sana.

Namun keesokan harinya, benda itu sudah nangkring di meja Mario.

Ada juga sepatu kulit pesanan untuk acara kedewasaan, pengharum ruangan cobalt blue ....

Ternyata, segala sesuatu yang kupikir "eksklusif" untukku, telah diberikan Samanta secara merata kepada orang lain.

Bahkan, tidak bisa dibilang merata.

Aku teringat bagaimana Samanta begitu menjaga Mario dan selalu membelanya tanpa batas.

Sudut bibirku terangkat, membentuk senyum sinis.

Jika sudah begitu, barang-barang ini tidak perlu ada lagi.

Aku memesan tiket pesawat untuk besok, bersiap menghabiskan malam terakhir dengan tenang.

Namun, pada pukul dua pagi, aku terbangun oleh dering telepon.

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, aku menekan tombol jawab. Seberang telepon sempat hening lama. Baru saja aku hendak mematikannya, suara Samanta terdengar.

"Deandre, maafkan aku."

Kesadaranku pulih seketika. Jika dia memutuskan untuk jujur sekarang ....

Namun, Samanta berkata dengan nada berat, "Mario menyakiti dirinya sendiri. Aku nggak bisa meninggalkannya sendirian. Jadi, soal permohonan pindah sekolah, aku akan mengurusnya nanti."

Harapan yang sempat melambung tinggi itu, kini terhempas keras ke tanah. Terasa mengenaskan sekaligus konyol.

Rasanya aku ingin bertanya pada Samanta. Lalu bagaimana dengan penderitaanku saat melindungimu dari perundungan palsu itu? Tidak berartikah?

Kata-kata Samanta masih berlanjut, "Minta maaflah padanya."

Aku mengira aku salah dengar. "Apa katamu?"

Suara Samanta terdengar tegas saat berkata, "Deandre, kamu benar-benar harus minta maaf pada Mario."

"Apa kamu berani jamin kalau tindakannya menyakiti diri sendiri nggak ada hubungannya denganmu?"

Aku mendadak kehilangan kata-kata.

Sebab aku baru sadar, selama ada Mario, setiap kata yang kuucapkan akan selalu salah bagi Samanta.

Samanta berbicara lagi, suaranya sedingin es, "Deandre, kamu benar-benar membuatku kecewa!"

"Asal kamu mau minta maaf, aku bisa menganggap hal ini nggak pernah terjadi. Dua bulan lagi, aku akan menemanimu di sekolah baru."

"Apa kamu harus seegois ini sampai mengabaikan hubungan kita selama bertahun-tahun?"

Aku menangkap nada ancaman dalam ucapannya.

Namun, tidak ada lagi rasa tidak rela atau sedih, yang tersisa hanyalah rasa muak.

Tanpa ragu, aku mematikan telepon, memblokir, dan menghapus nomornya.

Aku sungguh menantikan penerbangan besok.

...

Pemandangan di negeri asing terasa segar bagiku. Seseorang mengambil alih koperku.

Aku pun mendongak dan tatapanku bertubrukan dengan mata putri sah Keluarga Ondri.

"Deandre, apa kabar?"

Aku mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar. "Apa kabar, Leila?"

Dering ponsel memutus percakapan singkat kami.

Aku melihat layar, ternyata itu nomor salah satu teman Samanta.

Dengan ragu aku mengangkatnya, dan suara Samanta terdengar dengan nada cemas yang tertahan,

"Deandre, kamu pindah ke kelas mana di SMA 3? Kenapa orang-orang di setiap kelas bilang mereka nggak pernah melihatmu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 10

    Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 9

    Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 8

    Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 7

    Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 6

    Setelah pesta pertunangan, keluarga merencanakan agar aku melakukan magang di perusahaan yang ada di dalam negeri. Ibuku mulai membayangkan masa depan dan berkata, "Nanti kalian berdua yang mengurus urusan internal, biar Ibu dan Tante Disya yang mengurus urusan eksternal."Ayahku menimpali dengan nada tegas agar aku menjaga ibuku baik-baik, jangan sampai diculik oleh Tante Disya. Sambil membawa harapan-harapan itu, aku naik ke pesawat menuju tanah air dengan senyum simpul.Saat mengantarku ke bandara, Leila mengambil satu lonceng angin dan meletakkannya di telapak tanganku. Dia selalu bersikap sopan dan menahan diri di depanku. Namun, kali ini dia tidak bisa menahan diri dan memberitahuku lewat denting lonceng bahwa dia akan merindukanku.Setelah beberapa bulan berpisah, kenangan di kelas 12-A SMA 1 sudah menjadi masa lalu. Saat teman-temanku di tanah air mengirimkan foto kelulusan yang tidak menyertakan fotoku, aku merasa seolah itu sudah terjadi seabad yang lalu.Di foto itu, Sam

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 5

    Belum sempat aku menjawab, suara Leila terdengar, "Deandre, mau kuantar melihat-lihat sekolah barumu dulu?" Wajahnya tampak polos, seolah dia hanya bersikap ramah. Namun, suara Samanta di telepon langsung meninggi. "Deandre, kamu sedang bersama Leila?! Kamu sebenarnya di mana?!"Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Untuk pertama kalinya, suara Samanta terasa begitu bising. "Apa urusannya denganmu aku ada di mana?"Samanta seolah tidak mendengar jawabanku, suaranya penuh nada tidak percaya. "Kamu pergi mencari Leila hanya karena mau membuatku kesal? Demi memancing amarahku, kamu bahkan mau berurusan dengan orang rendahan sepertinya!"Mendengar ucapannya yang semakin tidak sopan, aku membentaknya dengan tegas, "Cukup!"Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan mantap, "Samanta, kamulah orang yang paling nggak berharga di sini."Akhirnya, kata-kata itu kukembalikan padanya."Jangan menelepon lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini!"Setelah itu, aku segera mematikan telepo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status