Saat mendengar kenyataan itu, jantungku bergetar hebat.Selama sebulan terakhir, kasus Samanta Ondri dikeroyok dan difitnah sudah tak terhitung jumlahnya. Aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk melindunginya, meski terkadang masih ada yang terlewat. Karena sudah tidak tahan lagi, aku menyarankannya untuk pindah sekolah.Waktu itu, Samanta baru saja disiram air es. Wajahnya yang manis, tampak pucat dan menyedihkan. Dengan tak berdaya, dia menggenggam tanganku."Deandre, aku takut pergi sendirian ke tempat yang nggak kukenal."Aku dan Samanta bisa dibilang teman masa kecil. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama sejak taman kanak-kanak, tak pernah berubah selama belasan tahun. Terlebih lagi, aku diam-diam mencintainya.Jadi, dalam luapan emosi, aku berjanji padanya, "Jangan takut. Ke mana pun kamu pergi, aku akan menemanimu."Namun, baru sekarang aku tahu bahwa semua itu hanyalah sandiwara rumit yang dia buat demi mengusirku.Aku mau tak mau merasa heran, apakah Samanta begitu m
Read More