Share

Bab 3

Author: Nina
Keesokan harinya, aku membawa formulir baru ke sekolah untuk diberi tanda tangan kepala dan stempel.

Melihat tanda tangan dan stempel yang menandai kepergianku mendarat dengan mantap di atas kertas, hatiku sempat terasa kosong sejenak.

Saat aku masih terpaku, seseorang menghalangi jalanku.

Samanta berdiri di sana dengan alis berkerut.

"Deandre, kamu mengganti kata sandi pintu rumahmu?"

"Kemarin setelah mengantar Mario pulang, aku langsung mencarimu, tapi pintunya nggak bisa dibuka."

Aku memotong ucapannya dengan singkat, "Ya, sudah aku ganti."

Dia tampak tidak senang, tetapi bertanya dengan akrab seolah tidak terjadi apa-apa, "Apa kata sandi barunya? Biar aku gampang ke rumahmu untuk merawatmu."

Aku menjawab dengan nada datar, "Nggak perlu. Setelah pindah, aku nggak akan tinggal di sini lagi."

Samanta melirik formulir yang terlipat di tanganku, seolah baru ingat sesuatu. "Oh ya, aku sampai lupa soal ini."

"Deandre, tenang saja. Besok aku akan datang untuk mengurus surat kepindahanku."

Momen berjalan dan mengobrol seperti ini dengan Samanta, sudah semakin jarang sejak Mario pindah ke sekolah kami.

Aku memejamkan mata, membiarkan sedikit rasa tidak rela itu muncul, lalu mencoba memancingnya.

"Antara kita berdua, nggak perlu memastikan aku tenang atau nggak."

Samanta terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba berkata, "Deandre, sebenarnya aku ...."

Tapi Mario tiba-tiba muncul dari belakang Samanta, sambil membawa tumpukan buku catatan. Pemuda itu mengeluh dengan manja padanya, "Samanta, katanya mau membantuku belajar. Kenapa tiba-tiba hilang?"

Sambil berkata demikian, dia menyerahkan buku catatan itu kepada Samanta.

"Aku lihat jadwal bimbingan belajar yang kamu buat sudah sampai dua bulan ke depan, jadi aku menyiapkan materi yang sesuai."

Dia lalu mengedipkan mata dengan nakal. "Samanta, kamu nggak marah ‘kan kalau aku mengintip isinya?"

"Tentu saja nggak." Senyum Samanta tampak dipaksakan. Dia pun melirikku dengan perasaan bersalah.

Melihatku tidak bereaksi apa pun, raut wajahnya justru menyiratkan kekecewaan.

Rupanya saat kamu mendorongku pergi, kamu sudah merencanakan masa depan dengan orang lain, ya.

Hanya saja, dalam masa depanmu, tidak pernah ada aku.

Aku berusaha menjaga martabatku. Di lubuk hatiku terdalam, rasa pahit menyebar luas layaknya anggur yang pekat. Aku meremas telapak tanganku sendiri, memaksa diriku untuk sadar.

"Kalian ngobrol saja, aku pergi dulu."

Mario bersikap seolah baru menyadari keberadaanku. Dia tampak tersentak kaget. "Dean-Deandre ...."

"Apa karena aku belajar bersama Samanta, kamu jadi nggak senang?"

"Tapi keluargaku miskin, aku nggak punya harta sebanyak kamu ...."

Berbicara sampai di situ, dia mulai terisak lagi. Aku tidak sudi meladeni dramanya, jadi aku berkata nada dingin, "Minggir."

Rasa bersalah yang tipis di mata Samanta menghilang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan nada penuh amarah.

"Deandre, nada bicara macam apa itu?"

Tanpa kompromi, dia menyeretku ke hadapan Mario dan membentakku, "Minta maaf pada Mario!"

Sisa-sisa terakhir dari ketenangan di hatiku hancur menjadi serpihan tak berarti.

Kali ini, tanpa ragu sedikit pun, aku mengangkat tangan dan mendaratkan tamparan keras di wajah Samanta.

"Samanta, orang yang paling harus meminta maaf adalah kamu."

"Bukan pada Mario, tapi padaku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 10

    Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 9

    Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 8

    Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 7

    Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 6

    Setelah pesta pertunangan, keluarga merencanakan agar aku melakukan magang di perusahaan yang ada di dalam negeri. Ibuku mulai membayangkan masa depan dan berkata, "Nanti kalian berdua yang mengurus urusan internal, biar Ibu dan Tante Disya yang mengurus urusan eksternal."Ayahku menimpali dengan nada tegas agar aku menjaga ibuku baik-baik, jangan sampai diculik oleh Tante Disya. Sambil membawa harapan-harapan itu, aku naik ke pesawat menuju tanah air dengan senyum simpul.Saat mengantarku ke bandara, Leila mengambil satu lonceng angin dan meletakkannya di telapak tanganku. Dia selalu bersikap sopan dan menahan diri di depanku. Namun, kali ini dia tidak bisa menahan diri dan memberitahuku lewat denting lonceng bahwa dia akan merindukanku.Setelah beberapa bulan berpisah, kenangan di kelas 12-A SMA 1 sudah menjadi masa lalu. Saat teman-temanku di tanah air mengirimkan foto kelulusan yang tidak menyertakan fotoku, aku merasa seolah itu sudah terjadi seabad yang lalu.Di foto itu, Sam

  • Setelah Teman Masa Kecilku Menipuku untuk Pindah Sekolah   Bab 5

    Belum sempat aku menjawab, suara Leila terdengar, "Deandre, mau kuantar melihat-lihat sekolah barumu dulu?" Wajahnya tampak polos, seolah dia hanya bersikap ramah. Namun, suara Samanta di telepon langsung meninggi. "Deandre, kamu sedang bersama Leila?! Kamu sebenarnya di mana?!"Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Untuk pertama kalinya, suara Samanta terasa begitu bising. "Apa urusannya denganmu aku ada di mana?"Samanta seolah tidak mendengar jawabanku, suaranya penuh nada tidak percaya. "Kamu pergi mencari Leila hanya karena mau membuatku kesal? Demi memancing amarahku, kamu bahkan mau berurusan dengan orang rendahan sepertinya!"Mendengar ucapannya yang semakin tidak sopan, aku membentaknya dengan tegas, "Cukup!"Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan mantap, "Samanta, kamulah orang yang paling nggak berharga di sini."Akhirnya, kata-kata itu kukembalikan padanya."Jangan menelepon lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini!"Setelah itu, aku segera mematikan telepo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status